Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 62 Terpaksa harus bekerja


__ADS_3

Malam datang lagi, terus memberi janji bahwa esok pagi akan ada takdir tuhan yang sangat indah untuk dinanti, Mar masih terjaga, menatap nanar langit-langit kamar sederhananya, Sementara Anak-anak dan suaminya sudah pulas dalam balutan selimut mimpi.


Mar terus berpikir tentang keputusannya untuk kembali bekerja,


tujuannya hanya satu, ingin terus Anak-anaknya sekolah, ia tak ingin nasibnya yang terpaksa berhenti sekolah harus kembali terulang ke anaknya, ia tak ingin mematahkan mimpi dan cita-cita Anaknya.


Jika hanya mengandalkan As yang bekerja sebagai kuli bangunan, yang lebih sering nganggur dibanding bekerja, ia tak yakin bisa menghidupi mereka sekeluarga.


Mar membalik tubuhnya miring, air matanya perlahan mengalir, sungguh ia tak menyesali keadaan sekarang, ia hanya sedang mencoba menerima kenyataan.


Berdamai dengan keadaan adalah pilihan yang paling aman.


Mar mengusap matanya dan terpejam, berusaha kuat meski sebenarnya ia rapuh.


Pagi datang menyambut harapan, bersama semangat yang tak pernah padam untuk terus berjuang.


"Pa, Aku ingin kerja lagi!"


Deg !!!


As tersentak mendengar keputusan Mar pagi ini. Ada rasa malu yang menyesap direlung hatinya.


"Apa harus seperti itu??"


Tanya As tanpa menoleh.


"Ya Pa, tak ada pilihan lain.."


"Maaf Aku memang tak berguna!!!"


Sesal As.


Mar mendatangi suaminya, menggenggam jemarinya,


"Tak usah bersikap seperti itu Pa, kita akan sama-sama berjuang... Menyesali nasib tak kan membuat kita kuat."


As menatap dingin Mar.


Setelah semua urusannya kelar, Mar berganti pakaian, ia berniat keluar rumah menawarkan jasanya untuk orang-orang yang butuh pembantu.


Sementara As juga mengayuh sepeda tuanya untuk mencari pekerjaan.


"Win, ajak Adek main kerumah Nyai ya, nanti kalau Mama pulang, Mama jemput"


Win mengangguk gembira.


Sesampainya di rumah Masning,


"Mak, Aku nitip mereka berdua ya..."


Ujar Mar.


"Kau mau kemana Mar?"


Tanya Masning menatap dalam mata putrinya yang terlihat mendung.


"Aku mau cari kerja Mak"


Mar menunduk.


"As belum kerja lagi ya? Sudah lah Mar, setelah habis masa kontrakan rumahmu, kalian kembali lagi saja kesini,,"


"Iya Mak, belum Mak, mungkin belum rejekinya,


makasih Mak, tawarannya...Tapi maaf, sepertinya kami lebih baik mengontrak saja"


Mar tersenyum getir.

__ADS_1


"Kenapa?? As tidak mau? bilang sama As, kecilkan gengsinya!!"


Bulromi memotong percakapan Mar dan Masning, membuat Mar menelan ludah seketika.


Mar tak menyalahkan Ayahnya berkata seperti itu, Bulromi berkata benar, semenjak jadi pekerja bangunan yang pekerjaannya tak menjanjikan, sikap As banyak yang berubah menjadi perasa, sensitif, gampang tersinggung dan cepat sekali tersulut emosi, terlebih ketika As sedang menganggur seperti saat ini.


"Maaf Bak...tapi Aku tak bisa memaksakan kehendak pada Kak As"


Jawab Mar yang sangat patuh pada As suaminya.


"Mar, kalau As marah dan sampai berani main pukul terhadapmu, tinggalkan Dia Mar, pulang kesini, Bak sama Mak masih sanggup menghidupi kalian!"


Ujar Bulromi sedikit emosi.


Mar tersenyum tipis menanggapi ucapan Ayahnya.


"ya udah Mak, Aku pergi dulu"


Mar meninggalkan kediaman Orangtuanya.


Mar berjalan menyusuri jalan-jalan sempit, dan berhenti di sebuah rumah warga keturunan Cina.


"Permisi..!!!"


Teriak Mar didepan pagar rumah bercat hitam itu.


Tak lama, keluar wanita tua dengan tongkat membuka pintu dan berjalan kearah pagar rumahnya.


"Ya... Ada apa ya??, Anda cari siapa?"


