Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 65 Makan bersama


__ADS_3

Beberapa menit berlalu, wajah murung Eni berubah cerah seketika melihat As keluar dari kamar mandi.


"Yeayyy... itu Papa, buruan Pa...Eni laperrrrrrrrr"


Serunya sembari memegangi perutnya.


"Hehehe... ya udah Nak, makan aja duluan, gak usah nunggu Papa, lagian Papa mau sholat dulu"


As senyum menatap Eni, Sementara Eni mengalihkan tatapannya pada Ana, seolah meminta izin namun bukannya mendapat izin, Ana malah melotot dan mengedip-ngedipkan matanya membuat Eni menelan ludah ngeri.


"Enggak deh Pa, nanti aja nunggu Papa"


tukas Eni menunduk.


Setelah As beres, ia mendekati putra putrinya, lalu duduk lesehan diantara Anak dan Istrinya.


Mar menyiapkan mangkok untuk As makan Bakso yang ia beli.


Kini masing-masing Anaknya sudah memegang makanan pesanan mereka kecuali Hen.


Dengan murung ia duduk menatap saudara-saudaranya yang lain.


"Loh ..Hen kok cemberut?? Kenapa sayang?"


As mendekati jagoan kecilnya yang sedang tidak ceria.


Mar baru menyadari kalau Hen tidak turut gembira ria sesaat ketika As menegurnya.


"Kenapa sayang?"


Tanya Mar.


"Hu.... Hu ..huuu.... "


Tangis Hen pecah, hal itu semakin membuat Mar dan As bingung.


"Loh, kok malah nangis? kenapa??"


Tanya Mar lagi.


"Hen lupa....bilang pesan Ayam mateng, jadi Papa gak beliin Hen, sekarang Hen bingung...mau makan apa.. Hu...hu... hu"


Tangis hen makin tergugu, namun hal itu justru malah membuat semua saudaranya tertawa geli.


"Hahhaha.... besok pesanan kamu baru dimasakin Mama...jadi makannya besok yaaaa"


Ledek Win dengan jahil.


"Ssstttt .... Win, gak boleh gitu ah, kan kasian sama adek"


Lerai Mar.


"Hen sayang, besok pagi Mama kepasar beli ayam ya, nanti Mama masak sedap- sedap, sekarang Hen jangan khawatir, ini Papa beli Bakso, sate sama roti, Hen boleh pilih mau makan yang mana?"


Bujuk Mar sambil menunjukkan jenis makanan di depan Hen.

__ADS_1


Tangisnya seketika berhenti, dengan mengusap matanya, Hen mendekatkan wajahnya pada kantong-kantong yang berisi makanan.


"Beneran Boleh Ma??"


Tanyanya semangat, terlebih ketika Mar dan As mengangguk memberi izin.


Segera Hen menyambar sebungkus sate, dan tanpa aba-aba lagi melahap nya dengan nikmat.


Mar yang melihat pemandangan itu tersenyum, ada haru yang terselip diantara keceriaan sore ini.


Betapa tidak, sudah sangat lama Anak- anaknya tak bisa menikmati makanan enak, dan sore ini terlihat sekali bahwa mereka menyantap makanan yang dibeli dengan lahap bak orang rakus.


As menatap Mar yang tengah larut dalam haru.


ia mengusap punggung Mar, lalu menyodorkan sebungkus sate diatas piring.


"Makanlah...."


Ujarnya pelan.


Mar tersadar, dan mengangguk sembari mulai membuka bungkus sate dan mulai menikmatinya.


Sungguh potret sore yang indah untuk keluarga sederhana ini.


...****************...


Selepas Isya, Anak-anak Mar dan As semua sudah masuk kamar bersiap untuk tidur, perut yang terisi sangat kenyang membuat mereka berlima mengantuk dan ingin cepat tidur.


Mereka tidak mengenal kata menonton televisi karena memang dirumah mereka tak ada barang elektronik termasuk TV, hanya Ada radio kecil yang selalu digunakan Ana untuk mendengarkan lagu yang sedang Hits.


"Ma, tahun ajaran baru Ini Win sudah mulai bersekolah?"


Tanya As ketika selesai melipat sajadahnya.


"Iya"


Jawab Mar singkat.


