
Malam ini Mar tak dapat memejamkan matanya, hatinya sedang tak tenang, pikirannya melanglang buana.
As yang menyadari itu menyapa Mar,
"Ma..belum tidur??"
Hanya menoleh sekilas kemudian, menggeleng pelan.
"Sini Ma..."
As duduk dan memanggil Mar agar mendekat padanya.
Mar berjalan mendekat.
Kini mereka duduk bersisian.
As menggenggam tangan Mar, sesekali mengecupnya lembut mencoba menenangkan hati wanitanya yang sedang tak karuan.
"Ma,, kenapa??"
"Gak kenapa-kenapa Pa.."
Mar mencoba tersenyum meyakinkan As.
"Aku tak bisa Kau bohongi Ma.... Aku bisa melihat kebohongan dimatamu."
As menatap lekat manik mata Mar.
"Aku sebenarnya tak tahan Pa, jika harus kembali berhadapan dengan rindu"
Jawab Mar mulai terisak.
"Sabar Ma..Aku juga tak ingin seperti ini, tapi bagaimana lagi.. semua harus kita jalani, kita harus kuat ya.."
Mar menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik As, sementara As mengusap lembut kepala Mar.
Mereka saling mendekap erat seakan tak rela jika esok harus terpisah.
...****************...
Keesokan harinya,
selepas subuh Mar sudah berkemas di dapur, dibantu Masning sedang membuat sarapan.
As sudah rapi didepan, selepas sarapan ia akan berangkat meninggalkan Anak dan Istrinya untuk bekerja di luar daerah.
Mar membawakan satu buah ransel berisikan semua keperluan As, mulai dari pakaian, handuk dan segala macam keperluan lain seperti perlengkapan Mandi dan obat-obatan, Mar sangat tau sekali As kerap sakit kepala dan terserang Flu.
"Pa... obat-obatan Aku taruh di resleting paling depan ya, perlengkapan Mandi Aku taruh di kantong kecil di dalam tas"
Ujar Mar menyerahkan Ransel pada Suaminya.
"Maksih Ma.. Sini Ma..Duduk sini.."
As menarik lembut tangan Mar untuk duduk disampingnya.
"Ma... kamu baik-baik dirumah ya, jaga diri.. Aku titip Anak-anak.. Aku mencintaimu Ma..lahir batin..Aku selalu berdoa agar Allah menyatukan kita selamanya..Aku ingin menua bersamamu Ma..."
Mar menatap mata As yang mulai berkaca-kaca,
"Aku pun sama Pa... Aku begitu mencintai kamu..sejak dulu,, dan sampai detik ini, sedikitpun tak berubah"
Mar memeluk erat Suaminya.
"Mama....."
Ana mengucek matanya keluar dari kamar.
"Ana...sudah bangun ya...sini sayang"
Panggil Mar pada sulungnya yang kembali harus stop sementara dari sekolah.
Ana mendekat dan duduk ditengah-tengah antara As dan Mar.
"Papa mau pergi ya?"
__ADS_1
Ana menatap wajah As sendu.
"Iya sayang, Papa mau kerja..nanti..Ana jaga Adek-adek ya, Ana juga bantuin Mama, kasian Mama capek"
As mengusap kepala Ana dan mendekapnya.
"Iya Pa..."
"Ma...Masalah sekolah Ana, sepertinya tak bisa Dia masuk sekarang, soalnya ini sudah hampir kenaikan kelas, tahun ajaran baru tinggal satu bulan lagi,"
As menatap Mar.
"Iya Pa, nanti aku urus"
"Makasih Ma."
As mulai menyantap sarapannya.
Satu persatu Anaknya mulai bangun dan berkumpul di dekat Mar dan As, begitupun dengan Masning.
"Ya udah Papa berangkat dulu ya....Ayo siapa yang mau cium papa??"
Seru As.
Satu persatu Anaknya berlomba siapa yang lebih cepat mencium As, gelak tawa mereka sedikit menghibur kesedihan Mar.
"Ma...Aku pergi ya..."
As mengecup pucuk kepala Mar, sementara Mar mengangguk diam.
"Mak...Aku pamit ya, Aku nitip Mar dan Anak-anak,"
As mencium punggung tangan Masning.
"Kau tenang saja As,, mereka akan aman disini, kau jangan khawatir, dan jangan risau ya..."
Masning tersenyum pada menantunya.
Mereka melepas As pergi sampai ujung anak
"Yuk kita Masuk.."
Ajak Mar pada Anak-anaknya begitu As sudah tak terlihat.
