
Setelah selesai berbelanja mainan, As mengajak Anak dan istrinya untuk pulang.
Ditengah perjalanan keluar pasar, Ana berhenti melangkah,
"Pa... sudah lama sekali ya, Ana gak diajak makan gado-gado sama es alpukat"
Celetuk Ana ketika baru saja mereka keluar dari gedung pasar.
As, tersenyum menatap Ana yang menatapnya dengan mata memelas.
"Ana mau gado-gado?"
Tanya As, sembari berjongkok di depan Ana.
"Ya...sich..kalau boleh..."
Ana tertawa dengan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Boleh...ayo berangkaaaatttt !!!!"
As menunjuk tangannya ke arah warung gado-gado didepan gedung pasar.
Hal itu disambut dengan tepuk tangan girang dari Ana serta teriakan gembira dari Anaknya yang lain.
Mereka melangkah masuk kesebuah warung tenda yang menjual gado-gado dan aneka macam Es.
Setelah pesanan mereka datang, dengan lahap mereka menyantapnya, sesekali tawa mereka terdengar renyah diselingi celoteh-celoteh lucu dari Anak-anak Mar dan As.
Mar tersenyum menatap wajah-wajah ceria dari buah hatinya, bagi keluarga Mar dan As bahagia itu sederhana... hanya dengan gado-gado dan Es pinggir jalan, sudah mampu menghadirkan kebahagiaan luar biasa untuk mereka.
Setelah selesai makan, As juga memesan 2 bungkus gado-gado untuk dibawa pulang untuk kedua mertuanya.
Kembali menggunakan 2 buah becak mereka pulang kerumah dengan hati girang.
Sesampai didepan rumah Bulromi,
"Assalamualaikum... Nyaii..... Yai.....!!"
Salam dari ketiga putri kompak, membuat Masning dan Bulromi buru-buru menyambut mereka didepan pintu.
"Walaikum salam...Eh.. Anak-anak pinter...Cucu-cucu Nyai yang cantik dan ganteng... Udah pulang ya,, yuk masuk yuk...capekkan??"
Masning merangkul ketiga putri dan mengajak mereka masuk.
"Ini yai...oleh-oleh..!"
Eni menyodorkan bungkusan plastik pada Bulromi.
"Wahh...apa ini sayang?? Makasih ya sayang... Yai senang deh..dapat oleh-oleh"
Bulromi menerimanya dengan sukacita.
"Sini...sini...cerita sama nyai..sama Yai..tadi kemana? ngapain aja? beli apa aja..? trus senang gak?"
Masning antusias bertanya pada Cucu-cucunya sembari menyiapkan gado-gado pemberian Eni kedalam piring untuk suaminya.
"Senang nyai.... tadi kami beli mainan,, oh iya ya..mana Pa...mana mainan tadi??"
Eni beranjak dari duduknya berlari menghampiri As yang sedang duduk tak jauh dari mereka.
__ADS_1
As menyambut Eni dengan senyum, dan menyerahkan satu kantong besar mainan yang baru saja mereka beli dipasar tadi.
Tak sanggup mengangkatnya, Eni kemudian menyeretnya ke arah Masning dan Bulromi, kemudian memamerkan Mainannya.
"Ini lihat Nyai... Eni beli Masak-masakan Bagus kan Nyai??"
Ujarnya gemas, sembari mengacungkan mainannya didepan muka Masning dan nyaris mengenai wajah Masning.
Masning dan Bulromi tersenyum sembari mengangguk.
"Upss...hampir kena, wahhh keren sekali..."
Mar yang berada dikamar tengah menidurkan Hen dan Win juga ikut tersenyum mendengar celoteh Putrinya dari luar.
Sungguh perasaan yang tak bisa ia ungkapkan, Hanya rasa syukur tak terhingga atas kebahagian hari ini.
Malam menjelang tidur, Ana berbaring di dalam pelukan As.
"Pa...Besok Ana sekolah Papa yang nganter ya.."
Obrolan Ana sebelum ia memejamkan matanya.
"Iya sayang...Papa pasti antar Ana"
Jawab As, mengecup pipi Ana.
"Emangnya Papa berapa hari disini?"
Ana mendongakkan kepalanya menatap As.
"Satu minggu sayang, ya udah Ana bobok ya.. nanti besok pagi biar gak kesiangan,"
"Iya Pa..."
