Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 73 Bayi terakhir Mar


__ADS_3

Waktu terus berlalu, seiring dengan perjuangan yang tak surut meski badai berkali-kali menerpa kehidupan Mar, masalah dan cobaan silih berganti duka dan air mata tak terhitung jari, namun semua itu ditelan dan dinikmati Mar tanpa menyerah, ia tetaplah Maryati si wanita tangguh yang tak pantang menyerah.


Tak terasa, bulan yang ditunggu telah tiba, 9 bulan 8 hari, itu artinya entah hari ini, esok atau lusa ia akan segera berjumpa dengan Bayi diperutnya.


Perasaan campur aduk sedang membelenggu dihatinya.


Antara bahagia dan kebingungan tengah mendera jiwanya.


Bagaimana tidak, sudah hampir satu bulan ini As kembali menjadi pengangguran, uang simpanan untuk persalinan hampir habis terpakai untuk biaya mereka makan, sementara gaji dari buruh cuci, baru saja dipakai untuk sewa rumah.


Kalut, iya itu yang dirasakan Oleh Mar saat ini.


Untuk pergi kerumah orang tuanya ataupun kakak iparnya, rasanya ia tak punya muka, malu bila terus-terusan merepotkan mereka, sementara untuk meminjam ditetangga kanan kiri, sudah pasti cemoohan yang akan didapat, belum lagi cibiran (udah tau miskin, kenapa hamil lagi!! udah tau hidup susah, mau aja brojol tiap tahun!! Makanya kalau miskin berhenti beranak!!)


Kalimat-kalimat yang sering sampai ditelinganya ketika harus meminta pinjaman uang pada tetangga.


Hal itu membuat Mar terasa benar-benar terhunus.


Mar berjalan gontai menapaki jalan setapak ke arah rumah Ibu Marni, sudah satu minggu ini ia berhenti menjadi buruh cuci dirumah Bu Yeyen.


"Mar, kau pucat? sakit ya?"


Pertanyaan Nek Sumi begitu Mar tiba di depan teras Bu Marni.


"Ah, enggak Nek..cuma tadi Aku tak sempat pakai lipstik"


Jawab Mar mengulas senyum.


"Mar, kau sudah menunggu hari untuk lahiran, seharusnya kau tidak kerja dulu"


Nek Sumi memandang perut besar Mar.


"Gak apa Nek, Aku masih kuat.."


Jawab Mar dengan nafas yang sedikit tersengal dan berat bahkan cenderung sesak.


Mar masuk kedalam rumah dan mulai mengerjakan tugasnya.


"Eh..Bu, gak sekolah Bu?"


Tanya Mar kaget ketika hampir bertabrakan dengan Bu Marni di dapur.


"Iya enggak Mar, tadi izin gak ngajar kepala agak pusing"


Jawab Bu Marni memegang kepalanya.


"Mar, kalau memang kau sudah sulit bergerak, gak apa-apa istirahat aja dulu, nanti setelah lahiran dan bayi mu sudah agak besar bisa kerja lagi,"


Mar hanya tersenyum mengangguk dan melanjutkan untuk mencuci, namun baru saja Tiga potong baju yang ia sikat, Mar merasakan ada yang aneh diperutnya.


Mar menghentikan kegiatan menyikat baju kemudian mengusap perut buncitnya.


Memang sejak semalam, perutnya sering keram dan sedikit mulas.


Mar segera melanjutkan cuciannya sesaat setelah rasa sakit itu hilang.


Sampai seluruh cucian habis dan Mar selesai menjemur, perutnya terasa baik-baik saja.

__ADS_1


Namun ketika baru saja ia duduk ingin menyetrika, perutnya kembali mulas, Mar menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan sampai rasa mulas itu kembali menghilang.


Namun kali ini ada yang ia rasakan berbeda setelah itu, sesuatu mengalir dari kewanitaannya.


Sejenak terdiam, lalu meraba bokongnya yang kini basah oleh cairan licin.


"Astagfirullah ... ketuban??"


Ucapnya pelan.


Mar berdiri dan merapikan kembali bekas setrikaan yang urung ia lakukan.


Mar bergegas menemui Ibu Marni,


"Bu....! Bu....! Aku izin ya...mau pulang!?"


Ujarnya tergesa.


"Mar, kamu kenapa? ada apa? kenapa pucat, kamu juga berkeringat, ya Allah Mar, celanamu kenapa?"


Bu Marni terlihat begitu panik.


"Sepertinya Aku mau melahirkan Bu!"


Jawab Mar mengusap perutnya yang kembali keram.


"Ya Allah, itu air ketuban?"


