
Mar mempercepat langkahnya, setelah turun dari angkot dan menyusuri gang sempit menuju kerumah kontrakannya.
Sibungsu Sari terlihat sedikit berlari demi menjajari langkah Mar.
"Ma... pelan-pelan, capek..."
Protes Sari ketika terasa tangannya terus terseret oleh langkah cepat Ibunya.
"Ayo Dek, cepat sedikit... sebentar lagi Papa pulang, kita tidak boleh keduluan"
jelas Mar.
"Emangnya kenapa Ma??"
Jawab Sari.
"Pokoknya kita harus sampai sebelum Papa sampai"
Tegas Mar pada bocah perempuan itu.
"Nanti Papa Marah lagi ya Ma?"
Kali ini Mar hanya menoleh sekilas menanggapi pertanyaan Sari.
Dalam hatinya sedih, melihat dan mengenangkan tentang anak bungsunya.
Seumur hidup semenjak ia lahir sampai hari ini, Sari dan Hen anak kelimanya belum pernah merasakan hidup enak, beda dengan ke empat Anaknya yang lain, sebelum terhempas menjadi Anak orang tak mampu mereka sempat mengecapi menjadi Anak sultan pada masanya, memiliki apa saja yang mereka mau, sampai suatu ketika musibah itu datang, menghancurkan mimpi-mimpi mereka, bahkan 2 kali menghempas mereka ketitik terendah, dan setelah peristiwa kedua itu, sulit bagi As dan Mar mengembalikan keadaan mereka seperti dulu walau hanya seujung kuku.
Semua itu membuat As nyaris frustasi, jiwanya terguncang hebat hingga hal itu mampu merubah sikapnya menjadi tempramental, cemburuan dan meledak-ledak dalam berpikir.
Hingga bagi Sari, Ayahnya adalah seorang pemarah.
"Alhamdulillah..."
Mar mengucap syukur begitu sampai di depan rumahnya.
Eni menyambut kepulangan Ibu dan Adik bungsunya.
"Papa belum pulang Ni?"
Tanya Mar begitu melangkah masuk rumah.
__ADS_1
"Belum Ma"
"Baguslah, Ayo cepat Mandi Dek, Mama mau buat kopi"
Perintah Mar pada Sari yang dibalas anggukan.
Selesai Sari mandi, Mar juga segera mandi dan merapikan diri, dan benar saja, hanya berselang 5 menit dari waktu Mar selesai Mandi, As pulang dengan keringat dan wajah lelah, namun tak hanya itu, muka Masam tampak menaungi raut mukanya sore ini.
Firasat buruk merayap dihati Mar.
"Mungkinkan, sore ini Aku akan mendapat kabar buruk?"
Pikirnya.
"Pa...mau langsung mandi atau ngopi dulu Pa?"
Tanya Mar lemah lembut berharap dapat menghadirkan senyum di muka As.
"Mandi!"
Jawaban singkat itu membuat Mar sangat yakin ada yang tak beres pada suaminya sore ini.
Selepas Isya, Semua Anak Mar sudah berkumpul di dalam kamar, sementara Mar masih menemani As duduk diruang tamu meski tanpa obrolan diantara keduanya.
Sapa lembut Mar sambil meraba jemari As.
As menoleh sesaat kemudian terus menghisap rokok yang sudah habis beberapa batang malam ini.
"Papa kenapa? ada apa? Cerita"
Terdengar tarikan nafas panjang dari As, sebelum akhirnya kalimatnya keluar.
"Besok Aku tidak lagi kerja!!! Aku berhenti!!!"
Ujarnya tanpa menoleh.
Deg!!!
Jantung Mar seolah berhenti berdetak, kepalanya pusing mendadak seiring dengan penglihatannya yang mulai buram karena mulai berkaca-kaca.
"Ya Allah, ada apa lagi ini? kenapa beban ini terus saja menghimpitku?"
__ADS_1
Batin Mar.
Mar mengusap pipinya yang basah.
"Kenapa Pa??bukannya kamu bilang sendiri, bahwa pekerjaan mu kali ini lumayan lama?Suara Mar terdengar bergetar.
"Aku ribut sama Mandor!!'
Lagi-lagi As tak menatap mata Mar yang terus saja berair.
"Masalah apa Pa, tak bisakah Kamu sabar, mengalah demi untuk menang?"
"Aku kesal, pemikiran kami tak cocok, dia mau menang sendiri, Aku tak bisa seperti itu?!"
"Wajarlah Pa, Diakan Mandornya seharusnya Papa yang harus bisa meredam emosi dan mengalah bukan seperti ini"
Nasihat Mar tak digubris.
"Ah, sudahlah Aku pusing mataku sudah terlanjur gelap melihatnya yang sok berkuasa, jika Aku masih disana bukan tak mungkin Aku akan menghantamnya!!"
Ujar As masih terus berapi-api.
"Ya Allah Pa...kita masih butuh biaya.. kalau kamu berhenti, itu artinya minggu depan kita tak ada uang sementara Aku baru saja bekerja, masih lama dapat upah!
Mar menunduk, air matanya tak terbendung, sesekali isaknya terdengar menyayat pilun.
"Hentikan rengekan mu Ma!! Semua itu buat Aku tambah pusing!!! kerja gak cuma ditempat itu, paling besok lusa Aku juga sudah dapat kerjaan!!"
As meninggalkan Mar yang masih terisak pelan di sudut ruang tamu.
"Semoga Pa.... semoga cepat kamu dapat pekerjaan baru"
Batin Mar.
Ia mengusap pipinya dan mengeringkan sudut matanya, ia sebenarnya tak ingin Anak-anaknya tau tentang dukanya Malam ini, namun ia salah... Justru ke Enam Anaknya tengah menguping dan menyaksikan obrolan mereka dan turut merasakan pedihnya hati ibu mereka.
Bersambung***
Maaf ya sayang2 ku, update malam ini seiprit,
Mata gak bisa diajak kompromi..
__ADS_1
besok kita sambung lagi..
Bye...๐๐