Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 96 Cinta sejati itu ada


__ADS_3

Hari berganti, tubuh As semakin melemah, bahkan untuk beranjak dari tempat tidurpun terasa begitu sangat berat.


Sari yang menyadari hal itu memutuskan untuk merawat As tetap di dalam kamar, mulai dari membersihkan tubuh,mengganti pakaian menyuapi makan serta memakaikan popok pada As.


Sudah 3 hari ini, As hanya diam berbaring di tempat tidur, bahkan untuk makan saja ia harus disuapi, minum menggunakan sedotan, memakai popok, dan untuk membersihkan badannya As hanya di lap menggunakan handuk kecil dan air hangat, hal yang sama yang pernah di lakukan Sari pada Ibunya kala itu, kini ia lakukan lagi pada Ayahnya.


Harapannya hanya satu, bisa melihat lagi senyum lepas dari wajah Ayahnya, sebelah sayapnya yang tersisa.


Namun mungkin takdir berkata lain,


Pagi ini, Sari melihat sesuatu yang tidak baik sedang terjadi pada As, ketika Sari masuk kedalam kamar membawa sarapan dan Air hangat untuk memandikan As.


Perlahan ia naik keatas tempat tidur, mendekati As yang tengah terpejam.


Hatinya berdegup tak beraturan, seketika atmosfer ruangan terasa sangat panas menimbulkan titik-titik keringat mulai mengucur didahinya.


Ada ketakutan besar yang tiba-tiba merajai hatinya, tangannya gemetar menyentuh dada Ayahnya memastikan detak itu masih ada.


"Huhff.... Alhamdulillah..."


Sari menarik nafas lega ketika degupan itu masih ada.


Seketika itu pula ia melabuhkan kepalanya didada As, memeluk dengan air mata.


"Pa... Sarapan ya,"


Sapanya sembari mengelus pipi As.


Perlahan As membuka mata, ia menatap Sari.


Sari mencelupkan roti tawar pada teh hangat lalu menyuapkannya kemulut As, Sari menunggu beberapa saat untuk memberi kesempatan bagi As untuk menelan roti dimulutnya, namun sampai beberapa menit, ketika Sari memeriksa kembali mulut As, roti itu masih berada dimulut,


Hal itu membuat Sari mengenang kejadian ketika ia menyuapi Mar dihari terakhirnya, hal serupapun terjadi, kala itu Mar juga tak dapat menelan seperti yang terjadi pada As saat ini.


Tiba-tiba rasa takut kehilangan itu muncul lagi, bahkan kali ini terasa lebih perih.


Sari bergegas menyudahi suapannya pada As, ia mengeluarkan kembali roti dari mulut As dan segera membersihkan tubuh As, mengganti popok, dan mengganti pakaian.


Setelah semua beres, Sari menemui Win di dalam kamar.


"Kak, firasatku tidak enak.."


"Maksudmu??"


Tanya win bingung.


"Papa tak bisa lagi menelan makanan"


Jelasnya.


"Apa kita telpon semua saudara kita biar mereka kumpul?"


Tanya Win lagi, sembari berjalan menuju kamar As.


"Entahlah, Aku juga bingung.. kita lihat saja dulu sampai siang, bukankah mereka memang akan pulang besok, kan lusa peringatan 40 hari Mama"


Jawab Sari.


"Iya juga ya... mereka juga sudah beli tiket, kita berdoa saja..semoga tidak terjadi apa-apa"


Win mulai membaca surah Yasin di samping As.


Sari keluar dari kamar, menemui Putranya yang baru saja bangun tidur dan mulai melayani balitanya mulai dari mandi, menyuapi sarapan dan menemani bermain.


Ditengah waktu bermainnya bersama buah hatinya, Sari memutuskan untuk menelpon Suaminya mengabarkan tentang kondisi Ayahnya.


"Assalamualaikum... Yah,,, "


"Ya Bun, Walaikum salam... lagi apa kalian mana jagoan Ayah?"


