Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 61 Menjual Anting


__ADS_3

Hari-hari berlalu, bulan dan tahun berganti, semakin sulit untuk Mar dan As mengembalikan Ekonomi mereka seperti dulu lagi. Terlebih ketika Mar harus menghadapi bahwa As kembali menjadi pengangguran, dikarenakan kontrak kerjanya habis.


Hal itu membuat As selalu uring-uringan, mudah marah dan berakhir dengan tangisan Mar sendiri didalam kamar.


Seperti hari ini, dari pagi As sudah keluar untuk mencari pekerjaan baru setelah hampir satu bulan ini ia menganggur.


Ana, vina dan Eni masih berada disekolah mereka, tinggal Mar dan Kedua anak laki- lakinya yang tengah berada dikamar.


Mar menatap kedua anak laki-lakinya, Ada sedih menggantung dimatanya ketika mengingat, pagi ini Anak-anak mereka cuma bisa sarapn dengan Nasi dan kerupuk.


Mar membuka lemari, ia menemukan tiga lembar kartu spp ketiga putrinya yang dibagikan seminggu yang lalu, sampai hari ini, Mar belum bisa melunasinya karena ia benar-benar tak ada uang.


Mar menarik nafas panjang, meraih selembar uang sisa dibalik tumpukan bajunya.


"Win, mama kewarung sebentar ya..."


Pamitnya pada Win sebelum meninggalkan rumah menuju warung untuk membeli telur dan kecap. Tak sampai 10 menit, Mar sudah kembali dengan kantung plastik hitam ditangan.


Sebelum Anak-anaknya pulang sekolah, Mar harus sudah siap masak untuk makan siang mereka. Tak ada yang bisa ia masak lagi kecuali mendadar telur yang dicampur tepung agar hasilnya banyak dan cukup untuk kelima anak dan suaminya, untuk dirinya sendiri tak jarang Mar hanya menelan Nasi saja tanpa lauk, baginya yang terpenting adalah Anak dan suaminya.


Ketiga putrinya pulang tepat disaat Mar selesai memasak telur yang dibelinya dari warung.


"Assalamualaikum"


Salam dari ketiganya, disambut hangat oleh Mar.


"Walaikum salam, sayang-sayang nya Mama...Yuk buruan ganti baju terus makan ya, Mama udah goreng telur"


ketiga Anaknya mengangguk.


Tak lama dari ketiga Anaknya menuju meja makan, As kembali kerumah.


"Assalamualaikum"


Sapanya.


"Walaikum salam, "


Jawab Mar yang tengah menyuapi kedua Anaknya Makan.


"Pa, mau langsung makan?"


Tanya Mar pada As.


As mengangguk dengan muka lelah.


"Aku belum bisa dapat kerja !!!"


Cetus As, ketika Mar menemaninya makan.


"Ya sudah Pa... mungkin belum rejeki hari ini, siapa tau besok-besok Papa dapat kerjaan lagi"


Mar berusaha menutupi kesedihannya dengan tersenyum manis didepan suaminya yang tengah gundah.


"Minggu depan kontrakan Akan habis, Aku pusing!!! Gimana cara bayarnya.!!"


As memegangi keningnya, mulut nya berdecit.


"Nanti kita cari solusinya sama-sama ya Pa... ni Papa makan dulu"


Bujuk Mar menyodorkan sepiring nasi dan sepotong telur dadar lengkap dengan kecap.


Sebenarnya, Mar ingin berbicara tentang Spp ketiga Anaknya, namun melihat kondisi As yang sedang tidak memungkinkan, Mar menyimpan rapat-rapat dalam hati.


Ada keinginannya untuk meminta tolong pada kedua orang tuanya, namun rasa malu mengalahkan niatnya.


Saat ini kepala Mar bagai tertindih batu besar, terasa sangat berat, dengan segala macam pikiran yang sedang berputar-putar didalamnya.


Saat As tengah menyuapkan nasi kemulutnya.

__ADS_1


Eni terlihat tergopoh-gopoh mendatangi kedua orang tuanya.


"Ma....Ma...Tadi di sekolah Bu Guru nanyain Uang bayaran Ma..."


Cetus Eni membuat As menghentikan suapan nasinya.


Mar memejamkan Mata menepuk jidat dan menarik nafas panjang.


As menatap Mar yang menunduk.


"Ma...."


Panggil As pelan.


Mar mengangguk, air matanya meleleh perlahan.


As menyodorkan piring nasinya, nafsu makannya tiba-tiba hilang.


"Aarrrggghhhh!!!!"


