
Hari yang ditunggu tiba, Mar dan As tengah berkemas, membereskan semua barang-barang yang akan mereka pindahkan kekontrakan baru.
"Ma..Kamu sudah bilang sama Mak Mat tentang kita akan pindah hari ini?"
Tanya As disela-sela kesibukan tangannya memasukkan barang ke dalam dus.
"Sudah Pa, dua hari yang lalu Aku menemui Mak Mat, dan suaminya"
Mar mengingat kejadian hari itu...
**Kala itu, sepulang dari bekerja saat Mak Mat tengah duduk di depan rumahnya.
Mar menghampiri,
"Mak...Itu, Aku mau bicara sesuatu"
Ujar Mar memulai percakapan.
"Aku juga ada yang mau disampaikan, "
Potong Mak Mat sebelum sempat Mar berbicara.
"Wah kebetulan Mak, ada apa? mau menyampaikan apa?"
"Anu Mar, tolong kamu sampaikan sama As, bahwa mulai bulan ini, uang kontrakan naik. Ya, maklum...apa-apa serba naik.."
Wajah Mar datar, lalu menyunggingkan senyum kecil sungguh terasa seperti sedang dibuat-buat.
"Oh...begitu Ya Mak, tapi Maaf Mak...justru yang mau Aku bilang adalah, bulan ini terakhir kami mengontrak disini,"
Penuturan Mar membuat wajah Mak Mat kecut masam,
"Maksudnya kalian akan kembali menumpang dirumah Mak mu Mar? Apa kalian gak malu?? Anak banyak, Suami jarang bekerja, hobinya tidur dan malas-malasan, apa kata tetangga?! Kasian orang tuamu jika kalian cuma bisa jadi beban mereka! Sudah lah, hidup itu jangan bisanya jadi benalu!!"
Mulut Mak Mat yang terus nyerocos membuat wajah Mar merah, selain malu, Mar terlihat sekali geram dan marah.
"Cukup Mak, tak perlu Mak ceramahin Aku panjang lebar, Aku tau suamiku sering menganggur, tapi Mak Mat gak berhak untuk berbicara seperti itu!"
Mar menaikan nada bicaranya satu tingkat lebih tinggi dari cara bicara nya selama ini, meski matanya berkaca-kaca namun Mar masih bisa menunjukkan kemarahannya pada Mak Mat, sang pemilik kontrakan yang juga merupakan sahabat Ibunya.
"Kau Marah padaku Mar? Kau tersinggung?? Aku bicara tentang kenyataan!!"
Mak Mat berdiri dari tempat duduknya.
"Iya, Aku marah, Aku tersinggung! Bagaimanapun keadaan Suamiku, dia tetap kepala keluarga kami, Mak Mat gak berhak menjelek-jelekannya, apalagi sampai Mak mengadukannya pada orang tuaku.!"
Mak Mat terperangah, matanya terbelalak besar mendengar omongan Mar barusan, ia tak menyangka Mar tau semua itu.
"Dan Mak Mat harus tau, berulang kali orang tuaku menyuruh kami untuk pulang kerumahnya, tapi kami tolak! itu artinya Orang tuaku sama sekali tidak keberatan dan tidak pernah menganggap kami sebagai beban, apalagi sampai menganggap kami benalu, tapi karena kami punya harga diri, kami lebih memilih mengontrak!"
__ADS_1
Sambung Mar dengan emosi yang meletup-letup.
"Jadi...kalau seperti itu, kenapa kalian sekarang mau berhenti mengontrak rumah kami?"
Tanya Mak Mat dengan sedikit Malu.
"Sebab kami sudah dapat kontrakan baru, yang lebih murah, cocok untuk Kami, yang kepala keluarganya lebih sering menganggur dari pada bekerja!!"
Jawab Mar penuh penekanan diujung kalimat.
Mak Mat terlihat kikuk dengn ucapan Mar, segera mendengus dan memilih masuk kerumah dengan sedikit menghentakkan kaki ke lantai pertanda ia tak suka.**
Mar sengaja tidak menceritakan semua kejadian itu pada As suaminya, ia takut As tersinggung dan Marah,
Mar tau betul sifat As yang tempramen, apalagi semenjak kehilangan segalanya emosinya tidak stabil, turun naik dan terkadang tidak terkontrol, ia yakin jika As tau kejadian itu, bukan tidak mungkin sebuah pertikaian besar akan terjadi. Mar hanya tidak ingin keributan itu terjdi, ia lebih memilih menutup dan menyimpannya rapat-rapat.
"Lalu Ma, mereka bilang apa?"
