
As sampai dirumah ketika Mar sedang memasak Makan siang.
"Ma...Sini, Aku mau bicara!"
As menarik lengan Mar.
"Tunggu...tunggu Pa,"
Mar mematikan sementara kompornya lalu mengikuti As masuk kedalam kamar.
"Mau bicara Apa Pa, oh ya... Gimana Ana disekolah tadi?"
Tanya Mar begitu mengingat putri sulungnya.
"Iya, tadi Ana sangat bersemangat dengan suasana disekolah barunya, tapi bukan itu yang mau Aku bicarakan"
Ujar As.
"Lalu... bicara apa?"
Tanya Mar penasaran.
"Aku sudah menemukan kontrakan, rumah kecil, murah dan tentunya tidak jauh dari sini, itu membuat Aku tenang saat meninggalkan kalian!"
"Oh ya...??? Dimana Pa??"
"Ada, didekat ujung jalan mau ke sungai, Rumah Pak Mat, nanti sore kita lihat kesana ya.."
Jelas As.
Mar mengangguk,
"Ya sudah Pa...kamu istirahat saja dulu, bentar lagi mau jemput Ana, Aku mau lanjut masak ya"
Mar beranjak dan hendak menuju dapur.
"Ana tidak mau dijemput!"
Jawaban As membuat Mar mengurungkan niatnya segera kedapur.
"Loh..kenapa Pa??"
Tanya Mar heran.
"Iya, tadi dia bilang dia tak ingin di jemput Dia ingin berjalan kaki pulang sendiri"
Jawab As.
"Oh... ya sudahlah kalau begitu maunya, Ana memang Anak pintar, berani dan mandiri"
Mar tersenyum kemudian berlalu menuju dapur .
As berbaring disamping Hen yang masih tertidur pulas, sementara ketiga Anaknya yang lain sedang bermain di depan rumah.
Berkali-kali Mar melirik jam dinding memastikan jam pulang sekolah Ana, hatinya masih belum tenang dan terus merasa gelisah sebelum melihat Ana sampai kerumah dengan kondisi baik-baik saja.
"Assalamualaikum, Mama...."
Salam dan panggilan itu sungguh membuat lega hati Mar, ia bergegas keluar menemui Putri sulungnya.
"Alhamdulillah...Ana sudah pulang, sini sayang... "
Mar membuka tangannya lebar bersiap memeluk sulungnya dengan penuh cinta.
"Gimana disekolah tadi? seru?? temannya baik-baik gak, terus gurunya galak gak Nak?"
Tanya Mar, sembari membantu Ana berganti pakaian.
"Seru Ma, temannya baik-baik, gurunya juga baik gak galak, tapi Ma....."
Ana berhenti bercerita, membuat Mar tak sabar mendengar kelanjutan cerita Sulungnya.
"Tapi kenapa?
Tanya mar penasaran.
"Disekolah itu Ada Beni Ma..."
"Beni?? Beni siapa??"
__ADS_1
"Itu Ma, Beni anaknya Tante Wati tetangga kita waktu di Panglong dulu, yang teman mama itu"
Ana mencoba mengingatkan Mar akan sosok Wati dan Beni.
Mar berpikir keras, ia tak ingin Ana kecewa jika Dia tak mampu mengingat nama itu.
Setelah beberapa menit,
"Oh...Tante Wati yang rumahnya didekat warung?"
"Nah... Iya Ma"
Ujar Ana senang, karena Mamanya mengingat orang yang sedang ia ceritakan.
"Tapi.. kok ada disekolah baru Ana? Apa sekarang dia tinggal disini ya?"
"Gak tau Ma, kata teman-teman sih udah lama dia sekolah disini!"
"Oh ...Emang si Beni nakal ya, gangguin Ana??"
Tanya Mar,
"Iya Ma, Dia ledekin Ana, gara-gara Ana gak satu kelas dengan Dia, kan dia kelas 4."
Ana menunduk, terlihat kesedihan dimatanya.
Mar mendekati Ana, lalu memeluk nya dengan lembut.
"Biarin aja Nak, diamkan saja, kan Dia gak tau cerita yang sebenarnya ya..."
"Tapi Ana jengkel Ma"
Mar tersenyum,
"Nanti kalau besok-besok Dia ngeledek Ana lagi, nanti Mama bicara sama Tante Wati ya.."
Bujuk Mar, Ana mengangguk.
"Sekarang, kita makan dulu..Yuk ajak Adek- adek masuk, Panggil Nyai sama Yai juga ya"
Perintah Mar pada Ana.
