Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 81 Kabar Baik


__ADS_3

Waktu terus bergulir, pedih perih suka duka dan luka datang silih berganti, bahkan terkadang hadir disaat yang bersamaan, semua dilalui dengan lapang dada, sabar serta ikhlas menerima, dengan tabah dan tanpa sedikitpun rasa putus asa dihatinya.


Mar adalah bukti perjuangan hidup yang sebenarnya, Mar adalah bukti kesetiaan dan pengabdian nyata seorang istri.


"Assalamualaikum"


Salam dari suara yang sangat dikenal Mar,


Ia yang baru saja pulang dari bekerja dirumah Bu Neli yang tak terasa sudah lebih kurang 3 tahun buru-buru kedepan,


"Walaikum salam, Bak tumben Sore kesini.. ada apa Bak? apa Mak sakit?"


Tanya Mar cemas menghampiri Bulromi dan segera mencium tangan Ayahnya.


Sari menyusul kedepan dan turut menyalami kakeknya.


"Ah, gak Mar, Mak mu baik-baik saja... Aku kesini ada yang mau Aku sampaikan, apa As sudah pulang?"


"Belum Bak, mungkin sebentar lagi... syukurlah Kalau Mak baik-baik saja, Aku sudah lama tak mampir, Bak Masuk dulu.. silahkan duduk Bak.. Sebentar Aku buatkan Bak kopi"


Mar meninggalkan Bulromi menuju dapur.


Diruang tamu, Bulromi duduk bersama cucu nya Sari.


"Kau sudah mandi?"


Tanya Bulromi,


"Sudah Yai, Adek mandinya jam empat, inikan sudah jam setengah 5"


Jawab Sari.


"Oh...gitu ya, sekarang kau kelas berapa?"


"Yai lupa terus, tiap ketemu pasti nanya kelas berapa, Adek kelas 3 yai"


"Ohh...Iya..ya...Yai lupa, terus..kalau disekolah pintar gak?"


"Ehm....tuh kan lagi-lagi yai lupa, Adek pintar Yai..rengking terus kan..."


"Waduhh...iya ya...Yai lupa lagi..Maaf ya..."


"He... He... He..."


Sari mengangguk tertawa.


Bulromi mengeluarkan dompet, dan selembar uang kertas,


"Nih...Buat Anak pintar jajan disekolah besok"


Sari menerimanya dengan sumringah,


"Mkasih yai.... tapi, yai lupa lagi...besok itu hari minggu!!!!"


Bulromi menepuk jidatnya sambil gelang-geleng kepala,


"Oohh iya... Ha..Ha..ha... Maklum Yai sudah Tua, jadi pelupa.."


Tawa keduanya terdengar sampai kedapur, Mar tersenyum mendengarnya, dan kedepan dengan membawa segelas kopi hitam pekat kesukaan Ayahnya.


"Bak ini kopinya"


Baru saja Mar duduk,


Salam dari As membuatnya kembali bangkit untuk menyambut kepulangan Suaminya.

__ADS_1


"Ada Bak, sudah lama datang nya Bak?"


As segera menghampiri Bapak mertuanya dan mencium tangan Bulromi.


"Baru saja As, ini juga baru saja dibuatkan kopi oleh Mar"


Jawab Bulromi.


"Ini Pa, Bak ada yang mau disampaikan katanya"


Sambung Mar.


"Mau disampaikan? wah ada apa ini Bak, sepertinya serius?"


As mengurungkan niatnya untuk segera mandi melainkan duduk bersama diruang tamu.


"Kau mandi saja dulu As, biar kita enak ngobrolnya"


"Oh, ya sudah kalau begitu, Aku permisi bersih-bersih dulu ya Bak, sekalian Aku juga belum sholat Ashar"


"Ya...ya... Silahkan"


Hampir 15 menit, As kembali menemani Bulromi di ruang tamu,


"Bagaimana kerjaan kamu As?"


"Alhamdulillah Bak, sudah hampir 3 minggu ini Aku kerja"


"Ya baguslah kalau begitu, Begini As..Saudara Bak, istri Bakwonya Mar (Bakwo adalah panggilan untuk Kakaknya Ayah) kemarin datang kerumah Bak"


Mendengar percakapan serius sudah dimulai Mar pun kembali kedepan dan duduk disebelah As.


"Makwo Bastari datang kerumah Bak, kenapa Dia Bak?"


Potong Mar.


Bulromi Diam sesaat menunggu respon dari Mar dan As.


Sementara Mar dan As saling pandang.


"Pa, Bakwo Bastari itu Kakaknya Bak, tapi sudah meninggal, Istrinya... Makwo Bastari tinggal dirumahnya hanya dengan dua anaknya yang cacat, sementara Anaknya yang lain sudah berumah tangga semua."


