Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 93 Selamat jalan Mar...


__ADS_3

Ada yang lain pagi ini, dan Sari merasakan saat itu akan segera tiba.


Hatinya terus berdegup sangat kencang, matanya tak bisa dikendalikan untuk tidak mengeluarkan air mata sepanjang ia membersihkan tubuh Ibunya, memotong kuku yang panjang serta menyisir rambut putih milik Mar.


Mar tak lagi merespon sapaan lembut darinya, Mar tak dapat lagi membuka mulutnya ketika Sari menyuapkan bubur, bahkan untuk menelan air yang diteteskan dari sedotan.


As mendekat pada Sari dan Mar,


"Jangan dipaksakan Dek, Mama sedang tidur.. nanti Dia tersedak"


Ujar As dengan suara lirih yang terdengar bergetar.


Sari tau, kalimat itu hanyalah sebuah penghibur yang As lontarkan untuk membuang rasa yang berkecamuk di dadanya.


"Sebaiknya Aku hubungi semua saudaraku.."


batinnya.


Lepas tengah hari kondisi Mar semakin drop denyut nadinya melemah.


Dengan berurai air mata Sari menelpon seluruh saudaranya untuk segera pulang.


Dihadapan Mar, Sari mencoba menguatkan hatinya sendirian, air matanya mengalir deras, isaknya tak dapat ia tahan.


Melihat Sari menangis disamping Mar, As mendekat.


As menepuk pundak Sari, matanya yang kini sendu menatap dalam-dalam.


"Kenapa menangis didepan Mama yang sedang tidur??! Itu tidak baik..!!! tidak boleh kamu lakukan!!"


Ujarnya.


Sari menatap As penuh iba, ia tau Ayahnya belum siap kehilangan.


"Pa... Mama sedang tidak tidur, Mama sudah tidak merespon kita lagi.. mungkin Mama tidak akan lama lagi.. hiks..hiks"


Isak Sari pecah bersama air mata yang semakin mengalir deras.


Mendengar itu,


As tertegun bersama bulir bening yang mengalir.


Terlihat beberapa kali As menelan ludah, menahan perih yang tiba-tiba saja mengiris hatinya, bagai tombak tajam yang menghunus jantungnya,, perlahan As mendekat dan mengusap kening Mar lalu mengecupnya lembut. Ia duduk di ujung kepala Mar sesekali tangannya mengusap pipi keriput perempuan kesayangannya dan sesekali pula ia menyeka sudut matanya yang terus menerus basah.


As beranjak meninggalkan Mar, ia bergegas mandi, mengenakan Koko putih dan peci hitam terbaiknya, As menunaikan sholat Ashar didalam kamar dengan waktu yang sangat lama bukan seperti biasanya.


Selepas itu, ia kembali duduk disamping Mar, membacakan Surah yasin berkali-kali.


Matanya terlihat sendu meski tak mengeluarkan air mata lagi.


Tak berapa lama, Win datang tergesa-gesa segera mendekat dan menitikkan air mata,


"Kak lebih baik segera bersihkan badan, kita sama-sama baca yasin ya..."


Pinta Sari.


Win mengangguk, lalu bergegas mandi.


As mendekatkan wajahnya pada telinga Mar,


"Ma... Sudah lelahkah tubuhmu sekarang?? Benarkah sekarang kamu ingin beristirahat??


Ma.. Aku mencintaimu !!! Sangat menyayangimu... !! Aku tak tau, akan seperti apa Aku saat kamu meninggalkanku"

__ADS_1


As menghentikan ucapannya, ia menutup mukanya dengan kedua belah telapak tangannya beberapa saat.


"Maafkan Aku, Aku begitu lemah hari ini Ma... Aku lemah setelah kau memilih menyerah pergi meninggalkanku..Aku akan segera kehilanganmu Ma..., Aku sungguh ketakutan akan hal ini !!! "


As menunduk, lalu melanjutkan ucapan demi ucapan terakhirnya buat Mar.


"Maafkan segala kekhilafan yang pernah terjadi antara kita Ma, maafkan segala kesalahanku padamu semasa dulu Ma.. Maaf Aku tak bisa membahagiakanmu sayang... Aku ikhlas lahir batin atas apa yang pernah Aku berikan padamu... ku halalkan semua yang pernah kuberi makan padamu...


Ma... Sekali lagi maafkan Aku,, dan Kamu pun sudah kumaafkan... jika kamu memang ingin pergi... maka pergilah dengan tenang sayang...


Aku akan belajar ikhlas, sudah terlalu lama kamu menahan sakit,, Aku sangat menyayangimu...namun tuhan lebih menyayangimu... Aku tak bisa menahanmu Ma...Lā ilāha illallāh"


As menuntun Mar untuk melafazkan kalimat tauhid.


As memeluk tubuh kurus Mar dengan nafas pendek yang terkesan tersengal-sengal.


Berkali-kali ia menciumi kening, tangan serta pipi Mar.


Berkali-kali pula ia mengucapkan kata sayang dan cinta pada Mar, tetap tanpa air mata.