"Semoga kita Ada rejeki ya Ma buat Win"


Mar menoleh As tersenyum sesaat kemudian kembali menjahit.


"Tas Ana sobek?"


Tanya As memperhatikan barang yang sedang dijahit Mar.


"Iya Pa, nantilah kalau Aku dapat gaji Aku ganti yang baru, untuk sementara masih bisa dipakai"


As menarik nafas dalam, ia bersandar pada dinding, tak pernah ia membayangkan hidupnya bagai roler coster, turun naik, turun kemudian naik lagi, dan sekarang harus ia terima kalau ia kembali harus turun lagi, bahkan ia tak yakin kali ini bisa naik lagi.


"Oh ya Ma, minggu depan kontrakan kita akan habis, tidak usah menyambung, kita cari kontrakan yang lain, Aku tidak tahan dengan mulut suami Mak Mat, Aku takut khilaf dan terpancing emosi dengar perkataannya"


"Iya Pa, nanti sekalian Aku tanya- tanya sama Ibu Marni."


As mengangguk, lalu berjalan menuju kamar, ia ingin segera merebahkan dirinya, lama tak bekerja membuat tulang-tulangnya terasa remuk.

__ADS_1


Selepas menjahit, Mar menyimpan kembali Tas Ana didalam lemari kayu, ia mengambil sesuatu dari dalam lemari, dan membawanya kebelakang.


Dengan menuangkan segelas air putih mar menelannya.


Pil Kb, yang ia dapat dari program pemerintah minggu lalu.


Mar adalah wanita dengan rahim sehat dan sangat subur, semenjak menikah, ia dan As tak pernah menginginkan kontrasepsi jenis apapun, mereka membiarkan saja kapan rahimnya akan ditiupkan janin oleh sang pemilik jiwa dan seberapa banyak Anak keturunan mereka semua akan diterima dengan rasa syukur kepada Allah.


Tapi sudah seminggu ini Mar minum Pil penunda kehamilan, dan itu juga sudah izin pada As dan As menyetujuinya apalagi kalau bukan alasan ekonomi mereka yang tersendat-sendat tak jelas.


Tak lama berselang, Mar menyusul masuk kamar untuk beristirahat, karena besok ia harus bangun lebih pagi lagi untuk kepasar memenuhi janjinya pada putra kecilnya.


Pagi Minggu,


Seperti Biasa, Mar akan selalu bangun lebih pagi namun hari ini ia bangun lebih awal dari biasanya.


"Pa, subuh..."


Mar membangunkan Suaminya..


Melihat Suaminya sudah membuka mata, Mar bergegas kembali ke dapur untuk mencuci dan berberes rumah tak lupa memasak nasi.


Kebiasaan Anak-anaknya adalah akan bangun siang ketika hari minggu, tak heran jika sudah pukul 6 pagi semua masih pada tarik selimut.


"Mar memasak nasi goreng sisa nasi semalam, ia juga mengoles susu pada beberapa lembar roti tawar.


Melihat semua pekerjaannya selesai,


Mar kembali menemui As diruang tengah.


"Pa... itu sarapan sudah siap, kalau Anak-anak bangun suruh mereka mandi ya Pa. Aku mau pergi kepasar beli Ayam."


Pamitnya pada As.


"Iya Ma...."


Mar bergegas mencari sandalnya dan berlalu meninggalkan rumahnya menuju pasar dengan berjalan kaki.


Setelah berkeliling membanding-bandingkan harga, ia akhirnya menemukan Harga ayam yang sedikit lebih murah dibanding pedagang-pedagang lain.


Setelah Mendapatkan Ayam, Mar berjalan kearah bumbu, ia juga membeli kelapa dan bumbu lainnya.


Merasa Barang yang dibelinya sudah cukup, Mar berjalan kembali untuk pulang.


Sebenarnya ia bisa saja menaiki angkot atau becak, namun bukanlah Mar jika tak memikirkan sayang uang, terlebih dalam kondisi seperti sekarang ini.


Langit sudah mulai terang, Mar semakin mempercepat langkahnya.


Dalam waktu kurang dari 30 menit, ia akhirnya sampai, sepertinya semua Anak-anaknya sudah bangun terdengar suara-suara berisik dari depan rumah.


"Hore, Mama pulang....!!"


Teriak Hen menyambut kepulangan Mar dari Pasar.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2