Sambung Mar.


As mengangguk.


"Terserah Mama, gimana baiknya..Dan jangan lupa kita juga harus tanya Anak-anak"


Jawaban As dibenarkan oleh Mar, sebab sekarang keputusan tak lagi bisa mereka putuskan sendiri, Anak-anak mereka sudah besar-besar dan berhak bersuara.


"Ya, kalau menurut Bak, apa salahnya dicoba dari pada ngontrak, iyakan?"


"Iya Bak, begini saja..besokkan hari minggu, bagaimana kalau Kami lihat dulu disana bagaimana kondisinya?"


"Oh, baguslah besok Bak antarkan kalian ketemu Makwo"


"Iya Bak, besok pagi kami kerumah Bak dulu"


"Ya sudah kalu begitu Bak pamit ya, sudah mau magrib"


Dengan mengayuh sepeda mini tua miliknya Bulromi pulang meninggalkan rumah Mar.


...****************...


Setelah rapat keluarga, dan memutuskan untuk setuju.

__ADS_1


Keesokan harinya, As dan Mar beserta sibungsu Sari menuju kediaman Makwo Bastari dengan menumpang Becak, disusul Becak yang berisi Bulromi dan Masning dibelakang.


Setelah Obrolan tentang kebun selesai, Makwo mengajak Mar dan As untuk melihat kebun yang dimaksud, berjarak tidak terlalu jauh dari rumahnya.


"Nah Mar..As.. itu tanah kebun yang aku punya,"


Makwo menunjuk petak-petak kebun kangkung miliknya, disisi-sisi tanah nya menjulang pohon-pohon kelapa yang lumayan rapat, dan tepat dipertengahan ada sebidang tanah kosong, tanah itulah yang dimaksud Makwo untuk Mar dan As buat pondok tempat tinggal.


"Itu tanah kosong, bisa kalian buat rumah kayu untuk kalian tinggali, atau kalau kalian mau disebelah sana sudah ada pondok, tapi kecil"


Makwo menunjuk sebuah rumah kayu tinggi berukurang sekitar 2 meter kali 2 meter.


"Sepertinya kalau yang itu tidak muat buat kami sekeluarga makwo,"


Jawab Mar.


"Ya sudah terserah kalian saja"


Setelah sepakat, Mereka pulang dari kebun dan rumah Makwo Bastari.


Sepanjang perjalanan, Mar dan As berkompromi tentang membuat rumah kayu sederhana yg mereka inginkan.


"Ma..Apa simpanan kita cukup?"


Tanya As,


"kita coba dulu ya Pa, siapa tau Anak-anak ada tambahannya"


As mengangguk.


Malamnya, Mar menghitung Uang simpanan mereka yang ia simpan di bawah lipatan pakaian didalam lemari, ditambah uang dari Vin dan Eni.


"Pa...Adanya segini"


Mar menyodorkan sejumlah Uang pada As dan As menerimanya.


"Minggu depan Aku akan beli bahan dan Aku akan mulai langsung kerjakan"


Mar tersenyum.


Minggu berganti,


Pagi-pagi sekali As sudah berangkat ke Toko kayu untuk membeli kayu bekas sortiran, dengan begitu ia akan mendapat harga murah dan bisa menghemat, lanjut ketoko bangunan untuk membeli segala macam barang yang diperlukan, semua ia kerjakan sendiri, tak sulit bagi seorang As yang memang sudah berpengalaman menjadi tukang bangunan untuk membuat rumah kayu mungil yang sederhana.


Sementara Mar, sangat antusias menyiapkan segala keperluan suaminya selama di kebun, mulai dari kue pisang kesenangan As, kopi, air minum serta bekal makan siang untuk As makan disana.


Sebelum berangkat kerja, ia datang menemui As dengan membawa tas besar berisi semua kebutuhan As.


Mar tersenyum ketika tiba disana melihat tiang rumah yang sudah tegak berdiri.


Sementara As, tengah duduk bersandar dibawah pohon kelapa menikmati sebatang rokoknya.


"Ma, kamu gak kerja?"


Tanya As.


"Kerja Pa, cuma inikan minggu Aku sudah ijin datang agak siang,"


"Ma, bagaimana Kalau kamu berhenti saja kerja, kita urus saja kebun dan lahan ini, Aku sudah dapat ide usaha apa setelah pindah kesini"


"Iya Pa, mungkin setelah pindah kesini Aku juga berpikir akan berhenti".


Jawab Mar yang disambut senyum lebar dari suaminya.


"Ya sudah, Aku berangkat kerja dulu ya Pa, nanti pulang Aku mampir lagi kesini."

__ADS_1


As mengangguk, lalu melanjutkan kembali kerjanya setelah Mar berlalu dari hadapannya.


Bersambung**


__ADS_2