
Siang ini, sebelum makan siang.
"Ma...Adek ambilkan makan ya..biar cepat diminum obatnya"
Sari mendatangi Mar setelah selesai masak untuk makan siang.
"Masak apa Dek?"
Tanya Mar masih tetap menghadap ke jalan.
"Adek hari ini masak sop ayam, sama gorengan tempe, ada juga sambal kentang Ma."
"Mama tak selera untuk makan !!!"
Jawab Mar sedikit ketus.
"Loh...kenapa Ma?? kan biasanya Mama suka sekali sop Ayam?"
Sari menatap Ibunya sedih.
"Entahlah, aromanya bikin mau muntah, bau anyir!!"
Setelah menarik nafas panjang, Sari mencoba tersenyum, ia kemudian memegang tangan Ibunya penuh rasa kasih sayang.
"Mama mau makan apa?"
Tanyanya lembut.
Sudah satu bulan ini Sari menemukan hal yang janggal pada ibunya, Mar yang biasa paling pengertian dan tidak neko-neko kini berubah bagai anak kecil, ia kerap uring-uringan, marah tanpa sebab dan cerewet untuk urusan makan
Meski selalu mencoba memahami, dan menuruti semua kemauan ibunya, tak jarang Sari merasa lelah, dan terkadang menangis diam-diam, ketika Mar memarahinya, menyela masakannya bahkan membentak Rangga putranya.
walaupun seperti itu, Sari tak pernah sakit hati dengan perlakuan Ibunya yang dianggapnya hanyalah fase usia senja yang biasa dialami orang tua seusia Mar.
Jika sudah merasa tak kuat batin, Sari akan pergi dengan sepeda motor matiknya bersama Rangga putranya kerumah Saudaranya Eni, disaat Mar dan As terlelap tidur siang.
walau cuma 1 sampai 2 jam cukup membuat Sari sedikit lega setelah bercerita dan mencurahkan segala perasaannya pada Saudaranya tentang sikap Ibunya Akhir-akhir ini.
Biasanya Eni akan menghiburnya, menenangkan hatinya agar tetap bisa bersabar atas ujian yang kini diberikan Allah padanya yang merawat orang tua yang sakit.
Eni adalah suport keuangan bagi Sari dalam merawat dan memenuhi semua kebutuhan Mar selama sakit.
Selama Mar sakit, memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, untuk menebus obat setiap bulan, untuk membeli popok, sampai susu dan gula khusus penderita diabetes semua ditanggung Eni yang memang keuangannya melebihi yang lain.
"Ma, Mama mau makan apa, nanti Adek buatkan"
Ulang Sari pada Ibunya.
"Mau makan Mi goreng, pakai telur ceplok"
Jawab Mar tanpa menoleh.
"Ma, yang lain ya... kan sudah beberapa hari ini Mama selalu minta buatkan Mi goreng, gak baik Makan itu terus Ma"
Bujuk Sari.
Cemberut, ya... itulah expresi Mar menanggapi bujukan Sari.
"Gimana kalau telur dadar sama Nasi goreng ya... Biar Adek masakin?"
Sari kembali membujuk.
Mar menggeleng,
Dan lagi-lagi Sari harus menuruti kehendak Ibunya, agar Ibunya tidak uring-uringan sepanjang hari jika tidak dituruti kemauannya.
__ADS_1
As yang melihat tingkah Istrinya hanya bisa berdiam diri menatap dari pintu kamar.
Sepiring Mi goreng lengkap dengan telur ceplok seperti keinginan Ibunya, sudah siap ditangan Sari, ia berjalan kedepan menemui Ibunya.
"Ma, nih mi gorengnya... mama makan ya...biar abis ini minum obat."
Mar segera melahap mi goreng kesukaannya dengan lahap.
Menjelang sore,
Mar duduk di lantai teras rumahnya, dari dalam Sari dan As mendengar percakapan.
Dengan hati bertanya-tanya dengan siapa Ibunya mengobrol, Sari memutuskan untuk keluar mencari tau.
Mar ternyata tengah mengobrol dengan pedagang siomay dan Es cendol yang ia panggil dengan Isyarat.
"Ma...Mama mau makan siomay?"
Tanya Sari ketika sampai diteras.
Mar menoleh sekilas kemudian mengangguk.
lalu memberi kode untuk diambilkan piring.
Sari mengangguk, lalu meninggalkan Mar masuk kemudian keluar lagi dengan sebuah piring dan sendok untuk Mar.
