
Hari raya berlalu, Suka cita dan bahagia akan segera berlalu seiring dengan akan kembalinya seluruh Anak Mar dan As ke tempat tinggal mereka masing-masing.
Hal yang sebenarnya paling dibenci Mar, ketika ia harus berusaha tegar, menahan Air mata dan kesedihannya sendiri saat Anak menantu serta cucunya berpamitan untuk pulang esok pagi, Sesak itu kembali menaungi hati dan pikirannya, kesedihan itu hadir kembali menghantui setiap malam-malam yang akan dilaluinya setelah ini, dan yang paling ditakutinya adalah ancaman kerinduan yang siap kembali menggerogoti dan mengikis serta mengiris halus hatinya selepas masa ini.
Namun Mar adalah seorang yang handal dalam menyembunyikan semua itu, berusaha tersenyum meski hancur, tetap tenang walau hati ingin berteriak kencang bahwa ia ingin lebih lama bersama dalam cerita, canda dan tawa.
Lain halnya dengan As yang bisa lugas menyatakan segala sesuatu yang ia rasakan, pandai mengungkapkan apa yang ia pikirkan.
dan tegar dalam berkata-kata.
Malam hari terakhir sebelum kembali ke kediaman masing-masing.
Seluruh penghuni rumah berkumpul diruang keluarga mengelilingi Mar yang duduk berselonjor dengan matras, di salah satu sudut ruangan.
Sementara As lebih memilih bersandar di sudut dinding lain rumah Eni sambil tetap menatap satu persatu anak-anaknya bergantian.
"Aku paling benci masa seperti saat ini !!!"
Celetuk As tiba-tiba, membuat seluruh mata memandangnya dengan kebingungan.
"Kenapa Pa ??"
Tanya Ana.
"Ya, sebab ini akan membuatku merindukan masa ini lagi, merindukan kalian dalam setiap menit kehidupanku disini, membuatku kehilangan selera makan, dan kehilangan gairah untuk melakukan apa saja, apa kalian paham semua itu??"
Suara berat As tiba-tiba saja bergetar, matanya memerah, dan terasa panas, bibirnya mengatup mengeraskan rahang.
Keadaan hening seketika, semua menunduk, dan sangat paham makna ucapan tersebut.
Tiba-tiba saja terasa bagai sebilah pisau yang menancap dalam disudut hati seluruh Anak-anaknya, perasaan bersalah muncul bersamaan dengan perih atas apa yang terlontar dari bibir Ayah mereka.
Lalu Ana kembali membuka suara mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi tegang, pilu penuh keharuan.
"Papa, kita semua pun merasakan hal yang sama, semoga kita semua diberikan kesehatan agar nanti..kita bisa berkumpul lagi"
"Benar Pa,, sesungguhnya dalam hati ini ingin sekali disini lebih lama lagi, berkumpul bersama Mama dan Papa, tapi keadaan tidak memungkinkan, semoga ada waktu dan kesempatan suatu saat nanti"
Timpal Vin.
"Iya Pa, dalam hati ini...bukan main, ingin sekali setiap bulan bisa datang menemui Mama, Papa tapi jarak dan pekerjaan memaksa kita tak bisa melakukan itu, semoga Papa sehat selalu, dan Mama kembali pulih, agar bisa kami jemput untuk main dan menginap di tempat kami dan Anak-Anak Mama dan Papa yang lain"
Sambung Hen.
__ADS_1
Win hanya menarik nafas, Sementara Sari hanya bisa terdiam duduk bersama Eni.
As mengangguk, menelan saliva demi menahan kesedihan dan air matanya.
"Sudahlah, jangan sedih-sedih, semoga lain kali kita masih diberi kesempatan untuk kumpul seperti ini lagi. Oh ya, kenapa ya akhir-akhir ini Mama sering sekali bermimpi bertemu dengan Nyai dan yai kalian"
Ujar Mar mencoba mengalihkan pembicaraan.
Mendengar ucapan Mar barusan Semua mata saling pandang, mengingat Masning dan Bulromi yang sudah lama meninggal dunia.
"Ehm... mungkin mereka rindu Ma, kita doakan saja"
Ujar Ana.
