
Bangun dengan mata sembab, membuat Mar terus menunduk menyembunyikan matanya yang bengkak dari anak-anaknya.
"Ma... Ana paham, apa yang Mama rasakan.. sabar ya Ma"
Ana memeluk Mar dari belakang mencoba sedikit menguatkan malaikat tanpa sayap dirumah ini.
"Ah..Mama gak pa-pa Na... buruan kamu mandi, nanti terlambat berangkat kerja"
Mar membalik badannya dan mencoba tersenyum menyembunyikan luka.
"Ma, kemarin Ana gajian, ini buat Mama separuh ya..."
Ana menyodorkan beberapa lembar uang pada Mar.
"Tak usah Ana, simpan buat keperluanmu, anak gadis itu kebutuhannya banyak, beli saja bedak, parfum dan banyak hal yang kamu mau"
Mendengar penuturan Mar, Ana segera menyambar tubuh Ibunya dengan mata berkaca-kaca.
"Ma..itu semua bisa nanti-nanti ya ..., tapi uang kontrakan dan bayaran sekolah Adek-adek gak bisa di tunda-tunda, Mama ambil ya..."
Ana tetap memaksa membuat Mar menerima uang pemberian putri sulungnya dari hasil keringatnya.
"Makasih Nak...Semoga rejekimu lancar, dan selalu diberi kemudahan"
Mereka saling merangkul.
Pemandangan indah itu tertangkap oleh mata As, yang merasa bersalah pada keluarganya, namun gengsinya memaksa ia tak ingin peduli tentang yang terjadi didepan matanya.
"Pa..Aku pamit berangkat kerja,"
Mar mendekati As untuk pamit setelah segala urusan Anak dan rumahnya beres.
As menoleh sekilas, kudian melanjutkan kesibukannya mengisi teka-teki silang.
Mar beranjak keluar rumah menggandeng Sari.
"Dek, kita bayar kontrakan dulu ya..."
Mar berbalik arah, kembali masuk kerumah untuk mengambil Uang yang diberi Ana pagi tadi setelah ingat hari ini adalah tanggal jatuh tempo pembayaran kontrakan mereka.
Setelah urusan kontrakan kelar, Mar berlalu meninggalkan rumah menuju rumah Bu Neli
...****************...
Jam sudah menunjukkan pukul Empat lewat sepuluh menit, namun tanda-tanda kepulangan majikannya belum juga terlihat.
Mar sudah tampak gusar, beberapa kali mondar mandir keluar masuk rumah, sesekali melongokkan kepala melihat kejalan.
"Ya Allah, kenapa Bu Neli belum pulang ya...bisa-bisa Aku kesorean sampe rumah"
Ujar Mar pelan.
Sampai jam setengah lima, mobil Pak Safnar belum juga terlihat memasuki pekarangan.
Mar semakin cemas.
5 menit menuju pukul 5 sore, sebuah mobil hitam masuk kepekarangan, Mar sudah hampir menangis, ketika terlihat Bu Neli buru-buru keluar dari dalam Mobil, Mar mencoba bersikap biasa didepan majikannya.
__ADS_1
"Haduhhh... Maaf ya Bi,, lama nunggu ya.. itu tadi Bapak ada pesanan banyak, jadi jemputnya lama.."
"Ya gak apa-apa Bu, kalau begitu Aku pamit pulang Bu"
Dengan hati deg-degan Mar meninggalkan rumah Bu Neli dengan menggenggam tangan Sari erat.
"Ya Allah, semoga Papa tidak marah"
Hampir gelap ketika Kaki gemetar Mar menapaki teras kontrakannya.
"Assalamualaikum"
Sapa Mar begitu melangkah masuk diikuti Sari, Eni dan dua anak laki-laki Mar terlihat duduk mengkerut di dalam kamar, menandakan sesuatu yang buruk baru saja terjadi.
Mar segera Masuk menemui Ketiga Anaknya didalam kamar.
"Mama...kenapa Mama baru pulang? darimana?"
Tanya Eni yang tampak ketakutan.
Mar membelai wajah bening Eni,
"Majikan Mama baru pulang hampir pukul 5, ditambah Angkot penuh, makanya sampai rumah hampir magrib, kenapa Ni? Papa marah?"
Tanya Mar memeluk keempat Anaknya.
Sementara Ana dan Vin, belum pulang.
"Bukan lagi marah Ma, tapi ngamuk"
Jawab Eni.
Mar meninggalkan kamar Anak-anaknya, bergegas mengajak Sari Mandi.
Selesai mandi baru saja Mar masuk kedalam kamar, As tiba-tiba menyusul.
Jantung Mar berpacu hebat, hatinya menciut ketakutan melihat mimik muka As yang tak ramah kepadanya.
