Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 46 Bos genit


__ADS_3

Selepas maghrib, As bersiap berangkat kerja perdana di kampung ini.


"Ma... Aku berangkat kerja ya... Kamu dirumah hati-hati, jangan lupa segera kunci pintu begitu Aku pergi,, jangan pernah buka pintu kalau ada yang ngetok ya..."


Ujar As yang sedikit khawatir meninggalkan Mar dirumah.


"Terus kalau kamu yang ngetok gimana Pa?"


Tanya Mar tersenyum.


"Oh iya ya... Ehm..gini aja, kalau Aku yang pulang, Aku akan kasih kode"


Jawab As sembari berpikir keras.


"Kode??"


"Iya... Kode,, gimana kalau lampu senter yang Aku mainkan ke arah lubang angin? jadi kalau ada yang ngetok manggil-manggil tapi gak pakai kode senter,, jangan dibuka ya"


"Ehm... iya Aku akan selalu ingat itu."


Maryati mencium punggung tangan As, dibalas kecupan hangat dikening dan di perut buncitnya.


As berlalu meninggalkan Mar yang mengantar hingga depan pintu.


Begitu As telah berlalu dari hadapannya, segera Mar menutup rapat pintu rumahnya, memastikan semua jendela terkunci dengan benar.


Keempat Anaknya masih bermain-main di ruang tengah yang melompong. Mar memilih duduk bersandar di sudut ruangan memperhatikan Anak-anaknya bermain termasuk si kecil Win yang sedang senang-senangnya berceloteh tentang apa saja.


Tiba-tiba rasa rindu akan kedua orang tuanya menyusup pelan bagai dinginnya angin malam.


"Mak... Bak... sedang apa kalian sekarang? bagaimana kabar kalian? Apa kalian juga sedang mengingat kami disini..??"


Batin Mar bertanya sendiri, beriring dengan jatuhnya air mata yang dengan cepat membasahi pipinya.


Mar tersadar ketika tangis Win pecah,


"Ya Allah...kenapa Nak?"


Mar buru-buru menghampiri Win yang memegang kepalanya.


"Huhuhu....Atit Ma...toktok ni Ma...!"


"Uh... Sayang...,, sakit ya? kepentok ya nak? sini sayang.. Mama gosok!!"


Mar segera memeluk Win dan mengusap jidatnya yang sedikit merah.

__ADS_1


"Ana...udah malam, yuk ajak Adek-Adeknya bobok Nak...!"


Perintah Mar segera di tanggapi anggukan Manis dari Ana.


Seperti seorang komandan barisan Ana mengatur Adik-adiknya untuk berbaris rapi berjalan masuk kedalam kamar, tak butuh waktu lama hanya beberapa menit saja, semua sudah di posisi masing masing dan terlelap bahagia.


Dan ketika Mar menyusul Masuk ke dalam kamar, hatinya begitu damai dan tentram melihat ketiga Putrinya tertidur pulas dengan senyuman.


...****************...


Hampir 2 minggu sudah As bekerja sebagai penjaga malam di depot kayu milik Pak Kapitan, seorang Duda tua yang terkenal mata keranjang, begitulah informasi yang didapat Mar dari orang-orang yang mengenal Kapitan.


Hal tersebut sebenarnya sedikit membuat Mar resah dan takut apabila As sedang tidak berada dirumah, namun Mar percaya, bahwa orang baik akan selalu bertemu dengan orang baik.


Hampir setiap hari semenjak As bekerja dengannya, Kapitan selalu saja mondar mandir didepan rumah Mar dengan berbagai macam alasan, yang bisa dikatakan alasan tersebut tidak masuk akal.


Seperti Hari ini,


Pagi buta ketika Mar baru saja hendak menuju warung untuk membeli kecap untuk membuat nasi goreng sarapan keluarganya.


"Dek... mau kemana?? kok pagi-pagi sekali?"


Sapaan yang membuat bulu kuduk Mar bergidik ngeri.


Mar menoleh Asal suara yang masih asing ditelinganya.


Jantungnya memompa lebih cepat, ketika Bos Kapitan melangkah mendekatinya.


"Ehm, mau ke warung Pak"


Jawab Mar mempercepat langkahnya. Dan sialnya, Bos Kapitan setengah berlari menjajari langkahnya.


"Kok buru-buru...? Kita bareng ya...Aku juga mau ke warung.


Sedetik Mar memejamkan matanya, kemudian putar balik,


"Loh... kok??"


Tanya Kapitan heran menyaksikan Mar putar haluan.


"Maaf Pak... Aku ketinggalan dompet"


Jawab Mar segera berlari pulang.


"Hei... ya sudah, pakai saja uangku...Heii...Dek...!

__ADS_1


Teriak Kapitan yang tidak dipedulikan Mar yang semakin menjauh meninggalkannya.


"Waduhh... Bini orang,, manisnya...Anak boleh empat,,, tapi penampilan oke,, meski lagi hamil,, malah kelihatan makin top"


Oceh Kapitan sendiri sembari menggeleng-menggelengkan kepalanya kagum.


"Huh... dasar Bandot Tua!! "


Gerutu Mar.


"Loh..Ma kenapa kok ngomel-ngomel, trus kenapa gak jadi ke warungnya??"


Tanya As segera menghampiri Mar.


"Gak jadi Pa... Takut Aku...!"


"Takut?? takut apa?!"


Tanya As bingung.


"Itu disana ada Bos kamu, ngeri ah... matanya udah kayak ngelihat Mangsa"


"Siapa?? Pak Kapitan??"


Mar mengangguk,


"Pa..kamu aja yang kewarung ya...Aku takut"


Mar menyerahkan selembar uang pada As.


As Menerimanya dan segera keluar.


Sesampai di depan warung,


As melihat Kapitan tengah duduk memandang kearah jalan yang ditempuh As.


"Bos... lagi ngapain disini?


Tanya As sopan.


"Oh... Iya..baru beli rokok, ini lagi nunggu teman, kamu sendiri ngapain,,perasaan tadi istri kamu yang ke warung??"


seloroh Kapitan.


"Oh itu...tadi dia sakit perut makanya balik lagi."

__ADS_1


Jawab As berbohong.


Bersambung***


__ADS_2