"Ya mungkin saja, tapi kata orang, kalau kita sering memimpikan orang yang sudah meninggal, itu tandanya hidup kita tidak lama lagi"
Ujar Mar dengan muka datar.
Ucapan Mar, membuat As mendekat dan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Mar.
"Ma,, tak boleh percaya hal-hal seperti itu,, mimpi hanyalah bunga tidur"
As mengecup tangan Mar.
"Emangnya mimpinya seperti apa Ma?"
Tanya Win.
"Beberapa waktu lalu, Mama bermimpi berada di sebuah rumah sempit bersama Nyai dan Yai kalian, rumah itu sangat gelap, tapi keadaan di luar rumah begitu terang"
Glek..
Lagi-lagi As menelan salivanya.
Begitupun dengan Anak-anaknya yang terlihat tegang, saling pandang.
"Lalu, Mama juga pernah bermimpi Yai kalian datang dengan pakaian bagus serba putih, menggandeng tangan Mama"
Sambung Mar lagi.
Sari semakin gemetar dan wajahnya terlihat pucat berkeringat, entah kenapa cerita Mar tentang mimpinya menjadi hal yang paling menakutkan bagi Sari.
"Dan semalam, Mama bermimpi Mama berkunjung kerumah Yai dan Nyai kalian"
__ADS_1
Ujar Mar meneruskan ceritanya.
Ada perasaan takut yang teramat sangat besar di dalam hati As dan semua Anak- anaknya tentang semua mimpi yang diceritakan Mar, terlebih As yang semalam baru saja bermimpi Giginya patah.
Kini Pikirannya menjadi kemana-mana, hatinya gelisah jiwanya terasa sangat tak tenang.
Otak dan hatinya kompak bertanya-tanya, akankah ada hubungannya antara mimpinya dan mimpi Mar, melihat dan mengingat kondisi Mar yang kesehatannya semakin menurun.
Begitupun dengan Sari yang diam-diam menahan hatinya yang tengah berkecamuk parah, antara rasa takut dan belum siap kehilangan berbaur jadi satu menciptakan sebuah perasaan yang sangat mengerikan baginya, dari hal apapun yang menakutkan didunia ini.
"Ah sudahlah Ma, jangan dipikirkan mimpi itu cuma bunga tidur, tak baik terlalu memikirkan apa lagi sampai mempercayai maknanya yang belum tentu benar"
Hibur As pada Istrinya yang sebenarnya hatinya pun tengah gelisah.
"Iya Ma... benar kata Papa, kita cuma percaya Sama Allah ya Ma.."
sambung Ana yang diikuti anggukan yang lain.
Mar tersenyum, lalu kembali merebahkan diri.
Matanya menerawang jauh menembus langit-langit ruang keluarga.
Pikirannya kembali bergumul dengan bayangan mimpi-mimpinya.
Pertanyaan-pertanyaan mengisi kepalanya.
Kini ia hanya bisa pasrah dan berserah, kapan saja Allah memanggilnya ia akan menerimanya.
Bukankah takdir telah tergaris untuknya.
Lain halnya dengan semua Anak-anaknya yang kini malah saling diam dan saling pandang, seperti sedang berbicara lewat bahasa kalbu yang entah kenapa dapat saling dimengerti ketika bahasa suara sama sekali tak lepas dari mulut mereka.
Sari menunduk, hatinya penuh ketakutan akan arti sebuah kehilangan, sementara Eni yang paham kegusaran hati sang Adik, merangkul dan mengelus bahunya menenangkan.
Ana mencoba bijak dengan tetap tenang, dengan harapan sikap positifnya dapat menentramkan hati Adik-adiknya.
Vin, Win dan Hen tetap terpaku pada Ibunya yang kini meringkuk memejamkan mata.
As memilih duduk di sebelah Mar, salah satu tangannya mengusap lembut kepala Mar, menyeka keringat yang terus mengalir, merapikan rambut-rambut putih yang helaiannya terlihat melayang-layang disekitar wajah keriput Mar.
Sementara yang satunya, tetap menggenggam jemari Mar yang tak pernah sekalipun kasar terhadapnya.
Sari yang menatap pemandangan indah itu paham, bahwa cinta As terhadap Mar adalah sebuah pengakuan bahwa cinta sejati itu benar-benar ada didepan matanya.
__ADS_1
Bersambung***..