
Mar dan As berjalan beriringan menuju kediaman Reni,
sepanjang jalan, mereka hanya saling diam membisu dengan pikirannya masing-masing.
Tiba didepan rumah Kakaknya Husna,
"Pa, sepi sekali rumah Kak Husna sekarang? sudah lama kita tidak main kesini"
Ujar Mar sembari menoleh dan memperhatikan rumah besar milik Husna dan Mansyur.
"Iya, sejak kita kembali dari kampung, tak pernah lagi kita main..nantilah kalau kita selesai pindahan kita ajak anak-anak untuk berkunjung"
"Pasti Tia sudah remaja ya Pa..."
Mar menoleh dan memandang agak lama rumah Husna, terkenang ia semua kenangan pada saat masih tinggal disana.
"Iya"
Jawab As singkat.
Sampailah mereka dirumah sang pemilik kontrakan.
"Assalamualaikum...."
Mar memberi salam serta mengetuk pintu rumah Reni.
"Walaikum salam..."
Terdengar jawaban dari dalam bersamaan dengan langkah kaki yang terdengar mendekat.
Klek..!!
Pintu terbuka, tampak senyum manis Reni menyambut Mar.
"Ibu.., silahkan masuk"
Tawar Reni ramah.
"Ehm...makasih Ren..sebaiknya, kita langsung kekontrakan saja, ini suami Ibu mau lihat-lihat"
Reni mengalihkan pandangannya pada As, lalu mengernyitkan dahinya.
As tersenyum.
"Ini, Mang As ya? adiknya Bi Husna kan?"
Ujar Reni sambil menunjuk kearah As mencoba mengingat-ingat.
Mar tertawa, Sementara As mengangguk tersenyum.
"Iya Ren, kemarin Ibu cerita tentang kontrakan ini sama Dia, terus dia bilang masih kerabat."
Jelas Mar pada Reni.
"Iya Bu, eh...gak jadi panggil Ibu deh..panggil Bi Aja ya, biar enak.."
Reni merangkul pundak Mar.
"Terserah Reni saja mana yang nyaman"
Sambung Mar.
"Jadi Bi, Almarhum Ayahnya Mang As ini sepupu Ibu Aku...tapi sama Mang As ini Aku gak terlalu kenal, soalnya Dia lama merantau, tapi kalau sama Bi Husna sering ketemu."
As manggut-manggut menanggapi Reni.
"Ya udah, Ayo kita ke kontrakan, sebentar Aku ambil kunci dulu"
Reni meninggalkan Mar dan As masuk kedalam rumah, dan tak lama kemudian keluar dengan membawa sebuah kunci.
"Ayo Bi...!"
Ajak Reni sembari merangkul pundak Mar.
"Reni ini sudah menikah atau...."
__ADS_1
Belum sempat Mar melanjutkan kalimatnya, Reni segera memotongnya.
"Aku sudah menikah Bi, sudah hampir setahun, tapi belum dikasih kepercayaan sama yang diatas untuk punya anak, Bi Mar sendiri anaknya ada berapa?"
Reni bertanya balik.
"Oh...sudah menikah, sabar aja ya Ren, setahun itu masih baru, jangan terlalu dipikirkan, nanti bikin kamu malah jadi stres, nanti pasti kamu akan diberi keturunan diwaktu yang temat menurut Allah, Bi Mar doain.. nanti kamu punya Anak yang banyak ya...kayak Bi Mar"
Mar tersenyum sembari menepuk-nepuk pundak Reni sambil terus melangkah.
"Emang Anak Bi Mar berapa?"
Reni kembali mengulang pertanyaan yang belum dijawab oleh Mar.
"Ada 5, harusnya 6, tapi yang nomor 2 meninggal saat dilahirkan.."
"Woowww...Banyak ya...sama kayak Bi Husna banyak, malah Bi Husna Anaknya 8 hehehe.."
Reni takjub mendengar jumlah Anak Mar.
"Nah...Ini rumahnya Mang,, silahkan di lihat-lihat.."
Reni membukakan pintu,
"Ren, tidak ada sumur ya?"
Tanya As ketika melihat kondisi dapur dan kamar mandi tempel di kontrakan tersebut, disebut kamar mandi tempel karena kondisi kamar mandi yang letaknya di belakang terbuat dari seng dan papan dengan kondisi menempel pada dinding utama rumah yang terbuat dari papan kayu namun lantai rumah tersebut sudah di semen kasar.
"Oh Iya, Aku lupa bilang kemarin Mang, untuk Air, ngambil Air sungai."
As diam beberapa saat, ia berpikir lumayan jauh jika harus mengangkut Air dari sungai, namun mengingat harga miring yang diberikan Reni, ditambah lagi listrik dari Dia, ya lumayanlah.
