Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 88 Kembali dirawat


__ADS_3

Hari-hari kembali tenang, setelah kepulangan Mar dari Rumah sakit, keceriaan kembali tercipta dirumah, Anak-anak Mar dan As yang tinggal di Kota lain sudah kembali, termasuk Suami Sari yang tengah dinas diluar daerah pun sudah kembali berdinas seperti biasa dan akan pulang seminggu sekali diakhir pekan.


Dirumah hanya ada Mar, As, Sari dan Rangga putra semata wayang Sari yang masih Balita.


Sesekali Win akan datang berkunjung untuk menengok orang tuanya, begitupun dengan Eni.


Bagi As tak ada hal yang lebih menggembirakan selain melihat senyum Mar kembali terkembang, lain halnya bagi Sari, baginya kebahagiannya adalah ketika melihat Mar dan As lahap makan, karena menurutnya hal itu menunjukkan bahwa kedua orang tuanya tengah sehat dan baik-baik saja.


Ia akan merasa cemas jika keduanya sedang tidak selera makan, rasa panik dan ketakutan akan menghantuinya saat itu juga.


Setiap Pagi, Mar akan berjemur di depan rumah, sembari bermain dengan cucunya, melihat Sari menjemur pakaian, atau sekedar turut menyaksikan Sari bersama tetangga-tetangganya berkerumun belanja sayur pada pedagang sayur keliling, sekedar mengusir kebosanan ia akan mengajak cucunya bernyanyi, bertepuk tangan bersama, mengajarkan banyak macam lagu anak-anak.


As yang akan mengantarkan Mar duduk di teras rumahnya, dan jika merasa sudah cukup segar dan hangat, As kembali akan menjemput Mar kembali masuk kedalam rumah.


kondisi kesehatan Mar berangsur pulih, hanya saja semakin hari, tungkai kakinya semakin lemas, dan mengecil mengakibatkan Mar kehilangan keseimbangan untuk bisa berdiri, semua karena penyakit Diabetes yang diidapnya.


Hari-hari terberatnya adalah ketika ia tak mampu lagi berlari, berjalan bahkan berdiri, hari-harinya hanya akan dihabiskan dengan duduk, dan terbaring, segala sesuatunya ia akan sangat bergantung pada As dan Sari putri bungsunya.


Bahkan untuk mandi saja, ia harus di mandikan Sari.


"Dek, makasih ya...sudah bertahun-tahun kamu merawat Mama,"


Ujar Mar ketika Sari baru saja memandikan Mar,


"Iya Ma..Mama gak perlu makasih, kan sudah jadi kewajiban Adek ngurus Mama"


Jawab Sari yang tengah menyisir rambut putih Mar, sebelum memakaikan jilbab.


"Dek...Andai Mama bikin kesalahan dan buat dongkol hatimu, Mama mohon..jangan masukkan dihati, jangan kesal ya...."


kali ini ucapan Mar terdengar bergetar, membuat Sari menatap wajah Mar, Mar membalas tatapan putri bungsunya dengan mata berkaca-kaca.


"Ma... jangan bilang begitu ya... yang penting Mama semangat terus..sehat-sehat badan ya Ma"


Sari menyapukan bedak diwajah Ibunya tak lupa menyemprotkan sedikit parfum di pakaian Ibunya.


"Nah...sekarang, Mama sudah cantik, segar..wangi lagi,, Papa mesti makin cinta"


Ledek Sari membuat Mar tersenyum.


Disudut rumahnya As memperhatikan dua wanita kesayangannya dengan tatapan mesra.


Waktu berjalan begitu cepat, setahun berlalu dari saat Mar keluar dari rumah sakit untuk pertama kali.


Kini kejadian itu harus terulang lagi.


Sudah satu minggu ini Mar tak berselera untuk makan, bahkan sejak tadi malam, Mar tak bisa tidur, ia mengeluhkan pusing dan mual, membuat Mar berkali-kali muntah, selain itu rasa ngilu dan nyeri terasa menyerang kedua kakinya membuat ia terus meringis kesakitan.


Dalam perasaan panik dan sangat kebingungan Sari berusaha membantu Mar mengurangi keluhannya dengan berbagai cara, mulai dari memijat, mengusapkan minyak angin, membuatkan teh hangat, namun itu tak membuat Mar merasa lebih baik.

__ADS_1


As mulai cemas melihat kondisi Istrinya yang semakin melemah.


"Dek, coba telpon saudara-saudaramu, sepertinya kita harus membawa Mama kembali kerumah sakit"


Sari mengangguk, dengan cepat ia meraih ponselnya sembari tetap menggendong Buah hatinya yang tak ingin lepas darinya, Sari menghubungi semua saudaranya,


Namun sayangnya semua nomor yang dihubungi sedang sibuk, hanya Suaminya yang mengangkat.


"Halo Bun, Assalamualaikum "


Sapa suami Sari,


"Walaikum salam..Yah...Apa bisa pulang hari ini,?? kondisi Mama drop lagi, Aku tunggu ya...!!"


Tanpa mendengar jawaban Suaminya lagi, Sari buru-buru mematikan ponselnya dan berlari mendatangi Mar yang kembali muntah-muntah.


Tak lama, sebuah pesan masuk diponselnya.


"Iya Bun, Aku lagi cari travel, Aku pulang"


Ada lega dihatinya, setidaknya ia tidak akan sepanik ini, jika Ada suaminya disini.


Sari melirik jam dinding dan mulai menghitung perjalanan Suaminya,


"Sekarang jam 6, berarti kalau 4 jam, itu artinya sekitar jam 10 nanti Ayah pulang"


"Gimana Dek?"


