
Setelah hari pernikahan Sari, Mar dan As memutuskan untuk tinggal bersama putri bungsunya, mereka juga sudah tak lagi menghuni rumah pondok, setelah Anak dari Makwo Bastari menyatakan Akan menjual tanah perkebunan milik orang tuanya tersebut.
Sampai pada akhirnya Eni anak ketiga Mar dan As membeli sebuah rumah sederhana untuk ditinggali Kedua orang tuanya bersama Adik bungsunya yang baru saja menikah.
As yang mulai menua, sudah tak ada kegiatan lagi memilih untuk fokus beribadah diusia senjanya, sedangkan Mar juga yang kini mulai sakit-sakitan sangat bergantung pada Sari puntri bungsunya untuk mengurusnya dimasa tua, hal itulah yang membuat Mar tak menginginkan Sari meninggalkannya.
Bukan karena Mar tak ingin dengan Anaknya yang lain, melainkan Hanya Sarilah satu-satunya yang dekat, sementara yang lain berada jauh darinya.
Untuk memenuhi segala kebutuhan mereka semua anaknya saling membantu, terutama Eni yang memang kondisi finansialnya paling tinggi diantara yang lain.
...****************...
Hampir tiga tahun, kondisi Mar mulai tak menentu, sakit yang dialami Mar membuat Ia sulit melangkah, untuk berpindah dari satu tempat ketempat yang lain Mar harus terseok-seok merambat pelan, bahkan terkadang untuk berdiri saja ia tak mampu, hanya bisa duduk dan menyeret tubuhnya sendiri bertumpu pada kedua tangannya.
Hal itu adalah salah satu alasan yang membuat Sari harus berhenti dan melepaskan pekerjaannya demi merawat Mar dan juga seorang buah hati yang saat ini baru saja bisa belajar berjalan.
Berulang kali Sari mengajaknya untuk kerumah sakit, namun Mar selalu menolak, ia mengatakan bahwa ia baik-baik saja, dan tak butuh dokter, hal itu tentu saja kebohongan manis yang dibuat Mar agar tidak merwpotkan Anak-anaknya.
Hingga sesuatu yang buruk akhirnya terjadi,
Pagi hari, ketika Sari hendak menuju kamar mandi, sesuatu yang aneh ia temukan pada diri Mar yang tengah duduk membelakanginya didapur rumahnya.
"Ma...Mama kenapa?"
Tanya Sari berjalan mendekat.
Mar yang membelakangi Sari mencoba menoleh asal suara dengan susah payah ia memutar badannya.
"Ya Allah Ma, kenapa seperti ini??"
Dengan tangan gemetar, sari memapah Mar berjalan kedepan.
__ADS_1
"Aa.... ak.. ak.. au... pa... pa"
Mar mencoba berbicara, namun terasa sangat sulit, mulut dan rahangnya kaku, lidahnya kelu.
Sari tak sanggup menahan bulir air bening disudut matanya.
"Pa.... Papa.....!!!....Ayah..... cepat kesini !!!!"
Teriaknya memanggil As dan Leman Suaminya.
Mendengar teriakan Sari dari ruang tamu,
Dengan tergopoh, As menghampiri Sari dan Mar, begitupun dengan Leman yang baru saja bangun dari tidur.
"Kenapa Dek?"
Tanya As begitu sampai.
As memeluk Mar, mencium kepalanya serta mengusap air liur yang menetes di dagu Mar dengan telapak tangannya.
Sari terisak dalam pelukan Leman yang mengusap pundak Sari mencoba menenangkan.
"Mama yah....Mama kenapa?? Hu..Hu..Hu.."
Sari tergugu.
"Sabar Bunda, ini cobaan...Mama pasti sehat, kita harus yakin, sekarang kita siap-siap kerumah sakit, jangan lupa telpon yang lain kabarin, siapa tau semua bisa pulang"
Ujar Leman, meninggalkan Sari segera bergegas mandi.
Setelah menghubungi semua saudaranya, Sari memutuskan untuk menunggu Saudara-saudaranya datang sebelum membawa Mar kerumah sakit.
__ADS_1
Satu jam berlalu,
Eni dan Win sudah tiba dirumah Mar, sementara Ana Akan tiba sore nanti, Vin yang menggunakan pesawat akan pulang besok, sementara Hen kemungkinan Malam hari baru akan sampai.
Dengan kesepakatan bersama, Mar dirujuk kerumah sakit, setelah serangkaian pemeriksaan Mar dinyatakan memiliki penyakit komplikasi, darah tinggi yang dideritanya kini menyebabkan ia mengalami stroke, selain itu Mar juga ternyata mengidap diabetes, ginjal dan rematik.
Melihat Mar terkulai dengan wajah tidak simetris, membuat hancur luluh hati Anak-anaknya,
Tangis mewarnai ruangan putih itu,
Mar yang dulu terkenal periang, gesit, ceria dan selalu bersemangat, saat ini seperti tak berdaya, hanya wajah pucat yang tergambar jelas diwajahnya.
As duduk disamping ranjang Mar, menatap sendu wanitanya dengan cinta, tangannya menggenggam erat jemari Mar, sesekali sebelah tangannya membelai lembut dahi Mar yang basah oleh keringat.
Mulut As tak henti berzikir dan berdoa untuk kesembuhan pujaan hatinya yang kini terkulai lemah.
"Pa..Papa pulang saja, malam ini biar Hen dan Yuk Ana yang jaga Mama...Papa istirahat ya..."
Bujuk Hen pada As yang bergeming disamping ranjang Mar.
"Tak apa Hen, kalian baru sampai tentu kalian capek, istirahat saja dirumah, biar Papa yang jaga Mama, Papa kuat"
Jawab As tanpa memalingkan wajahnya dari Mar.
"Jangan Pa,, jangan dipaksa nanti Papa ikut sakit, Ana gak capek kok, Hen juga...Papa pulang ya, Biar Win yang antar Papa pulang"
Kali ini Gantian Ana yang membujuk As.
Setelah sekian lama berpikir, akhirnya As mengangguk dan menuruti permintaan Ana ia mau diantar pulang.
Bersambung***
__ADS_1