Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 89 Menikmati waktu berdua dalam usia senja


__ADS_3

Mar Nampak lebih bugar setelah lebih dari seminggu dirawat,


Hari ini ia pulang kerumah, hatinya penuh suka cita, karena akan kembali berkumpul dengan orang-orang tersayang.


Ia sudah membayangkan, setiap hari akan dihabiskan bermain dengan cucunya, makan masakan sibungsu Sari, bercanda bersama Suami kesayangannya, serta banyak hal lagi yang akan ia lakukan dirumah.


Jam 11 siang, Leman menjemput untuk pulang kerumah, ditemani Sari dan cucunya rangga.


Sementara dirumah, dengan perasaan tak sabar As mondar mandir sambil terus menatap jam ditangan kirinya. Sesekali ia akan keluar rumah melihat kejalan, tak peduli panas matahari siang terasa membakar wajah dan tubuhnya.


Begitu Mar sampai dirumah, As sudah bersiap menyambut di pinggir jalan di depan rumah mereka, setitik air mata mengalir melihat Mar kembali pulang dari rumah sakit untuk kedua kalinya. Dalam hatinya berharap, ini takkan terulang kembali kedepannya, ia berharap ini adalah yang terakhir, ia terus berdoa agar wanitanya akan selalu diberi kesehatan.


Leman menggendong Ibu mertuanya masuk kedalam rumah, disusul Sari dan As.


Sebelum berangkat kerumah sakit tadi, Sari telah menyiapkan kasur di sudut ruang keluarga, lengkap dengan bantal dan guling tak lupa menggunakan sprei batik, dan perlak agar tak gampang basah.


Sari sengaja berniat memindahkan Mar untuk tidur didepan.


Leman membaringkan Mar pada kasur yang disediakan Sari, ia memutuskan bahwa ibunya lebih baik tidak tidur dikamar lagi, agar ia lebih mudah mengontrol Mar setiap waktu, maklum saja Sari juga memiliki seorang balita serta harus mengurus juga As dan seisi rumah, Belum lagi jika harus pontang panting memapah Mar keluar masuk kamar untuk mandi dan keperluan lain tentu akan sangat menyusahkan diri Mar sendiri jika harus berbaring dikamar.


Setelah Mar berbaring,


"Ma..ini air minum, ini juga ada ember kecil, untuk mama kalau ada rasa mau muntah"


Sari menyiapkan meja kecil di sebelah kasur Mar tempat menaruh obat, makanan dan air minum, sementara ember kecilnya ia letakkan di bawah meja.


"Iya Dek, makasih ya...sudah menyiapkan semuanya, Mama sudah lama ingin tidur di lantai saja, tak usah pakai ranjang, dan Mama senang tidur diluar seperti ini, lega rasanya"


"Alhamdulillah jika Mama senang, sebentar ya Ma.. Adek ambil nasi, biar Mama makan dan minum obat"


Mar mengangguk dan Sari mulai menyiapkan segala keperluan Mar, mulai dari makan, mengganti popok serta memberi obat.


Merasa semua tugasnya pada Mar selesai, Sari beralih pada balitanya yang terlihat menguap beberapa kali.


"Ma, Mama istirahat ya... Adek mau menidurkan Rangga dulu"


Sari berlalu meninggalkan Mar menggendong anaknya masuk kamar begitupun dengan Leman suaminya menyusul setelah selesai makan siang dan sholat ashar.


Tinggallah As dan Mar di ruang keluarga.


"Ma, sebetulnya Aku tak tega melihatmu tidur disini, tapi sepertinya kamu bahagia dan menikmatinya."


As berbaring di samping Mar dengan posisi menyamping menghadap Mar, matanya terus menatap teduh wajah Mar, sesekali tangannya membelai rambut putih yang helai demi helainya melayang-layang menutup kening dan


sebagian wajah Mar.

__ADS_1


"Aku merasa lega diruang luas Pa, entah kenapa, akhir-akhir ini Aku merasa pengap dan sesak jika di kamar"


Jawab Mar dengan Mata menatap langit-langit rumah.


"Ya sudah, Aku akan keluarkan kasur satu lagi, biar Aku juga bisa tidur disini menemani kamu"


Ujar As mengulas senyum.


As beranjak hendak meninggalkan Mar menuju kamar, namun tangan Mar dengan sigap menangkap lengan As, memaksa As untuk kembali duduk disisinya.


