
As seperti menemukan jiwanya yang sempat hilang, semangatnya kembali terisi ketika melihat Mar kembali berada disisinya lagi.
Malam harinya diruang keluarga,
"Kapan rencana kalian pulang?"
Tanya As pada Anak-anaknya ketika berkumpul di ruang keluarga sebelum tidur.
"Besok Pa, maaf Ana gak bisa lama... Anak-anak masih butuh Ibunya dalam segala hal"
Jawab Ana.
"Hen juga besok pagi Pa, kantor cuma ngasih izin 10 hari, ini saja Hen sudah bolos 2 hari,"
Hen menunduk merasa bersalah karena harus pulang meninggalkan kembali orang tuanya.
"Vin, juga Besok Pa,, mumpung dapat tiket pesawat murah"
"Ya sudah, tak apa- apa.... Mama kalian juga sudah pulih, kalian hati-hati"
Balas As.
Sementara Win dan Eni, sudah lebih dulu pamit pulang selepas magrib tadi, dikarenakan rumah mereka yang tak terlalu jauh dari kediaman Mar dan As.
"Ini sudah malam, sebaiknya kalian tidur, istirahat biar besok segar"
As menyuruh ketiga Anaknya untuk beristirahat.
"Mama, yuk Adek antar kedalam?"
Sari memapah Mar masuk kedalam kamar, sementara As masih duduk diluar menghabiskan sebatang rokok yang tengah dihisapnya.
Sesampainya dikamar,
"Ma, tidur yang nyenyak ya...nanti kalau tengah malam ngerasa gak enak, teriak aja panggil Adek ya.. atau bangunin Papa suruh ketuk kamar Adek ya Ma...."
Sari membetulkan posisi selimut Mar, menyetel lampu agak redup dan mencium kening Mar.
Mar mengangguk, kemudian memejamkan matanya.
Baru saja terpejam, tiba-tiba Mar kembali membuka matanya, dengan cepat menangkap tangan Sari yang hendak meninggalkannya.
__ADS_1
Tentu saja hal itu membuat sari terhenyak kaget dan kembali duduk disisi Mar.
"Ada apa Ma??"
Tanyanya lembut.
"Makasih ya Nak..."
Mendengar ucapan Mar barusan Sari tersenyum,
"Tak perlu Ma, ini sudah kewajiban"
Melihat Mar telah terpejam nyaman, Sari meninggalkan kamar Mar lalu menghampiri As.
"Pa, sudah malam...tidur ya,,"
"Iya Dek, sebentar lagi..."
Jawab As.
Sari mengangguk, kemudian masuk kedalam kamar menemui Suami dan bayinya yang sudah pulas.
10 menit berlalu,
As menuju kamar, ia berdiri diambang pintu kamar menatap Mar yang meringkuk didalam selimut.
Hatinya damai, tenang dan sangat nyaman, perlahan ia melangkah mendekati Mar, membelai rambut yang kian memutih, lalu mengecup kening lelah itu.
As melangkah naik keatas tempat tidur sangat pelan dan hati-hati, ia takut Mar terbangun, ia tak ingin mengganggu istirahat Istrinya.
As menatap punggung Mar, yang tidur membelakanginya.
"Tuhan...Aku sangat menyayangi wanita ini, sungguh tak ada sedikitpun celah dihatiku yang tak bertuliskan namanya, terimakasih Ya Allah, Kau telah mentakdirkan Dia menjadi jodohku sampai detik ini, terimakasih Kau telah menemukan kami dalam cerita cinta yang sangat indah,, Aku sangat bersyukur bisa hidup bersamanya sampai detik ini,,, jika boleh Aku mohon padamu sekali lagi....jangan dulu Kau ambil Dia dariku, Aku belum siap kehilangannya, Aku belum sempat membahagiakan dia lagi seperti dulu..jika kelak memang ajal memanggil aku ataupun Dia, Aku mohon, jangan pisahkan kami terlalu lama, Aku mohon satukan kami kembali disana"
Air mata As tumpah, ia menangis dalam ratapannya,
Segera As menghapus air mata itu, ia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
As takut, tangisnya terdengar oleh Mar dan membangunkannya.
Tanpa disadari As, Sari mendengar ratapan lirih itu dari balik pintu kamar yang tidak tertutup rapat ketika ia hendak mengambil air minum.
__ADS_1
Tak kuasa Sari menahan pilunya, ia tak bisa membayangkan jika salah seorang dari orang tuanya pergi, patah hati seperti apa yang akan terjadi di rumah ini,
Sari mengusap pipinya yang basah dan kembali masuk kamar, ia mengurungkan niatnya untuk minum, seketika rasa hausnya berubah menjadi rasa takut kehilangan.
"Kenapa Bunda? kok nangis?"
Tanya Leman suaminya.
"Entahlah Yah, Malam ini Aku benar-benar merasa takut"
"Takut?? Takut kenapa?"
Leman beranjak dari tidurnya mendekati Istrinya yang tengah duduk di tepi tempat tidur.
"Aku takut kehilangan Mama..."
"Ssttt....Jangan bicara seperti itu sayang...kita gak boleh takut terhadap takdir dan ketentuan Allah, jika sudah sampai waktunya...kita harus ikhlas, dan semoga Mama dan Papa selalu sehat, diberikan umur yang panjang, kita belum sempat membahagiakan mereka, iya kan?"
Leman memeluk Sari sembari mengusap kepalanya lembut.
"Iya Yah...Kamu benar.."
Sari mengangguk tersenyum.
"Ya udah... kita istirahat yuk.."
Sari mengangguk dan merebahkan diri disamping buah hatinya.
Bersambung***
Hai semua.....ceritanya sampai sini dulu ya... Mata udah ngantuk parah,,
Besok kita sambung lagi...
Makasih banyak ya...yang udah setia baca kisah cinta sejati Dan perjuangan hidup Mar dan As.
Makasih juga yg sudi ngasih like, vote dan hadiah,,semoga Allah membalas kebaikan kalian semua...
i love u all....
Salam sukses buat kita semua....
__ADS_1