"Ini lagi sama bunda main-main, Yah... Papa udah gak bisa menelan makanan, gimana ya sebaiknya..dari tadi perasaan ini terasa gak enak.. Ayah bisa pulang?"

__ADS_1


"Ya Allah, begitu ya bun? Gini aja, yang pasti bunda harus tetap tenang, pantau terus kondisi Papa, besok subuh Ayah pulang, tapi Ayah usahakan malam ini bisa pulang ya sayang.."


"Ya udah Yah, Bunda cuma mau ngabarin itu, Ayah hati-hati ya...."


"Ya udah, ini Ayah lagi kerja, tutup ya Bun, Assalamualaikum"


"Walaikum salam"


Sari menutup panggilan teleponnya, kemudian mengetikkan pesan pada Eni.


"Yuk, bisa kesini? Papa tidak bisa menelan makanan lagi"


Tak lama kemudian sebuah pesan balasan diterima.


"Iya, tunggu sebentar ya.."


Dalam 30 menit,


Eni datang tergesa-gesa.


"Gimana Dek?! Gimana Papa, "


Sari menunjuk kearah kamar.


Dengan langkah cepat Eni menuju kamar As, disusul Sari.


"Win, gimana kondisi Papa??"


Tanya Eni begitu sampai didalam kamar.


"Papa sepertinya tidak lagi merespon ucapan kita Yuk"


"Ya Allah... gimana dengan yang lain, apa sudah dihubungi??"


Tanya Eni panik.


Sari menggeleng.


Tanya Eni lagi.


"Iya.. akupun berpikir seperti itu.. tapi melihat kondisi Papa sekarang, Aku tak tega Yuk.."


Jawab Sari.


"Gini saja, kita hubungi saudara kita yang lain, bagaimana nanti saran dari mereka."


"Dek, Aku harus berangkat kerja, hari ini hotel ada pesanan pesta, Aku tak bisa bolos, tak ada chef pengganti hari ini, nanti sore Aku pulang kita bawa Papa ke rumah sakit"


Ujar Win.


"Dek, kamu pegang terus ponsel, kabari semua perkembangannya, Aku harus kembali ke toko, tadi aku panik, dan kutinggalkan saja tak ada yang jaga."


Ujar Eni.


Sari mengangguk, menuruti apa yang diucapkan kedua saudaranya, meski hatinya tengah berkecamuk bingung dan gelisah.


Kini ia duduk di depan pintu kamar menatap Ayahnya yang terbaring diam, perlahan Air matanya mengalir, teringat akan Almarhumah Ibunya yang telah lebih dulu pergi.


"Ma... setelah kepergian Mama, Papa seolah kehilangan semangat untuk hidupnya Ma.. Mama tau, itu karena Papa begitu sangat mencintai Mama, bahkan lebih dari hidupnya sendiri karena Mama adalah cinta sejati Papa.. begitupun Aku Ma... separuh jiwaku hancur bersama kepergian Mama.


Kalian adalah kedua belah sayap dipunggungku, yang mengepak ketika Aku lelah dan lemah, agar aku kembali bisa terbang lagi,


Tapi setelah kepergian Mama, hati ini hancur remuk redam Ma... sebelah sayapku patah, aku tak bisa terbang lagi dengan hanya sebelah sayap saja, tapi aku masih bisa berjalan Ma.. tapi kini, sebelah sayap itu melemah, ia terluka mungkinkah Aku sanggup berdiri Ma..."


Ratap Sari lirih sembari mengusap pipinya yang basah.


Kini Ia mendekati As, mengusap kening As yang berkeringat.


Nalurinya mengatakan As akan pergi meninggalkannya, Air matanya mengucur deras membuat ia memutuskan untuk menelpon semua saudaranya.


Dengan berurai air mata, ia mengabarkan kondisi Ayah mereka.

__ADS_1


Ana yang mendapat kabar itu segera bergegas kembali pulang tak peduli tiket kereta yang sudah mereka beli untuk keberangkatan esok hari.


Hen yang pulang menggunakan jalur laut, hanya bisa menangis, sebab tak bisa pulang mendadak, sebab besok pagi baru bisa berangkat, sementara Vin terisak karena kembali tak bisa pulang.