Tanyanya heran.


"Permisi Bu, Aku sedang cari pekerjaan, Apa Ibu butuh, saya bisa cuci baju, masak, beres-beres atau apa saja"


Ujar Mar dengan tatap penuh harap.


Wanita tua tersebut kembali masuk dan keluar lagi bersama seseorang yang lebih muda.


"Iya, Aku lagi cari tukang cuci setrika, gajinya 300 ribu, Kamu mau?"


Tanyanya.


Senyum Mar terkembang lebar.


"Iya Bu, kapan saya mulai kerja "


Tanyanya lagi.


"Sekarang juga boleh..silahkan masuk,"


Mar masuk mengikuti Ibu muda itu.


"Nah Bik, ini kamar mandinya, itu pakaian kotornya, dan itu sabunnya. Setelah selesai mencuci, kamu menyetrika ya..itu kamar tempat menyetrika, dan dibakul itu pakaian yang harus kamu setrika"


jelas majikannya yang baru ia ketahui bernama Yeyen.


"Baik Bu, "


Mar mulai mencuci satu bak besar pakaian kotor.


Setelah selesai, cepat-cepat ia menjemurnya, karena segunung pakaian telah menunggunya untuk di setrika.


Setelah semua pekerjaannya beres, Mar berpamitan pulang,


Sepanjang perjalanan, Mar berpikir tak akan cukup jika ia hanya bekerja disatu rumah,


Mar memutuskan untuk menambah tempat ia bekerja.

__ADS_1


Ditengah perjalanan pulang kerumah, ia melihat sebuah rumah di dekat arah jalan kerumah Masning,


Ia mengingat pemilik rumah,


"Ehm.. bukankah Ibu Marni ini seorang guru, dan suaminya seorang polisi, anaknya juga masih kecil-kecil, siapa tau ia butuh pembantu"


batin Mar.


Ia melangkah cepat menuju rumah Ibu Marni, yang kebetulan sedang menyapu teras rumahnya.


"Assalamualaikum Bu Marni,"


Sapa Mar.


"Walaikum Salam, Mar ya??"


Ujar Bu Marni mengernyitkan dahi mengingat wajah Mar.


"Iya Bu, "


"Ada apa Mar, tumben mampir"


"Ehm ..Gini Bu, apa Ibu butuh tenaga pembantu?"


Setelah agak lama berpikir, Akhirnya Ibu Marni memutuskan untuk mengangguk, dan menerima Mar kerja dirumahnya.


"Oke Mar, kamu bisa kerja disini, nyuci baju, beres-beres, setrika baju, tapi kmu kerjanya mulai besok saja ya Mar, soalnya hari ini semua sudah beres, gaji kami 400 rb, kamu mau?"


"Alhamdulillah, Mau Bu..Ya sudah sudah kalau begitu Aku pamit ya Bu, besok Aku datang lagi.


Mar berjalan cepat menuju rumah Masning, untuk menjemput kedua putranya.


"Asaalamualaikum,"


Sapa Mar.


"Mama......"


Kedua bocah laki-laki itu menyambut kedatangan Ibunya.


"Yuk pulang, pamit dulu sama nyai yai ya "


Masning tak banyak bicara dan tanya ia mengantar Kedua cucunya keluar untuk pulang bersama Mar.


"Mak, Aku dapat kerjaan, dirumah Bu Marni."


Masning mengangguk tersenyum.


Sesampainya dirumah, Mar mendapati ketiga Anaknya sudah pulang dari sekolah, begitupun dengan As suaminya, mereka tengah makan siang.


Mar turut bergabung, sehubungan dengan perutnya yang mulai keroncongan.


"Ma...Aku dapat kerja, besok sudah mulai kerja"


Ucapan As menyunggingkan senyum kelegaan dari Mar.


"Alhamdulillah Pa...Aku juga mau bilang, mulai besok Aku juga sudah kerja dirumahnya Bu marni"


"Bu marni? Yang istri polisi itu ya?"


Tanya As.


Mar mengangguk.


"Kalau pekerjaan ku ini agak lama, sebaiknya kita cari kontrakan ditempat lain ya Ma, yang agak besar, lagian Aku tidak tahan dengan mulut Mak Mat dan Suaminya yang selalu mengadu ini itu pada Mak dan Bak "


Mar mengangguk, ia paham ketidak nyamanan Suaminya terhadap sikap pemilik kontrakan yang selalu bermulut panjang.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2