Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 49 Pulang


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, dengan menggendong Win yang masih tertidur, As terus saja memikirkan Mar dan bayi laki-lakinya yang baru saja dilahirkan Mar.


Tok...Tok..Tok!!


"Ana... Buka pintu Nak, ini Papa"


Teriak As sembari mengetuk Pintu.


Ana yang mendengar suara Papanya dari luar segera berlari keluar kamar, membukakan pintu.


"Mana Mama Pa??"


Tanya Ana ketika melihat As hanya berdua dengan Win.


"Mama belum pulang Nak, besok pagi baru boleh pulang"


Jawab As yang berjalan masuk menidurkan Win di tempat tidur.


Ana mengekor As,


"Adeknya cewek apa cowok Pa?"


"Cowok sayang.. Ya sudah, Ana tidur lagi ya... Besok kan mau sekolah"


Ujar As yang diikuti anggukan manis dari Ana kemudian segera masuk kamar dan bergegas tidur.


Mendapati Anak-anaknya sudah pulas, As beranjak keluar kamar, mencuci muka dan Berniat makan malam, perutnya terasa pedih dan Dia baru ingat bahwa perutnya belum terisi.


Malam ini As sudah izin tidak masuk kerja, semenjak kejadian hari itu, Kapitan menjadi baik kepadanya, entah karena malu, atau karena takut Dengan gertakan As kala itu.


Selesai makan malam, As kembali masuk kamar menemani buah hatinya tidur.


Namun diatas tempat tidur, matanya enggan sekali terpejam, ia mengingat semua yang pernah terjadi dalam hidupnya.


Tak terasa sudah hampir satu tahun ia berlari dari masalah, mengasingkan diri di kampung terpencil ini, sudah satu tahun pula, ia menyeret Istri dan Anak-Anaknya kedalam hidup yang serba kekurangan, entahlah... Apa ia sanggup kembali tegak berdiri lagi harapan itu terlalu kecil bagi As, bahkan untuk bermimpi hidup enak saja, As rasanya sudah tak punya nyali.


As menyelimuti ke empat Anaknya, dan mengecup kening mereka bergantian.


"Maafkan Papa Nak, hidup kalian jadi sengsara seperti sekarang."


Ucap As lirih.


"Apa kabar nya berita tentangku kemarin ya? masihkah Aku dicari-cari??"


Batin As, yang kemudian terlintas keinginannya untuk mengirim surat ke Salim untuk menanyakan perkembangan kasus kebakaran kemarin.


"Pa...Pa..bangun...!"


Ana mengguncangkan tubuh As yang masih tertidur di sebelah Win.


Perlahan As membuka matanya, nampak Ana yang sudah rapi dengan seragam sekolah.


As mengerjap-ngerjapkan Matanya, mengusap pelan mukanya.


"Haduhh... Papa kesiangan ya Nak..."


As beranjak dari tempat tidur dan menuju dapur untuk memanaskan Air.


"Papa hari ini jemput Mama dan Adek kan?"


Tanya Ana yang kini duduk Manis di ruang makan.


As menoleh Putrinya tersenyum,

__ADS_1


"Iya.."


As sedang membuat satu gelas besar teh hangat manis dan memasak mi instan yg memang sudah disiapkan Mar sebelum Dia pergi untuk melahirkan.


"Ini...Papa buatin Ana mi, dimakan ya... Ini tehnya"


As menyodorkan semangkuk Mi dan segelas Teh pada Ana.


Ana segera menyantap sarapan sederhana dari Papanya.


Vina mendekati Ana yang tengah sarapan disusul Eni yang merengek.


"Ma....Mama.....huhuhu"


As segera mendekati Eni dan mengusap rambut serta wajah putih menggemaskan milik Eni.


"Sayang sudah bangun ya? mau sarapan Nak..ini Papa bikin Mi sama teh Eni Mau??


"Mau Mama....."


As menghela nafas, merasa bujukannya tidak manjur, ia segera mengangkat tubuh gembul Eni dan menggendongnya.


Namun baru saja ia menggendong Eni.. Tangis histeris Win dari dalam kamar, membuat As segera masuk kamar menemui putranya.


"Kenapa Nak...mimpi buruk ya....??"


As mendekap Win, dan menurunkan Eni dari gendongannya dan kini berganti dengan menggendong Win.


"Papa.......!!!!"


Teriakan Vin dari ruang makan membuat As kembali keluar kamar menuju ruang makan, dengan menggendong Win dan menggandeng Eni.


"Kenapa Nak??"


Tanya As menghampiri Vin.


