Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 71 Ketakutan Mar


__ADS_3

Hari ini selepas bekerja dirumah Bu Yeyen dan Bu Marni, Mar bergegas mempercepat langkahnya memasuki lorong sempit padat penduduk, langkahnya terhenti pada sebuah rumah kecil dengan pagar bambu, terdapat bunga asoka dan bunga sepatu menghiasi depan rumah tersebut.


"Assalamualaikum..."


Mar mengetuk pintu yang tertutup rapat namun tidak tergembok, jendela rumah tersebut juga dalam keadaan terbuka, membuat Mar yakin Mak Ipah ada dirumah.


Tak berselang lama, Wanita tua dengan kebaya dan kain sarung lurik serta rambut dicepol muncul dari dalam,


"Walaikum salam...."


Jawabnya.


"Mak...masih ingat Aku??"


Tanya Mar sembari mencium tangan Mak Ipah.


"Ya masih Mar, meski Aku sudah Tua, namun Aku tidak pikun...hehhe, ayo masuk....."


Mak Ipah mempersilahkan Mar untuk masuk.


"Alhamdulillah, sehat ya Mak...."


Ujar Maryati yang kemudian duduk di kursi rotan tua Milik Mak Ipah.


"Mau apa Kau kemari Mar?? Minta diurut?"


Tanya Mk Ipah yang langsung disambut anggukan oleh Mar.


"Ya sudah, kau bawa kain sarung?"


"Iya Mak, Aku bawa"


Mar mengeluarkan Kain sarung dari dalam kantong kresek hitam yang sengaja ia siapkan dari rumah.


"Ya sudah kalau begitu Kau ganti saja dulu, Aku mau sholat sebentar ya..."


Mak Ipah meninggalkan Mar.


Selang sepuluh menit, Mak Ipah kembali datang dengan sebotol minyak urut ditangannya, dan sebuah Bantal.


"Apa keluhanmu Mar? Pegal, masuk angin?"


Tanya Mak Ipah ketika Mar berbaring di matras yang disiapkan Mak Ipah.


"Begini Mak, Aku sejak lahir Anak kelima kemarin Aku konsumsi Pil Kb, tapi sudah beberapa bulan ini Aku tidak datang haid, dan perut terasa kencang, apa mungkin Aku hamil? atau ini efek dari pil yang Aku minum?"


Mar tampak was-was menunggu jawaban dari Mak Ipah.


"Apa sekarang kau masih minum Obatnya?"


Tanya Mak Ipah mulai memperhatikan perut Mar dan merabanya.


"Masih Mak... Soalnya Aku tidak ada tanda-tanda kehamilan seperti yang sudah-sudah, tidak mual, tidak pusing dan tidak mengidam juga."


Jawab Mar.


Tangan Mak Ipah berhenti di perut kiri Mar, dan menekannya dengan lembut,


"Mar, sepertinya Kau harus berhenti minum Pil Kb, menurut perabaanku Kau benar hamil Mar, sebaiknya kau segera periksa kebidan, kalau menurutku janin diperutmu sudah besar"


Ujar Mak Ipah menghentikan pijatannya.


"Yang benar Mak, lalu kenapa perutku hanya terasa kencang dan tidak membuncit Mak??"

__ADS_1


Mar sangat cemas dengan kondisinya.


"Ya, bisa saja itu efek dari obat yang Kau minum Mar, Aku juga tidak paham, coba Kau tanya pada yang mengerti tentang ini, Aku cuma tukang Urut yang tidak sekolahan, mana faham dengan ilmu seperti itu, yang pasti Kau memang benar tengah hamil Mar"


Jelas Mak Ipah.


Seketika tubuh Mar bergetar, keringat membanjiri tubuhnya, rasa cemas, takut dan rasa tidak siap tengah mendera hatinya.


"Ya Allah, bagaimana ini?? kenapa Aku harus hamil lagi?Aku tidak siap Ya Allah....."


Batin Mar menjerit.


Ia benar-benar tidak mengerti kenapa bisa hamil padahal ia meminum obat kontrasepsi rutin yang diberikan Bidan.


"Mar....Kau melamun??"


Sapa Mak Ipah menyadarkan lamunan Mar.


"Mak...Aku benar-benar tidak siap punya bayi lagi, bagaimana ini Mak, apa sebaiknya Aku gugurkan, apa Mak bisa membantuku?"


Mar meraih tangan Mak Ipah.


"Astagfirullah Mar....ngucap Nak.....!! Kau apa-apaan?! Apa Kau tega melakukan itu? Yang ada diperut kau itu darah dagingmu!! itu rejeki, banyak diluar sana orang menangis berdoa ditengah malam untuk bisa punya Anak!!"


Mak Ipah menasehati Mar.


"Iya Mak, Aku tau.... tapi saat ini kondisi kami tidak memungkinkan untuk menambah Anak!"


"Mar, rejeki sudah diatur, dan percayalah setiap Anak itu membawa rejekinya masing-masing, percaya saja..nanti akan ada jalannya."