Baru saja Sari menutup telepon, terdengar suara batuk dari arah kamar As, secepat kilat Sari menoleh dan berlari keatas tempat tidur As.


Satu tarikan nafas panjang dengan lafaz LA ILAHA ILLALLAH yang terdengar sangat pelan dari mulut As mengantarnya pergi menghadap Ilahi.


Sari terpaku, bibirnya bergetar air matanya deras mengalir..


Sebelum Akhirnya ia memeluk As, menangis sendirian didada As tanpa suara.


Sesak, perih dan pedih bercampur menciptakan rasa yang luar biasa ngilu mengiris hatinya.


Tubuhnya lemas, terasa ringan bagai kapas.


Disetengah kesadarannya, ia menatap ponselnya dan kembali menghubungi semua saudara serta Suaminya.


"Papa sudah pergi...Hiks..hiks..."


Ucapnya terisak, terdengar raungan, tangisan dan jeritan diseberang sana, sebelum akhirnya Sari mematikan ponselnya dan kembali mendekap Ayahnya dengan air mata yang tak berhenti mengalir.


Ditengah tangis dan isaknya,


"Bunda... kenapa nangis?"


Tanya putranya yang tiba-tiba saja sudah berada di dekatnya.


Sari memeluk putranya dengan sesegukan.


"Akas sudah pergi sayang... Akas meninggalkan kita"


Jawab Sari tersedu-sedu sembari memeluk dan menciumi kepala putranya yang kini ikut menangis bersamanya.


Sari melipat tangan As di atas dada.


"Pa... keinginan Papa tercapai, kini Papa menyusul Mama.. cinta kalian begitu abadi benar-benar sehidup semati... bahagia disana Pa... Mama sudah menunggu, bersatulah kalian di SurgaNya selamat jalan Pa..."


Sari mengecup kening As yang masih terasa hangat.


"Ma... Sebelah Sayapku kini tak lagi lemah, bahkan kini sudah benar-benar patah..


Kini Aku sendiri Ma,, tak bisa terbang lagi, dan meraba untuk tetap bisa melangkah meski tertatih,


Ma..Pa.. Terimakasih telah menjadi orang tua terhebat bagi kami putra putri kalian, mengajarkan kami merasa cukup meski dalam kekurangan, mengajarkan kami tentang perjuangan dan perjalanan hidup yang berharga dan sangat luar biasa bahkan tentang kesetiaan dan arti cinta sejati.


Sungguh Cinta sejati itu benar-benar ada.. dan kalian membuktikannya pada dunia."


Sari mengusap air matanya, menarik nafas dalam-dalam dan mencoba kuat ditengah kerapuhannya.


TAMAT


*Hai semua.....


Apa kabar kalian, sehat-sehat ya....


Terima kasih sekali sudah bersedia mengikuti kisah Mar dan As ini dari awal hingga akhir.


Terimakasih banyak-banyak buat kalian kesayangan..yang sudah memberi dukungan baik like, komen, hadiah, rate dan vote...


Aku terharu sekali, novel ini bisa kalian terima meski mungkin masih sangat jauh dari kata sempurna, bahkan masih banyak typo sana sini, ejaan yang berantakan serta masih banyak lagi kekuranganya. Aku minta Maaf yang sebesarnya, semoga bisa aku revisi dari bab Awal.


Untuk teman-teman sesama Author, makasih juga dukungan nya, semoga kesuksesan menyertai kita semua..


Untuk Silent readers, Makasih udah bersedia mampir walau tak meninggalkan jejak๐Ÿ˜๐Ÿคญ


semoga kelak, di novel-novel berikutnya kalian bisa muncul dan memberikan sedikit waktu kalian untuk menggunakan jari kalian menekan like, serta mengetikkan sedikit komentar, agar Aku bisa berbunga-bunga, apa lagi bersedia memberi vote dan hadiah.


Sampai jumpa di novel berikutnya semua.


bye.....๐Ÿ‘‹๐Ÿ‘‹*

__ADS_1


__ADS_2