Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 63 Memulai hari baru


__ADS_3

Hari ini Mar bangun lebih pagi dari biasanya, ia harus menyelesaikan pekerjaan rumahnya, sebelum pukul tujuh pagi, memasak untuk makan siang Anak-anaknya dan bekal buat suaminya pergi kerja.


Tepat pukul 6 pagi, Ana bangun dan keheranan melihat Ibunya tengah mencuci pakaian.


"Ma...Kok pagi-pagi sekali Mama sudah mencuci, biasanya jam segini Mama masih masak sarapan?"


Tanya Ana berdiri di belakang Ibunya.


"Iya, Mama hari ini kerja jadi semuanya harus selesai sebelum Mama pergi kerja, Ana mau mandi ya? tunggu sebentar ya,, atau Ana sarapan aja dulu, Mama tanggung dikit lagi"


Jawab Mar yang tangannya semakin gesit menyikat pakaian kotor, sebab ia tau kamar mandi akan digunakan Oleh Anak-anak dan suaminya.


Ana berjalan menuju meja makan, menu makan siang sederhana sudah selesai di bawah tudung saji, dan pagi ini semangkuk besar Nasi goreng sudah tersedia, lengkap dengan kerupuk singkong dan seteko besar Teh manis.


Ana duduk, kemudian kembali menatap Mar, yang tengah menyingkirkan satu ember besar pakaian yang sudah selesai ia cuci,


Mar menghampiri Ana, membawa setumpuk piring dan sendok.


Bersamaan dengan itu, As dan semua Anaknya yang lain bangun dan menuju dapur.


As bergegas masuk lebih dulu kekamar mandi yang sendang kosong,


Sementara Keempat Anaknya menuju bangku panjang buatan As di depan meja makan.


"Cuci muka aja dulu Nak, terus sarapan ya.."


Mar membagikan piring untuk masing-masing Anaknya.


Dikomandoi oleh Ana keempat Adiknya satu persatu mencuci muka dan berkumur-kumur kemudian kembali ke meja makan untuk sarapan.


Semua Anak-anak Maryati di didik untuk selalu bersyukur dengan apa yang ada dihadapan mereka, termasuk tentang apa yang mereka makan, hal itu membuat kelima Anaknya tidak pernah cerewet dan pilih-pilih makanan, apa yang disiapkan Mar selalu mereka makan lahap tanpa komentar.


Mar menuangkan teh pada gelas masing-masing Anaknya. Mereka makan dengan sangat tertib, dan habis tak sampai 15 menit.


Mar bergegas masuk kamar, menyiapkan segala keperluan Suaminya, hingga ketika suaminya masuk kamar, ia tak perlu lagi mencari pakaian sebab Mar sudah menyiapkannya rapi diatas meja disisi tempat tidurnya.


Mar tengah merapikan tempat tidur, menumpuk bantal dan melipat selimut.


"Ma..kamu mulai kerja hari ini?"


Tanya As.


"Iya Pa..."


Jawab Mar yang kini memegang sapu bersiap untuk menyapu rumahnya.


"Aku harap, kamu tidak pulang sore, Aku mau kamu sudah ada dirumah, sudah rapi dan Semua Anak sudah mandi ketika Aku pulang!"


Ucapan As adalah perintah yang harus ditaati oleh Mar.


"Iya Pa, Aku siang sudah pulang kok"


Jawab Mar tersenyum.


"Baguslah, semoga Aku bisa kembali seperti dulu, Agar kamu 24 jam hanya mengurus Aku, Anak dan rumah saja"


Ujar As lagi.

__ADS_1


"Yuk sarapan,"


Mar meninggalkan sapunya dibalik pintu, lalu menggandeng tangan suaminya menuju meja makan, ia paham kebiasaan suaminya yang selalu ingin ditemani ketika makan.


Selepas As sarapan, ia berangkat kerja mengayuh sepedanya, sementara ketiga putri juga sudah berangkat kesekolah.


Kini saatnya Mar mandi dan bersiap-siap.


Dengan menggandeng kedua putranya, Mar berjalan menuju rumah Kedua orang tuanya untuk menitipkan Win dan Hen.


"Mak, maaf ya Aku nitip mereka berdua, Siang selepas Zuhur mungkin Aku pulang, semoga bisa lebih cepat"


Ujar Mar yang sebenarnya tidak enak hati kembali merepotkan Orang tuanya.


"Tak usah risau Mar, jangan sungkan..hanya menitipkan dua bocah ini bukanlah sebuah masalah..jangan jadikan ini beban pikiranmu ya..."


Masning menepuk pundak putrinya.


"Makasih Mak, Aku pamit ya..."


Maryati bergegas menuju rumah Ibu Marni, sengaja ia memilih Rumah Ibu Marni terlebih dahulu dikarenakan tugasnya lebih banyak dibanding rumah Ibu Yeyen.


