Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 64 Makan Enak lagi


__ADS_3

Satu minggu berlalu sejak pertama As kembali bekerja, As yang bekerja sebagai buruh bangunan, Akan mendapat upah seminggu sekali, itu artinya hari ini ia akan menerima gajinya.


Ada rona bahagia yang terpancar di raut mukanya pagi ini, yang sudah lama menghilang dari wajahnya semenjak ia menjadi pengangguran.


"Ma, Hari ini Aku gajian!"


Tutur As ketika keluar dari kamar mandi.


Mar tersenyum, menatap As dengan penuh cinta.


"Coba kamu tanya Anak-anak kepingin apa? Biar nanti sore Aku belikan saat pulang kerja"


Sambung As kembali.


"Papa tanya aja sendiri Pa, biar Anak-anak makin senang."


As mengangguk.


Pagi ini di ruang makan.


"Kalian pingin makan Apa Nak?"


Tanya As dengan mata berbinar.


Sekian detik saling pandang,


"Sate!"


"Bakso!"


"Roti Tawar!"


"Susu!"


"Ayam!"


Masing-masing dari Anaknya melontarkan keinginan masing-masing dengan wajah polos mereka.


"Waduh....beda-beda ternyata"


Komentar Mar tersenyum lebar.


"Yaa.... terus gimana donk Ma...?"


Tanya Ana.


"Tenang...tenang... Insya Allah, Papa kabulkan semua ya..."


As menenangkan ,


"Horeeee......!!!"


Suasana riuh dan ramai mewarnai meja makan pagi ini,


Selepas sarapan, As berpamitan pergi kerja sementara ketiga putri berangkat sekolah, Tak lama setelah itu, seperti biasa Mar pun pergi kerja dengan mengantar kedua putranya kerumah Masning terlebih dahulu.


...****************...


Jam menunjukkan pukul 4 sore,


Duk...duk...duk...!!!


Langkah kaki berlarian terdengar Masuk kedalam rumah,


Mar baru saja lepas menunaikan sholat Ashar.


"Ayo buruan kita mandi, bentar lagi Papa pulang, kita harus sudah rapi, sudah wangi!!"


Perintah Ana, mengomandoi Adik-adiknya agar lekas mandi.


"Iya, Eni udah gak sabar makan Bakso.. Ehmmm.. Slurpppp...enaknya...."


Celetuk Eni sembari memejamkan matanya mencoba menikmati khayalan yang ada di otaknya.


"Sama, Vin juga udah gak sabar makan sate Ehm... nyam..nyam...nyam..."

__ADS_1


Beda dengan Eni, Vin memilih membayangkan makan sate dengan mengangkat kepalanya melihat keatas sembari mengecap-ngecapkan mulutnya.


" Ahh....Enakan juga roti tawar pake susu!! Ehmm...Ahh...pasti mantap ya..."


Cetus Win dengan mengelus-elus lehernya.


"Eh...udah gak usah ribut ! Mama lagi sholat, nanti kalau Papa pulang terus bawa semua pesanan kita, kita makan sama-sama bisa saling cicip-cicipan ya kan, itu malah lebih seru!"


Ana menengahi Adik-adiknya yang sedang mendebatkan pesanan mereka.


"Iya Yuk, pasti seru ya... Terus..kalau Hen kan pingin makan Ayam, lah tapi Hen lupa bilang Ayam apa, terus nanti kalau Papa pulang Bawa Ayam hidup gimana??"


Hen menunduk lesu.


"Udah, jangan sedih..kalau Papa bawa nya Ayam hidup, besok artinya kita makan enak, Mama pasti bikin opor Ayam...Hen suka kan??"


Hibur Ana pada adik kecilnya yang bersedih.


"Yeeeayy... opor Ayam....Suka, Hen suka...."


Hen melompat kegirangan.


"Makanya buruan mandi, kalau Papa pulang kita masih dekil kayak gini, bisa-bisa gak jadi makan enak..hahhaha... bukannya makan enak, yang ada malah kena omel.."


Sambung Ana lagi.


Mar yang mendengar obrolan Para buah hatinya hanya bisa tersenyum sambil melipat mukenahnya.


Ia bangga, sulung Ana sangat bisa menjadi panutan bagi adik-adiknya, Ana pintar sekali menghibur dan menenangkan Adik-adiknya, bahkan ia mampu bersikap bijaksana diumur yang masih sangat muda.


Kini Mar malah tengah merasakan ketakutan, jauh dilubuk hatinya saat ini adalah rasa takut, kalau Suaminya lupa akan janjinya pagi tadi, ia yakin pasti raut wajah cerah Anak-anaknya akan berubah mendung jika As pulang dengan tangan kosong.


"Semoga Papa ingat"


Gumam Mar.


