
Terbaringnya Mar di Rumah sakit, merupakan kesedihan terbesar bagi As, ia brusaha tetap terlihat tenang dimata Anak-anaknya meski kenyataannya ingin sekali ia menangis,
Melihat keseharian Mar yang tertatih dan terseok- seok saja sudah cukup membuat ia hancur , apalagi harus menyaksikan wajah lemah dan pucat wanita kesayangannya yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.
Setiap hari selama Mar dirumah sakit, As selalu setia menemaninya meski harus dipaksa pulang jika hari telah malam oleh Anak-anaknya, Mereka takut As akan jatuh sakit karena kurang istirahat.
Pagi ini,
Masih pukul 05.30 pagi, As sudah rapi dengan kemeja biru mudanya duduk di ruang tamu,
"Pa..sudah rapi?"
Sapa Ana yang baru keluar dari kamar.
" Na...buruan kamu mandi, antar Papa kerumah sakit"
"Pa, ini masih terlalu Pagi, jam besuk baru akan dibuka pukul Setengah 8 pagi, percuma kita datang pagi, kita juga tidak akan diperbolehkan masuk"
Ujar Ana,
"Kasian Mama Na, dia pasti kesepian disana, Papa harus menemaninya"
As menatap foto Mar yang terpajang di dinding rumah mereka dengan mata berkaca.
"Pa, Mama gak kesepian, disana ada Win dan Leman..Papa tenang saja ya..."
Ana mencoba membujuk.
Sementara As hanya bisa menghela nafas mencoba menerima bujukan Ana.
Beberapa kali As terlihat mondar mandir keluar masuk rumah, sesekali ia melirik jam tangan miliknya, memastikan ia tak kan telat pergi kerumah sakit, rasa rindu dihatinya semakin membuncah.
Ya..begitulah As, cintanya pada Mar tak pernah sedikitpun berkurang, kesetiaan dan rasa kasih sayangnya yang luar biasa tetap terjaga utuh diusia senja mereka.
Ada kelegaan dihati As begitu ia melihat Ana sudah bersiap-siap akan berangkat kerumah sakit.
"Dek, kami kerumah sakit dulu ya, kamu baik-baik dirumah, tenang saja jangan terlalu cemas, Anakmu sedang butuh perhatian extra darimu..fokus saja merawatnya, masalah Mama biar kami saja"
Ana menepuk pelan pundak Sari yang tengah menggendong buah hatinya mengantar sampai depan pintu.
As sudah berdiri diluar menunggu Ana, Vin dan Hen yang masih didalam rumah.
"Iya Yuk, titip salamku untuk Mama"
Sari bebicara pelan, hatinya sangat merindukan Mar, namun apalah daya, ia tak bisa menjenguk kerumah sakit saat ini.
Setelah tibanya dirumah sakit, As mempercepat langkahnya menuju ruang kamar tempat Mar dirawat.
Sedikit berlari, As masuk keruangan Mar, ia segera duduk disamping ranjang Mar,
"Ma, bagaimana keadaanmu hari ini? Ma...kuharap kamu segera membaik..Aku rindu kamu berada dirumah, cepat membaik Ma, rumah terasa sepi tanpa kamu"
Dengan suara bergetar, As menggenggam tangan Mar dan mengecupnya berkali-kali dihadapan Anak dan menantunya.
__ADS_1
Mar membuka Matanya perlahan, dan mencoba tersenyum meski terlihat sangat sulit,
"Ku...Aik...Aik ja Pa...ngan watir"
Jawab Mar tersendat-sendat.
As tersenyum begitu mendapati respon yang baik dari Mar, meski ucapannya masih sedikit sulit dimengerti, namun bagi As itu adalah kalimat terindah.
"Papa sudah sarapan?"
Tanya Win,
"Belum, kami semua belum sempat sarapan... "
Sambung Ana dengan cepat, ia datang dengan sekantong besar aneka sarapan ditangannya.
"Ini, kami bawa sarapan tadi mampir beli di depan. Kalian juga belum sarapan kan? Nih..sarapan dulu"
Sambung Ana menyodorkan beberapa bungkusan pada adik-adiknya, ia juga menyiapkan sebungkus nasi uduk untuk Ayah nya.
"Pa...sarapan dulu ya..."
As menerimanya, lalu mulai menyendok sarapannya dengan mata yang tak lepas memandang Mar.
...****************...