"Leman sedang dalam perjalanan pulang Pa, yang lain tidak bisa dihubungi, mungkin karena ini masih terlalu pagi, sebentar lagi Adek telpon lagi, Papa sabar ya..."


As mengangguk sembari mengusap pundak Mar yang kini tertelungkup dengan Bantal menahan mual yang menjadi-jadi.


Tepat Jam 11 siang, Leman sampai dirumah, tanpa membuang waktu, Mereka membawa Mar kerumah sakit,


Sesampainya dirumah sakit, Sari yang membawa balita terpaksa tinggal diluar, ia kembali menghubungi saudara-saudaranya mengabarkan bahwa Ibu mereka sekarang berada dirumah sakit.


Kesan beragam ia dapatkan, mulai dari Win yang panik, Eni yang cemas, Hen, Vin, dan Ana yang menyesal tak bisa pulang karena berbagai macam halangan.


Setelah mengajukan permohonan pada para penjaga dan perawat, akhirnya Sari diperbolehkan masuk membawa Rangga putranya menemui Mar diruang rawat.


Mar sedang tak sadarkan diri, wajahnya pucat bibirnya membiru, Dokter menyatakan Hemoglobin Mar sangat rendah dan menyarankan untuk segera transfusi darah.


Sari, As dan Leman menyetujuinya, namun sayangnya setelah dilakukan pemeriksaan darah, tak ada seorangpun yang sama golongan darahnya dengan Mar, bahkan ke enam Anaknya memiliki golongan darah O sama seperti As, sementara golongan darah Mar adalah AB, kepanikan kembali terjadi ketika perawat menyatakan stok golongan darah di Bank darah Rumah sakit dan PMI sedang kosong.


Sari kembali mengubungi sanak saudara mereka menginfokan tentang kondisi Mar yang butuh darah Ab,


Beruntung tepat pukul 10 malam, seorang sanak kelurga dari pihak Mar yang memiliki Anak kembar memiliki darah yang sama dengan Mar, tanpa membuang waktu, Eni menyuruh Suaminya untuk menjemput Si kembar dan segera mengantarnya ke Rumah sakit dan Alhamdulillah, 2 kantong Darah didapatkan, dan esok pagi transfusi darah akan segera dilakukan.


Hampir tengah malam,

__ADS_1


"Dek, kalian pulang saja..biar Papa yang jaga, kasian Cucu Papa"


"Ya Pa, nanti pagi Adek datang lagi ya.."


Leman dan Sari pulang, dikarenakan Besok pagi Leman harus sudah kembali lagi dinas, Leman bekerja sebagai salah satu karyawan BUMN di luar daerah.


Pagi-pagi Sari sudah menyelesaikan semua urusan rumah, dengan sepeda motor matik miliknya ia mengantarkan Suaminya ke agen travel untuk kembali ke tempat ia dinas, setelah itu ia akan kerumah sakit.


"Bunda, hati-hati ya..semangat Bun, kalau ada apa-apa lekas telpon Ayah ya sayang"


Pesan Suaminya sesaat sebelum travel berangkat.


Setelah Travel yang ditumpangi Leman melaju, Sari bergegas memutar sepeda motornya menuju rumah sakit.


Mar masih lemas meski kini ia tak lagi mual, wajah pucatnya berangsur memerah.


"Ma.. gimana kondisi Mama sekarang?"


Tanya sari begitu sampai dikamar Mar.


"Agak mendingan Dek, kasian sekali kamu Nak, harus repot bolak balik ngajak balita"


"Ma...sudah, jangan mikirin itu, sekarang kita ganti baju ya..biar badan Mama Adek lap pakai air hangat, Rangga sayang duduk sini ya Nak, jangan nakal, Bunda mau rawat Nyai dulu"


Sari mengambil sebuah kursi dan meletakkan balitanya disana, memberikan beberapa snack agar tenang dan anteng selama ia merawat Ibunya, sementara Ia bergegas membersihkan popok Mar, menggantinya dan memakaikan baju yang baru setelah seluruh tubuh Mar di lap dengan handuk dan air hangat.


"Pa.. Ini sarapan, Papa makan dulu ya..."


Sari menyodorkan sarapan pada Ayahnya selepas meladeni Mar.


"Ma... Allah kembali memberi kita cobaan, kamu sabar ya, Aku selalu berdoa yang terbaik untuk mu, Kamu harus semangat...biar cepat sehat lagi"


As mengusap lengan Mar, setelah selesai sarapan.


"Pa... Andai Masaku sudah tiba, Aku harap kamu dan Anak-anak kita mengikhlaskan Aku ya.."


Ucapan Mar, segera di tanggapi As dengan meletakkan jari telunjuknya didepan bibir Mar.


"Sstttt... Jangan ucapkan itu lagi Ma, hatiku sakit.. Aku tak ingin itu terjadi, kamu harus sehat... Kita harus sama-sama seperti janji kita dulu.. Terus berdua selamanya... Aku tak siap sendiri Ma...."


Mar memalingkan Wajahnya, air matanya mengalir, tenggorokannya terasa tercekik, begitupun hatinya terasa terhimpit sesak sekali.


As menarik kembali wajah Mar menghadapnya, dengan lembut As mengusap sudut mata Mar.


"Kamu pasti sehat Ma...percayalah...Aku selalu berdoa untuk itu"


Sari yang tak tahan dengan adegan didepan matanya memilih keluar menggendong putranya, dibalik pintu ia terisak... Pilu sangat pilu... Ingin sekali ia memeluk keduanya, namun ia tak ingin mereka tau perih yang ia rasakan saat ini.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2