"Assalamualaikum,"


"Walaikum Salam"


Eni datang, dengan mata sembab dan berlari menghadap Mar dan memeluk Mar.


"Ya Allah Ma.... Maafkan Eni Ma... maafkan segala kesalahan Yang pernah Eni lakukan, Eni ikhlas jika Mama ingin pergi..."


Tangis nya kembali pecah, bersama Sari dan Win.


Namun tidak dengan As, sama sekali tak ada air mata, hanya tatapan kosong memandang wanitanya yang kini hanya terdiam bisu.


Kini mereka berempat mengelilingi Mar, bersama-sama membacakan yasin untu Mar.


Menjelang malam, hujan turun begitu lebat dengan iringan petir yang menggelegar, seolah turut menggambarkan perasaan keluarga Mar yang tengah bermandikan derasnya tangisan


Ana dan keluarganya tiba dikediaman Mar dengan basah kuyup, ia berlari dengan tangis histeris menyambar tubuh Mar yang semakin terasa dingin.


Isak dan ratapan bercampur baur, menciptakan Atmosfer yang membuat ngilu hati-hati anak manusia yang mengelilingi Mar.


"Bagaimana Hen dan Vin? apa kata mereka?? Apa mereka bisa pulang?"


Tanya Ana pada Sari disela tangisnya.


"Kak Hen Besok baru bisa pulang, sementara Yuk Vin, tidak bisa pulang"


Jawab Sari.


"Ya sudah, kalian jangan jauh-jauh lagi...tetap disini.."


Perintah Ana.


"Maaf yuk, Aku harus pulang, anak-anak dirumah sendirian..Nanti subuh Aku datang lagi"


Jawab Eni sedikit tak enak hati.


"Tak usah pulang, menginap saja disini.. jemput saja mereka ajak tidur disini, kita tidak tau kapan Mama akan pergi"


Ana berbicara dengan nada sedikit tinggi.


"Tak apa, biar aku pulang saja.. Aku janji bahkan sebelum subuh, Aku akan segera kesini lagi"


"Ya sudah terserah Kamu saja!!"

__ADS_1


Jawab Ana sedikit kesal.


Eni berlalu meninggalkan kediaman Mar.


As bersandar pada dinding dengan mata tak berkedip memandang Mar.


Ana terus menuntun Mar mengucap kalimat tauhid, ia terus membisikkannya ditelinga Mar.


Win menunggu di ujung kepala Mar sementara Sari, sedang menelpon suaminya yang masih diperjalanan.


Dan hal memilukan itu akhirnya terjadi...


"Mama.....!!!! Ma....!! Mama...!!!"


Teriak Ana, Membuat seisi rumah Panik dan mendekat.


Sari meraung, Win berteriak dalam tangisan


"Mama sudah pergi !! huhuhu"


Ujar Ana dalam tangis memeluk erat Ibunya.


"Gak yuk !!! enggak !! Mama masih ada!! Nafasnya masih ada!!!!"


Jawab Win juga dalam tangis menepis ucapan Ana barusan.


"Ikhlas Win!! kamu harus ikhlas.. Mama sudah meninggal!!"


Ana meyakinkan Win.


Sari melepas ponsel yang tengah di pegangnya.


Kakinya lemas seketika, ia terduduk disudut ruang tengah, ia menangis, meraung sejadi-jadinya, hatinya remuk redam, tubuhnya menjadi sangat ringan bagai kapas, jiwanya terasa terkoyak begitu saja, ia tak menyangka akan merasakan ngilu yang sangat luar biasa malam ini.


Perlahan ia mendekat, memeluk Ibunya berusaha mengikhlaskan malaikatnya pergi.


"Telpon Eni !!"


Hardik Ana tiba-tiba.


Sari mengangguk dan meraih kembali ponsel yang tergeletak dilantai.


"Halo Yuk!! Mama sudah pergi!!!"


Ucapnya segera mematikan ponsel sebelum sempat Eni mengucapkan kata-kata balasan.


Sari juga memberi kabar pada 2 saudaranya yang lain tentang kepergian Ibu mereka.


Hanya berselang setengah jam saja Eni kembali tiba dikediaman Mar.


Tangisnya pecah, bercampur dengan rasa menyesal yang menghakiminya.


"Andai tadi Aku tidak pulang, mungkin Aku bisa menemui Mama disaat menghembuskan nafas terakhir..Ma.. Maafkan Eni Ma!!!"


Ratapnya penuh sesal.


"Sudahlah Ni, tak perlu meratap.. Mama sudah pergi, tak perlu disesali"


Ana mengusap pundak Eni.


As terdiam tak jauh dari anak-anaknya.


Tak ada air mata, hanya tatapan nanar, ia tak membuka suara walau hanya sepatah, tak ada air mata walau cuma setetes, As hanya bergeming, terpaku tak berkedip, keringat di dahi disaat cuaca dingin menandakan ketegangan yang teramat sangat sedang berlangsung, kesedihan yang teramat dalam tengah menggerogoti hatinya yang tak dapat di gambarkan maupun dijabarkan.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2