"Ya udah, tidak apa-apa Ren,, Ini uangnya untuk bulan ini mungkin besok kami pindah kesini,"
As menyerahkan uang kontrakan pada Reni.
"Terimakasih Mang, ehm gimana kalau lusa saja Mang, soalnya besok Aku mau suruh orang buat bersihin, biar Mang As dan Bi Mar gak repot?"
Tawar Reni lagi.
Reni mengangguk,
Mereka keluar, Mar kembali mengunci rumah tersebut dan menyerahkan kuncinya pada Reni.
Dijalan pulang, ketika hampir sampai di depan rumah Husna, terlihat Husna tengah menyapu tangga rumahnya. Matanya menangkap kedua adiknya itu tengah berjalan.
"Mar...As dari mana mereka?"
Tanya Husnah sendiri sambil terus menatap dua sejoli itu yang kian mendekat.
"Kak..."
Sapa Mar dan As kemudian menyalami Dan mencium tangan Husna.
"Dari mana kalian? Ayo masuk dulu...mana Anak-anak?"
Tanya Husna bingung.
"Eh... itu kak, kami dari rumah Reni"
Jawab As.
"Rumah Reni? Ngapain kalian kesana?"
Tanya Husna semakin bingung.
"Kami mau mengontrak di kontrakannya Kak"
"Oh... wah dekat kita nanti, bisa sering-sering main, sebentar ya, ngambil minum dulu"
Husna berlalu, dan kembali dengan membawa segelas kopi hitam dan segelas lagi teh manis.
"Mana Anak-anak kak, sepi"
Tanya Mar.
__ADS_1
"Ah biasalah, Anak-anak sudah pada besar-besar sudah sibuk dengan dunia mereka sendiri sebentar lagi sulung mau nikah, si bungsu juga sudah beranjak remaja."
" Oh ya kak...wah mau dapat menantu kak, ehm..Tia sudah remaja ya kak,"
"Iya Tia sudah Smp sekarang, sering dia tanyain kamu Mar, Oh ya apa kabar Ana dan yang lainnya? ajak lah main kesini..."
"Alhamdulillah sehat semua Kak..Iya nanti kami kesini ajak Anak-anak,"
Setelah Agak lama mengobrol,
"Kak, kami mau pamit pulang takut pada nangis.."
Pamit Mar menyalami Husna begitupun dengan As.
"Salamkan saja sama Kak Mansyur ya Kak"
Ujar As.
"Iya, tumben juga jam segini Kakak mu belum pulang kerja, lembur mungkin."
Husna melirik jam dinding.
As dan Mar melangkah meninggalkan rumah Husna menuju rumahnya.
As berhenti di sebuah warung untuk membeli aneka macam permen sebagai buah tangan untuk anak-anaknya yang pasti tengah menunggu dengan harapan akan dibawakan oleh-oleh dari mereka.
Dan benar saja dari jarak 5 meter, Dua Anak laki-lakinya berlari kencang kearah mereka dengan berteriak girang.
"Yeee....Mama pulang....Papa pulang.....!!!!"
sampai di hadapan Mar dan As masing-masing mengandeng tangan, Hen menggamit jemari Mar, sementara Win bergelayut dilengan As.
"Mama..bawa oleh - oleh gak buat Adek?"
Tanya Hen mendongakkan kepala menatap Mar.
"Bawa dong...."
Seketika raut wajah bahagia terpancar merona di muka bulat Hen.
"Apa Ma?? Mana????"
Hen menadahkan tangan kanannya pada Mar, tak sabar. Sementara tangan kirinya tetap bergantung di jemari Mar.
"Tuh..tanya Papa...oleh-olehnya ada di Papa....Hahahh."
Mar menunjuk As dengan tawa.
Hen melepaskan pegangan tangannya dari Mar dan berlari ke arah As.
As yang sedari tadi menanggapi obrolan Hen dan Mar segera mengeluarkan kantong plastik dari saku celananya,
"Ini Dia..........."
seru nya memancing lonjakan riang dari dua jagoannya.
"Ye.... permeennnnnnnnn"
Dengan girang, Hen melompat-lompat ketika membuka kantong plastik yang berisi permen.
Kedua bocah itu segera berlari menuju rumah, namun kembali lagi kearah Mar dan As.
"Makasih....Ma....Makasih Pa......!!"
Seru mereka kemudian berbalik lagi dengan cepat menuju rumah untuk berbagi dengan ketiga saudari mereka yang lain.
Mar tersenyum lebar, begitupun dengan As.
"Murah sekali kebahagian mereka ya Ma..."
Ujar As dengan tarikan nafas berat.
"Iya, walau cuma beberapa biji permen, mereka segirang itu Pa..."
As meraih jemari Mar, menggenggam dan menggandengnya erat sampai didepan rumah.
__ADS_1
bersambung***