"Tak perlu Pa, kamu jangan tidur diluar, tetaplah berada dikamar, Aku tak ingin kamu kedinginan, dan kamu akan sakit, cukup Aku saja yang sakit"


Mar mengusap pipi As.


"Kalau kamu berpikir seperti itu, Aku pun tak ingin kamu kedinginan Ma.."


As menatap Mar bingung.


"Pa.. Suhu tubuhku sudah tidak normal lagi, Aku selalu merasa kepanasan setiap saat, jadi Aku tidak akan merasa kedinginan bila diluar, hanya saja..kakiku yang dingin..makanya Aku selalu butuh kaos kaki terus menempel dikakiku Pa"


As menarik Nafas panjang, ia sebetulnya tak rela tidur berjauhan dari Istrinya.


Namun Mar memaksanya untuk tetap dikamar.


"Ya sudah lah kalau begitu, hanya saja...Aku akan kehilangan waktu bersama mu sepanjang malam Ma.."


"Pa... Adakalanya, kita harus belajar jauh, agar kelak jika salah satu dari kita pergi, maka salah satu dari kita tidak akan merasa terkejut lagi"


"Stop Ma !! Aku sudah bilang... Aku benci kalimat perpisahan, Aku tak ingin kita pisah, jika memang harus pergi, maka kita harus pergi sama-sama. Aku tak bisa tanpa kamu!!"


As meninggikan suaranya, membuat Sari tergopoh-gopoh keluar kamar menemui kedua orang tuanya.


"Kenapa?? ada apa?? Mama...kenapa???"


Tanyanya cemas.


"Maaf Nak, tidak apa-apa...sudah, kamu istirahat saja lagi, kamu terlalu capek hari ini"


Ujar Mar tersenyum, sementara As, menekuk wajahnya merajuk.


"Pa...Aku tak bermaksud membuat mu marah...Maafkan Aku ya"


Mar kembali mengelus pipi As. As kembali menolehkan wajahnya pada Mar meski dengan muka datar dan penuh kekesalan.


"Ma...jangan bicara seperti itu lagi ya... Aku takut... Aku takut jika kita tidak bersama,, sungguh Aku tak siap untuk itu"

__ADS_1


Mar mengangguk.


As semakin mendekatkan kepalanya pada kepala Mar, dan kini ia terpejam disamping wanitanya.


...****************...


Hari demi hari berlalu,


Setiap saat As selalu disisi Mar, tak ada waktu yang ia lewatkan tanpa menemani Mar, kecuali malam, Mar tak mengizinkan As untuk tidur di luar menemaninya, oleh sebab itu, As jarang sekali tidur nyenyak, ia memilih tidur larut malam hanya untuk menemani Mar diluar, bahkan ketika As sudah tidur pun, As akan selalu terbangun, hanya untuk melihat Mar, memastikan Mar dalam keadaan baik-baik saja.


Sari selalu mengingatkan As agar cukup tidur, namun As selalu berdalih ia tidak mengantuk dan masih ingin menonton Tv.


Malam ini,


As masih duduk di depan televisi yang sebenarnya tidak benar-benar dia perhatikan.


Sesekali matanya tertuju serius pada Wanitanya yang terbaring dengan mata terbuka.


Hati As akan selalu dipenuhi kecemasan jika Mar tak bergerak dalam beberapa menit saja, bayangan-bayangan menakutkan membuat ia segera beranjak untuk memeriksa keadaan Mar.


"Ma... apa Kamu baik-baik saja?"


Tanyanya sembari mendekat dan menggenggam tangan Mar.


Mar menatap As, sebelah tangannya menumpuk tangan As yang sedang menggenggam tangannya,


"Aku baik-baik saja Pa, kenapa belum tidur? ini sudah larut."


"Aku belum mengantuk, kamu sendiri kenapa belum tidur?"


Tanya As balik.


"Entahlah Pa... Aku seperti kehilangan rasa kantuk sekarang hehehe"


Jawab Mar sambil tertawa kecil.


"Tidurlah Pa.... Nanti tak bisa bangus sholat subuh"


"Baiklah, Aku akan tidur asal kamupun tidur, bagaimana?"


Penawaran As ditanggapi senyuman oleh Mar.


"Iya, Aku akan coba Pa.."


As tersenyum lalu mengecup kening Mar, lalu meninggalkannya masuk kedalam kamar.

__ADS_1


Beesambung***


__ADS_2