As mengusap mukanya kasar dan menjambak rambutnya sendiri, kemudian,


PRAKKK!!!


As menepak meja dengan kasar.


Mar tersentak, begitupun dengan Anak-anaknya.


Hal itu membuat ketiga putrinya berlari masuk kamar, dan saling berpelukan, sementara dua putranya menangis ketakutan.


Mar segera menghampiri kedua Anaknya dan memeluknya erat, kemudian bergegas mengajak masuk kamar, meninggalkan As sendiri.


As merebahkan diri di kursi memejamkan mata dengan lengan diatas kepala.


Pikirannya berkecamuk seolah sedang menyerang diotaknya.


Keesokan harinya,


Setelah selesai memasak, Mar merapikan diri.


As melihat Mar dengan tatapan heran dan menyelidik.


Tau sedang di perhatikan, Mar menoleh pada As.


"Pa, Aku mau kepasar sebentar."


"Kepasar? dapat duit darimana kamu?"


Tanya As mendekati Istrinya.


"Aku mau jual ini, mungkin uangnya cukup untuk membayar kontrakan dan spp Ana, Vin, dan Eni.


Mar melepas Anting-anting yang sedang ia kenakan, dan menunjukkan pada As.


As terdiam, ia tak tau apa lagi yang harus ia perbuat, kini ia merasa jatuh sejatuh- jatuhnya.


Mar beranjak meninggalkan As yang masih terdiam sendiri.


Dikediaman Masning,


"Kalian sudah sarapan?"


Tanya Masning pada ketiga cucunya.


"Sudah nyai..."


Jawab mereka kompak.


"Sarapan apa??"

__ADS_1


Tanya Masning lagi,


"Nasi goreng nyai"


Masning menatap ketiga Cucunya, Masning tau, Keluarga Mar tengah kesulitan dalam ekonomi.


"Papa sering marah ya?"


Tanya masning lagi.


Ana terdiam, mendapati pertanyaan Neneknya, lain hal dengan Eni yang polos dan penuh antusias bercerita jika kemarin Papanya memukul meja.


Masning menarik nafas dalam-dalam.


Bahkan dari Mak Mat Masning tau, kalau Mar dan As sering telat membayar kontrakan, selain itu Mak Mat juga cerita kalau As sekarang jadi lebih sering marah-marah akibat tidak bekerja lagi.


Bulromi yang memperhatikan Masning mendekat,


"Ada apa Mak...?"


"Bak, apa sebaiknya Mar kita ajak kembali tinggal disini"


Ujar Masning.


"Kalau Aku tidak jadi masalah Mak, cuma apa As mau, kita tau semenjak kebakaran ke dua itu As menjadi lebih sensitif, mudah marah dan cepat tersinggung, takutnya niat kita membantu mereka malah bikin As dan Mar tersinggung."


Mendengar penuturan Bulromi , Masning terdiam dan menunduk lesu.


Hampir satu jam Mar akhirnya pulang dari menjual antingnya.


"Assalamualaikum"


Salam Mar tak ada yang menjawab, ia masuk dan mendapati As tengah tidur bersama dua putranya.


Mar segera merapikan barang bawaannya, ia berbelanja keperluan dapurnya menggunakan uang hasil penjualan antingnya, benda berharga satu-satunya yang ia punya saat ini.


Tak berapa lama dari kepulangan Mar, Suara derap langkah kaki berlarian terdengar masuk rumah.


"Mamaaaaa......


Teriak ketiga putrinya, pulang dari rumah Masning.


Mar tersenyum,


"Ma, Kami dikasih Nyai duit buat jajan"


Ana menunjukkan 3 lembar uang lima ribuan.


"Simpan ya masukin tabungan."


Jawab Mar yang disertai anggukan manis dari putri-putrinya.


"Ini mama beli kue, makan yuk..."


Mar menyodorkan sepiring kue jajanan pasar diatas meja.


"Oh ya Ana, besok uang Spp nya dibawa ya, sekalian bayarkan punya Vin dan Eni, simpan di tas hati-hati jangan sampai hilang, begitu sampai disekolah langsung kasihkan Bu Guru ya."


Jelas Mar.


"Iya Ma, Mama sudah ada duit ya...?"


Tanya Ana.


Mar mengangguk tersenyum meski hatinya menangis.


Mar berjalan ke belakang rumah, duduk menyendiri dalam duka.


"Aku harus kerja, gak bisa gini terus,, kehidupan akan terus berjalan."

__ADS_1


Ujarnya lirih.


Bersambung***


__ADS_2