Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 94 Duka kehilanganmu


__ADS_3

Menjelang Pagi,


Seluruh keluarga, kerabat dan tetangga mulai berdatangan melayat, tubuh Mar kini sudah terbujur kaku di ruang tamu, dengan kain batik menutupi tubuhnya, serta selendang putih menutup bagian kepala.


As tetap setia duduk disamping jenazah Mar yang sudah siap untuk dimandikan.


"Pa.. kita mau mandikan Mama ya... Papa biar duduk disini ditemani Win.."


Ujar Ana.


As hanya diam.


Selepas dimandikan, jenazah Mar lantas dikafani sebelum ditutup, satu persatu Anak-anaknya mencium dan mendoakan agar kepergian Mar diterima disisinya.


Suasana haru tak bisa terelakan lagi saat dimana As kembali berbicara pada Jenazah Mar.


"Ma... Kau sudah cantik..bahkan sangat cantik sekarang, kau takkan merasa sakit lagi, kini giliran Aku yang merasa sakit Ma.. Aku tak pernah menyangka bahwa Aku akan sesakit ini kehilanganmu Ma...


Aku tak pernah menyangka akan seperih ini hatiku tanpa kamu Ma..


Aku ikhlas melepas kepergianmu Ma... tapi Aku tak yakin Aku sanggup melalui hari tanpamu.. Aku tak yakin Aku kuat berjalan sendiri tanpa kamu disampingku.


Kini Aku terluka Ma.. Aku kehilangan sebelah kaki untuk berjalan, bahkan sebagian jiwaku turut pergi bersama kau yang telah pergi.."


As mengusap matanya yang basah seiring dengan isak dari seluruh orang yang berada di dekatnya.


"Papa yang sabar ya Pa..Ikhlaskan Mama... Agar mama bisa pergi dengan tenang, Papa tidak sendirian, masih ada kami yang akan menemani Papa.."


Bujuk Ana, sembari memeluk pundak As dengan menangis.


As mengangguk, namun ketika Win akan memapah As untuk menjauh,


Tangan As menahannya, memberi kode bahwa ia masih ingin disana dan berbicara pada jenazah Istrinya.


Win menatap Ana, disambut dengan anggukan dari Ana.


As kembali membungkukkan tubuhnya, mendekat kearah wajah Jenazah Mar.


"Ma... Aku tak sanggup melanjutkan hidup ini tanpa kamu... Aku tak bisa kehilanganmu, Aku tak siap sendirian dihari-hari kedepannya..


Selamat jalan Ratuku... selamat jalan cintaku.. Selamat jalan Istriku...


Selamat jalan Ma... Tunggu Aku disana Ma... kita pasti sama-sama lagi.. Aku tak bisa sendiri Ma... Aku pastikan, kita akan sama-sama lagi"


As beranjak meninggalkan Jenazah Mar dan seluruh orang-orang yang masih menangis terisak diruang tamu,


Ia melangkah pelan masuk kedalam kamar, meringkuk diatas tempat tidur memeluk erat bantal guling.


Hatinya begitu ngilu, pedih dan sangat perih, kepalanya terasa sangat berat menahan air mata dan beban kehilangan.


Ketika jenazah sudah siap disholatkan,


Sari mengetuk kamar As, tak ada jawaban membuat Sari memutuskan untuk masuk.


As meringkuk memejamkan Mata dengan tetap mendekap dan mencengkram erat guling dipelukannya.


"Pa... yuk, jenazah Mama sudah siap disholatkan, sebentar lagi ambulance akan membawa jenazah Mama untuk dimakamkan, Papa ikut ya..."


As membuka matanya pelan, nampak memerah dengan sedikit sisa air mata disudut-sudut matanya.

__ADS_1


As terhuyung, badannya terlihat begitu lemas.


"Papa sakit??"


Tanya Sari memegang dahi As.


"Ya Allah, panas sekali... Papa demam, sebentar Pa, duduk dulu.. tunggu disini sebentar ya.."


Sari berlari keluar menemui Ana.


"Mana Papa?"


Seru Ana diambang pintu ketika melihat Sari datang sendiri.


"Papa demam Yuk, badannya panas sekali,"


Jawab Sari.


Ana bergegas masuk kedalam kamar As,


"Pa..."


Sapa Ana, As hanya menoleh sekilas kemudian kembali membuang muka menghadap jendela.


Ana meninggalkan As, dan kembali lagi dengan membawa obat demam dan segelas air.


"Ini obat Pa... diminum ya..., kalau seperti ini..Papa dirumah saja, kau temani saja Papa Dek, tak usah ikut ke pemakaman"


Ujar Ana.


