
Baru saja bangun dari tidur yang hanya beberapa jam, Mar tidak mendapati As berada di sampingnya, ia melihat jam yang masih menunjukkan pukul 5 pagi,
Mar bangkit dari tempat tidurnya, dan menemukan As tengah duduk bersila diatas sajadah coklat.
Hatinya luluh, seketika terenyuh melihat suaminya yang hampir 25 tahun menafkahinya lahir batin, memberinya cinta kasih dan sangat menyayanginya, namun memang di 7 tahun belakangan ini As menjadi lebih kasar, pemarah, pencemburu.
Seperti sadar tengah diperhatikan, As menoleh kearah pintu kamar, Mar melemparkan senyum namun ia kecewa saat As kembali memalingkan mukanya, melipat sajadah didepannya kemudian berjalan kedepan.
Mar menghela nafas, kemudian menuju dapur.
Ketegangan tetap terasa disaat waktu sarapan tiba, Anak-anak mereka duduk tanpa suara, mereka hanya saling menatap dalam diam.
Mar mulai menuangkan teh panas pada gelas masing-masing.
PRAK...!!!!!
Tiba-tiba As menepak meja, membuat Mar dan keenam anaknya terperanjat kaget.
"Ma... Aku minta kau berhenti bekerja disana!!"
Tiba-tiba suara berat itu keluar, membuat seisi ruangan terhenyak dan saling pandang.
"Emangnya kenapa Pa? kita sedang butuh uang, apa lagi... kamu...."
Mar tak melanjutkan ucapannya.
As menatap tajam kearah Mar,
"Apa?! Apa lagi Kamu apa?! Mau bilang apa?! Mau bilang Aku pengangguran??!! "
Ucapan As terdengar menggelegar.
"Bukan begitu Pa,, maksud Aku... kalau Aku berhenti sekarang sayang,, kita sedang butuh uang"
Jawab Mar lembut.
"Aku tidak suka kamu kerja seharian, apa lagi bos nya bisa balik kerumah sesuka hati seperti itu, Aku bilang berhenti ya berhenti!!!"
"Pa... Pak Safnar itu ada istri, dan istrinya lebih muda dan lebih cantik dari Aku, mana mungkin Dia akan tertarik sama Aku Pa"
__ADS_1
"Itu kata kamu kan?? kita tidak tau kedepannya! pokoknya kamu berhenti!!"
"Belum bisa sekarang Pa, "
PRANGGG...!!!!!
Tiba-tiba piring yang berisi sarapan dan segelas kopi dibanting As dan berserak dilantai.
Mar menelan ludah dengan mata berkaca-kaca.
"Pa!! Papa kenapa jadi kasar sama Mama??"
Seru Ana yang tiba-tiba berdiri dari kursinya.
"Diam Kamu!!! Sudah berani melawan rupanya?? Sudah merasa bisa cari uang iya?? Sudah bisa menghasilkan beras??"
As menunjuk muka Putri sulungnya.
Ana terdiam, disatu sisi ia tak tega melihat Ibunya, namun disisi lain ia tak ingin melawan kepada Ayahnya.
Ana berlari meninggalkan ruang makan dan memilih bergegas berangkat kerja, disusul Vin dan Adik-adiknya berangkat sekolah.
Mar membersihkan pecahan beling dilantai dengan air mata yang membanjiri pipinya.
"Dek, mandi yuk..jangan nangis ya..."
Mar memandikan Sari, dan bersiap berangkat kerja yang kali ini tanpa pamit pada As.
...****************...
Hari-hari berjalan dengan cepat, As tetap dengan emosinya yang meletup-letup, kecemburuannya namun tentu saja itu tak membuat Mar goyah, keinginannya untuk menopang ekonomi rumah tangga lebih besar dari rasa apapun terlebih saat As sudah mulai jarang sekali bekerja, dalam setahun mungkin bisa dihitung jari berapa kali ia mendapat kerja dengan waktu kerja yang tidak panjang.
Sungguh perjuangan yang berat bagi Mar dalam mencukupi dan menutupi segala kebutuhan rumah tangganya.
Untung saja, Mar memiliki Anak-anak hebat yang tidak menuntut ini itu dari orang tuanya bahkan mau ikut menopang ekonomi keluarga.
Mar masih tetap bekerja dirumah Pak Safnar dan Bu Neli, meski berulangkali As menyuruhnya berhenti, bukan berarti Mar tak taat pada Suami, hanya saja bagi Mar Pak Syafnar dan Bu Neli adalah Orang baik yang selalu Dia mintai tolong ketika terjepit keuangan, entah sudah tak terhitung berapa kali Mar meminjam uang pada mereka, meski tetap dibayar dengan gajinya, akan tetapi apakah mungkin jika dengan orang lain Mar bisa seperti itu, rasanya tidak mungkin, Apalagi Ana putri sulungnya sempat ia masukkan kerja di usaha percetakan Pak Syafnar, sampai jodoh memanggilnya untuk menikah diusia muda dan posisinya digantikan Vin putri ke 2 Mar, sungguh itu lebih dari cukup bagi Mar untuk membuktikan Bahwa tak ada alasan untuk Mar berhenti kerja atau pindah ke majikan lain.
Eni putri ketiga nya saat ini juga sudah bekerja, dan sibungsu Sari juga sudah mulai sekolah tahun ini, itu artinya perjuangan masih harus dijalani dengan semangat meski kadang duka dan luka turut menyertai disetiap perjalanannya.
__ADS_1
Semenjak Sari sekolah, Mar menjadi lebih sibuk, ia harus datang lebih pagi ke rumah Bu Neli dan akan pulang sebentar ketika Sari pulang sekolah untuk menjemput Sari kembali kerumah Bu Neli.
Hingga akhirnya, Sari dengan sikap penuh percaya diri dan keberanian menuturkan sebuah keinginan yang membuat Mar terharu.
"Ma...Mama capekkan bolak balik, terus pasti uang Mama habis buat ongkos angkot kalau harus jemput adek"
"Kok ngomong gitu Dek, kalau bukan Mama... siapa lagi yang jemput Adek?"
"Ma...Adek gak usah ikut lagi kerumah Bu Neli ya,, Biar Adek pulang sendiri kerumah"
"Hah.... Yang bener Dek? Emang Adek berani?"
"Iya Ma, Adek berani..."
"Terus, kalau dirumah gak ada orang Adek bisa??"
"Bisa Ma,, Kan ada Papa"
"Kalau Papa kerja??"
Tanya Mar mendelik.
Sari terdiam beberapa saat kemudian tersenyum menatap Mar.
"Kan Kak Win sama Kak Hen ada"
"Mereka kan sekolah Dek, pulangnya siang..jam 12"
"Gak apa-apa Ma,, kan adek pulang jam 10, cuma 2 jam aja.. kan Adek bisa main pasti gak terasa terus sore jam 3 Yuk Ni pulang"
"Yakin Dek, berani?? Yakin gak mau ikut Mama?"
"Iya Ma....."
Mar memeluk tubuh kecil Sari, sungguh ia merasa tak percaya Anak kecil seusia Sari bisa berpikir dewasa seperti ini, anugerah Tuhan memang luar biasa untuknya, memberikan ia anak-anak yang ber empati tinggi.
Sejak hari itu, Sari tak pernah lagi ikut kerumah Bu Neli, dan Mar tak perlu repot bolak balik menjemput nya lagi, karena Sari begitu mandiri bisa pergi dan pulang sekolah sendiri dengan berjalan kaki.
Bersambung***
__ADS_1