Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 83 Primadona baru


__ADS_3

Hari yang ditunggu akhirnya tiba, dimana As sudah tak sabar menantikan kedatangan sicantik Putri, cucu pertama As dan Mar.


Semua anggota rumah begitu antusias, tidak terkecuali Sari, yang rela tidak jajan demi mengumpulkan uang hanya untuk membelikan permen coklat yang harganya tidak seberapa sebagai tanda cinta kasihnya pada sang keponakan.


Mar menyiapkan sepasang bantal mungil lengkap dengan sarung bermotif boneka dengan aksen renda-renda hasil jahitan tangannya disetiap malam sebelum ia tidur, semua demi agar si Cucu bisa tidur nyenyak di pondok mungilnya.


As sudah menyusun kegiatan yang akan dihabiskan bersama Cucunya selama berada dirumahnya, mulai dari mengajak Cucunya berkeliling melihat ikan, memberi makan ikan Ayam dan mengajarkan cara berkebun.


Eni dan win tak akan menyia-nyikan kesempatan untuk menyenangkan keponakannya, mengajak jalan-jalan dan makan es krim.


Sementara Hen Akan siap melayani apa saja kemauan keponakan semata wayangnya, mulai dari mengambilkan jambu, memetikkan kelapa muda hingga rela menggendong kesana kemari.


Ah...semua sudah tidak sabar dengan kedatangan ratu kecil dikediaman mereka. Bagi mereka, untuk menunggu sore sama halnya seperti sedang menunggu hari raya, semua tak sabar dan deg degan, dimana kedatangan kereta dari daerah tempat tinggal Ana dan suaminya akan tiba pada pukul 18.00, itu artinya selepas magrib Ana dan keluarganya akan sampai di pondok mungil.


Waktu yang sangat ditunggu-tunggu akhirnya tiba,


Ketika sebuah teriakan nyaring dari bocah 2 tahun itu memenuhi ruangan, berlari masuk menyapa seisi ruangan.


Sambut riuh dari keluarga bergantian memeluk dan mencium sang primadona baru di keluarga mereka.


Bocah kecil menggemaskan dengan rambut model poni lebat, berwajah oriental berkulit putih bening seolah tengah menyihir mata seisi ruangan. Sungguh bocah yang sangat menggemaskan.

__ADS_1


Sungguh suasana hangat tengah menyelimuti rumah beserta seluruh penghuni pondok kecil ini.


Tak berapa lama dari kedatangan Ana dan keluarganya, Mar menghampiri untuk mengajak makan Anak-anak, suami beserta cucunya.


Mar sudah menyiapkan hidangan makan malam sederhana dari hasil kebun dan tambak mereka, tak lupa panganan kegemaran Ana turut serta memenuhi hidangan malam itu.


Suasana Makan malam yang sangat berbeda dari biasanya, nikmat yang berlipat-lipat ditambah celoteh putri disela-sela suapannya menambah ramai suasana malam itu.


Kebahagian hakiki tengah tergambar jelas dari sebuah keluarga sederhana, bahwa tak semua kebahagian itu harus mewah dan tak semua yang mewah itu tanda sebuah kebahagiaan.


Mar dan As beserta Penghuni rumah lainnya tak melewatkan sedikit saja waktu tanpa bermain dan bermanja dengan bocah imut itu, semua mereka lewati bersama-sama bahkan 2 malam mereka rela tidur berhimpit dan berdesakan demi bisa kumpul bersama, dalam cerita canda dan tawa.


2 hari sepertinya begitu sangat singkat, ketika Ana beserta anak dan suaminya harus kembali pulang meninggalkan rindu yang masih tergurat dihati Mar dan As.


Mar memeluk Putri serta tak henti menciumi seluruh bagian wajahnya, seperti tak rela ditinggalkan, begitupun dengan As yang terpekur disudut ruangan menutupi kesedihannya.


"Ma...Pa..Kami pamit pulang, lain kali kami akan datang lagi berkunjung"


Pamit Ana pada Mar.


"Ana...Kami masih sangat rindu, tak bisakah kalian tinggal disini lebih lama lagi, Mama masih ingin memeluk Putri.."

__ADS_1


"Maaf ya Ma, lain kali kami akan pulang lebih lama, atau jika Mama tidak sibuk, datanglah kerumah untuk menginap"


Ujar Ana mengusap pundak Mar yang bergetar karena menangis.


"Iya..Nanti, Mama pasti datang"


"Mama sehat-sehat ya....jangan banyak pikiran..., Papa juga, jaga pola makan, jangan banyak merokok"


Ana bergantian memeluk As yang matanya mulai berkaca-kaca.


"Hen...Adek... sekolah yang bener ya, pintar-pintar sekolahnya, liburan sekolah, main kerumah Ayuk Ana..."


Ana memeluk kedua Adiknya, sementara Eni diam-diam sedang mengusap matanya yang basah begitupun dengan Win yang memilih bersembunyi dari rasa sedih.


Sari mulai terisak, begitupun dengan Hen yang matanya memerah.


"Ya sudah, Ana pamit ya Ma...semoga kita selalu sehat, Agar kita bisa berkumpul lagi seperti sekarang."


Kepulangan Ana diantar Mar dan As sampai ke depan pekarangan, Mar tak banyak bicara lagi, hanya diam memendam rasa rindu yang mungkin akan bertambah besar setelah detik ini berlalu, Dia tau setelah ini..nafsu makannya akan menghilang mungkin untuk 2 hari kedepan, Namun Mar akan selalu mendoakan dimanapun Anak-anaknya berada agar selalu diberikan kesehatan dan keberkahan.


Setelah kepulangan Ana beserta Anak dan suaminya, barang satu-satunya yang akan menjadi rebutan dirumah adalah bantal mungil jahitan Mar, bekas dipakai si kecil Putri, semua akan memeluk dan menciumi aroma wangi bayi yang tertinggal disana sebagai pelepas rindu.

__ADS_1


...****************...


Bersambung***


__ADS_2