
Tak terasa Hampir sebulan berlalu dari peristiwa pilu itu.
Sedikit-sedikit Mar mulai bisa beradaptasi.
"Ma... kapan Ana sekolah lagi??"
Tanya Ana yang terpaksa berhenti sekolah untuk sementara waktu.
"Sabar ya Sayang, yang penting Ana harus selalu berdoa, agar Mama, Papa bisa secepatnya mengurus sekolah Ana, biar Ana bisa sekolah lagi ya Sayang"
Bujuk Mar.
Ana hanya mengangguk.
"Pa... Apa kabar kamu disana? Bagaimana kamu makan? kenapa belum mengirim kabar? Kami menunggu Pa...."
Ratap Mar dalam hati sambil memeluk keempat Anaknya.
"Assalamualaikum..."
Mar terhenyak ketika terdengar salam dari luar.
Ia bergegas menemui kedepan.
"Walaikum salam.... Lim, apa ada kabar dari Kak As??"
Todong Mar pada salim.
"Iya Kak, ini ada telegram dari As, Dia menyuruh kakak menyusul bersama Anak-Anak besok pagi, biar saya antar"
"Besok??"
Tanya mar tak yakin.
"Iya Kak.."
Masning keluar, disusul Bulromi,
Mar menatap kedua orang tuanya.
"Bagaimana Mak?"
Tanya Mar.
"Ya.... Pergilah Nak..."
Jawab Masning penuh keikhlasan.
"Ya udah Kak, Saya pamit besok pagi Saya jemput"
Salim meninggalkan kediaman Mar.
Keesokan harinya,
Mar tengah berkemas didalam kamar memasukan beberapa potong Baju Anak-Anaknya yang diberikan Husna, serta beberapa Baju Mar yang masih tertinggal di rumah Masning.
"Mama... Kita mau kemana?"
Tanya Ana.
__ADS_1
"Kita mau nyusul Papa, Ana senang kan?"
Senyum terkembang sangat lebar di raut muka Ana.
"Yeay..... Ana rindu Papa Ma....."
"Ya Sayang... Makanya Ana buruan mandi ya..."
Tanpa menunggu Mar mengulang perintah, Ana berlari menuju kamar mandi untuk mandi.
Disusul Kedua Putri Mar yang lain, selepas berkemas Mar memandikan Win, Setelah semua selesai mandi, kini giliran Mar yang mandi dan bersiap.
Hatinya tak sabar ingin kembali berjumpa dengan As yang sudah hampir satu bulan tak bertemu.
Mar beserta keempat Anaknya sudah bersiap berangkat, dan tengah menunggu kedatangan Salim untuk menjemput mereka.
"Mar... jika nanti disana kalian tidak betah...Pintu rumah ini terbuka lebar untuk kalian kembali"
Ujar Bulromi sembari memeluk Win. Hatinya gelisah berkecamuk harus kembali melepas Anak dan cucunya jauh dari dirinya.
"Iya Bak, terimakasih... Bak sehat-sehat ya..Mak juga, Doakan kami kuat Mak..Bak..."
"Assalamualaikum"
"Walaikum salam...Masuk dulu Lim..."
Tawar Masning pada Salim yang baru datang.
"Terimakasih Mak, tapi sebaiknya kita langsung berangkat, mumpung masih pagi"
Tolak Salim sembari menatap Mar sambil mengangguk.
Mar mencium punggung tangan kedua orang tuanya, lalu memeluk mereka haru, air matanya kembali jatuh, hatinya terasa perih, namun ia percaya ini yang terbaik, bukankah Istri yang baik adalah yang selalu ikut kemana Suaminya tinggal.
Setelah berpamitan, Mar dan Salim beserta Keempat Anaknya berangkat menuju kampung As. Suka cita tergambar dari raut wajah keempat Anak Mar dan As, terutama Ana yang sudah sangat rindu dekapan Papanya.
Sepanjang perjalanan dikereta, Ana dan ketiga Adiknya bersenandung riang, tak ada beban diwajah mereka, kebahagiaan dan keceriaan menghiasi diri mereka yang masih sangat polos.
Mar yang memperhatikan mereka benar-benar tak tau mesti sedih atau senang, sedih karena mengingat masa depan mereka yang belum tentu arah, padahal Mar dan As telah merancang semua impian untuk masing-masing Anak mereka, namun ternyata impian itu harus terpatah begitu saja.