Ditengah-tengah menyantap siomay,
"Pa..Aku rindu Ana, Aku mau menelpon mereka"
Ujarnya.
"Iya, nanti Aku suruh Sari menelpon"
"Dek....setelah selesai kerjaan mu, Mama ingin menelpon Yuk Ana, tolong kau telponkan ya..."
"Iya Pa, sebentar lagi"
Sari mempercepat kerjanya, lalu segera menemui Ratu di rumahnya.
Tut...... Tut..... Tut....
Suara sambungan telepon diseberang sana yang belum terangkat.
๐
"Halo....Assalamualaikum..."
"Walaikum salam yuk, Apa kabar?"
"Alhamdulillah baik Dek, ada apa? Mama gak kenapa-kenapa kan?
"Iya yuk, ini..Aku telpon, Mama katanya kangen pengen bicara"
"Oh... iya.. iya... Mana Mama?"
Sari segera memberikan ponselnya pada Mar.
"Halo Na..."
"Iya Ma....Mama sehat ??"
"Iya sehat, Na.. kapan kalian pulang, Mama rindu.."
"Nanti ya Ma, lebaran kami pulang.. Mama sehat-sehat disana ya...."
__ADS_1
"Sebetulnya Mama pingin sekali main kesana, tapi ya...kalian tau kondisi Mama, doakan Mama bisa jalan lagi..Mama mau puas-puas jalan kemana pun yang Mama mau."
"Iya Ma..."
"Na..kalau kalian pulang Nanti, belikan Mama kaos kaki ya...."
"Iya Ma, nanti Ana belikan ya..."
"Ya udah dulu ya Na....Assalamualaikum"
"Walaikum salam Ma"
Sungguh permintaan yang menurut Ana sedikit aneh, namun Ana menganggap itu hanyalah permintaan biasa dari seseorang ibu kepada anaknya.
"Ma, Biar Adek belikan Mama kaos kaki ya..."
Ujar sari,
"Tak usah, Mama sudah nitip sama Yuk Ana, katanya nanti dibawakan"
Sari hanya mampu menelan ludah dengan sikap ketus Mar padanya Akhir-akhir ini.
...****************...
Hari Raya tiba, seluruh Anak, menantu dan Cucu Mar dan As pulang.
Semua berkumpul di rumah Anak ketiga Mereka Eni, yang memang memiliki rumah yang besar dan luas, cukup menampung seluruh keluarga yang tiba.
Mar sudah berada disana sehari sebelum lebaran, suka cita dan bahagia tengah menyelimuti keluarga besar ini, terutama Mar dan As.
Aneka macam buah tangan dibawakan untuk Mar dan As tak lupa kaos kaki pesanan Mar kala itu.
Mar terlihat sangat bahagia dikelilingi cucu-cucunya yang mulai beranjak remaja.
"Putri... kapan nikah? jangan lama-lama ya.. Nyai ingin lihat putri pakai baju pengantin"
Celetuk Mar tiba-tiba ketika Putri, anak sulung Ana mendekat.
"Doakan saja ya Nyai, makanya Nyai sehat-sehat ya... biar bisa menghadiri pernikahan puput nanti"
Sahut Putri yang sebelumnya saling pandang pada seisi ruangan.
"Terus ya... Nyai juga pingin lihat Rangga pakai seragam sekolah... sampai gak ya kira-kira??"
Ujarnya mencium putra semata wayang Sari lalu terdiam tiba-tiba dengan pandangan nanar.
"Sampai Ma.... pasti sampai,,"
Jawab Sari dengan perasaan lain.
"Aamiin......"
Jawaban serentak terdengar dari seluruh keluarga yang memenuhi ruangan tersebut.
Sementara As lebih memilih keluar rumah, duduk diteras samping menyendiri, menyembunyikan sedih hatinya.
Entah kenapa, menatap Mar membuat hatinya ngilu, seolah-olah akan terjadi sesuatu yang akan mengiris perih hatinya kelak.
As duduk dengan menengadahkan kepala keatas, membuang pandangannya jauh keatas langit.
"Ya Allah, ada apa ini?? Apa yang sebenarnya kau rencanakan? apa yang akan terjadi pada Istri hamba ya Allah, mengapa hati ini pilu menatap mata kosongnya, mengapa hati ini malah perih mendengar setiap celotehnya.."
Tanpa sadar, Air matanya mengalir tanpa seorang yang tau, hanya ia dan Tuhan yang tau hati dan perasaannya saat ini.
Bersambung***
__ADS_1