"Kemana jam segini kau baru pulang!!!"
Bentak As.
"Aku kerja Pa, majikanku terlambat pulang, itulah sebabnya Aku jadi terlambat juga"
Mar menjawab dengan menunduk ketakutan.
"Kau jangan membuat alasan yang sengaja dibuat-buat!!"
Hardik As.
"Dibuat-buat seperti apa Pa? Aku bicara yang sebenarnya"?
Jelas Mar yang masih mengenakan handuk.
"Aku tau!! Kau kesal padaku karena berhenti kerja iyakan? lantas kau bersenang-senang dengan suami majikanmu ketika majikanmu dikantor!!"
Tuding As pada perempuan didepannya yang sudah hampir menangis.
__ADS_1
"Astagfirullah Pa!!! Apa Papa sadar dengan apa yang baru saja Papa ucapkan?!"
Mar bangkit dari duduknya dan berdiri menatap As.
"Aku sadar!! Apa kau pikir aku gila?"
"Pa, Aku bekerja demi keluarga, tak ada sedikitpun aku berpikir untuk mencurangimu Pa"
Dengan cepat As memegang bahu Mar, meneliti inci demi inci tubuh ramping Mar.
"Pa..! Apa yang kamu lakukan?"
Tanya Mar bingung bercampur heran menerima perlakuan As pada tubuhnya.
"Sedikit saja Kau berbohong padaku pasti ada bukti yang tertinggal!!"
Ucapnya sembari tetap meneliti setiap bagian tubuh Mar.
"Ya Allah Pa...sampai hati kau lakukan ini..."
Mar tergugu,
Melihat Mar menangis, As menghentikan aksinya, lalu meninggalkan Mar sendiri didalam kamar.
Sementara dikamar lain, Eni sudah terisak berpelukan dengan kedua saudarinya yang sudah pulang bekerja, sedangkan Hen dan Win menyudut disisi tempat tidur, sementara Sibungsu sari mematung tak memahami apa yang sebenarnya terjadi, yang ia tau hanyalah bahwa Papanya telah menorehkan luka pada hati Mamanya hingga menangis.
Semalaman, air mata Mar tak berhenti.
"Ya Allah, dinginkan hati suamiku, lembutkan lagi, serta Anugerahkan ia banyak kesabaran, Aku sungguh sangat mencintainya dan Aku percaya,, Diapun sama hanya saja saat ini ia sedang tersesat, kembalikan ia seperti dulu Ya Allah.."
Sebuah doa singkat yang ia ucap didalam hatinya.
Mar mengusap mukanya, sembari menatap tubuh yang sedang berbaring membelakanginya.
Sedikitpun Mar tidak membenci As, hanya perasaan luka akan sikap As tetapi tidak mengurangi rasa cintanya pada laki-laki yang telah memberinya 6 orang anak ini.
Sementara As sedang tidak tidur, ia hanya berpura-pura tidur mencoba mendinginkan hatinya sendiri,
Ada sesalan yang membuncah setiap kali ia mendengar isak pelan dari perempuan disampingnya, ibu dari keenam anaknya.
Namun ia betul-betul tak bisa mengkontrol dirinya ketika emosinya menyulut amarah.
As merubah posisinya menjadi telentang, sedangkan Mar mendapati As bergerak, ia memejamkan matanya berpura-pura tidur lelap.
As menoleh pada wanita tercintanya, hatinya terasa tersayat melihat bekas sisa air mata di sepasang mata teduh yang sangat ia kagumi.
Tangannya ingin sekali mengusap, namun lagi-lagi gengsinya menolak, hingga ia mengurungkan niatnya.
"Maafkan Aku Ma...lagi-lagi Aku melukaimu, mengecewakanmu, bahkan mungkin kali ini benar-benar menyakitimu...
Aku mencintaimu Ma,, sangat mencintaimu dunia dan Akhirat, Aku takut kau meninggalkanku karena banyak kebodohanku, Aku cemburu ketika separuh harimu kau habiskan untuk mengurus orang lain..Aku ingin melarangmu, tapi Aku sedang tak bisa memenuhi kebutuhanmu dan Anak-anak..Aku memang tak berguna Ma...Aku hanya bisa marah dan menyakitimu..
Andai kau tau Ma...Aku begitu ingin membahagiakanmu seumur hidupku hingga kita mati, tapi aku gagal Ma.."
As meratap lirih..suaranya parau,
Mar yang mendengar ucapan itu ingin sekali bangkit dan memeluk As, tapi tak ia lakukan Mar ingin As merasakan dulu penyesalan terhadap emosi dan perbutannya.
__ADS_1
Bersambung***