
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, selepas makan siang, mereka berangkat ke stasiun kereta.
Ana, vin dan Eni sudah tak sabar menunggu kedatangan kereta untuk mengantar mereka berjumpa dengan Kakek dan Nenek mereka.
Ada sejumput harapan di dalam benak Mar tentang kehidupan mereka kedepan, walau ia tak tau akan jadi apa kehidupan mereka esok..
As melirik Mar yang terlihat sedikit tegang. As mendekati Mar meraih tangan dan menggenggamnya.
Mar menoleh, anggukan kecil dari As seolah sedang meyakinkan Mar tentang keputusan yang mereka ambil.
Hampir setengah Jam menunggu, peluit panjang dari kereta tujuan ke Kota mereka terdengar sangat merdu dari biasanya.
As bergegas menggandeng Anak-Anaknya dan menjinjing 2 tas besar di sebelah tangannya, diikuti Mar yang tengah menggendong Baby Hen dan menggandeng si gemoy Win.
Mereka memasuki kereta dan mencari tempat duduk.
Setelah mendapatkan tempat duduk yang mereka cari sesuai nomor tiket, mereka duduk dengan tenang, sesekali terdengar celoteh seru dari Anak-Anak mereka yang di sambung dengan tawa renyah dari semua.
"Gimana, suka naik kereta??"
Tanya As pada Anak-Anaknya yang terlihat begitu girang dan antusias saat berada di dalam kereta.
"Sukaaa......"
Seru ketiga Putri dengan kompak.
Sepanjang perjalanan, didalam kereta Mar hanya diam, pandangannya jauh terlempar keluar jendela kaca kereta.
"Ma... Ada apa?"
Tanya As yang dijawab gelengan lemah dari Mar.
"Kamu tak bahagia kita pulang? Atau kamu sedang memikirkan sesuatu?"
Tanya As, menggenggam tangan Mar dengan erat.
"Gak apa-apa Pa.. cuma mengantuk"
Jawab Mar.
Menjelang senja, kereta mulai terlihat masuk di stasiun terakhir, yaitu stasiun di kota kelahiran Mar.
"Alhamdulillah... Kita sudah hampir sampai, Ayo siap-siap"
Ujar As berbicara Pada Istri dan Anak-Anaknya.
Tak berapa lama, kereta berhenti dan seluruh penumpang turun.
"Ayo Ma...kita turun!!"
Eni menarik-narik baju Mar.
"Sabar ya Nak, kita belakangan aja turunnya ,masih padat"
Ujar Mar yang disertai anggukan dari semuanya.
Begitu kereta terlihat lengang, As beranjak menggendong Win, membawa tas mereka, Ana, Vin dan Eni bergandengan tangan, Mar bergerak pelan menggendong Hen dengan hati-hati keluar dari kereta.
Sesampai di stasiun, As terlihat sedikit bingung.
__ADS_1
"Ada apa Pa??"
Tanya Mar yang memperhatikan gelagat suaminya.
"Itu..Ehm...Kita kerumah Mak naik apa ya..?"
Ujar As sembari menggaruk kepalanya.
"Ya seperti kemarin aja Pa..kita naik angkot."
Saran Mar.
"Kamu gak apa-apa Ma??"
Tanya As ragu.
Mar tersenyum lebar...sambil mengangguk.
Dengan Angkot jurusan kerumah Bulromi, mereka naik satu persatu.
Wajah-wajah lelah nampak dari raut muka mereka walau senyum tak henti menghiasi muka mereka.
Tak sampai setengah jam, Angkot sampai di depan jalan arah kerumah Bulromi.
Dengan lewat dijalan setapak, ketiga putri nampak girang berkejar-kejaran meski lelah tak membuat semangat mereka padam untuk bertemu dengan kakek dan neneknya.
Mar dan As saling pandang dan melempar senyum menyaksikan kegirangan Anak-Anak mereka.
Sampai di depan sebuah rumah dengan tangga kayu, mereka berhenti.
