
Mar duduk di tepi tempat tidur, wajahnya gusar, beberapa kali terlihat memegangi perutnya.
As terbangun dari tidurnya dan menyadari kehadiran Mar disisinya.
"Ma...kenapa? dari mana, kok pucat gitu?"
Tanya As beranjak dari tidurnya.
Baru saja Mar ingin menjawab, namun rasa mual membuatnya segera beranjak dan berlari kembali ke belakang.
As yang mendapati istrinya berlari, segera menyusul kebelakang.
"Ma...kamu muntah??"
Tanya As memijat lembut punggung Mar.
Mar mengangguk, sambil terus memuntahkan cairan dari perutnya, keringat dingin membanjiri wajah dan tubuhnya.
As termangu beberapa saat, kemudian tersenyum.
"Ma...Win akan dapat Adik ya??"
Ujar As sumringah dengan tangan tetap menggosok belakang Mar.
Mendengar perkataan As barusan, Mar berdiri menatap As dengan tatapan tak yakin.
"Gak Pa... Jangan sampe,, Win masih terlalu kecil, lagian kondisi kita sedang tidak memungkinkan untuk punya bayi lagi"
Mar gelisah berkali-kali Dia menggeleng tak percaya.
"Ma...Anak itu rejeki... Kita tidak boleh menolak jika memang Allah memberinya itu artinya Allah percaya terhadap kita"
As memeluk Mar yang terlihat sangat gelisah.
"Tapi Pa...."
"Sudah lah, kita terima,, lagian memang sejak awal menikah kita sudah berkomitmen tidak akan pernah menunda atau mencegah kehamilan kamu kan?! bahkan kita pernah berkeinginan punya setengah lusin Anak..hehehe,, dan kini Tuhan mengabulkan,,"
Mar menunduk,
Memang sejak menikah baik As maupun Mar tidak pernah ingin mengenal kontrasepsi pencegah kehamilan jenis apapun, mereka lebih berserah seberapa Tuhan mau memberi mereka keturunan, mereka akan menerima.
"Nanti siang kita ke Bidan desa ya... Kita periksa, Aku berharap hamil kali ini kita diberi Anak laki-laki lagi agar Win punya teman."
As menuntun Mar kembali ke kamar.
"Mama..."
Rengek Win yang baru saja terbangun.
"Hai sayang......sebentar lagi...win jadi kakak ya Nak..."
As mengangkat tubuh Win dan memeluk manja putra kesayangannya.
__ADS_1
"Kita mau punya Adek lagi ya Ma....??"
Tanya Ana yang mendengar ucapan As barusan.
"Ehm... Belum tau sayang,, nanti siang baru mau di periksa..."
"Yeaayyy....Semoga aja betulan ya Ma.... Ana suka biar rumah kita makin rame..."
Seru Ana yang membuat Kedua Adik perempuannya turut terjaga.
Menjelang siang,
As baru saja kembali dari menangkap ikan.
"Ma..... Lihat, masih di dalam perut aja Anak ini sudah membawa rejeki buat kita, tadi Aku dapat ikan yang melimpah, ini rejeki buat kamu periksa nanti."
As menyerahkan gulungan uang hasil menjual ikan pada Mar.
Selepas makan siang, As mengantar Mar ditemani semua Anak-Anaknya pergi ke bidan desa untuk periksa.
Dan benar saja..
"Selamat ya Pak...Istri bapak sedang mengandung dan ini sudah masuk dibulan ke Tiga."
"Alhamdulillah..... kamu hamil lagi Ma..."
As mengusap mukanya, dan mengecup lembut kening Istrinya.
"Ana akan punya empat orang Adik...Yeaayyyy"
Seru Ana melompat kegirangan.
Vina dan Eni turut melompat dan berseru tak kalah gembira.
Mereka pulang kerumah dengan perasaan bahagia kurang lebih Setengah tahun lagi rumah mereka Akan ramai suara tangis bayi kembali.
"Kamu hebat Ma... Kamu sungguh wanita yang kuat,,tidak banyak perempuan yang dikaruniakan rahim hebat seperti kamu"
Puji As menggandeng mesra tangan Mar.