Ujar vin menunjuk mangkuk mi milik Ana.


As dengan sigap mengambilkan mangkuk dan gelas, ia melayani Vin sarapan dengan tetap menggendong Win.


Sungguh Pagi yang sibuk dan melelahkan bagi As, ia tak bisa membayangkan beginilah kesibukan dan kerepotan Mar setiap hari mengurus ia dan Anak-Anaknya.


Setelah situasi sedikit tenang dan bisa dikendalikan As,


Kini giliran As yang duduk untuk sarapan.


Belum genap satu hari Mar tak ada dirumah ini, namun, As sudah kewalahan meladeni Anak-anaknya, belum lagi lengan dan bahu As yang sudah pegal menggendong Balita gembul mereka.


"Ehm...Ma...ternyata kamu memang luar biasa"


Batin As.


Selama ini sedikitpun Mar tak pernah mengeluhkan lelah, capek atau marah menghadapi Anak-Anak mereka yang sedang tumbuh menjadi Anak-Anak yang lincah, tanpa merasa kerepotan sedikitpun, ketika balita mereka menangis bersamaan, dengan telaten


dan sabar Mar melayani Anak-Anak mereka.


Setelah selesai sarapan, Ana berpamitan pada As untuk berangkat kesekolah, sementara As segera memandikan satu persatu Anaknya.


Setelah semua siap,


As mengajak ke 3 buah hatinya untuk pergi menjemput Mar di Bidan desa.


"Kita mau kemana Pa??"

__ADS_1


Tanya Vin ditengah-tengah perjalanan.


"Kita mau jemput Mama dan Dedek bayi"


Jawab As sumringah.


Sepanjang jalan, mereka bergandeng tangan dan bersenandung riang, sesekali tawa renyah mereka tergelak.


"Assalamualaikum.......!"


Sapa As dan kedua Putrinya begitu sampai di depan ruang kamar Mar.


"Walaikum salam... Haiii.. Anak-Anak Mama...sini peluk dulu.."


Jawab Mar penuh suka cita menyambut kedatangan Suami serta ketiga Anaknya.


"Mama........"


Kedua Putrinya berhambur kepelukan Mar yang disambut dekap hangat dari Mar.


Sementara Win nampak antusias menatap Bayi mungil disamping Mar.


Mar yang menyadari pemandangan itu segera mengulurkan tangan meminta Win dari tangan As.


"Win Mau pegang Adek?? Sini sayang...dekat Mama!"


Win mengangguk secepat kilat berpindah dari gendongan As beralih ke ranjang Mar.


Ia mengelus pipi Bayi mungil yang sedang terpejam itu, sembari berceloteh dengan bahasanya.


"Ma... Aku menyelesaikan Administrasinya dulu ya"


Pamit As, Mar mengangguk dan As pun berlalu meninggalkan Mar dan Anak-Anaknya di ruang kamar itu.


"Ayuk Ana sekolah ya? tadi sarapan gak? terus siapa yang mandiin kalian?"


Tanya Mar mengintrogasi Buah hatinya.


"Iya Ma...Ayuk Ana sekolah, tadi kita sarapan Mi Ma.. Papa yang buat, Papa juga yang mandiin kita"


Jawab Vin.


"Ma... Siapa nama Adek bayi?"


Tanya Vin lagi.


"Ehm... kita tunggu Papa ya Nak... Biasanya Papa yang menyiapkan nama indah buat Adek."


As kembali ke kamar setelah sekitar setengah jam mengurus administrasi kepulangan Mar.


"Sudah selesai.. Sekarang saatnya kita pulang....."


Seru As sambil menghampiri ranjang Mar.


"Pa... kamu tidak lupa menyiapkan nama si Bayi kan?"


Tanya Mar sedikit mendelik.


"Hehehe... sudah Ma... nanti saja dirumah ya, sekarang kita siap-siap pulang.."


As membereskan Tas dan barang-barang perlengkapan Bayi yang berserak diatas ranjang.


Dengan perlahan Mar turun dari ranjang, menggendong bayinya, Vin dan Eni bergandeng tangan didepannya, sementara Win telah nyaman dalam gendongan tangan kanan As dan tangan kirinya menjinjing Tas.

__ADS_1


Mereka pulang kerumah dengan perasaan suka cita, selain membawa Bayi yang tentunya akan membuat rumah mereka kembali ramai dengan tangisan bayi, tentu saja Kehadiran Mar ditengah-tengah mereka itulah hal yang paling menggembirakan dibanding apapun didunia ini


Bersambung***


__ADS_2