Meski hatinya masih pilu, namun Mar tak ingin larut dalam kesedihan, ia sadar semua demi ia dan Anak-anak, Mar juga tak ingin kesedihannya membuat ia tidak fokus merawat Anaknya.
Mar segera menyibukkan diri, mulai dari mencuci, berberes rumah dan memandikan satu persatu Buah hatinya.
Hari mulai Siang, Mar berpamitan Pada Masning untuk mengurus sekolah Ana, Mar menitipkan sebentar Bayi Hen pada Masning, dengan hanya mengajak Win ia berangkat kesebuah sekolah negri.
Sesampainya di sekolah tersebut, perkataan As tadi pagi benar, Sekolah tak bisa menerima Ana secara langsung sebab sudah mendekati kenaikan kelas.
Pihak sekolah menyarankan Ana untuk dimasukkan setelah pembagian raport dan tahun ajaran baru yang tinggal sebentar lagi.
Akhirnya Mar setuju, itu Artinya Ana harus mengulang.
Mar pulang, kerumah begitu urusan sekolah Ana selesai. Ia disambut sumringah oleh semua Buah hatinya terutama Ana yang sangat antusias menunggu kabar tentang sekolahnya.
"Ma...besok Ana sudah mulai sekolah ya??"
tanyanya penuh semangat.
"Belum sayang...kata Bu Guru disana, Ana Bulan depan baru masuk sekolah lagi,"
"Berarti, bulan depan Ana masuk kelas empat ya Ma..."
Mata Ana berbinar-binar.
Mar mendekap Sulungnya.
"Ana sayang...Maaf ya, kata Bu guru, Ana kan gak ikut ujian kenaikan kelas, jadi bulan depan Ana sekolahnya mulai dari Awal lagi kelas Tiga, gak papa ya sayang"
Mar mencoba memberi pengertian pada Ana, yang ia tau Ana pasti saat ini tengah sedih.
Ana menunduk, ia sedih karna harus mengulang kembali kelas tiga.
__ADS_1
"Sayang...semangat ya...jangan sedih, yang penting Ana bisa kembali sekolah lagi ya nak..."
Mar terus memompakan semangat pada Sulungnya.
...****************...
Hari-hari berlalu begitu cepat, sudah sebulan berlalu dari kepergian As, dan hari ini Mereka akan kembali berkumpul, karena hari ini As akan pulang.. dan hari ini juga bertepatan dengan kepulangan Bulromi kerumah.
"Ma berapa hari lagi Ana sekolah??"
Tanya Ana mendekati Mar yang sedang membuat kue pisang kesukaan As dan Bulromi Ayahnya.
"Tiga hari lagi sayang,"
Jawab Mar menoleh sesaat.
"Kapan kita beli perlengkapan Ma??"
Tanya Ana lagi.
"Nanti ya sayang, kita tunggu Papa pulang"
"Oh...Iya.....Papa pulang ya hari ini..Yeayyyy"
Ana berlari keluar dengan girang menemui Adik-adiknya.
Ana mengajak Vin, Eni dan Win duduk di luar menunggu Papa mereka pulang.
Mereka melihat sosok laki-laki dengan menenteng tas besar ditangan.
"Yeayyy...itu Papa....."
Teriak Vin girang begitupun dengan Ana dan kedua Adiknya yang lain, namun semakin dekat laki-laki itu, wajah mereka berubah murung.
"Vin...itu bukan Papa...itu Yai...!!"
Ujar Ana kecewa.
"Assalamualaikum....."
Bulromi tersenyum pada keempat cucunya yang duduk berbaris di ujung tangga.
"Nungguin siapa?"
"Nungguin Papa yai,,"
Jawab mereka kompak.
Bulromi mengangguk,
"Oh Papa kalian pulang juga hari ini ya?"
Keempat cucunya mengangguk.
Masning menyambut kepulangan Bulromi, mengambilkan Air minum, dan menyambut tas bawaan Bulromi.
"As pulang hari ini Mak?"
Tanya Bulromi.
"Iya Bak,"
Jawab Masning.
Tak berapa lama, Win dan ketiga Putri kembali bersorak girang.
Mar, Masning dan juga Bulromi bergegas melihat keluar.
Benar saja, diluar As tampak penuh haru sedang berpelukan mesra dengan keempat buah hatinya.
Masning dan Bulromi berpegang tangan dan saling menatap, hati mereka begitu damai melihat kemesraan antara menantu dan cucu-cucunya.
Sementara Mar, tak bisa menyembunyikan harunya, ia tersenyum dengan Mata berkaca menyaksikan kesayangannya berkumpul dirumah, tak ada yang lebih membuatnya bahagia dibanding melihat senyum dari orang-orang terkasih nya.
Bersambung***
__ADS_1