Belum sempat Sari menjawab,


"Papa ikut.."


Jawab As pelan.


Dengan di gandeng dan dipapah Ana dan Eni, As berjalan sempoyongan menuju Masjid untuk ikut menyolatkan jenazah Istrinya.


Suara sirine Ambulance yang nyaring meraung-raung mengantar Mar ke peristirahatan terakhirnya, diiringi doa dan tangisan dari anak, sanak dan kerabat yang mengenal dekat sosok Mar.


Win, yang merupakan Anak sulung laki-lakinya turun ke liang kubur bersama menantu-menantu Mar yang lain, mereka menyambut jenazah Mar untuk dimakamkan, suasana Haru kembali terasa saat jenazah Mar mulai ditimbun tanah yang masih basah, tangis dan isak kembali tercipta,


As berdiri tegak disamping pusara Mar, ia menatap sendu gundukan tanah yang kini bertabur bunga,


Hatinya terluka, perih hancur berkeping-keping.


Jiwanya terguncang, bayangan hari-hari yang sepi tanpa Mar disisinya terus mengisi kepalanya.


As mengusap nisan kayu yang tertancap di makam Mar, ingin rasanya ia menjerit, namun itu tak dapat ia lakukan, mulutnya seolah terkunci, batinnya meringis ia benar-benar di fase tak berdaya.


Satu persatu pelayat pulang, tersisa As dan Anak-anaknya yang masih mengelilingi makam Mar.


"Pa.. kita pulang ya, Mama sudah tenang disana."


Bujuk Ana.


As mengangguk.


Sepanjang perjalanan pulang, As hanya diam pandangannya terlempar jauh menembus kaca jendela mobil yang ia tumpangi.

__ADS_1


Begitupun seluruh Anak-anaknya, mereka saling diam, meresapi kesedihan masing-masing.


Sesampainya dirumah,


As, segera melangkah masuk kedalam rumah, Ana ingin menggandengnya namun ia tepis.


Ana melepaskan tangannya dan berhenti melangkah membiarkan As berjalan sendiri.


Namun baru saja 2 langkah kakinya masuk kedalam rumah,


BRUKK !!


Tubuh As tersungkur jatuh kelantai.


"Astagfirullah Pa...."


Jerit Ana, yang segera berlari kearah Ayahnya diikuti Eni dan Sari. Mereka bertiga membantu As berdiri, tubuh As yang tegap membuat ketiga Anak perempuannya sangat kesusahan walau akhirnya berhasil memapah As masuk kedalam kamar, matanya basah. As menangis diam-diam memendam perasaannya dari Anak-anaknya, berusaha kuat walau kenyataannya saat ini ia sedang sangat rapuh.


Sari ingin sekali menemani As, namun niatnya segera dicegah Ana,


"Biarkan Papa sendiri dulu.. Dia butuh ketenangan saat ini, beri waktu Papa menerima kenyataan."


Mereka bertiga keluar dari kamar.


Tamu-tamu yang ingin melayat masih datang silih berganti untuk menyampaikan rasa belasungkawa mereka atas meninggalnya Mar.


Hen beserta Anak dan Istrinya sampai ketika rumah mulai sepi, matanya sembab, setelah meletakkan barang dikamar, mereka segera pergi kepemakaman.


Selepas magrib, rumah As mulai ramai anggota pengajian dan jemaah masjid serta tetangga, keluarga dan para kerabat yang datang ingin mendoakan Almarhumah Mar. Di dalam rumah Ana dan adik-adiknya tengah sibuk menyiapkan acara tahlilan malam pertama.


As masih mengurung diri dikamar.


Sari menemui As untuk mengganti pakaian, baru saja membuka Pintu kamar, Sari mengurungkan niatnya untuk masuk, ia membekap mulutnya sendiri, kerongkongannya terasa sangat sakit, tangisnya kembali pecah, ia berlari menemui Ana,


"Kau kenapa??? ada apa??"


Tanya Ana cemas.


"Papa Yuk..... !! kalian lihat sendiri dikamar, Aku tak sanggup melihatnya"


Ana, Eni dan Siska Istri Hen berlari menuju kamar dan membuka pintu kamar.


As tengah meringkuk, wajahnya meringis, ia sedang menangis tanpa suara, matanya terpejam seperti sedang bermimpi.


Ana mendekat, menyentuh lengan As,


"Badan Papa panas sekali...kalian ambilkan Obat"


Perintah Ana.


Eni bergegas mengambil obat dan air minum.


"Pa... bangun Pa..... "


Ana menggoyang pelan bahu As.


Mata As terbuka, namun pandangan itu kosong, seperti orang linglung.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2