"Assalamualaikum Bu,"


Sapa Mar ketika tiba didepan rumah Ibu Marni.


"Walaikum salam Mar.., pagi sekali?"


"Iya Bu, soalnya selepas dari sini Aku masih harus mencuci di tempat lain,"


Jawab Mar, yang membuat Ibu Marni tercengang.


Mar menyeka keringatnya, dan mengambil segelas Air dingin dari lemari es Ibu Marni, ia duduk sesaat untuk beristirahat dan meneguk habis Segelas air dingin ditangannya.


"Alhamdulillah..selesai, "


Ujar Mar lirih dan bersiap menuju rumah Ibu Yeyen.


Ibu Marni sudah berangkat kerja, dirumah besar ini hanya tertinggal seorang Nenek tua, Ibunya Bu Marni.


"Nek, Aku sudah selesai, Aku pamit Pulang ya..."


Mar menemui Nenek Tua yang tengah berjemur di teras rumah Ibu Marni.


"Oh Iya, terimakasih ya.."


Jawab Si Nenek.


Dengan sangat cepat Mar bejalan meninggalkan rumah Bu Marni menuju rumah Bu yeyen.


Mar sudah mengumpulkan tenaganya kembali untuk mulai berperang dengan cucian segunung yang telah menantinya.


Seolah tak mengenal lelah, Mar segera menuju kamar mandi ketika sampai dirumah Bu Yeyen, Ia mulai menyikat, mengucek pakaian yang jauh lebih banyak dan lebih kotor dari pada pakaian-pakaian yang ada dirumah Bu Marni.


Hampir tengah Hari, Mar selesai dan ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya sebelum Zuhur seperti janjinya pada Masning tadi.


"Bu, Aku sudah selesai, Aku mau pamit pulang."

__ADS_1


"Oh...ya sudah, silahkan terimakasih banyak ya..."


Jawab Bu Yeyen.


Mar berjalan ngebut, ia ingin segera sampai rumah Orang tuanya untuk menjemput Kedua putranya, ia takut Orang tuanya tak bisa beristirahat karena kedua Putranya bising.


"Assalamualaikum..."


"Walaikum salamm"


Jawab Masning,.


"Ye....Mama jemput, Nyai kami mau pulang ...!"


Seru Win, mencium tangan Masning yang diikuti Hen dari belakang.


"Besok kesini lagi ya...Nyai tunggu.!"


Masning membalas lambaian tangan cucunya ketika meninggalkan rumahnya.


"Makasih ya Mak,"


Mar menggandeng tangan kedua Putranya dan berjalan menuju kontrakannya dengan tak lupa mengajak Anaknya bersenandung gembira.


Sesampainya dirumah, Mar segera mencuci muka, membersihkan diri dan tak lupa menunaikan sholatnya.


"Win, Hen...Makan yuk.."


Ajaknya yang sudah merasakan benar- benar lapar akibat tenaga yang terkuras selepas tiga kali mencuci dalam waktu yang yang hanya berkelang beberapa jam.


Hen menggeleng,


"Loh..kenapa?"


Tanya Mar heran lalu menghampiri kedua Anaknya yang tengah memainkan mobil-mobilan.


"Kami tadi sudah makan Ma...sama Nyai, lauk nya banyak Ma, pake Ikan, tempe goreng, sayur enak deh Ma..."


Celoteh Win membuat hati Mar sedih,


Bukan karena Anaknya yang sudah makan, melainkan ketika menatap wajah Win yang sumringah ketika bercerita tentang lauk lengkap yang baru saja mereka makan dirumah Nenek mereka.


Terlihat sekali kerinduan mereka akan makanan lezat yang sudah lama sekali tak mereka santap.


"Sabar ya sayang..nanti kalau Papa kalian gajian, Mama Akan masak banyak makanan yang enak-enak, bukan seperti sekarang yang tak jauh-jauh dari kecap, kerupuk dan ikan asin"


Batin Mar.


"Assalamualaikum..."


Ketiga putri Pulang dari sekolah, wajah lelah mereka terlihat semakin jelas ketika titik-titik keringat membanjiri dahi mereka.


"Uuhh...Anak-anak gadis Mama sudah pulang, Ayo buruan ganti baju, cuci kaki sama tangan terus kita makan yuk, Mama sudah lapar nih..."


Ujar Mar mengelus perutnya didepan Anak-anaknya.


Ana tersenyum, dan bergegas menurut perintah Ibunya.

__ADS_1


Siang ini, mereka berempat makan bersama dengan menu seadanya, wajah lelah Mar sirna melihat ketiga putrinya yang begitu lahap diselingi dengan tawa kecil mereka ketika sesekali cerita tentang kegiatan mereka disekolah terselip di sela acara makan siang yang begitu terasa sangat istimewa.


Bersambung***


__ADS_2