"Assalamualaikum....Assalamualaikum...Nyaiii,, Yaiii.....Assalamualaikum....."
Masning yang baru saja hendak melaksanakan sholat magrib, terdiam beberapa detik mendengar panggilan dan salam dari luar.
"Bak... Apa Bak dengar??"
Masning menatap Bulromi meyakinkan pendengarannya barusan.
"Iya Mak,, Aku pikir cuma imajinasiku,"
Masning dan Bulromi saling pandang dan bergegas membuka pintu.
"Ya Allah,, Ana...Vin...Eni..,"
Masning berlari menuruni tangga dan secepat kilat merangkul ketiga Cucu perempuannya,
Air matanya tak kuasa ia tahan, Bulromi menyusul menuruni tangga, matanya melihat As dan Mar yang berdiri tak jauh dari Anak-Anaknya.
"As...Mar...."
Ujarnya lirih, kemudian merangkul Anak dan menantunya,
"Ayo naik..naik... Magrib gak baik diluar rumah,,apalagi Bayi dan anak-anak."
Bulromi merangkul dan mempersilahkan Anak, Menantu dan Cucu-cucunya Naik.
"Kalian duduk dulu, Mak sama Bak mau sholat sebentar ya..."
Masning mengambilkan satu teko air putih, dan melanjutkan untuk sholat.
__ADS_1
Mar menurunkan Baby Hen dari gendongannya dan menidurkannya diatas kursi sofa. Sementara As, berjalan kebelakang untuk bebersih diri dan segera menunaikan sholat.
Masning mendekati Ana, memeluknya erat, "kalian belum Makan?"
Tanya Masning.
Ana, Vin, dan Eni kompak menggeleng.
"Tunggu sebentar ya...Nyai masakin telur goreng"
Masning segera kebelakang mendadar beberapa butir telur.
"Bak...Niat kami pulang kesini untuk menumpang sementara disini..Maafkan kami akan merepotkan Mak dan Bak lagi"
As menunduk, ada malu yang menggantung di hatinya.
Belum sempat Bulromi menjawab, Masning datang.
"As..Mar...Bak,, nanti lagi ceritanya, sekarang kita makan dulu ya... Ayo.. Ana, Vin, Eni...Sini..sini kita makan"
Masning mendekati Mar yang sibuk menimang Hen yang sudah terbangun dari tidurnya sejak tadi.
"Biar Mak yang gendong Mar, Kamu makan aja dulu, suapin Win.. ini si imut ini siapa namanya?"
Masning menimang Cucu Barunya,
"Hen Mak,, Hendri namanya."
Jawab Mar sambil mengambil nasi dan mulai menyuapi Win.
Selesai Makan, keluarga mereka kembali keruang tengah, sementara ketiga Putri sudah sibuk bermain di kamar.
"Bagaimana kabar kalian?"
Tanya Masning.
"Alhamdulillah baik dan sehat semua Mak"
Mar menjawab, sembari mengganti pakaian pada Bayinya.
"Selama disana, apa kesibukan kamu Mar?"
Tanya Masning lagi.
"Gak ada Mak,, Kak As kerja jaga malam di tempat juragan kayu disana,"
"Maafkan Kami Mak, mungkin Kami akan kembali merepotkan Bak dan Mak disini, "
Timpal As.
"Ah..enggak seperti itu As, Mak malah senang kalian pulang, Mak sudah rindu dengan kalian terutama Cucu Mak yang manis-manis ini."
Jawab Masning sembari menatap Bulromi yang tengah menghisap rokok.
"As... Mar... Bak sudah pernah bilang, kapanpun kalian mau pulang kesini, pintu rumah ini terbuka lebar.. jangan sungkan Nak...Kami senang kalian disini"
"Makasih banyak Mak..Bak.."
Mata Mar berkaca-kaca, begitupun dengan Masning yang sejak tadi sudah menahan haru.
__ADS_1
Bersambung***