
Hari berlalu, kini tubuh Mar semakin kurus, nafsu makan yang sangat tidak baik, bahkan jika dipaksakan untuk makan pun Mar sudah tak sanggup lagi mengunyah dan menelan Makanan yang dimasak oleh putri bungsunya.
As sangat terluka melihat Mar yang hanya bisa berbicara sesekalinya saja.
"Mama tak bisa lagi mengunyah yuk"
Ujar sari ketika mengadu tentang kondisi Ibunya pada Eni yang kala itu tengah menyusun barang-barang dagangannya di etalase.
Mendengar itu, Eni meninggalkan kerjaannya berlari mendekat pada Sari.
"Lalu, bagaimana solusinya Dek? apa kita bawa saja Mama kembali kerumah sakit?"
Tanyanya cemas.
"Aku sudah membujuknya tapi Mama tak menginginkan itu, tapi nanti akan Aku coba lagi"
"Ehm...Bagaimana kalau bubur, apa Mama mau?"
"Sudah Aku buatkan sejak kemarin, tetapi tetap tak bisa ditelan"
Sari menunduk menahan tangis.
Hatinya penuh dengan kekalutan.
"Jadi gimana Dek, apa cuma bisa minum susu saja?"
"Aku berniat memberi bubur bayi instan yang lembut dan encer, semoga bisa"
"Ya sudah kalau begitu, ini uang beli semua yang kalian perlukan merawat Mama, Maafkan Aku yang tidak bisa membantu kalian dalam merawat Mama"
Eni menyerahkan beberapa lembar uang sambil menitikkan air mata.
"Tak apa Yuk, Aku paham kesibukan mu, Terimakasih selama ini sudah banyak membantu materi pada kami."
Sari merangkul Eni sembari menepuk-nepuk pelan pundak Eni.
"Ya sudah, Aku pamit ya.. sekalian mau beli bubur bayi, kalau sempat datanglah besok untuk menengok Mama"
Sambung Sari ketika telah menstater Motor maticnya bersiap melaju.
"Lusa Aku kesana..."
Jawab Eni.
"Kalau menurutku, datang saja besok, firasatku sedang tidak enak"
Ujar Sari lagi sebelum melaju meninggalkan Toko milik Eni.
Eni tertegun mendengar penuturan Sari barusan, hatinya tiba-tiba menjadi gelisah dan tidak tenang.
ucapan Sari terus terngiang ngiang ditelinganya seharian.
Sesampainya dirumah,
As tengah duduk diluar dengan Mata menatap nanar ke arah jalan, sejak Mar tak bisa lagi duduk untuk bercengkrama dengannya, As menjadi lebih sering melamun, ia seperti kehilangan semangat bahkan untuk tersenyum saja sepertinya ia malas.
"Pa...kenapa tidak istirahat? disini panas, masuk ya...."
Ajak Sari memapah As dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggandeng Rangga putranya.
As mengangguk menuruti ajakan Sari, tanpa keluar sepatah kata pun,
__ADS_1
Setelah mengantar As duduk di kursi depan televisi, Sari segera membuat bubur bayi untuk Mar.
"Ma.....sudah bangun? kita makan ya... ini Bubur manis, Mama mau?"
Sari menunjukkan mangkuk bubur didepan Mar.
Mar tersenyum mengangguk,
Sari mengangkat tubuh Mar dan menyandarkannya pada tumpukan bantal yang dirapatkan pada dinding.
Mar ternyata menyukai bubur rasa beras merah yang dibuatkan Sari, hanya 10 menit, semangkuk bubur habis tak bersisa.
Ada sejumput kebahagian dan harapan yang luas dihati Sari melihat Ibunya kembali nafsu untuk makan.
"Sekarang Mama minum obat ya,"
Lagi-lagi Mar mengangguk tersenyum.
Kali ini, Sari menggerus tablet demi tablet yang harus di minum Mar, sebab ia tak mampu lagi menelen obatnya.
Mar sedikit meringis ketika suapan Obat berhasil masuk kemulutnya.
Sari buru-buru memberi segelas air minum yang diberi sedotan.
Sari sangat paham Ibunya pasti begitu sangat merasa kepahitan.
...****************...
Pagi ini, Sari bangun lebih awal dari biasanya,
bergegas menyelesaikan semua tugasnya di dapur, setelah semuanya beres Sari memandikan putranya, menyiapkan sarapan untuk Ayah dan anak semata wayangnya dan terakhir Sari menyiapkan Air hangat untuk Ibunya Mandi.
