Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 66 Kontrakan baru lagi


__ADS_3

Setibanya di rumah, Sambutan si kecil Hen berakhir dalam pelukan hangat Mar serta ia juga berkali-kali menghujani kepala Hen dengan kecupan.


Mar berjalan ke dapur dengan langkah cepat, diikuti Hen dibelakangnya.


"Mama...Jadi beli Ayam?"


Tanyanya polos.


"Jadi"


Jawab Mar pendek.


"Mana, Kok gak kelihatan?"


Hen terus berjinjit melongokkan kepalanya ke meja yang jauh lebih tinggi dari tubuhnya untuk memastikan Mar tidak berbohong.


Mar tersenyum menanggapi,


"Adek gak percaya ya??? Nih...lihat...adakan?"


Mar mengangkat tubuh Hen dan menunjukkan plastik yang berisi Ayam.


"Oh...Iya ada ya....Makasih Ma,..."


"Adek mau dimasakin apa, ehm...Mama masak opor ayam aja ya..Adek suka?"


Tanya Mar menurunkan Hen dari gendongannya.


"Yeaayy.... suka Ma,"


Seru Hen bertepuk tangan.


"Kalau gitu, nanti makan yang banyak ya...."


"Siap Maaaa"


Jawab Hen kemudian berlari menjauh kembali bermain bersama saudaranya yang lain.


Melihat Hen berlari menjauh dari dapur, Mar tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Secepat Kilat Mar menyiangi Ayam hingga bersih, sesekali ia melirik jam yang ada di dinding untuk memastikan dia tidak terlambat kerja.


Mar yang terkenal lincah dan sangat gesit tak butuh waktu lama untuk membereskan masakannya,


Aroma harum dari Opor ayam tercium semerbak membius hidung semua penghuni rumah itu, tak terkecuali As suaminya yang awalnya berada di kamar memutuskan untuk keluar menuju dapur.


Mar mengaduk dan mencicipi untuk memastikan rasa yang benar-benar pas untuk lidah keluarganya sebelum ia meninggalkan rumahnya untuk kerja.


"Ma...rindu sekali dengan aroma opor masakan kamu"


Puji As yang menghampiri Mar di dapur.


"Iya Pa, sudah lama sekali Aku tidak masak Opor ayam, untung Aku masih hafal resep nya..hahhaah"


Canda Mar sambil terkekeh.


"Kamu kan jagonya...gak mungkin lupa"


As memeluk Mar dan mencium kening Istrinya mesra.


"Ya udah Pa, sudah siang Aku harus buru-buru kerumah Bu Marni"


Mar melepas pelukan As, dan bergegas keluar.


"Mama mau pergi ya, nanti kalau kalian sudah lapar, minta tolong Ayuk Ana ambil nasi ya..Itu Mama sudah selesai masak"


Pesan Mar pada semua Anaknya.


"Baik Ma......"


Sahut Anak-anaknya kompak.


Mar berjalan sangat tergesa-gesa, ia takut Bu Marni akan marah jika ia datang terlalu siang.


"Assalamualaikum Bu... Maaf Aku datangnya sedikit siang, tadi kepasar dulu"


"Gak apa-apa Mar, jangan ngerasa Gak enak gitu ya"

__ADS_1


Mar sedikit bernafas lega, karena ternyata Bu Marni sama sekali tidak marah.


Tak membuang waktu, Mar segera melaksanakan tugas-tugasnya.


Tiba saat ia sedang menyetrika, dan Bu Marni tengah membaca majalah.


"Ehm...Bu, kira-kira Ibu tau gak, kontrakan disekitar sini?"


Tanya Mar sedikit ragu.


"Kontrakan, maksudnya kontrakan rumah Mar?"


Mar mengangguk.


"Buat siapa??"


Sambung Bu Marni lagi.


"Buat kami Bu, rencana Mau pindah kontrakan"


Jelas Mar.


"Oh..bentar ya, kalo gak salah di gang sebelah Ada Mar, gak jauh dari sini kalau lewat belokan arah sungai."


"Gang sebelah? belokan sungai?"


Terlihat Mar mengerutkan dahi.


"Iya Gang sebelah, kan bisa tembus jalan kesini itu loh, ngelewatin rumah kakak iparmu"


"Rumah siapa ya Bu? rata-rata Aku kenal warga disana"


"Rumahnya Ibu Reni nama suaminya Pak Eko"


"Oh...Iya Aku tau Bu, "


"Coba Aja kamu tanya -tanya siapa tau belum ada yang ngisi."


Mar mengangguk.


Hingga seluruh tugasnya hari ini selesai, bahkan lebih cepat dari biasanya, Mar sengaja mengeluarkan tenaga dua kali lipat untuk agar ia bisa cepat pulang.