Mar juga senang, melihat Anak-Anaknya ceria, itu artinya tak ada trauma ataupun tekanan mental pada Anak-Anaknya selepas kejadian kebakaran kemarin.
"Ma... Masih lama ya??"
Tanya vin yang mulai menguap lebar.
"Iya sayang.... Masih lama, vin ngantuk ya??"
Tanya Mar mengusap rambut Vin.
Vina mengangguk.
"Ya udah.... Vin bobok Aja dulu ya,,ntar.... kalau sudah sampai, Mama bangunin ya..."
Vina mengangguk kemudian mulai memejamkan matanya.
As mempercepat langkahnya menuju stasiun, hatinya sungguh tak sabar ingin berjumpa Mar dan keempat Anaknya.
Beberapa kali ia menyunggingkan senyum sendiri, membayangkan sebentar lagi bisa memeluk dan mencium Anak- anaknya, bermanja dan bercengkrama seperti biasanya, Hampir satu bulan ia berteman dengan sepi dan kesunyian, tanpa sapa lembut Ana, tanpa senyum manis Vina, tanpa celoteh Eni, dan tanpa rengek manja Win. Dan yang paling ia rindukan adalah Mar.
__ADS_1
Betapa menggunung rasa rindunya pada Ibu dari keempat Anaknya yang selalu bertutur lembut, berwajah syahdu, tatapan teduh Mar selalu mampu mententramkan hatinya, senyum Anggun Mar selalu menjadi penawar letihnya, betapa Mar adalah perempuan sempurna dihati As.
Setengah jam lebih awal, As sudah sampai distasiun, ia memilih duduk di bangku paling depan ruang tunggu penjemputan penumpang, Agar Mar dan Anak-Anaknya bisa lebih gampang melihatnya ketika mereka turun dari kereta. Ditangan As, sudah ada sekantung permen dan coklat sebagai sambutan untuk Anak-Anaknya.
Petugas PPKA kereta mulai berdiri dan melangkah sedikit kedepan, peluit ditangan siap untuk ditiup menandakan sesaat lagi kereta akan tiba.
As mulai tak tenang, beberapa kali terlihat duduk berdiri dan mondar-mandir sembari terus menatap arah kedatangan kereta, dan hatinya lega begitu kepala kereta sudah terlihat, terlebih ketika kereta berhenti tepat di depan stasiun.
As berdiri mendekat, matanya menelisik tajam kearah setiap penumpang yang turun.
"Ma... Kita sudah sampai ya??"
Tanya Ana.
"Iya sayang, Ana hati-hati ya... jangan jauh dari Mama,, pegang kuat-kuat tangan Vin."
Pesan Mar yang menggendong Win serta menggandeng Eni, sementara Salim membawakan tas mereka.
"Ma, itu Papa Ma.... Papaaaaaaaa"
Seru Ana, kemudian berlari menghampiri As.
Dengan sigap As menangkap tubuh Ana, mengangkatnya dan memutarkan tubuh Ana melayang diudara, diikuti suara cekikikan dari Ana.
"Kamu apa kabar sayang.. Papa rindu,,"
peluk dan ciuman As berikan untuk putri kesayangannya.
Vin, Eni turut menyusul Ana mendekati As.
Dan kini giliran Vin dan Eni yang dihujani kecupan dari As.
"Ehmm...Sikalem Papa.... dan ini si Amoynya Papa....ini, Papa ada permen"
As menyerahkan bungkusan kantong plastik berisi permen yang ia siapkan.
"Asyikk.... Makasih Pa...."
Kini ketiga putri sibuk berebut permen dari As.
Dari tempat yang sama Mar yang tengah menggendong Win sedang menatap laki-laki yang tengah melepas rindu pada ketiga Putrinya dengan mata berkaca-kaca.
As berjalan mendekati Mar, senyum ia lontarkan meski matanya kini meremang.
"Ma... Kamu apa kabar... ?? kamu terlihat kurus, pipimupun kelihatan tirus, kamu pasti kurang tidur ya??"
As menatap sedih perempuan didepannya.
Mar tak tahan lagi, segera menjatuhkan kepalanya pada dada As dan menangis terisak.
"Kamu juga lebih kurus Pa...! Pasti makan kamu tidak teratur...Hiks... Hiks"
As memeluk, dan mengusap pundak Mar.
"Ayo kita pulang..."
Rangkulnya pada Mar dan Anak-Anaknya.
Bersambung***
__ADS_1