Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
bab 9 Bocah petualang 3


__ADS_3

Selesai menangkap ikan dan mengumpulkan liling,,Maryati dan tini naik ke galangan sawah,,kini ember mereka telah terisi oleh ikan dan liling.


Mata Maryati berkeliling melihat dan mencari apa lagi yang bisa dia kumpulkan untuk dibawa nya pulang.


Matanya menangkap sekumpulan tumbuhan genjer yang sangat subur di pinggir sawah,,dia tersenyum lalu berlari kearah nya.


sejenak dia berfikir,,


"Pak Bastari tak akan marah jika dia mengambil sayur liar ini,,toh ini bukan tanaman nya."


Batin nya.


Dia mulai memetik genjer tersebut dan memasuk kan nya di dalam ember besar yang mereka bawa.


Setelah merasa cukup,maryati berniat untuk pulang ketika menyadari hari sudah mulai petang.


Farida, Leha dan Asiyah pun nampak bersiap untuk pulang.


"Pak...kami pulang ya...terima kasih sudah ngijinin."


Teriak maryati,,Pak Bastari yang berada agak jauh hanya melambaikan tangan nya kepada 5 remaja tersebut.


Mereka bernyanyi riang di sepanjang pematang sawah,,menyusuri jembatan kayu,,melewati anak sungai,,di tengah perjalanan,Maryati berhenti.Ia melihat tanaman kangkung liar yang sangat muda dan segar,,mereka lalu memetik nya bersama.


Alhasil,,ember dan karung yang mereka bawa terisi padat.Tiba di bawah pohon rindang,,mereka berhenti untuk ber istirahat.


"Mar,,mau kita apakan sayur sebanyak ini,,tak mungkin kita bawa pulang untuk dimakan,,"


Asiyah bertanya sembari menunjuk hasil petualangan mereka.


"Iya,,ini terlalu banyak Mar,,mana habis kita makan..disimpan juga tidak bisa,,yang ada malah akan layu"


Sambung Leha


"Ehm....sebentar,,aku fikir dulu"


Maryati berdiri berkacak pinggang lalu mondar mandir.


Sikapnya tersebut mengundang gelak tawa dari teman- teman nya..


"Kamu itu Marrr..gaya mu dah kayak setrikaan rusak wkwkkwkk,,,,,,"🀣🀣


Asiyah tertawa cekikikan


"Ini gaya orang kaya kalo lagi berfikir,,kamu sich gak faham"


Maryati menjawab sembari memainkan alis nya.


"Kamu tau dari mana???"


Ujar farida dan Tini kompak.


"Hahhahhahahha"πŸ˜†πŸ˜†


Kali ini Maryati yang tertawa geli sebelum sempat menjawab.


"Aku pernah melihat nya di film yang kita pernah tonton di layar tancep"


Hahhahahha....hhhhhhaaaaa...πŸ˜†πŸ˜†πŸ€£


mereka semua tertawa riang seperti tanpa beban.


Tak berapa lama...


"Naaahhhh...aku punya ide."


Maryati mengaget kan teman- teman nya.


bagaimana kalo kita jual sayur ini,,"


"Jual kemana sudah petang seperti ini,,??"


tanya Asiyah.


"Di ujung jalan situ ada warung pecel..


kita tawarin aja,gimana??"


Ajak maryati.


"Ide yang bagus,,ayo kita kesana"

__ADS_1


Mereka kembali berjalan ke warung yang dituju,,


Sesampainya di depan warung..


"Bikkk...Assalamualaikum,,"


"Walaikum salam,ada perlu apa??


Tanya perempuan separuh baya yang baru saja keluar.


"Bibik mau beli kangkung sama genjer bik?"


tanya Maryati sembari mengeluarkan beberapa batang kangkung dan genjer untuk ditunjuk kan.


"Yahhh,,aku udah belanja tadi pagi di pasar,,"


Tolak si ibu warung.


"Ayolah bikk,,beli..tolong kami..."


bujuk Asiyah,,sambil masang tampang memelas.,,


Sepertinya trik Asiyah berhasil,,si Ibu luluh terbukti dengan si ibu menanyakan harga nya.


"Emang mau kalian jual berapa??"


Ujar si ibu,,seraya maju mendekati karung untuk melihat sayur mayur yang mereka bawa.


"Terserah bibik dech,yang penting jadi duit,dan kami bisa berbagi."


Jawab Maryati.


"Ya udah gini aja..aku tukar dengan pecel mau gak"


Tawar si ibu,,


"Yahhh...bik,,masak cuma ditukar pecel,,ini kan banyak"


Asiyah mulai ber akting lagi,,kali ini dia memasang tampang sedih seperti ingin menangis,,☹️


Maryati sebenar nya ingin tertawa melihat tingkah sahabat nya.akan tetapi sekuat tenaga ia tahan.


baru nanti aku itung- itung lagi."


Si ibu yang baik hati itu lalu membuat kan mereka 5 piring pecel lengkap dengan lontong nya,,yang tentu nya dengan porsi bukan untuk dijual,karena terlihat lebih sedikit dibanding porsi sepiring yang dia jual.


Setelah selesai,,si ibu menyajikan nya..


Tak sampai begitu lama piring- piring tersebut telah bersih,,


Si ibu tengah mengeluarkan isi karung,


ehmm...bagai mana kalau aku kasih tambahan uang 20rb.


Maryati dan teman- teman nya saling pandang kemudian akhir nya mengangguk setuju.


