
As pulang kerumah membawa kecap yang ingin dibeli Mar.
"Gimana Pa...Pak Kapitan masih ada??"
Tanya Mar menerima kecap.
"Iya, malah tadi Dia kikuk sekali waktu Aku tanya ngapain disana"
Jawab As duduk menunggu Nasi goreng buatan Mar.
"Dia itu bikin Aku jadi gak nyaman Pa"
"Sabar Ya Ma... nanti kalau ada rejeki di tempat kerja yang lain, Aku akan bawa kalian pindah dari sini"
Ujar As.
Setelah sarapan,
As mandi, Ia berniat beristirahat sebentar sebelum pergi ke sungai mencari ikan.
Sementara Mar mulai sibuk mengurus tugas rumah tangga serta keempat buah hatinya.
...----------------...
Malam-malam berlanjut,
Mar mulai terbiasa ditinggal As untuk bekerja saat malam hari.
Dia begitu patuh pada pesan As untuk tidak keluar saat As tak ada dirumah, begitupun dengan pesan untuk tidak menerima tamu siapapun saat As sedang tak ada dirumah.
Baru saja sekitar setengah jam As meninggalkan rumah, Mar mendengar langkah kaki di depan rumahnya, melalui celah dinding Mar mengintip.
Jantungnya berdegup kencang, Mar terbelalak sembari menutup mulut dengan telapak tangannya begitu menyadari seseorang di depan pintu rumahnya adalah Kapitan.
Mar segera mengajak semua buah hatinya masuk kedalam kamar.
Sementara Mar sendiri kembali bersiap di depan pintu dengan gagang sapu ditangan untuk jaga-jaga.
Tok...Tok..Tok...!!
Ketukan pelan pada pintu semakin membuat Mar berkeringat.
"Siapa??!"
Tanya Mar berpura-pura tidak tahu.
"Aku Dek"
Jawab Kapitan.
"Maaf siapa ya??"
Ulang Mar.
"Aku.. Pak Kapitan..!"
__ADS_1
"Maaf Pak.. Suamiku sudah berangkat dari tadi, Bapak cari saja ditempat Dia jaga"
"Oh..begitu ya,, ehm... Gini Dek, buka sebentar pintu Aku ada perlu"
"Maaf Pak, Aku tidak bisa menerima tamu saat Suamiku tidak berada dirumah, apalagi ini sudah malam"
Tolak Mar dengan sopan.
"Sebaiknya Bapak pulang saja..Aku takut nanti terjadi fitnah"
Mar mengintip di sela pintu, tak sampai beberapa menit, Kapitan akhirnya meninggalkan rumah Mar.
"Huuffthh"
Mas bernafas lega, ia kembali masuk ke dalam kamar, dan merebahkan diri diantara buah hatinya.
Mar tak sabar menunggu pagi, ia ingin segera menceritakan kejadian barusan dengan As suaminya.
Menjelang Subuh, Mar sudah terjaga ia harus buru-buru mengerjakan tugas-tugas rumahnya sebelum As kembali, terutama membuat sarapan pagi.
Semenjak As kerja Malam, Mar menyiapkan sarapan pagi lebih awal, agar sepulangnya As dari bekerja bisa langsung sarapan dan segera beristirahat. Mar sangat memperhatikan kesehatan suaminya, bahkan terkadang lupa untuk memperhatikan kesehatannya sendiri, As sering kali berpikir bahwa ialah satu-satunya laki-laki beruntung yang bisa mendapatkan wanita seperti Mar, lembut dan santun bertutur kata, jangankan untuk bicara kasar, bicara keraspun tak pernah ia lakukan. Penurut dan tak pernah membantah, penyayang, pintar memasak, gesit mengurus rumah tangga, tak pernah mengeluh dalam susah, mau berjuang bersama..serta tak banyak menuntut.
As benar-benar menyayangi Mar, bahkan As tak pernah sekalipun melihat Mar cemberut ketika marah, Mar selalu menampangkan wajah termanisnya untuk As. Hal itulah yang membuat As benar-benar kagum dan makin cinta terhadap Mar.
