
Sejak subuh, hujan deras tak mereda membuat ke 3 Putri cantik tak beranjak dari tempat tidur.
Masih lengkap dengan piyama tidur dan kaos kaki di tambah selimut menambah hangat dan membuat mereka semakin pulas.
Namun hal itu tidak berlaku bagi Mar, sedingin apapun cuaca pagi ini, ia harus bangun pagi, mencuci dan menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
Begitu Matanya terbuka, bergegas ia mengumpulkan pakaian kotor, merendamnya dalam Bak besar, sementara menunggu rendamannya siap untuk di cuci, Mar mencuci piring kotor.
10 menit berselang, Mar sudah berada di depan kompor yang menyala, menyiapkan sarapan untuk Anak dan Suaminya.
Pagi ini, Mar akan membuat pisang goreng kesukaan suami dan Anak-anak nya.
Namun ada yang berbeda pada dirinya pagi ini entah kenapa, mencium aroma pisang goreng yang masih berada di wajan membuat nya mual.
Mar buru-buru mengambil gelas lalu menuang teh hangat kemudian meneguknya berharap rasa mualnya bisa hilang.
Mar duduk beberapa saat, ketika ia merasa tubuhnya sudah kembali baik-baik saja, Mar melanjutkan niatnya mencuci, namun baru saja tangannya menyentuh air, kepalanya mendadak pusing, dengan terhuyung-huyung Mar mengurungkan niatnya mencuci dan kembali kekamar.
As terbangun ketika merasa ada yang duduk di tepi tempat tidur mereka.
"Ma... kenapa??"
Tanya As ketika melihat Mar, memegangi perut dan kepalanya.
"Gak tau Pa,,pusing mual juga"
"Yang bener Ma...?? Apa jangan-jangan kamu hamil lagi??"
Mar tersentak mendengar ucapan As barusan, lalu mengernyitkan dahinya seolah ada yang ia pikirkan. Bibirnya mengatup rapat, matanya memutar bingung.
"Kamu kenapa Ma??"
Sambung As yang heran dengan sikap Istrinya.
"Enggak Pa... cuma Aku jadi kepikiran dengan omongan kamu barusan, apa iya Aku lagi hamil ya??"
"Ya udah, kita cek aja nanti sore ya... siapa tau beneran hamil..!"
Ujar As penuh semangat.
"He..eh.."
Mar mengangguk.
***
Mar sudah bersiap rapi, kini tinggal menunggu As kembali dan mereka akan pergi ke klinik.
"Mama mau kemana??"
"Ehm...Nanti Mama mau ke dokter, periksa perut Mama, Ana tunggu dirumah ya... Jaga Adek-adek, bisa Nak??"
"Oh... Mama sakit ya??"
"Enggak sayang... Cuma mau periksa, Ana bisakan bantu Mama jaga Adek di rumah?"
__ADS_1
"Ehhmmm,,,iya Ma.. Tapi jangan lama ya Ma... Ana takut Adek-adek nangis"
"Iya sayang... Makasih ya Nak."
Mar memeluk Putri sulungnya yang semakin hari semakin pintar dan mandiri.
"Assalamualaikum...wah, Mama udah siap...?"
As tersenyum lebar melihat Mar sudah duduk manis menunggunya.
"Walaikumsalam"
Jawab Mar.
Setelah As bersiap, akhirnya mereka pergi ke klinik untuk memeriksakan kondisi Mar.
"Wah... Selamat ya Pak... Ibu Mar sedang mengandung, sekarang usia kehamilan nya sudah masuk dibulan ke 3.
Seperti mendapat hadiah undian, As terperangah mendengar berita yang baru saja disampaikan Ibu Bidan.
Tangan nya menggenggam erat tangan Mar, kemudian mencium kening Istrinya.
"Pa... Rumah kita akan bertambah satu anggota lagi, itu artinya rumah kita akan tambah rame ya Pa..."
Mar menatap As, sebelum mereka tidur untuk beristirahat malam ini.
"Iya Ma, mudah-mudahan kita bisa menjadi orang tua yang sabar, adil dan menyayangi mereka dengan tulus hati"
As menjawab, dengan mengubah posisi tidurnya menghadap Istrinya, tangan nya membelai rambu hingga wajah Manis Mar yang semakin berisi.
