Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 95 Patah kemudi


__ADS_3

Karangan bunga duka cita terpajang berjejer di depan rumah As, dihari kedua setelah Mar pergi.


Kondisi rumah masih ramai, Anak, menantu dan Cucunya Masih menemani.


Pagi ini,


"Bangunkan Papa, ajak sarapan sama-sama biar terhibur"


Ujar Ana yang baru saja kembali dari pasar berbelanja untuk sarapan.


Sari masuk kedalam kamar, terlihat As tengah duduk menghadap jendela.


"Pa, kita sarapan yuk.."


Sari memapah As keluar kamar.


Ia duduk didepan pintu rumah, menatap kejalan dan pandangannya jatuh pada deretan papan karangan bunga.


Kedua Anak perempuan Ana tengah menyiapkan sepiring nasi kuning dan segelas kopi untuk As.


"Ini sarapannya, Akas makan yang banyak ya...biar Akas sehat... Akas suka ini kan? habiskan ya Kas..."


Ujar mereka.


As mengangguk tersenyum tipis pada kedua cucunya sambil menyendok sarapannya, belum sempat sendok itu berlabuh di dalam mulut, tiba-tiba As bertanya pada kedua cucunya.


"Itu banyak sekali bunga,, ada acara apa?? ada yang hajatan ya?? atau ada yang nikah??"


Pertanyaan As membuat kedua cucunya saling pandang, begitupun dengan Sari yang segera mendekat, dengan dada yang kembali berdegup kencang tak beraturan.


"Pa.... itu karangan bunga duka cita buat Mama, kan Mama sudah pergi Pa..."


ucap Sari pelan sambil mengusap punggung As.


"Iya Kas,,, Nyai kan sudah meninggal,"


Sambung Cucunya.


"Iya... itu... Tulisannya turut berduka cita... Nama itu... M A R Y A T I..."


Ujar As mengeja nama yang tertera dengan huruf besar di papan bunga.


TINGGG !!!


Sendok yang dipegang As terjatuh dari tangannya, mukanya berubah sendu, mulutnya kembali mengatup, jemarinya bergetar hebat, Air matanya menggenang.


As seperti kembali menyelami luka hatinya atas kepergian Mar.


Ia menyodorkan kembali piring nasinya, lalu beranjak meninggalkan Sari dan kedua cucunya menuju kamar.


Hal serupapun kembali terjadi ketika selepas magrib,


Jemaah Masjid, sanak keluarga dan para tetangga mulai berdatangan untuk tahlil mendoakan Almarhumah Mar.

__ADS_1


As kembali bingung, ia keluar kamar dengan pakaian koko terbaiknya yang sudah disiapkan Sari, dengan sangat pelan ia bertanya pada Sari,


"Kenapa rumah kita ramai Dek, mau ada acara apa?? Mama kemana ?? kenapa tak ada dikamar, disana juga tak ada?"


As menunjuk tempat dimana biasanya Mar terbaring.


"Papa... kita mau acara tahlilan malam kedua Mama Pa..."


Mengucap itu, hati Sari merasakan sakit, ngilu perih serta pedih yang sangat luar biasa.


As menghentikan langkahnya, ia mengurungkan niat untuk bergabung ditengah para tamu, As memilih duduk di tepi tempat tidur, dan memberi kode pada Sari untuk meninggalkannya sendiri.


Haru kembali menyelimuti rumah mereka.


...****************...


Hari-hari penuh duka dilalui As, Sepi.. sunyi... dalam kesendirian. Terlebih setelah semua Anak, menantu dan cucunya sudah kembali kerumah masing-masing.


As lebih sering murung, tak lagi terdengar suaranya, ia lebih memilih menyendiri didalam kamar sepanjang hari, tak ada lagi senyum, tak ada lagi canda tawa, bahkan sama sekali tak ada selera untuk makan.


Sari yang bingung dengan sikap Ayahnya meminta Win untuk tinggal dirumahnya untuk menemani dalam merawat serta menghibur As yang tengah menyelami kesedihan.


"Bagaimana ini Kak Win, apa sebaiknya kau tinggalah disini, mungkin Aku perempuan dan Papa agak segan, coba dekati dan ajak berbincang.. mungkin sesama laki-laki bisa membuat Papa lebih leluasa mencurahkan segala isi hati dan perasaannya"


Ujar Sari.


"Ehm... Baik, nanti Aku coba buat mengajak Papa ngobrol"


Selepas Magrib,


Win berjalan ke dapur rumah Sari, ia sengaja membuat 2 cangkir kopi hitam kental kesukaan Ayahnya, tak lupa ia juga sudah menyiapkan sebungkus rokok kretek disaku bajunya.