Sementara Mar mulai menyiapkan Masakannya diatas meja makan, setelah semua beres, Mar masuk kekamar menemui As,
Ajak Mar Pada suaminya yang sedang mengisi TTS diatas tempat tidur.
"Iya Ma.."
As menutup buku teka teki silang yang menjadi hobinya sejak dulu ketika ada waktu senggang.
Tengah hari yang terik, ketika keluarga bahagia itu menyantap Makan siangnya.
Setelah selesai,
"Mak ... Bak, ada sesuatu yang mau Aku sampaikan"
Ujar As membuka obrolan selepas makan siang.
Bulromi menatap serius kearah menantunya.
"Ada apa As, sepertinya serius sekali??"
Tanyanya sembari menatap Masning yang juga nampak bingung.
"Iya Bak, begini Aku berencana mengajak Mar dan Anak-anak pindah, kami berencana mengontrak rumah."
Ucapan As membuat Masning dan Bulromi kaget dengan keputusan yang diambil Anak menantunya.
"Ada apa As, kenapa mendadak? Apa ada hal yang membuat kalian tersinggung dengan sikap kami?"
Tanya Masning tak enak hati.
"Oh..tidak ada Mak, sungguh tidak ada, Mak dan Bak tidak pernah membuat kami tersinggung, malah Mak dan Bak begitu Baik..dan kami sampai tak enak hati"
As menunduk.
"As, mar... sejujurnya Mak tak rela kalian pergi dengan kondisi seperti ini, apa tidak sebaiknya kalian tetap disini sampai kalian benar-benar lebih baik"
Bujuk Masning.
__ADS_1
"Ehm ... Kami bisa Mak,, Mak jangan khawatir ya..."
Sela Mar.
"Ya sudah, Kalau itu sudah menjadi keputusan kalian.. Bak hanya bisa berdoa agar kalian selalu baik-baik saja, kapanpun kalian butuh bantuan, jangan sungkan."
Ujar Bulromi mencoba menerima keputusan Anak dan menantunya.
"Alhamdulillah... Makasih Mak, Bak "
Jawab Mar lega.
"Ma...kita mau pindah ya?"
Celetuk Ana,
"Ehm... iya sayang...tapi bukan sekarang, mungkin besok kalau enggak lusa."
Menjelang sore,
Mar beserta Anak-anaknya sudah mandi dan rapi, tinggal menunggu As yang baru saja mandi.
Mereka akan pergi melihat kontrakan baru mereka.
Masning mendekati Mar.
"Kalian ngontrak rumah siapa Mar?"
Tanyanya.
"Aku belum tau juga Mak, tapi kata Kak As rumahnya Pak Mat yang diujung jalan kita ini menuju sungai"
"Oh... iya ya..Mak tau, Rumah itu sebenarnya satu Mar, karena mereka hanya tinggal berdua saja, kerena Anak-anaknya tidak disini, akhirnya rumah itu mereka sekat jadi dua"
Jelas Masning pada Anaknya.
"Oh.. pantas saja Kak As bilang rumahnya kecil Mak, tapi gak apa-apa, dengan begitu harganya jadi sangat murah dibanding satu rumah besar."
Masning tersenyum getir, sesungguhnya hatinya sedang menangis melihat kehidupan ekonomi Anaknya yang belum membaik.
"Ayuk Ma..!"
Ajak As ketika sudah siap.
"Mak kami kesana dulu ya..."
Pamit Mar pada Masning.
Hanya 15 menit berjalan kaki mereka tiba didepan sebuah kontrakan kecil.
"Ini rumahnya Ma..."
As menunjuk dan mengajak Mar masuk.
Tak berapa lama, sepasang Suami Istri seusia dengan Masning dan Bulromi datang menghampiri mereka.
"Ohh...kalian ini Anaknya Masning ya??"
"Iya Bu..."
Jawab Mar.
"Ah tak usah panggil Ibu, panggil saja Mak Mat, Aku ini temannya Masning dari kecil, mungkin mar sudah lupa"
Ujar Mak Mat pada Mar.
Mar tertawa tak enak hati ketika Mak Mat bilang bahwa Ia sudah lupa.
"Ya sudah, kapan kalian akan pindah, biar Aku bersihkan dulu"
Ujar Mak Mat Ramah.
"Insya Allah besok Mak Mat.."
Sahut As.
"Ya sudah, kalian pulang saja dulu, sore ini akan Aku bersihkan"
"Makasih Mak Mat, ini uang kontrakan untuk bulan ini."
__ADS_1
As menyodorkan gulungan uang pada Mak Mat, yang diterimanya dengan senang.
Bersambung***