
Sesampainya dirumah, mereka segera berkemas dan menidurkan si bayi di kamar mereka, Anak-Anak mereka yang lain berkerumun memandang Adik bayi baru mereka.
As mendekati Putra putrinya,
"Nah..Dedek bayinya akan Papa beri nama Hendri Agustin, kita bisa panggil Dedek Hen ya.."
"Hai Dedek Hen....."
Sapa Vin dan Eni kompak.
Mar tersenyum memandang orang-orang tercintanya.
Mar masih melipat Pakaian saat Anak-Anaknya sudah terlelap, sementara As bersiap berangkat kerja.
"Ma... kemarin Aku mengirimi Salim surat"
Ujar As sebelum berangkat kerja.
"Surat?? ada apa emangnya Pa?"
Mar menghentikan tangannya melipat pakaian dan menoleh serius pada As.
"Iya..Aku menanyakan kabar tentang perkembangan kasus kebakaran itu"
As menunduk.
"Lantas, kalau memang sudah membaik, apa yang akan kamu lakukan Pa?"
"Ma, disini memang nyaman, sepi dan menenangkan, tapi Ma.. Apa kita bisa selamanya hidup disini?! Terutama masa depan Anak-Anak kita Ma, sekolah mereka, pergaulan mereka"
Mendengar penuturan As, Mar hanya diam menghela nafas.
"Ya udah Ma...Aku berangkat dulu."
As mengecup kening Mar, yang kemudian melanjutkan kegiatannya melipat pakaian.
Setelah semua beres, Mar berniat beristirahat dikamar.
...****************...
3 hari berselang dari waktu As mengirimkan surat.
"Permisi...Pos.....!!!"
Teriakan seseorang dari luar membuat Mar buru-buru melihat keluar.
Petugas Pos sedang berdiri di depan pintu.
"Permisi Bu, ini ada surat untuk Bapak Asmawi"
Ujar nya menyerahkan sebuah amplop putih ditangan Mar.
"Oh.... Iya Pak, terimakasih ya.."
Mar menerimanya dan sekilas membaca nama pengirim.
"Surat dari Salim"
Ujarnya lirih kemudian segera masuk menemui As yang sedang tidur.
"Pa... Ini ada surat Balasan dari Salim"
Mar menepuk lembut pipi As membangunkan suaminya.
As terjaga dan menerima amplop dari tangan Mar.
__ADS_1
Tanpa membuang waktu, As membuka cepat amplop ditangannya,
"Baca yang keras Pa, Aku mau dengar"
Celetuk Mar saat As hendak membaca isi surat.
As mengangguk, dan mulai membaca.
Walaikum salam As,
Kabarku dan keluarga disini baik-baik saja begitupun dengan keluarga Kak Maryati semua sehat-sehat.
Aku senang mendapat surat dari kalian yang menyatakan kalian baik-baik saja, dan Aku senang mendengar kabar kalian sudah menambah satu anggota keluarga lagi, sekali lagi selamat ya atas kelahiran Anak kelima kalian.
Oh ya As, mengenai kabar kebakaran tempo hari, menurut berita yang Aku baca, pelaku pembakaran sudah ditangkap beberapa bulan yang lalu, dengan beberapa bukti ditangannya.
dan Akiyong juga sudah klarifikasi detail kasusnya.
Aku rasa, kalian sudah bisa kembali pulang kesini jika kalian mau.
Sekian surat yang bisa Aku tulis, semoga kalian selalu dalam lindungannya.
As mengakhiri bacaannya dan beralih memandang Mar.
Mar terdiam, tak tahu mesti bicara apa.
"Ma...Apa sebaiknya kita pulang ke Kota??"
Tanya As menatap lekat mata Mar.
"Terserah kamu Pa... Aku akan ikut kemanapun kamu pergi, dan Aku akan nurut, Aku yakin semua pasti yang terbaik untuk keluarga kita.
"Ya sudah kalau begitu, besok kita urus kepindahan sekolah Ana, jujur Ma...disini kita tak bisa hidup kalau cuma mengandalkan gaji jaga malamku, Anak-Anak semakin besar, semakin memerlukan segala sesuatu yang terbaik."
Ujar As memeluk Mar.
Tanya Mar mendongakkan kepalanya menatap As.
"Terserah Ma, mungkin kita menumpang dulu dirumah Bak, sebelum Aku mendapatkan pekerjaan, nanti barulah kita mengontrak rumah"
Jawab As, Mar mengangguk.
Keesokan Harinya,
As mengantarkan Ana pergi sekolah sekalian mengurus surat kepindahan sekolah Ana.
Sementara Mar dirumah tengah berkemas.
Vin dan Eni yang menyaksikan Mar tengah berkemas mendekati Mar.
"Ma..kita mau pindahan rumah ya??"
Tanya mereka polos.
"Iya sayang...kita akan kembali ke rumah nyai sama yai, kalian senang??"
"Yeaaayyy... senang Ma...kapan kita pulangnya Ma...??"
Tanya mereka lagi.
"Setelah urusan sekolah ayuk Ana selesai, mungkin kalau gak besok mungkin lusa"
Vin dan Eni melompat-lompat girang tak sabar berjumpa dengan kakek dan nenek mereka.
Menjelang Malam,
__ADS_1
Sebelum As berangkat kerja,
"Ma...kamu tidak keberatankan jika kehidupan kita sudah macam kucing beranak seperti ini?"
Ujar As membelai kepala Mar.
"Pa... Aku gak apa-apa, dari kecil Aku sudah terbiasa hidup susah, mentalku sudah sekuat baja..jangan risau ya.."
Mar mengecup telapak tangan As sembari tersenyum lebar.
As lega mendengar itu dari Mar, ia begitu bangga memiliki istri seperti Mar.
"Makasih Ma....Kamu wanita terkuat dan terhebat yang pernah Aku jumpai.."
"Udah Pa?? cuma itu aja ya??"
Tanya Mar menyenggolkan bahu pada As.
"Maksudnya??"
As menatap Mar bingung.
"Iya...Aku dimata Kamu cuma Terrrkuat dan Terrrhebat Aja ya??"
Mar mendelik manja pada suaminya.
"Oh..itu ya?? kamu memang TERRRHEBAT...TERRRKUAT..dan pastinya TERRRCANTIK sayang.."
As memeluk Mar yang yang tengah tergelak tawa.
"Ya udah, Aku kerja dulu ya...baik-baik dirumah sayang..."
Pamit As pada Mar, tak lupa As menghampiri satu persatu Anaknya mencium kening mereka bergantian.
Ditempat kerja,
"Pak...Aku ingin bicara sebentar bisa?"
Tanya As menghampiri Pak Kapitan yang tengah duduk beristirahat.
"Bicara?? tentang Apa As?"
Tanya Kapitan yang penasaran.
"Begini Pak, Aku berniat berhenti bekerja"
Penuturan As tentu saja mengagetkan Kapitan.
"Ada apa As, kenapa mendadak sekali.."
"Iya... Maafkan Aku Pak, jika ini terkesan mendadak,, rencananya kami ingin pulang ke Kota"
Penjelasan As membuat Kapitan mengangguk-angguk pelan.
"Kapan rencana Kalian pulang?"
Tanya Kapitan lagi.
"Mungkin lusa Pak."
"Jadi besok Malam kau masih datang untuk bekerjakan?"
"Insya Allah iya Pak"
"Ya sudah... kalau begitu, besok saja gajimu Aku berikan."
__ADS_1
As mengangguk.
Bersambung***