As tengah duduk didepan televisi yang ia biarkan menyala, sementara matanya seolah tembus menerawang entah kemana, mulutnya bagai terkunci, diam seribu bahasa.


Sari memperhatikan dari pintu kamar yang sengaja ia buka lebar.


Tak lama Win datang dengan 2 cangkir kopi ditangannya.


"Pa... "


Sapanya begitu duduk disebelah As.


As tak menggubris kedatangan Win, As tetap saja bergeming.


Win meletakkan kopi di meja tepat di depan As.


"Pa...."


Ulang Win, kali ini disertai tepukan lembut di punggung As.


As menoleh sesaat kemudian kembali memalingkan wajahnya.


"Ini rokok, kita ngerokok bareng sambil ngopi-ngopi santai, sambil cerita..bahkan sudah lama sekali kita tidak mengobrol berdua ya kan Pa..."

__ADS_1


Win mulai memancing As untuk bercerita.


Bukannya bercerita, As malah menunduk dengan air mata.


Hal itu tentu saja mengiris hati Sari yang menyaksikan.


"Pa... sudahlah,, jangan bersedih lagi.. ikhlaskan Mama... Adek bilang Papa tak mau makan, kumohon jangan lakukan itu Pa, nanti Papa sakit..."


Bujuk Win, namun As tak menjawab, ia terus saja menunduk seolah ingin membenamkan wajahnya kedalam duka yang ia rasakan.


"Papa Semangat... harus semangat... minggu depan kita mau peringatan 40 hari Mama, Papa harus sehat ya... Biarkan Mama pergi damai dan tenang disana, ikhlaskan Pa..."


Kepala As terangkat ia menatap tajam mata putranya.


"Tidak bisa Win... Papa sudah berusaha ikhlas atas kepergian Mama, berusaha tidak memikirkan Mama lagi, tapi tidak bisa, otak dan hati ini selalu mengenangnya... dan setiap terkenang, Papa sakit..., rasa ikhlas itu berubah menjadi rindu, betapa Papa merindukan Mama.. Betapa Papa ingin berjumpa kembali dengan Mama.. tak ada yang bisa mengalihkan pikiran Papa dari Mama bahkan sedikit waktu saja!! Dimana Mama sekarang?? Andai Papa tau detik ini pula Papa susul Mama!!"


Suara berat As akhirnya terdengar meski sangat lirih dan penuh luka.


"Istighfar Pa... Jangan bicara seperti itu..Kami menyayangi Papa.. kami masih butuh Papa disini."


Suara Win mulai bergetar, matanya berkaca-kaca.


"Kamu tau Win... Tak ada yang lebih menyakitkan dari kehilangan orang yang paling berharga dihati kita, dan kamu tau... Rindu yang paling menyakitkan adalah ketika kita merindukan orang yang sudah pergi dan tak pernah bisa kembali."


Mendengar itu, Win menelan saliva, menahan segala rasa yang bercampur baur didalam dada.


Sementara Sari menggigit bibir menahan isaknya, tangannya memegangi dada nya yang tiba-tiba terasa begitu sakit, sesak dan sangat terhimpit duka.


Sari tau, cinta kedua orang tuanya begitu kuat, ia bisa merasakan betapa luka itu menganga lebar dan mengucurkan darah ketika salah satu dari mereka pergi dan takkan kembali.


As meninggalkan Win, ia beranjak dari kursinya, melangkah pelan menuju kamar, namun sayang baru beberapa langkah ia berjalan,


BRUKKK...


Tubuhnya ambruk, bersama air mata yang terburai bebas.


"Astaghfirullah Pa... Ya Allah..!!"


Teriak Win dan Sari panik.


Mereka berhambur kearah As, mengangkat dan memapah tubuh lemah As, matanya basah, tubuhnya gemetar dan nafasnya tersengal, sangat menyedihkan.


Didalam kamar, As dibaringkan.


Sari memberinya obat sakit kepala ketika As mengeluhkan sakit kepala yang hebat.


Malam-malam yang sepi terus dilalui As, berbagai macam cara dan upaya telah dilakukan Sari dan Win untuk menghibur As, namun sia-sia As tetap pada pendiriannya menghukum dirinya sendiri dalam kesendirian, serta kesunyian.


As melepaskan rasa seleranya pada apa saja yang dulu menjadi kegemarannya, meninggalkan semua yang dulu selalu menjadi kebutuhannya, As juga menolak semua makanan yang disuguhkan, bahkan diam-diam selalu membuang makan siangnya didalam closed.


Menghabiskan sisa waktunya dengan berbaring di tempat tidur menjadi hobi barunya, namun satu hal yang tak pernah berubah dari seorang As adalah sholat tepat waktu meski dalam kondisi apapun.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2