Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 70 Penasaran


__ADS_3

Pagi ini,


Dirumah Ibu Marni Mar melakukan semua apa yang menjadi tugasnya, meski hatinya tengah terluka, meski kepalanya sedang dipenuhi beban pikiran, tak sedikitpun membuat semangatnya bekerja kendor, Mar tetap konsisten dengan tugas-tugasnya.


Sedikit terhuyung, ketika ia tengah mengangkat bak berisi pakaian yang baru selesai ia cuci.


"Pagi Nek.... sedang berjemur ya??"


Sapa Mar pada Nek Sumi, Ibunya Bu Marni yang sedang berjemur dengan kursi roda.


"Iya..."


Jawab Nenek tua itu singkat.


Selama Mar menjemur pakaian, Nek Sumi terus memperhatikan tubuh kecil Mar, sedikit mengernyitkan dahi ia terus memandang kearah pinggang Mar, bokong dan perut Mar.


Selesai menjemur, Mar melangkah masuk dan ketika melintas di depan Si Nenek,


"Mar...Kau sedang hamil ya?"


Tanya Nek Sumi.


"Hah, hamil? gak Nek...Aku tidak sedang hamil"


Jawab Mar bingung.


"Tapi Aku perhatikan postur tubuhmu persis sedang hamil"


"Gak Nek, mana mungkin Aku hamil, Aku KB"


Jawab Mar kali ini dengan senyum.


"Biasanya pandanganku tak pernah meleset, dari pinggang, bokong, payudara dan perutmu, jelas sekali seperti orang sedang hamil 5 bulanan."


Nek Sumi mengusap perut Mar yang memang terlihat sedikit membusung dan kencang.


"Mungkin karena Efek pil Kb Nek, makanya perutku jadi besar"


"Oh...ya mungkin juga, tapi..cobalah kau periksa kebidan, takutnya kau benaran hamil tapi kau terus konsumsi Pil Kb, bahaya buat janin jika benar-benar kau hamil"


Nasehat Nek sumi pada Mar yang mulai cemas.


Mar memegangi perutnya, mulutnya mengatup, perasaan tak menentu tengah mengusik hatinya.


"Apa benar Aku hamil? haduh, pikiran yang tadi aja sudah bikin pusing, sekarang malah nambah kepikiran tentang perut,, makin pusing Aku!!!"


Gumam Mar dalam hati.


Mar mengingat-ingat memang sudah lama Mar tidak datang bulan, ia menyangka itu efek dari pil Kb yang ia minum.


"Bagaimana kalau benar, didalam perut ini ada bayi...ya Allah, bukan Aku menolak rejeki dariMu, hanya saja rasanya Aku sudah tidak mampu lagi, ditambah hidup yang semakin sulit, biaya hidup yang semakin hari semakin mahal, bagaimana Aku bisa menghidupi satu Anak lagi?"


Mar memejamkan matanya sambil bersandar pada pintu kamar mandi rumah Bu Marni.


Ucapan Nek Sumi kini membuatnya gelisah.


"Nek, Aku pamit ya...."

__ADS_1


Mar meninggalkan rumah Bu Marni ketika semua tugasnya selesai,


"Kau ingat pesanku Mar, sebaiknya segera periksa."


Nek Sumi kembali mengingatkan Mar untuk segera kebidan.


Mar mengangguk tersenyum menanggapi pesan Nek Sumi.


Ia berjalan cepat menuju rumah Bu Yeyen, dengan perasaan gelisah sesekali terlihat Mar mengusap perutnya.


Sama halnya seperti dirumah Bu Marni, Mar dengan gesit menyelesaikan tugas-tugasnya.


Hingga sebelum adzan zuhur ia sudah membereskan semuanya.


Diperjalanan pulang, Mar mengingat lagi ucapan Nek Sumi, Ia menarik Nafas panjang.


"Periksa ke Bidan? bagaimana harus periksa...Buat makan saja sulit, Apa minggu depan saja ya, tunggu Papa gajian"


Ujar Mar lirih.


Mar mengeluarkan dompet kecil yang ia selipkan di pinggang roknya.


"Hanya ada segini, mana cukup! ini juga untuk makan sampai hari sabtu!"


Gerutu Mar dalam hati.


"Ah...sudahlah, Aku yakin..Aku tidak sedang hamil... lagian Aku tak merasakan gejala-gejala ibu hamil, tidak mual, tidak ngidam..Periksanya nanti-nanti saja"


Hibur Mar sendiri.