Masih pukul 11.30 ketika ia keluar dari rumah Bu Yeyen, setelah berpikir agak lama Mar memutuskan untuk melihat kontrakan Bu Reni yang dimaksud Bu Marni tadi.


Dengan langkah cepat, Mar menuju Rumah Bu Reni.


Tok..Tok...Tok...!!


"Assalamualaikum..."


Mar mencoba mengetuk pintu rumah besar yang terlihat sangat sepi penghuni itu.


Tak lama, seorang perempuan muda berkulit putih dan terlihat sangat manis keluar.


"Walaikum salam..., Ibu cari siapa?"


"Ehm..Ibu Reni Ya? Begini Bu, apa kontrakan Ibu masih kosong?"


Tanya Mar langsung.


Reni tersenyum,


"Gak usah panggil Ibu, panggil Reni saja, iya kontrakan saya masih kosong, Ibu Minat??"


Tanya Reni ramah dan penuh senyum.


"Alhamdulillah, Iya Bu eh Ren maksudnya kira-kira berapa perbulannya?"


Tanya Mar.


"Murah saja Bu, cuma ya begitulah keadaannya alakadar, tidak ada listrik,, tapi kalau Ibu mau ngontrak nanti listrik dari rumah saya."


Jelas Reni.


Setelah melihat-lihat dan berpadu harga yang ternyata jauh lebih murah dibanding kontrakan Mak Mat, akhirnya Mar setuju.


Selain murah, letak posisi rumah yang berjarak dengan tetangga juga yang membuat Mar setuju, setidaknya tak akan ada tetangga yang merasa terganggu dengan kebisingan Anak-anaknya.

__ADS_1


"Ya sudah Ren, nanti sore insya Allah Aku kesini lagi buat ngasih uangnya, Aku pamit dulu"


"Oh... Iya iya Bu, silahkan"


Selepas pulang dari rumah Reni, Mar tiba dirumah ketika Suami dan Anak- anaknya sedang bersiap makan siang.


"Assalamualaikum..."


Mar masuk kerumah dan langsung berjalan menuju ruang makan.


"Nah..itu Mama kalian pulang, kita bisa makan bareng-bareng lagi"


Ujar As.


Mar segera duduk disamping As.


"Kalian baru mau makan ya?


Tanya Mar membelai kepala Eni yang duduk didekatnya.


"Iya Ma, tadi nungguin Mama, tapi gak pulang-pulang"


Tutur Eni.


"Nih..Mama udah pulang, kita bisa makan..hhehe"


Jawab Mar mencolek dagu bulat milik Eni.


Disaat Anak-anaknya tengah sibuk menyuap nasi menikmati lezatnya opor ayam buatan Mar.


"Pa, aku sudah dapat kontrakan murah."


"Oh ya?? Dimana?"


"Di Gang sebelah, rumahnya Reni Eko"


"Oh...si Reni itu masih kerabat jauh dari orang tuaku, kalau gak salah Ibunya atau ayahnya Reni itu masih sepupuan sama orang tuaku"


"Oh ya??"


"Ya kalau gak salah sih gitu, Aku juga taunya dari kak Husna dulu sempat cerita"


"Ya udah Pa, kita makan dulu..nanti sore kita kesana lagi"


As mengangguk setuju dan mulai menikmati makan siangnya.


Sore tiba, Mar dan As sudah bersiap kerumah Reni untuk mengantarkan uang kontrakan.


"Ana, gak usah ikut ya..Mama sama Papa sebentar, Ana jaga Adek-adek ya?"


"Mama mau kemana?"


"Mama mau lihat kontrakan"


"Kontrakan? emang kita mau pindah lagi Ma?"


Mar mengangguk sambil tersenyum.


sejujurnya pertanyaan Ana barusan sangat menyentil hati kecilnya, kehidupan yang mengharuskan terus berpindah-pindah tempat tinggal, mungkin membuat Anak-anaknya lelah terus beradaptasi di lokasi baru.


"Maafkan Mama sayang...kalian sudah seperti kucing beranak kami buat...semoga kelak kalian hidup senang punya rumah sendiri, agar tak perlu repot pindah sana sini seperti orang tua kalian"


Batin Mar.


As yang memperhatikan Mar menghampiri dan menyentuh pundak Mar.


"Kenapa?"


Tanya As ketika melihat wajah Mar mendung.


"Gak Pa.... cuma berharap semoga Anak-anak kita nanti bisa punya rumah impian, supaya mereka gak perlu pindah-pindah lagi seperti kita sekarang.


"Aamiin...."


Jawab As sambil mengusap muka.


Beraambung***

__ADS_1


__ADS_2