Jawabnya segera beranjak dan pindah posisi di sebelah Adik- adiknya, kemudian memejamkan matanya.
Hanya beberapa saat, Ana dan semua Adiknya sudah lelap.
Mar melepas Hen perlahan dan merapikan posisi tidur Win, setelah itu mendekat Pada As suaminya, yang masih terjaga.
"Pa..Sudah satu bulan kita disini, Aku gak enak sama Mak dan Bak, apa sebaiknya kita cari kontrakan?"
Ujar Mar sembari menyandarkan kepalanya pada dada bidang As.
As menarik nafas,
"Aku juga berpikiran sama Ma... kita cari kontrakan yang bisa bayar perbulan saja Ma. Besok pulang dari mengantar Ana sekolah Aku akan cari kontrakan"
As mencium kening Mar.
"Makasih Pa..."
Mar tersenyum mendengar ucapan Suaminya yang setuju dengan keinginannya untuk pindah rumah.
"Kita tidur yuk, sudah malam.."
Ajak As.
Keesokan paginya,
__ADS_1
Selepas subuh, Mar sudah sibuk didapur, mencuci pakaian,serta seperti biasa membuat sarapan untuk keluarganya.
Ana keluar dari kamar, menuju dapur menemui Mar.
"Ma... Ana sekolahkan hari ini?"
Tanya nya penuh semangat.
"Iya sayang...tapi ini masih terlalu pagi,, kamu leyeh-leyeh dulu ya nak, masih dingin untuk Mandi."
Mar mengusap pipi Ana.
"Ana tahan kok Ma dingin, Ana mau mandi sekarang ya..."
Pinta Ana, yang mau tidak mau Mar harus mengiyakan keinginan Ana untuk segera mandi.
Tak tega jika putrinya harus kedinginan mandi sepagi ini, mar menuangkan beberapa gayung Air panas pada Air mandi Ana.
Melihat hal itu Ana tersenyum kegirangan karena pagi ini ia akan mandi air hangat, hal yang sangat disukainya.
"Makasih Mama..."
Ujar nya.
Setelah siap mandi, dengan mengenakan seragam baru Ana duduk di ruang makan menunggu Mar menyajikan sarapan pagi untuk mereka.
Dalam dua puluh menit semua Anggota keluarga sudah berkumpul untuk menikmati sarapan pagi buatan Mar.
Seperti biasa, ketika makan adalah hal yang membuat keluarganya berkumpul, bercerita sesekali tertawa mendengar celoteh lucu dan menggemaskan dari Anak-anak Mar dan As.
Selesai sarapan dengan sepeda milik Bulromi, As mengantarkan Ana menuju kesekolah barunya.
Sesampainya disekolah, Ana bersemangat sekali untuk menuju kelas baru, bertemu dengan guru serta berkenalan dengan teman baru.
"Ana..Papa pulang ya...."
Ujar As begitu selesai menemui guru Ana dan menitipkan Anaknya untuk belajar disekolah itu.
"Iya Pa...nanti gak usah jemput ya Pa..Ana bisa pulang sendiri"
Jawab Ana sembari mencium tangan Ayahnya.
As tersenyum kemudian melambaikan tangan pada Putri sulungnya.
Keluar dari sekolah Ana, As berpikir sejenak, kemana arah yang akan ia tuju untuk mencari kontrakan murah.
As kembali mengayuh sepedanya, sepanjang perjalanan As terus menoleh kekiri dan kekanan, sesekali ia berhenti ketika bertemu seseorang untuk menanyakan info tentang rumah yang dikontrakkan,
As berhenti tepat di sebuah rumah kecil tak jauh dari rumah mertuanya.
Hatinya terpaut pada rumah tersebut selain kecil yang pastinya murah, ia juga tak khawatir meninggalkan Anak dan Istrinya jika a berangkat kerja, sebab letak rumah yang tak jauh dari rumah Bulromi.
As mendekati rumah tersebut, dan mencoba bertanya pada orang disekitar rumah itu tentang pemilik kontrakan.
Seseorang menunjukkan pemilik kontrakan pada As.
Setelah bertanya tentang harga, As berpamitan kepada pemilik kontrakan dan segera pulang kerumah untuk memberitahu Mar tentang rumah kontrakan tersebut.
Bersambung**
__ADS_1