Malam hari,


Anak-anak mereka sudah berada dikamar yang letaknya bersebelahan dengan kamar Mar dan As.


Dengan gelisah, As terus membolak balik tubuhnya mencari posisi ternyaman, Sementara Mar masih duduk, tangannya masih sibuk dengan jahitan taplak meja dari kain perca yang sengaja ia minta dari tukang jahit.


Mar memang begitu kreatif dan rajin, ia selalu menjahit apa saja dari kain-kain sisa, di sela- sela waktu senggangnya, tak heran dirumahnya selalu saja ada karya baru hasil jahitan tangannya, mulai dari sarung bantal, lap tangan, taplak meja hingga selimut kain perca.


Mar tau,As sedang gelisah namun sengaja tak menyapa, Mar takut sapaannya akan menyulut api baru lagi.


Tak berselang lama, As beranjak dan duduk di tepi tempat tidur.


"Ma...lagi jahit apa?"


Sapa basa basi As meluncur, tentu saja membuat Mar ternganga melempar pandangan pada muka suaminya.


"Ehm... Jahit taplak meja Pa, kenapa belum tidur?"


Tanya Mar tak lupa dengan tatapan teduh dan senyum lembutnya.


"Aku tak bisa tidur!"


As melangkah mendatangi Mar, lalu duduk di samping Mar.


"Kenapa?"


Tanya Mar, memutar bokongnya, dan kini menghadap As.

__ADS_1


"Ma... Aku salah, Aku khilaf, Aku minta maaf!"


As memegang kedua bahu Mar.


Seketika Mar tersenyum dan meraih tangan kanan As,


"Pa... Aku mencintaimu...tak ada alasan untuk Aku tidak memaafkanmu.."


As mendekap tubuh Mar erat, mengelus rambut hitamnya,


"Makasih Ma...Makasih...Aku juga mencintaimu..Aku mau terus bersamamu, sehidup semati, Aku tak bisa tanpa kamu Ma..."


Mar mengangguk dalam pelukan As, ia pun tak bisa tanpa As, ia pun berharap sehidup semati bersama.


Hari-hari berlalu, sudah satu minggu sejak Nek Sumi bilang bahwa Mar tengah Hamil.


keadaan Mar dan As juga sudah harmonis dan mesra lagi, meski tak bisa dipungkiri sikap tempramental As semakin hari semakin jelas, begitupun dengan rasa cemburunya yang terkadang tak masuk diakal, namun bukanlah Mar, jika ia tak bisa memaafkan perilaku As suaminya, bukanlah Mar jika tak bisa menerima semua dengan hati yang luas.


Mar tetap bersikap manis, lemah lembut, menghormati, menerima dan memahami semua yang ada pada diri As.


Baginya, sejak hari pertama memutuskan untuk menikah dengan As, itu adah janji yang harus ia pegang bahwa seumur hidupnya, ia akan berikan cinta yang tak terhingga pada suaminya, dan hidupnya telah ia abdikan seutuhnya untuk suaminya hingga ajal menjemput dan maut yang memisahkan.


...****************...


Mar tetap melanjutkan meminum Pil kontrasepsi itu, dengan keyakinan bahwa Dia tidak sedang hamil, meskipun ia sama sekali belum periksa,


"Ma... Aku dapat borongan Proyek mungkin sekitar tiga bulanan, nanti kita beli kursi ya.. ketiga putri kita sudah masuk remaja, malu kalau teman- teman mereka datang harus duduk di lantai."


"Terserah Papa saja, Aku ikut"


"Nanti kalau dapat rejeki lagi, baru kita beli Televisi"


Sambung As.


"Oh ya Pa... menurut kamu, Apa Aku terlihat seperti wanita hamil?"


Tanya Mar, yang membuat As menatap keheranan kemudian mendekat.


"Kamu serius Ma? Kamu hamil lagi?"


As mengusap perut Mar.


"Ya gak tau, Aku nanya kamu.. soalnya waktu itu Nek Sumi, Ibunya Bu Marni bilang Aku seperti orang yang lagi hamil."


"Bukannya kamu Kb ya kan?"


Tanya As.


"Ya makanya itu, Aku heran"


"Ma, kamu harus periksa...Aku takut terjadi apa-apa"


"Ya, nantilah.. besok Aku mau ke Mak ipah, minta diurut"


Mak ipah adalah tukang urut yang biasa mengurut orang hamil.


As mengangguk.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2