Mak Ipah mengusap pundak Mar, sementara Mar menunduk dalam kegalauan.


"Ya sudah Mak, Aku pulang dulu.."


"Ya..kau hati-hati ya..ingat Mar..serahkan semuanya pada Allah"


"Iya Mak..."


Mar melangkah gontai, menuju rumahnya.


Pikirannya kalut, hatinya gamang.


Sesampainya dirumah, Mar kehilangan nafsu makan keinginannya untuk menggugurkan kandungannya sangat kuat, namun mengingat perkataan Mak Ipah tadi membuat Mar mengelus perutnya.


"Apa yang seharusnya Mama lakukan Nak..., maafkan Mama, bukan Mama tak menyayangimu, bukan Mama tak menginginkanmu, tapi kondisi yang membuat Mama kalut dan bingung"


Mar berbicara pelan sambil mengusap perutnya.


Sore hari,


"Pa... temani Aku kebidan ya nanti selesai kamu mandi."


Permintaan Mar sontak membuat As menoleh dan akhirnya berjalan mendekat. Sambil meraba perut Mar,


"Apa yang Mak Ipah bilang Ma? Apa katanya kamu hamil?"


Pertanyaan As hanya dijawab Anggukan dari Mar.


As terdiam, perasaannya bercampur aduk, antara senang dan bingung.


"Aku Malu Pa.... Apa kata orang-orang kalau Aku hamil lagi dan kelak punya Bayi lagi!"


As menatap Mar, ia faham apa yang dikhawatirkan Istrinya.

__ADS_1


"Mereka pasti akan mencemooh kita Pa.. sudah hidup miskin, banyak Anak!! dan bisa-bisanya punya bayi lagi!"


As tak menjawab sepatah katapun, tangannya meraih Bahu Mar dan menuntunnya kedalam pelukan untuk menenangkan.


"Aku tak siap dengan semua itu Pa!!!"


As menelan ludah, menarik nafas panjang dan mengusap perut Mar.


"Sabar ya Ma....kita terima saja, mau bagaimana lagi, tak mungkin kita menolak rejeki..siapa tau Anak yang kamu kandung ini, menjadi pembawa rejeki buat kita."


Mar mengusap pipinya yang sudah basah sejak tadi.


Selesai berkemas, As meraih Amplop coklat dibawah tumpukan pakaian dilemarinya, itu adalah uang simpanan mereka, untuk membayar kontrakan beberapa minggu lagi,


"Ah..pakai saja dulu, lagian minggu depan Aku dapat uang lebih bisa Aku ganti"


Batinnya.


Mar dan As menuju klinik Bidan terdekat dari tempat tinggal mereka.


Setelah dilakukan pemeriksaan,


"Positif Bu, Ibu sudah hamil dengan perkiraan usia kandungan sudah memasuki bulan ke lima."


Mar dan As tercengang,


"Tapi Bu bidan, bagaimana bisa??! bukankah Aku konsumsi pil kontrasepsi,"


Sela Mar.


"Iya Bu, kemungkinan terbesar adalah, ibu lupa konsumsi bisa jadi juga, ibu konsumsinya tidak teratur"


Jawaban Ibu Bidan membuat Mar terdiam.


"Lalu Bu bidan, gimana ya..Sampai kemarin Aku masih konsumsi Pil itu"


Tanya Mar gemetaran.


"Nah, untuk masalah itu, harus dilakukan pemeriksaan dengan alat bu, di sini tidak Ada saya sarankan Ibu untuk periksa kedokter kandungan, takutnya terjadi apa-apa, sebab efek dari minum pil Kb saat hamil adalah gangguan perkembangan organ tubuh janin Bu, ditakutkan Bayi Ibu akan lahir cacat!"


Deg!!!


Jantung Mar seolah berhenti begitupun dengan As yang terlihat pucat mendengar penuturan Ibu Bidan barusan.


"Ca....Cacat Bu??"


Tanya Mar terbata,


"Iya Bu, Maka dari itu sebaiknya Ibu segera periksa ke dokter kandungan dirumah sakit besar."


Mar dan As pulang kerumahnya dengan perasaan gelisah, Mar tak lagi takut akan cemoohan tetangga tentang kehamilannya ia sudah tak peduli lagi, mereka akan ngomong apa, yang kini ia takutkan justru adalah kesehatan calon buah hatinya yang kemungkinan akan lahir dengan kecacatan dan itu akibat kesalahannya.


"Pa, Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri jika kelak anak ini lahir cacat, semua salahku Pa...!"


Gerutu Mar sepanjang perjalanan.


"Sabar Ma, kita berdoa saja...semoga itu tidak terjadi, gajian nanti kita periksa ya!"


Bujuk As menenangkan.


"Tak usahlah Pa, Aku takut mendengar penjelasan Dokter tentang Anak ini, biarkan lah kita tau saat Melahirkannya nanti, apapun itu akan Aku terima."


Mata Mar berkaca-kaca, As menggenggam tangan Mar sangat erat seolah berkata kita akan hadapi bersama-sama Ma.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2