Mar menuju dapur untuk membuat kopi, As suaminya tak suka kopi Panas, ia lebih menyukai menyeruput kopi hangat cenderung dingin, itulah sebab Mar selalu membuatkan kopi jauh sebelum As pulang kerja.


Satu persatu Anaknya keluar dari kamar mandi.


"Wah... hebat sekali, sudah pada mandi sebelum Mama teriak nyuruh mandi..tumben ada apa nih...??"


"Heheh..Iya Ma, kami mau menunggu Papa pulang!"


Seru Ana, berlari masuk kamar, disusul Adik-adiknya.


Selepas Anak-anaknya keluar dari kamar mandi, Mar bergegas masuk, untuk membersihkan diri dan membuang lelahnya dengan mengguyur air dingin.


Tak berapa lama Mar berada dalam kamar mandi,


"Ma..... kami kedepan yaaaa...!!"


Teriak Ana dari luar pintu kamar mandi.


Mar mendekatkan wajahnya pada pintu,


"Mau kedepan Manaaa??"


"Kedepan jalan Ma, nunggu Papa pulang!!!"


Jawab Ana masih dengan sedikit teriakan.


"Hati-hati Na.... jagain Adek-adek, jangan terlalu pinggir ya, awas ada angkot!!"


Pesan Mar, kemudian melanjutkan mandinya.


Ana berjalan bergandengan tangan bersama empat orang saudaranya, sembari berjalan mereka bernyanyi, bersiul bersenandung bersuka cita, menuju depan jalan besar.


Sesampainya didepan jalan besar, terdapat sebuah pondok warung, yang akan tutup ketika sore hari, disanalah mereka menunggu As pulang.


Mereka Akan berdiri ketika dari kejauhan melihat seseorang mengayuh sepeda, berharap itu Papa mereka, dan mereka Akan kembali duduk berjongkok dengan raut kecewa ketika orang tersebut adalah orang lain.


"Huhh, Papa mana ya?? udah Empat orang yang lewat, kita salah terus!!"


Win mengomel,

__ADS_1


"Sabar, Win gak boleh gitu,, itu sama saja Win kesal sama Papa, artinya Win gak sayang Papa ya?"


Ana membelai kepala Win.


"Sayang Yuk...Iya, gak kesal lagi...Janji deh"


Win menatap Ana menyesal.


"Bagus...., kita berdoa Aja, semoga Papa diberi keselamatan dijalan dan cepat sampai biar ketemu Kita"


Tutur Ana.


Semua Adiknya mengangguk, dan masing-masing berdoa dalam hati.


Hanya berkelang beberapa menit, Sebuah sepeda tua mengarah ke arah mereka.


"Itu Papa...itu Papa....."


Win melompat-lompat sembari menunjuk ke arah As.


As melambaikan tangan dan berhenti tepat didepan kelima Anaknya.


"Loh..kalian ngapain disini? Mau kemana? Mana Mama?"


Tanya As heran.


"Kita sengaja lagi nungguin Papa pulang.... Mama dirumah Pa, tadi lagi mandi."


Jawab Ana.


Mata Ana nampak memperhatikan satu kantong besar yang tergantung di sepeda As.


"Pa...itu pesanan kami ya?"


Tanya Ana menunjuk kantong tersebut.


"Iya dong...udah yuk kita pulang terus kita makannnnn"


As turun dari sepedanya, memilih berjalan kaki bersama Kelima Anaknya dan menuntun sepedanya untuk pulang kerumah.


"Assalamualaikum"


As dan kelima Anaknya kompak mengucap salam ketika tiba dirumah.


"Walaikum salam...."


Sambut Mar,


As menyodorkan kantong hitam tersebut pada Mar.


Mar dan Anak-anaknya masuk mengekor As, dan mulai memeriksa isi kantong tersebut.


Anak-anaknya mengelilingi kantong tersebut.


"Yeayy.....ada semua,, mari kita makannnn"


Seru Eni.


"Sabar ya sayang, kita tunggu Papa dulu, nanti selesai mandi baru kita makan sama-sama ya.."


Ujar Mar yang tak ingin Anaknya tak menghargai As sebagai Ayah mereka


"Tapi, Eni sudah gak kuat Ma...."


Rengek Eni yang terus mengendus-ngendus aroma bakso sembari memegangi mangkok dan sendoknya.


"Eni sayang, sabar ya..makan bersama itu lebih enak loh.."


Bujuk Mar.


"Iya Eni, lagian kalau kamu makan duluan gak sopan, kasian Papa kalau nanti makan sendirian"


Timpal Ana.


"Iya deh...iya...."

__ADS_1


Jawab Eni, matanya tak lepas dari Bakso yang masih terbungkus didepannya.


Bersambung***


__ADS_2