Si ibu mengeluarkan uang pecahan seribu rupiah sebanyak 20 lembar,,lalu memberikan nya pada Asiyah.


Dengan perasaan gembira mereka berpamitan lalu kembali melanjut kan perjalanan mereka,,


Ditengah jalan mereka membagi uang tersebut,,masing- masing dari mereka mendapat kan 4ribu rupiah,,sungguh nominal yang lumayan bagi mereka yang hidup serba kekurangan.


Selain uang 4 ribu rupiah mereka juga membawa sayur,,ikan kecil dan keong kecil yang bisa mereka masak untuk dimakan bersama keluarga,,selain itu perut mereka juga sudah terisi pecel satu piring,,sungguh mereka adalah petualang- petualang sejati,bukan sekedar mengisi kekosongan dengan bermain dan senang- senang,,namun mereka juga membawa hasil untuk keluarga masing- masing.


Hampir magrib,,ketika Maryati dan Tini sampai dirumah nya,,setelah meletak kan hasil yang mereka bawa,,buru- buru Maryati dan Tini berlari ke sungai untuk mandi membersih kan diri.


Beduk magrib terdengar,,ketika maryati baru saja menaiki anak tangga rumah nya.


terlihat,,ayah dan ibu nya sedang bersiap melaksanakan sholat.


"Mak..Bak..tunggu,,"


Ujar maryati ketika ayah nya baru saja akan membentang sajadah tua milik nya.


Ayah nya tersenyum lalu mengangguk.


Mar dan Tini pun buru- buru berganti pakaian,dan segera ikut sholat berjamaah yang di imami ayah nya.


Setelah selesai sholat,,Maryati mencari hasil tangkapan nya bersama Tini.


"Mak,,lihat ember dan karung di garang rumah(teras)??"

__ADS_1


"Oh,,itu mak taruh di belakang,,mak kurung dulu di ember takut mati ikan dan liling nya,,"


"Ehm.."


"Kenapa Mar??"


"Gak pa- pa mak,,mau aku masak"


"Besok aja lah Mar,,sudah malam..gelap,,lagian lauk makan kita sisa siang tadi masih ada dan masih bagus"


"Oh,,ya udah mak"


"Makan lah,,ajak Tini..sudah mak panasi"


"Iya mak"


Maryati dan Tini pun segera makan dengan lahap di dalam remang- remang cahaya lampu teplok.


Sesekali terdengar celoteh mereka,,dilanjutkan dengan tawa renyah dari keduanya.


Malam semakin pekat,,kedua remaja itu masih belum bisa tertidur,,terlihat kedua nya sedang bercengkrama di depan rumah mereka,,sementara orang tua Mar telah lama pulas dalam buaian mimpi.


"Mar,,tak terasa kita sudah gadis ya,,perasaan baruuu aja kemarin kita sama- sama tinggal dirumah nenek."


Tini mengenang saat- saat indah mereka.


"Iya..ya Tin,,ternyata waktu cepat sekali berlalu"


"Mar,,kamu ingat Wahab??"


"Ingat lah...musuh terbesar kita kan??"


"Hahahahaha...."


"Kenapa dia,,??"


"Sekarang dia mengajar ngaji anak- anak di musholah dekat rumah nya"


"Wahhh,,hebat ya dia"


"Kamu ingat,,saat kita di kejar nya gara- gara ngeledekin dia??"


"Iyaaaaa,,hahahaha,,,yang kita ledekin Dia dengan bilang Wahab molor mingsep..(wahab keluar masuk)"


Maryati menjawab sembari tertawa geli mengingat kenangan demi kenangan.


"Terus,,kamu inget gak..kita buat dia nangis gara- gara ikan nya kita ambil saat kita mancing di sawah bareng- bareng??"


Lagi- lagi cerita Tini memaksa Maryati mengenang kenakalan dan kekonyolan mereka.


"Ya allah Tin,,masih inget..saat itu kita sedang memancing bersama kita kesal karena pancing kita tak pernah di makan ikan,,sementara wahab berkali- kali mendapat kan ikan.,,trus akhir nya diam- diam ikan di ember Wahab kita pindahin ke ember kita.dan kita lari pulang"


"Wkwkwkwk,,,kita keterlaluan ya Mar.."


"Bukan lagi keterlaluan,,tapi jahat tau gak,,ya allah..banyak sekali dosa kita dulu.."


kenang Maryati.


"Gak nyangka ya Tin,,padahal dulu dia nakal banget,,sekarang malah ngajar ngaji"


Sambung maryati.


"Iya,,namanya perjalanan hidup,,kita gak tau kemana takdir membawa kita."


"Termasuk kita Tin,,bagaimana skenario Tuhan untuk kita kelak..bagaimana takdir dan kemana nasib akan membawa kita,,se detik pun kita tak pernah tau.."


Maryati menghela nafas nya..


"Kita hanya mampu berharap..semoga nasib kita kelak akan berujung indah,,sekarang ini yang harus kita lakukan hanyalah menjalani dan berdoa...Seperti kata pepatah Mak ku,,


Kalau Gabus timbul


kalau Batu tenggelam


dan semoga kita adalah Gabus.."


Maryati berceloteh panjang lebar.


Sementara Tini mendengarkan dengan seksama,,seraya menatap nanar jauh kedepan,,entah apa yang tengah dia pandang..


Bersambung**

__ADS_1


__ADS_2