10 hari berselang sejak Mar terbaring dirumah sakit.
"Pa, tadi Dokter datang periksa Mama, katanya besok pagi Mama sudah boleh pulang"
Seketika senyum As terkembang lebar,
"Alhamdulillah.."
As segera menghampiri Mar,
"Ma...besok kamu pulang, kamu sudah sehat...jangan sakit lagi ya.., Aku sepi tanpa kamu Ma.."
As mencium kening Mar, mengusap pipi yang kini memiliki banyak kerutan, lalu berkali-kali mengecup punggung tangan Mar.
"Ya...Pa...Aku sudah sehat..."
Jawab Mar pelan,
Ucapannya kini sudah mulai jelas, wajahnya yang sempat miring, kini perlahan membaik, wajah nya juga kini lebih segar.
"Alhamdulillah terimakasih Ya Allah..Kau maha mendengarkan doaku.."
As mengusap mukanya.
Nampak raut bahagia tengah menaungi wajah lelahnya, bagaimana tidak? jika seseorang yang sangat dicintainya sudah hampir 2 minggu tak berada disampingnya saat ia tidur, tak menemaninya bercengkrama, walau hanya sekedar bercerita.
Rasa tak sabar menunggu esok pagi, membuat As ingin cepat-cepat Malam, agar pagi datang dan ia sendiri yang akan menjemput wanitanya pulang.
__ADS_1
Keesokan harinya,
"Papa...hari ini gak usah kerumah sakit ya Pa, biar Ana saja sama Hen dan Win yang menjemput Mama, Papa tunggu saja dirumah"
Pinta Ana ketika melihat As tengah berkemas bersiap kerumah sakit.
"Loh, kenapa Na??"
Tanya As sedikit kecewa dengan keputusan yang diambil putri sulungnya.
"Biar Papa gak capek, "
Jawab Ana singkat sambil mengulas senyum dan mengusap pundak As.
"Ya sudah kalau begitu"
Dengan hati kecewa, As duduk ditepi tempat tidurnya.
Hampir 2 jam dari kepergian Anak-anaknya menjemput kepulangan Mar dari rumah sakit.
As terlihat mulai tak tenang, berulang kali ia terlihat mondar mandir, sesekali keluar rumah, melongok kejalan memastikan kepulangan Mar.
Sari mendekati As,
"Pa..tunggu Mamanya didalam ya..nanti Papa capek, siang ini panas sekali Pa, bisa-bisa Papa sakit kepala"
Bujuk Sari menggandeng As masuk kedalam rumah.
Beruntung As segera mengangguk dan menurut pada ajakan Sari.
Sari memandang Mata As yang penuh kerinduan, ia tak bisa membayangkan jika sesuatu hal buruk yang tak diinginkan terjadi pada Mar, kehancuran pasti akan dialami Ayahnya.
Sari tau betul betapa As sangat mencintai Mar begitupun sebaliknya, kesetiaan dan kasih sayang mereka tak pernah memudar meski senja kini menghampiri mereka.
As tengah duduk menghadap televisi yang tidak ia tonton, pikirannya selalu tentang Mar, tak sedetik saja waktu berlalu tanpa memikirkan Mar.
"Assalamualaikum...."
Salam dari balik pintu, sontak membuat As berdiri dan bergegas kearah pintu.
"Walaikum salam..."
Jawaban salam As disambut senyum manis Mar yang dipapah masuk kedalam rumah.
As menyambut dengan suka cita, merangkul dan mencium pucuk kepala Mar.
"Aku menunggu mu Ma....sejak tadi...bahkan semalaman Aku tak bisa memejamkan mata menunggu untuk hari ini,, Aku sangat merindukan kamu kembali kerumah ini, dan Allah maha baik,, Siang ini, adalah jawaban dari Doaku agar kita dapat berkumpul lagi,,"
Ucapan As tentu saja membuat haru seisi rumah, tak terkecuali Mar yang sempat menitikkan air mata, namun As buru-buru menghapusnya,
"Jangan menangis Ma...jangan lagi bersedih...kita harusnya bahagia, dapat kembali berkumpul dirumah ini, Aku dan Anak-anak sangat mencintaimu...kami sangat menyayangimu,, kembali gagah matahariku...kembali cerahkan rumah ini"
As memeluk erat Mar, sangat erat seakan tak ingin terpisahkan lagi.
__ADS_1
Bersambung***