"Ahh... selalu saja..., setiap kali mau masak pasti Ada yang habis dan Aku selalu lupa untuk membeli nya ketika siang!!"
Gerutu Mar ketika melihat toples garam yang kosong.
Mar membuka pintu, langit masih remang-remang, padahal sudah hampir setengah enam pagi, mungkin gara-gara diluar hujan rintik-rintik, langit jadi lebih mendung.
Hal yang sangat dibenci Mar adalah harus kembali berjumpa Pak Kapitan di tengah jalan yang masih sepi.
"Dek.... Mau kewarung ya, Bapak temani ya..!"
Sapa Kapitan yang tidak diindahkan Mar yang terus saja berjalan berpura-pura tidak melihat dan mendengar.
Namun Mar kalah cepat, tiba-tiba saja Kapitan sudah berada disampingnya dan ikut berada satu payung bersamanya.
"Dek..Aku menumpang payung ya"
Ujar Kapitan yang mengagetkan Mar hingga reflek mendorong Kapitan menjauh darinya.
"Ayolah..jangan terlalu sombong sama Aku"
Kapitan kembali mendekat dan mentoel bahu Mar.
Hal itu tentu saja membuat Mar tidak senang dan sangat marah.
"Maaf pak,, tolong jaga sikap Bapak terhadap Aku!!"
Mar menepis tangan Kapitan yang hendak mengulangi tindakan mentoel bahu Mar.
"Ehm...Maaf.. Aku tidak bermaksud..."
Kapitan mendekati Mar hendak memegang tangan Mar, namun dengan cepat Mar menghindar.
__ADS_1
"Tolong Bapak jangan kurang ajar!!"
Dari kejauhan, As sedang berjalan pulang dan melihat kejadian tersebut, sejenak termangu kemudian berlari cepat kearah Mar.
"Ma....!"
Teriak As yang membuat kaget Kapitan.
Mar segera mendekat kearah As.
"Ada apa ini, Ma..kenapa kau terlihat pucat dan ketakutan??"
As memeluk tubuh Mar yang gemetaran.
Mar tak menjawab hanya tatapan kemarahan yang menyorot tajam kearah Kapitan, As mengerti jika Istrinya baru saja diganggu oleh Bosnya.
"Pak... Aku minta maaf sebelumnya, Aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi, tapi Aku yakin bahwa Istriku sedang merasakan ketakutan terhadap kehadiran Bapak!"
"As...Aku... Aku...Ehm..."
Kspitan menjawab gugup.
"Aku menghormati Bapak sebagai Bos.. tapi tolong, Bapak hargai Aku dan istriku dengan tidak berlaku hal yang membuat Kami tidak nyaman!!"
"Aku tidak melakukan apa-apa As.."
"Ya..Aku percaya...tapi tolong..jangan pernah Bapak ganggu lagi Istriku...Apapun itu, termasuk membuatnya ketakutan, dan apabila Aku mendapat laporan sekali lagi, jangan salahkan Aku jika Aku berbuat hal kasar terhadap Bapak!!"
Gertak As.
Kapitan terdiam didepan pasangan Suami istri yang tengah melekat mesra, As merangkul pundak Mar berlalu meninggalkan Kapitan menuju jalan pulang kerumah, diiringi tatapan malu dari Kapitan.
"Ah... Sial..benar-benar memalukan! Bahkan Aku terlihat seperti orang bodoh!!"
Gerutu Kapitan mengusap mukanya kasar.
Sesampainya dirumah, Mar yang masih gemetaran duduk bersandar, As mengambilkannya segelas air putih.
"Ini Ma...minum dulu"
"Makasih Pa,, maafkan Aku, kamu jadi belum bisa sarapan."
"Sudahlah, tak usah dipikirkan.. kita bisa makan mi instankan?"
As memeluk Mar yang menyandarkan kepalanya pada pundak As.
"Aku yang harusnya minta maaf Ma... tak bisa menjaga kamu, dan tak bisa memberimu rasa Aman"
As menunduk.
"Bukan salah kamu Pa..."
Mar mengusap pipi As lembut selembut hatinya mencintai As.
Bersambung***
__ADS_1