Tanya As.
Merasa Mar tak merespon pertanyaannya, As menyenggol bahu Mar.
"Ma...!"
"Eh..Iya Pa, kenapa-kenapa?"
Mar tersadar dari lamunannya, dan menjawab terbata.
"Ehm...Lalu apa?"
Tanya Mar bingung.
"Lalu mereka bilang apa? Kamu kenapa sih? melamun ya??"
Tanya As heran.
"Oh.. itu, enggak Pa..enggak melamun.. itu mereka nanya aja, kenapa gak nyambung kontrak, ya Aku jawab.. Kami mau pindah kontrakan yang lebih kecil soalnya mau ngirit"
Jawab Maryati yang tengah berdusta.
"Maafin Aku Pa, bohong sama kamu,, ya Allah, ampuni dosaku yang tengah berdusta ini"
Batin Mar menyesal.
"Alhamdulillah, kalau mereka tidak tersinggung"
Jawab As kembali melanjutkan mengemasi barang-barang.
Setelah semua beres, dengan gerobak yang mereka pinjam dari tetangga yang berprofesi sebagai pemulung, Mar dan As mengangkut Barang-barang mereka menuju kontrakan Reni.
__ADS_1
Hanya dengan dua kali mengulang, semua barang selesai dipindahkan, karena memang barang mereka tak banyak.
Di putaran ketiga, As tak lagi membawa barang pada gerobaknya melainkan terisi dengan ke empat Anaknya yang bersorak gembira sembari bertepuk tangan bak sedang menaiki BMW.
Betapa bahagianya hati mereka terlihat dari raut yang penuh keceriaan, sambil bernyanyi mereka menikmati gerobak dorong yang tengah di kemudikan oleh Ayah mereka.
Sementara Mar tengah berjalan bersisian bersama Ana, putri sulungnya yang tak mau ikut naik, ia lebih memilih berjalan kaki, bergandengan tangan dengan Ibunya di samping gerobak yang melaju pelan.
Mar dan Ana ikut tertawa-tawa menyaksikan keempat Bocah yang tengah menirukan sedang menyetir sebuah mobil.
"Ahh...Akhirnya sampai juga..."
As menepikan gerobaknya, satu-persatu anaknya turun, mereka turun dibantu oleh As, lalu ia duduk di lantai teras rumah yang terbuat dari semen Acian, membuka bajunya dan mengibas-ngibaskan pakaian tersebut di depan mukanya yang kepanasan.
"Papa capek ya?"
Tanya Ana yang mendekati As lalu dengan spontan Ana menyeka keringat di dahi As.
Mendapat perlakuan spontan dari Ana, hati As begitu gembira mendapati Anak gadisnya memiliki empati tinggi terhadapnya, begitupun dengan Mar yang jadi terharu dengan kejadian barusan.
"Enggak kok sayang...cuma pegal dikit aja, bentar lagi juga sembuh"
Jawab As sambil tersenyum ke arah Ana.
Mar membuka kunci, lalu melangkah masuk disusul Ana dan keempat anaknya yang lain.
Selepas beristirahat sesaat, As mulai mengangkati barang-barang masuk kedalam rumah, sementara Mar membongkar dan menatanya, dibantu oleh sisulung Ana.
Hampir 2 jam, akhirnya semua beres dan sudah tertata rapi.
Mereka duduk berkumpul di ruang tamu yang masih kosong melompong.
"Alhamdulillah, malam ini kita sudah tidur di kontrakan baru, semoga ini menjadi awal yang baru buat kita ya..."
Ujar As pada keluarganya.
"Enak ya Pa..kalau disini ada kursi..hehehe"
Canda Ana,
"Doain Papa ya...nanti kalau ada rejeki, kita beli..."
"Aamiin..."
Sahut Mar dan kelima Anaknya berbarengan.
Mar mulai menyapu lantai dari pasir akibat sandal dari Anak-anaknya, ketika ia melihat Anak-anak kecil seumuran kedua anak laki-lakinya tengah bermain bola di lapangan di depan rumahnya yang terdapat pohon belimbing, sedang disamping rumahnya nampak gadis-gadis kecil tengah bermain masak masakan dibawah pohon nangka yang rindang, disampingnya juga terdapat pohon kelapa bengkok yang belum berbuah, sungguh kampung yang ramai sekali anak anak seusia anak-anaknya. Semoga Anak-anaknya betah tinggal disini.
Lama memperhatikan, Mar akhirnya buru-buru masuk untuk memberitahu Anak-anaknya tentang teman- teman baru mereka.
__ADS_1
Bersambung***