
As dan Mar mulai berkemas, dibantu oleh Masning dan Bulromi, tak ketinggalan 3 putri yang turut repot memasukan barang mereka kedalam tas dan mengangkut masing-masing pakaian mereka sendiri.
Dengan berjalan kaki mereka mengangkut Dus dan tas mereka untuk pindah ke kontrakan baru yang tak jauh dari rumah Bulromi.
"Mar, ini bawa saja... lumayan dari pada harus beli"
Masning menyodorkan satu keranjang besar peralatan dapur, mulai dari piring , gelas, sendok dan wajan terdapat juga pisau kecil dan Dua buah panci sedang.
Mata Mar berkaca-kaca menerimanya.
"Mak... Terimakasih banyak Mak sudah terlalu baik pada kami, Aku tidak ingin merepotkan Mak lagi"
"Tidak Mar, tak ada seorang Ibu di dunia ini yang merasa direpotkan Anaknya sendiri, dan Aku rasa juga tak ada satu orang pun Ibu didunia ini yang akan tega melihat anaknya dalam kesusahan"
Mendengar ucapan Masning barusan Mar tak kuasa membendung luncuran air matanya yang kini terjun bebas membasahi pipinya.
kedua perempuan itu saling berpeluk seolah akan berpisah jauh.
"Mar, kalau butuh apa-apa, jangan sungkan bicarakan pada Bak dan Mak ya..."
Bulromi mengusap punggung Mar disaksikan As yang juga sedang menahan haru.
Hari ini resmi mereka menempati kontrakan kecil milik Mak Mat teman Masning.
Setelah semua barang terangkut, Masning dan Bulromi pamit pulang, sebab Masning harus menyiapkan keperluan Bulromi yang akan kembali berangkat kerja.
Selepas kepulangan Bulromi dan Masning, As dan Mar mulai mengemas dan merapikan barang-barang mereka menyusun pakaian pada lemari kayu buatan tangan As, menata piring pada rak piring kayu yang juga buatan As.
"Ma...Maaf ya, Aku cuma mampu mengontrakkan kamu dan Anak-anak di kontrakan kecil ini, Aku janji nanti kalau kita lebih rejeki kita cari kontrakan yang lebih besar, karna untuk kembali membangun rumah sepertinya Aku belum bisa menjanjikan itu Ma"
As mengecup pundak Mar yang sedang memasang sprei pada kasur dikamar mereka.
"Gak apa-apa Pa...yang penting kita selalu berusaha, nanti kalau Hen sudah agak besar dan bisa ditinggal, Aku rencana mau kerja lagi jadi buruh cuci, biar bisa bantu kamu"
Seketika hati As terasa hancur mendengar keinginan Istrinya untuk kembali bekerja sebagi pembantu, ia merasa gagal memenuhi janjinya untuk menjadikan Mar Ratu istimewa didalam rumah tangganya.
As terdiam dan berdiri menatap keluar jendela.
Mar yang menyadari langkah suaminya menjauh menoleh kearah As.
Melihat raut duka di wajah As, Mar berjalan mendekati.
Mar memeluk As dari belakang,
"Pa...kenapa? Jangan seperti ini..Aku tidak apa-apa, sungguh...bersamamu Aku merasa begitu bahagia"
"Aku minta maaf Ma... Harusnya Kamu tak perlu lagi menderita, sampai harus menanggung beban dan turut banting tulang untuk kerja"
"Pa.. dari kecil, Aku terbiasa hidup susah dan serba kekurangan, hal ini tak membuat Aku kaget lagi Pa...Jangan khawatirkan Aku, Aku kuat..Aku sanggup...Aku mampu"
Mendengar penuturan Istrinya, As semakin merasa bersalah, ia merasa sangat tak berguna sebagai seorang suami, beratus-ratus kali setiap malam ia mengutuk dirinya sendiri atas jalan hidup susah yang turut menyeret istri dan buah hatinya sengsara.
As membalik tubuhnya menghadap Mar yang mendongak tersenyum kearahnya,
As mengecup kening Mar,
"Kamu wanita hebat Ma...Maafkan Aku...Maafkan Aku...Maafkan Aku,"
As berkali-kali meminta maaf atas semua yang kini terjadi.
"Sudah lah Pa...yang lalu biarlah berlalu, mimpi kita dulu tak usah kita kenang lagi, kita jalani yang ada didepan mata,"
As memeluk Mar sangat erat, batinnya sakit, hatinya terguncang hebat, bagaimana mungkin ia tega melihat wanita kesayangannya harus kembali menjadi buruh cuci orang lain seperti dulu, saat pertama kali ia mengenalnya, dimana tanggung jawabnya sebagai tulang punggung keluarga.
Namun sekuat tenaga As menahan sebak yang ia rasakan dihatinya saat ini, ia tak ingin Istrinya tau bahwa ia tengah rapuh.
Ia berusaha menunjukkan bahwa ia kuat dan akan selalu kuat.
Menjelang tidur malam hari,
"Pa...besok gak usah antar Ana kesekolah lagi ya...Ana sudah bisa pergi dan pulang sendiri"
Ujar Ana yang sempat membuat kaget Mar dan As yang mendengarnya.
"Loh...kenapa Na??"
__ADS_1
Tanya As.
"Iya, Ana mau jalan kaki bareng-bareng sama teman-teman Pa.."
Jawab Ana.
"Ya sudah, tapi Ana janji ya...pulangnya hati-hati, jangan pernah mau ikut sama orang yang gak dikenal ya.."
Nasehat Mar pada Putri Sulungnya.
"Siap Ma..."
Jawab Ana lagi.