Tanya Bu marni menunjuk bokong Mar yang sudah basah.


Mar mengangguk.


Bu Marni meninggalkan Mar masuk kedalam kamar sesaat kemudian kembali dengan menenteng sebuah tas baby.


"Mar ini perlengkapan Bayi lengkap, dan ini ada sedikit uang semoga bisa buat kamu nambah-nambah ongkos lahiran"


Bu Marni menyerahkan sebuah Tas Baby yang berisi perlengkapan bayi beserta beberapa lembar uang kertas.


"Ya Allah, Alhamdulillah..makasih banyak Bu...semoga rejeki ibu berlimpah"


Mar menyalami Bu Marni dan berpamitan untuk pulang.


Mar berjalan cepat menuju rumah, dan segera menemui As suaminya.


As terlihat tengah membuat jala ikan di teras rumahnya.


Kegiatan yang sudah hampir sebulan ini ia lakoni setelah ia menganggur adalah membuat jala ikan untuk ia jual pada nelayan-nelayan yang tinggal di pinggir sungai.


"Pa...! Antar Aku kebidan Pa!!"


Ucap Mar begitu tiba di depan suaminya, dan tanpa menunggu jawaban, Mar bergegas masuk dan berganti pakaian disusul oleh As.


Ana yang kebetulan sedang tidak bersekolah, melihat Mar tergesa-gesa berlari mendekati Mar.


"Ma... Mama mau melahirkan?"


Tanya remaja manis itu.

__ADS_1


"Iya Ana, tolong Mama ya jaga rumah dan adek-adek, doakan yang terbaik untuk Mama"


Mar mengusap pipi Sulungnya.


"Baik Ma...Mama hati-hati ya...cepat kembali, Ana sayang Mama"


Kedua Ibu dan Anak itu berpaut sangat erat.


As yang kini sudah siap mengambil alih tas yang sedari tadi di jinjing Mar dan mereka pun berangkat ke klinik Bidan.


Setelah sampai dan Mar tengah di tangani Bidan, As duduk sendiri di ruang tunggu, ia menyandarkan kepalanya yang terasa sangat berat, pikirannya melayang, terbayang akan tagihan ongkos persalinan yang mahal, As mengeluarkan amplop dari saku celananya.


ia menghitung sisa simpanan yang ia miliki.


"Ehm... ini pasti masih kurang, Ya Allah... dimana Aku harus mendapatkan lagi tambahannya"


Ucapnya lirih lalu kembali memasukkan uang tersebut kesakunya.


Bidan keluar dari ruangan, segera As berdiri dan menemui Bidan tersebut.


"Bagaimana Bu, apa Istri saya sudah melahirkan?"


Tanyanya cemas.


"Belum Pak, ada kemungkinan selepas magrib nanti"


As menghela Nafas dan memilih masuk untuk melihat kondisi Mar.


Didalam ruangan, terlihat Mar tengah berjuang menahan sakit rasa ingin melahirkan.


"Sabar ya Ma...kamu pasti kuat.."


As menggenggam tangan Mar dan melabuhkan kecupan hangat dikening Mar.


Sementara Mar hanya memejamkan mata menyesapi rasa sakit dan menikmati perjuangannya.


Hingga waktu yang ditunggu-tunggu tiba tepat pukul 21.00, teriakan perjuangan Mar di ranjang persalinan berakhir, keringat mengucur dan nafas tersengal berakhir dengan menelan ludah tanda kelegaan, tangisan bayi perempuan terdengar menggema diruang persalinan,


Air mata Mar mengalir, ketegangan kembali muncul kala As menyaksikan sendiri tubuh montok bayinya menggeliat ditangan bidan.


Rasa Deg-degan menyelimuti perasaan kedua orang tua itu.


"Bagaimana kondisi Bayiku Bu bidan??!!"


Pertanyaan cemas meluncur dari bibir Mar disela-sela ia mengatur nafas.


Mengingat diagnosa Bidan saat ia periksa kala itu, mengingat kehamilannya terjadi disaat ia tengah mengkonsumsi pil kontrasepsi.


"Alhamdulillah, Bayinya perempuan Bu, sehat dan semua normal"


Jawab Bidan menunjukkan sekilas bayinya ke arah Mar.


"Alhamdulillah Ya Allah,,,"


Tangisan itu kembali pecah, mar tergugu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, sambil terisak antara lega dan rasa tak percaya mendengar ucapan Bidan yang mengatakan Bayinya sehat.


As mendekati Mar, dengan mata Basah mengecup kening Mar berkali-kali sembari terus berucap syukur atas karunia tuhan pada keluarga mereka.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2