Mar hanya diam, menatap raut bahagia yang terpancar dari wajah laki-laki terhebat di sampingnya.
...****************...
"Pa, nanti ikannya jangan dijual semua ya... sisakan agak banyak, Aku sedang kepingin Makan Pempek,"
Ujar Mar begitu As bersiap pergi kesungai menangkap ikan.
"Kamu ngidam pempek Ma?"
Tanya As mengusap perut Mar yang mulai terlihat sedikit membuncit.
"Gak tau Pa... tapi dari semalam,, Aku teringin sekali makan pempek"
__ADS_1
Jawab Mar.
"Sayangnya Papa kepingin pempek ya Nak ya??"
As membungkuk dan berbicara pada perut Mar kemudian menciumnya.
"Doain dapat banyak ikan ya nak...., Papa pergi dulu ya...jangan nakal kasian Mama"
As pergi dengan iringan lambaian tangan dan teriakan kecil dari keempat Anaknya.
"Dadah Papaaaa......!!!!!"
Dirumah, Mar sudah menyiapkan bahan lain untuk membuat Pempek, lidahnya sudah tidak sabar ingin mengunyah cemilan khas Kota Palembang tersebut.
Jika masih tinggal di Kota, tentu ia tak sulit untuk mendapatkan makanan ini, berhubung di kampung ini tak ada yang menjual, Mar harus membuatnya sendiri, kalaupun ada, tentu ia akan berpikir seratus kali untuk membelinya dengan kondisi keuangan yang terbatas seperti sekarang ini.
Mar tiba-tiba saja mengingat semua yang telah terjadi, andai musibah itu tak pernah terjadi, mungkin saat ini mereka masih hidup enak dirumah mereka dengan keuangan yang stabil, tabungan serta simpanan yang siap menuntun Anak-Anak mereka hingga sekolah tinggi. Mungkin juga kehamilan nya kali ini tak terlalu meresahkan, ia akan menghadapi kelahiran dengan santai, tanpa perlu takut tak ada biaya, Anak-Anak mereka juga tentunya akan sangat bahagia dengan berbagai macam mainan bagus, pakaian indah bukan seperti sekarang, pakaian yang hanya bisa dihitung dengan jari, mainan buatan yang memanfaatkan dari barang bekas.
Seketika Air matanya meleleh pelan, jangankan untuk semua itu,, untuk makan saja mereka masih merangkak mengais keberuntungan setiap hari.
"Ya Allah...bagaimana nasib Anak-Anakku, Kuserahkan pada mu yang Maha segalanya"
Ujar Mar dalam hati sembari mengusap wajahnya yang terasa basah.
"Mama nangis??"
Vin Dan Eni tiba-tiba datang dihadapannya mengusap pipi Mar.
"Eh.. Sayang, enggak kok...Mama kelilipan debu sayang. Ehm...sudah selesai mainnya?? diberesin ya..bentar lagi Papa sama Ayuk Ana pulang, terus kita makan siang."
Mar mengusap kepala Vin dan Eni yang bergegas membereskan Mainan mereka.
Mar berjalan cepat menuju kamar begitu mendengar tangis Win yang baru saja bangun dari tidur nya.
"Uhhh.. jagoan Mama sudah bangun,, "
Mar menggendong Win keluar kamar, menunggu Kepulangan Ana dari sekolah dan As dari pasar.
"Assalamualaikum....."
Ana menyapa dan memberi salam ketika tiba di depan pintu rumah mereka.
"Walaikum salam..."
Jawab Mar beserta kedua putrinya.
Tak berapa lama dari kepulangan Ana, As juga pulang kerumah,
Siang yang penuh kehangatan bagi keluarga mereka meski tengah dalam keadaan terpuruk namun cinta itu tak pernah padam,
Dengan menu seadanya, mereka makan dengan lahap dan bersemangat, sesekali diselingi celoteh dari Anak-Anak mereka yang menghadirkan canda tawa di dalam rumah tua yang penuh dengan cinta.
Bersambung***
__ADS_1