"Ya udah, Ana bobok ya...biar besok gak kesiangan"
Ujar Mar merapikan selimut Ana dan mengecup kening Ana, sementara Adik-adiknya sudah lebih dulu terlelap.
Ana mengangguk dan mulai memejamkan matanya.
As dan Mar juga merebahkan diri, mengistirahatkan tubuh dan jiwa mereka yang juga lelah.
...****************...
"Ana..sayang...bangun Nak, sudah pagi...kan sekolah"
Mar membangunkan Ana yang masih terlihat sangat pulas,
Ana memicingkan matanya, mengerjap-ngerjap kemudian mengusapnya perlahan.
"Ana kesiangan ya Ma...??"
Tanya Ana yang kemudian segera beranjak mandi.
Mar tersenyum kemudian membuka jendela kamarnya. Bukan cuma Ana yang kesiangan, Adik-adiknya juga belum pada bangun, begitupun dengan As, bahkan Mar juga hampir kesiangan.
Dalam sepuluh menit Ana sudah keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian sekolahnya.
Dengan semangat ia sarapan dan segera berpamitan pada kedua orang tuanya untuk berangkat kesekolah.
Namun senandungnya terhenti ketika seseorang menyenggol bahunya,
Ana menoleh, ia melihat Beni sedang tertawa mengejeknya.
"Hei Beni, berhenti godain Aku, Aku gak mau temanan sama kamu!!"
Hardik Ana yang kemudian melanjutkan langkahnya.
"Huuu...dasar Anak bodoh...huhuhu"
Beni terus mengolok-olok Ana dengan sebutan Anak bodoh.
"Beni...!!! Hentikan !!! Aku bukan Anak bodoh, "
Teriak Ana kesal.
"Kalau bukan Anak bodoh, kenapa kamu pindah kesini kelas 3, Kamu gak naik kelas kan??"
Balas Beni yang membuat Ana semakin kesal.
Ana berlari sangat kencang menuju kesekolah menghindari Beni.
Jam pelajaran dimulai, Ana yang masih kesal mengingat kejadian dijalan tadi, mengepalkan tangannya geram.
"Awas aja si Beni, kalau dia masih mengejekku, Aku pukul Dia!!"
Ujar Ana dalam hati.
Jam istirahat,
"Woyy....jangan mau main sama Diana!! Dia anak bodoh,!!"
Teriakan Beni memancing kekesalan Ana.
"Beni...!!! sudah Aku bilang, Aku bukan Anak bodoh...berhenti mengejekku!! Aku pukul Kamu!!"
__ADS_1
Ana berkacak pinggang sambil mengacungkan kepalan tangannya kearah Beni.
"Kalau kamu gak Bodoh, kok gak naik kelas?? Kamu kan harusnya satu kelas dengan Aku di kelas Empat, dasar gak naik kelas..huuuuu!!"
"Heii...Ada apa ini..kenapa berantem??"
Salah seorang guru melerai mereka.
Ana cemberut dan masuk kedalam kelas yang diiringi tawa besar dari Beni dan kawan-kawannya.
"Sudahlah Ana, Beni itu memang nakal, diemin aja ya..."
Bujuk salah seorang teman Ana.
"Gak bisa, si Beni harus dilawan biar Dia jera!"
Ana mendengus kesal. Tekatnya sudah bulat ingin berkelahi dengan Beni.
Pulang sekolah tiba,
Ana sengaja berlama-lama dikelas, bahkan ia sangat lamban dalam melangkah keluar.
Ditengah jalan, Beni sengaja mengejar Ana dan menarik rambut ekor kuda milik Ana,
"Awww...."
Teriak Ana,
"Hahaha, Anak bodoh!! Gak naik kelas!!!"
Cibir Beni lagi, membuat Ana Murka.
Ana menarik lengan Beni sangat kencang, membuat Beni tehuyung...dan hampir terjatuh.
Ana tak memberi waktu bagi Beni untuk bersiap diri, Ana kembali mendorong Beni hingga terjatuh lagi tepat disamping gudang kopi.
"Sudah Aku Bilang, berhenti mengejek ku, berhenti bilang Aku Anak bodoh, stop bilang Aku tidak naik kelas!!"
Amarah Ana memuncak, lalu melayangkan tonjokan kewajah Beni, dan berkali-kali memukul badannya dengan Tas, membuat Beni menangis.
Melihat Beni menangis, Ana mengentikan pukulannya.
"Kenapa Nangis, dasar cengeng!! makanya jangan suka ngeledek, dasar Anak Nakal!!"
Ana meninggalkan Beni yang masih menangis.
Ia berjalan cepat menuju rumahnya, hatinya kini takut, takut kalau kalau Beni mengadu pada Tante Wati.
Sesampainya dirumah,
"Assalamuallaikm"
Ujar Ana, kemudian berlalu masuk kedalam kamar dengan muka bertekuk, matanya memerah seperti ingin menangis.
Mar yang heran mendapati sikap putrinya beradu pandang dengan As kemudian menyusulnya masuk kekamar.
"Ana.... Ana kenapa cemberut gitu?? Apa ada yang jahat sama Ana??"
Tanya Mar lembut merangkul bahu Ana.
"Mama......Hiks..hiks..."
Tangisnya pecah memeluk Mar.
"Ya allah sayang kenapa??"
"Ana...."
"Assalamualaikum...."
Belum sempat Ana bercerita, salam dari tamu didepan rumah membuat Mar keluar untuk melihat siapa yang datang.
Ana yang tengah takut dan deg-degan mengintip dari balik pintu kamar, dan ia semakin kaget melihat Beni datang dengan Tante Wati ibunya.
Bersambung***
__ADS_1