Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 41 Mengasingkan Diri


__ADS_3

"Pa... besok kita jadi pergi?"


Tanya Mar tanpa menoleh.


"Jadi Ma, Pagi-pagi kita akan berangkat dengan kereta"


Jawab As.


"Apa sebaiknya kami tidak usah ikut dulu, kasian Anak-anak.. jika kondisi disana sudah siap dan stabil, Aku dan Anak-Anak akan menyusul."


As duduk ditepi tempat tidur, dan merenung.


Mar beranjak dan duduk di sebelah As.


As menggenggam tangan Mar dan menatap wajah Mar,


"Maafkan Aku Ma... Harus kembali menyeret kamu dan Anak-Anak kedalam kesengsaraan lagi"


ucap As dengan nada berat.


Mar terdiam, matanya sembab tak berhenti menangis.


"Kamu benar..Ma...sebaiknya Aku saja dulu yang kesana.."


As memeluk Mar, merasa sangat bersalah dan mengingkari janjinya dulu yang akan selalu membahagiakan Mar, namun kenyataannya lagi-lagi harus bergelut dengan derita dan Air mata.


***


Selepas subuh, As sudah bersiap pergi meninggalkan Anak dan Istrinya.


Mar membuatkan segelas kopi hangat dan semangkuk mi instan.


"Pa..sarapan dulu.."


Ujarnya sembari duduk di sebelah suaminya.


As mengangguk.


Masning dan Bulromi keluar kamar dan mendekati Anak menantunya.


"Cuma As sendiri?"


Tanya Masning heran ketika melihat Mar belum bersiap.


"Iya Mak, semalam kami memutuskan, Kak As saja yang lebih dulu pergi, jika kondisi disana sudah siap dan stabil, baru Aku dan Anak- Anak menyusul"


Mar menjelaskan.

__ADS_1


"Kau disana hati- hati As... Mereka disini akan aman, jangan kau risaukan"


Bulromi menepuk pundak menantunya.


Selepas sarapan, As masuk ke kamar mencium satu persatu Anaknya.


Air matanya tak bisa ia tahan, untuk pertama kalinya ia akan berpisah dari Anak dan Istrinya.


"Ma... Jaga mereka dengan baik... Aku pasti merindukan kalian. Setelah semua beres, Aku akan kirim telegram menyuruh kalian menyusul."


As memeluk erat Mar, dan mencium berkali-kali kening istrinya.


Mar kembali terisak, pilu yang menguasai hatinya kian terus bertambah menghadirkan luka dalam, luka kehilangan semua yang ia miliki dan kini luka karena harus berpisah dari orang yang paling dicintainya.


"Ma...jangan menangis... itu akan membuat langkahku berat, doakan Aku... Agar kembali bisa berdiri tegap kembali, ini uang hasil jual tanah,kamu pegang separuh untuk keperluan kalian disini."


As membagi dua uang dari dalam amplop coklat yang ia pegang.


Mar tak dapat menjawab, hanya Anggukan pelan dan Tangisan mengantar kepergian suaminya.


Terbayang sudah kerinduan yang akan ia hadapi dihari-hari berikutnya.


Hampir 6 jam berada di kereta, Akhirnya tiba di Stasiun kampung halaman As yang masih belum ramai penduduk, benar- benar sunyi dan terasing, namun untuk fasilitas pemerintah seperti puskesmas, kantor pos, dikampung ini sudah tersedia meski agak jauh dari tempat yang akan ditinggali As.


Dengan berjalan kaki lumayan jauh, As tiba di sebuah rumah Tua yang terlihat tak terawat karena bertahun-tahun tidak ditinggali.


As mengusap sudut matanya yang kian basah, betapa hatinya sangat merindukan kedua Orang tuanya.


"Umak...Ubak... Aku datang,, Aku kembali kesini..!"


Gumam As pelan.


As tak membuang waktu, ia segera membereskan dan membersihkah rumah tersebut. Hampir 2 jam, akhirnya rumah itu sedikit lebih bersih dan layak dihuni.


Diatas tempat tidur tua As berbaring merebahkan diri, lengannya berada diatas dahi, mencoba berpikir langkahnya kedepan, hingga tanpa sadar ia terlelap.


Di kediaman Bulromi,


"Papa..... Papaa...!!"


Ana keluar masuk rumah memanggil As.


"Ana... Sayang... Papakan lagi kerja jauh..."


Ujar Mar.


"Papa kapan pulang Ma?"

__ADS_1


Tanya Ana mulai menangis.


Diantara Anak-Anak mereka memang cuma Ana yang sangat dekat sekali dengan As.


"Nanti ya sayang, kalo urusan Papa disana udah selesai... kita akan nyusul Papa"


Ana tersedu, dan mendekap di dada Mar.


Mar sangat paham kesedihan Ana, Mar tahu... Rindu yang ada dihati Ana sama halnya dengan apa yang ia sedang rasakan saat ini.


Suasana haru kembali pecah di tengah-tengah keluarga Bulromi,


Bulromi membuang pandangannya keatas, menahan air mata yang nyaris tumpah,


Masning yang tak kuasa menahan Air matanya memilih berlari masuk kamar dan tergugu disana.


As terbangun menjelang sore,


"Ya Allah, aku tertidur..."


Ucapnya lirih, lalu memilih berjalan kebelakang rumah, memeriksa Ketersediaan Air dirumah ini.


Disumur tua, As mencoba mengambil Air untuk diperiksa, ia bernafas lega ketika mendapati Air sumur yang banyak dan bening.


As memutuskan untuk mandi, kemudian selepas sholat As kembali berkeliling, dibelakang rumah As menemukan Jala dan perahu tua, ia meneliti lebih seksama,


"Bagus... !! Tak ada yang sobek,, dan perahu ini, cuma ada sedikit bagian yang bocor,, tinggal Aku tambal sedikit pasti bisa kupakai"


Gumam As.


Senyumnya terkembang,


Semalaman ia memperbaiki semuanya.


"Nah beres... Besok pagi-pagi Aku akan mencari ikan disungai."


Keesokan Harinya,


As bersiap menjadi nelayan di aliran sungai dikampungnya.


Ia berangkat ketika matahari belum menampakkan sinarnya.


Perjuangan yang tidak sia-sia, Pagi ini belum lagi siang, As sudah mendapat hampir satu ember penuh ikan sungai, segera As membawanya kepasar dan menjual semua ikan-ikan tersebut, dengan begitu ia bisa mendapatkan uang dan mungkin ini akan jadi mata pencarian baru buatnya dan keluarganya nanti.


Sebelum pulang kerumah, As tak lupa mampir ke toko pertanian membeli beberapa jenis bibit yang bisa ia tanam di tanah belakang rumahnya.


Begitulah dari hari kehari kesibukan As selain menjadi nelayan, ia juga sibuk berkebun.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2