"Ma... kita mandi ya..."
Sari mulai melepaskan pakaian dan popok Mar,
dengan bersusah payah Sari mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengangkat Mar memapah Mar ke kamar mandi, meski tubuhnya kini jauh lebih kurus, namun tetap saja Sari sedikit oleng dikarenakan Mar tak dapat lagi mengimbangi badannya sendiri.
Sesampainya dikamar mandi, Sari menyandarkan tubuh Mar dan mulai mencuci rambut, menyikat gigi dan menggosok pelan tubuh Mar dengan sabun.
Setelah bersih, Sari kembali mengangkat tubuh Mar kembali ke kasur yang sudah diganti alasnya dengan yang baru.
Mar terlihat begitu capek, hingga nafasnya tersengal-sengal.
Sari mengeringkan tubuh Mar dengan handuk lembut, ia tak ingin membuat punggung dan pinggang Mar yang penuh luka akibat terlalu lama berbaring menjadi sakit dan berdarah.
Tak lupa ia juga mengoleskan salep luka dibagian yang lecet.
"Dek... setelah ini, Jangan Mandikan Mama lagi ya..."
Ucap Mar lirih setelah selesai dipakaikan baju.
Sari menatap Mar,
"Kenapa Ma?"
Tanyanya pelan.
"Mama tak sanggup lagi, capek.. biarlah tak usah mandi, dan nanti ketika Mandi itu adalah mandi terakhir Mama"
Tanpa aba-aba, Air mata Sari meluncur bebas.
__ADS_1
Sungguh kalimat yang sangat mengiris hatinya terasa begitu pilu dan nyeri.
"Ya sudah Ma..mulai besok, kita lap saja ya pake air hangat"
Mar mengangguk.
Sari menyiapkan bubur dan obat yang akan diberikan pada Mar.
"Assalamualaikum...."
Eni masuk kedalam rumah, ia datang dengan Rey putra bungsunya yang masih Bayi.
"Walaikum salam...Ma, ada Yuk Eni datang.."
Jawab Sari segera memberitahu Mar.
Eni mendekati Mar yang baru saja mau sarapan.
"Sini Dek, biar Aku yang menyuapi Mama"
Eni mengambil alih mangkuk bubur dari tangan Sari.
Sementara Sari beralih menggendong Rey, Anak bungsu Eni.
"Ma... cepet sehat ya... kami rindu Mama yang dulu, kalo Mama sehat, nanti kita jalan-jalan, Mama pingin menginap di rumah Yuk Ana kan?"
Eni mengajak Mar bercerita disela-sela menyuapi makan.
"Katanya besok mau kesini?"
Tanya Sari.
"Dari kemarin pikiran ku tak tenang, hatiku juga gelisah, ucapanmu kemarin terus menerus berputar-putar diotakku"
Jawab Eni sembari menyeka matanya yang terlanjur basah.
"Dek..apa sebaiknya kita bawa saja Mama kerumah sakit??"
Tanya Eni.
Belum sempat Sari menjawab, tangan Mar lebih dulu memegang lengan Eni, sontak itu membuat Eni, Sari dan As menatap mata Mar.
"Tak usah.. jangan kerumah sakit, Mama tidak mau, Mama mau disini saja"
Ucap Mar terbata-bata pelan.
As membelai kepala Mar, As juga menyeka sudut mata Mar yang basah.
"Ya... kita gak akan bawa kamu kerumah sakit, kita semua cuma berdoa agar Allah memberikan yang terbaik untukmu, apapun itu pasti yang terbaik"
Ujar As mengecup pucuk kepala Mar.
Suasana semakin haru, terlebih ketika Win datang dan berkumpul mengelilingi Mar.
Ditengah-tengah keharuan sebuah perasaan lain muncul di hati Sari, sebuah rasa takut kehilangan tiba-tiba saja terasa sangat besar menghantuinya, bersamaan dengan Mar yang melamun menatap langit-langit ruang keluarga seolah tengah menatap sesuatu yang tak terlihat.
"Semalam... Bak datang, bersama Mak..mereka tidur disisi kanan dan kiriku, mereka memelukku sangat erat..terasa sangat dingin.."
Ucapan Mar membuat As menitikkan air mata, Sari menggigit bibir bawahnya menahan perasaannya.sementara Eni dan Win hanya tertegun yang sebelumnya saling pandang.
Bersambung***
__ADS_1