Kandungan Mar semakin besar, menurut Bidan, Mar akan melahirkan dalam beberapa hari ini, meski ini bukan kali pertama, namun tetap saja...Tegang yang terasa tetap sama, rasa cemas bahkan bertambah besar, khawatir tetap ada.
Sungguh yang Mar takutkan adalah bagaimana jika kehidupannya berakhir diranjang persalinan, bukan tentang jiwanya yang pergi namun lebih tentang Buah hati yang ia tinggalkan, sebab ia yakin betapa tak ada yang lebih menyayangi mereka kecuali dirinya sendiri, tak ada yang lebih mencintai dengan tulus kecuali Seorang Ibu kepada anaknya.
Seketika Air mata nya meleleh tanpa disadari.
"Tuhan.... Izinkan Aku merawat dan menyaksikan Anak-anakku tumbuh dewasa sebelum KAU mengambil nyawaku"
Mar mengusap pipinya yang basah, ia menarik nafas panjang.
Dan didetik yang sama, perutnya terasa kram, mulas sepertinya ia merasakan kontraksi yang hebat.
Mar memegangi perutnya.
Untuk yang kesekian kalinya, ia pergi ke klinik tanpa suami.
"Ci... Aku minta tolong ya,, nanti kalau As kembali,, beri tahu Aku ke klinik, sepertinya Aku mau melahirkan, sekalian Ci, Aku nitip Anak- anak."
"Oh...iya..iya.. Apa mau Saya panggilkan"
"Tak perlu Ci,, lama... Aku sudah tak tahan lagi."
"Klinik mana??"
"Klinik yang di depan sini"
__ADS_1
"Oke..Oke.... Ini aku suruh orang buat panggil As, kamu biar diantar becak"
"Makasih Ci"
"Ana... Sayang...jaga Adek-adek ya...mama mau keluarin Adek yang dalem perut Mama ya Nak"
"Iya Ma...."
Mar adalah perempuan hebat yang selalu diberikan keberuntungan yang luar biasa, ia selalu saja mudah dan lancar dalam setiap kali melewati proses persalinan.
Hanya tak kurang dari 1 jam, tangis bayi laki- lakinya memecah haru, bagaimana tidak, lahirnya seorang bayi laki- laki yang selama ini diimpikan Mar dan As Akhirnya menjadi kenyataan.
As yang baru saja tiba, menitikkan Air mata kala ia mendengar tangisan bayi tepat ketika Dia berada di Ambang pintu.
As berhambur mendatangi Mar yang masih terkulai setelah berjuang hebat.
"Pa.. Bayi kita laki-laki Pa...Tampan seperti kamu"
Ujar Mar, ketika kecupan manis mendarat dikeningnya.
"Makasih Ma... Kamu sudah berjuang melahirkan Anak kita, Dia seorang Bayi laki-laki..Allah telah mengganti Bayi kita yang pernah datang sesaat, terimakasih ya Allah..."
Ujar As.
Setelah dibersihkan dan dibedong rapi, Bidan mengantar Baby Boy untuk disusui Mar, Tak lupa As mengadzani Putranya
Baby boy berkepala botak, kulitnya putih bersih, matanya sipit.
"Pa..kamu sudah menyiapkan Nama untuknya?"
Mar bertanya sembari mengelus pipi mulus sang Baby Boy.
"Sudah Ma...Aku akan memberinya Nama ERWIN SANJAYA,
Aku berharap Dia akan menjadi pemenang..dan melindungi kakak-kakaknya.
"Nama yang indah Pa...Aku akan memanggil nya Win.."
Ujar Mar mencium lembut Baby Win.
"Pa... Kabari Mak... Bak dan Kak Husna,,"
Perintah Mar pada Suaminya,
"Nanti saja, besok pagi..selepas pulang kerumah"
Jawab As yang terus tak henti memandang Bayi laki-lakinya yang tampan.
"Ya sudah Pa, setelah urusan disini selesai, cepatlah pulang... kasihan Anak- Anak dirumah, Aku takut Vin dan Eni nangis.
As mengangguk, kemudian berlalu untuk menyelesaikan Administrasi.
Setelah Selesai, dan berpamitan pada Istrinya, As berlalu bergegas pulang, namun sebelum pulang, As menyempatkan mampir untuk membeli beberapa buah permen dan coklat untuk Putri-putrinya yang sedang menunggu dirumah.
Bersambung***
__ADS_1