Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 48 New Baby


__ADS_3

Sudah hampir seminggu ini, mar merasakan kram pada perutnya, kalau menurut perhitungannya sendiri, minggu ini memang sudah masuk di bulan ke sembilan kandungannya, jadi bukan tidak mungkin ia akan melahirkan dalam waktu dekat.


Di kehamilannya kali ini, Mar tidak pernah periksa lagi ke Bidan sejak pertama kali periksa dan dia dinyatakan hamil oleh Ibu Bidan.


Bukan tidak mau, hanya saja Mar memperhitungkan biaya yang akan dikeluarkannya untuk periksa lebih baik ia tabung persiapan melahirkan, karena ia sadar perekonomian keluarganya sedang morat marit.


Senja hari ini,


Mar baru saja selesai merapikan dapur mungilnya, sekaligus mencuci piring dan semua peralatan kotor bekas makan siang mereka, saat tiba-tiba perutnya terasa sangat mulas diiringi keringat yang tiba-tiba mengalir, sebagai seorang Ibu yang sudah 5 kali melahirkan dan memiliki 4 orang Anak, tentu saja tau dan yakin bahwa ini adalah tanda-tanda Akan segera melahirkan.


Mar melangkah kedepan dengan tertatih, ia duduk tenang sembari memperhatikan jarum jam dan mulai menghitung sakit pada perutnya setiap berapa menit sekali.


Setelah yakin, ia beranjak pelan menuju kamar dimana As tengah beristirahat.


Pada saat sedang berjalan, Mar merasakan sesuatu mengalir dari selangkangannya, Mar menunduk memastikan cairan apa yang mengalir,


"Darah...."


Ujarnya pelan.


"Pa... Bangun Pa...!! Sepertinya Aku mau melahirkan!"


Mar menepuk pelan pipi As.


As terjaga dan segera beranjak dari tempat tidur.


"Kau yakin Ma??"


Tanya As cemas.


"Iya, ini juga sudah ada tandanya"


Mar menunjuk bekas darah yang menempel pada betisnya.


"Ya Allah Ma... Ayo kita segera ke Bidan.."


As segera berlari ke sumur untuk mencuci muka, sementara Mar bersiap.


"Ana... Dirumah baik-baik ya nak, jaga adek-adek, Papa mau antar Mama ke Bidan."


As mengelus rambut hitam Ana.


"Win gimana Pa??!"


Tanya Ana dengan nada khawatir.


"Ehm.. Win biar Papa ajak aja ya, takut dia nangis nanti Ana kewalahan"


Mendengar penjelasan As, Ana mengangguk mengerti.


"Ma.. udah siap??"

__ADS_1


Tanya As, dengan menggendong Win, menemui Mar di dalam kamar.


Mar mengangguk, lalu menyerahkan satu buah tas perlengkapan Bayi.


Mereka berangkat ke Bidan selepas Magrib.


"Sayang... Mama pergi dulu ya... Doakan Mama ya Nak"


Pamit Mar kepada ketiga Putrinya yang mengantar sampai depan pintu.


"Ana... Segera kunci semua pintu dan jendela ya.. jangan buka pintu, kalau bukan Papa yang pulang."


Pesan As pada Anak sulungnya.


"Baik Pa...."


Jawab Ana tegas.


"Ma... Kamu masih kuat jalan kaki?"


Tanya As sedih.


Mar mengangguk.


As tak kuasa membendung kesedihannya, Andai kejadian itu tak pernah terjadi Ma.. mungkin kita sudah punya kendaraan sekarang, Mungkin kamu gak secapek ini.. Maafkan Aku Ma... Belum bisa membahagiakan Kamu seperti janjiku saat menikahimu."


"Pa... Kejadian yang sudah berlalu biarkanlah berlalu, jangan di ungkit untuk disesali, biarkan menjadi kenangan yang bisa buat kita lebih sabar dan ikhlas"


Mar mengusap lengan As.


As menatap sendu perempuan disampingnya yang setia mendampinginya dalam suka maupun duka.


"Aku gak apa-apa, kamu bisa lihat sendirikan Aku kuat.. Aku bisa.."


Ujar Mar meyakinkan suaminya.


As benar-benar salut pada cinta, kesetiaan dan perjuangan Mar dalam mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya.


Hampir 15 menit berjalan, akhirnya mereka tiba diujung kampung, sebuah klinik Bidan Desa yang sangat sederhana.


"Selamat malam Bu Bidan, Istri saya mau melahirkan!!"


Ujar As dengan tergesa-gesa pada Bidan yang sedang berjaga.


"Oh.. iya pak, tunggu sebentar..."


Dengan dibantu Dua asisten Bidan, Mar dibawa masuk ke dalam ruang bersalin. Sementara As, sedang menyelesaikan urusan data Mar di meja depan.


"Hoammmm!!"


Win menguap lebar, mata sipitnya semakin mengecil.

__ADS_1


"Jagoan Papa ngantuk ya...Bobok di gendong ya Nak. Maafkan Papa ya Nak, kamu jadi bobok di sini.."


As sedikit mengayun ayun tubuh gembul itu, tak sampai beberapa menit, Win sudah lelap dalam buaian As.


As memiringkan kepala Win hingga bersandar pada pundaknya.


Mar memang hebat dan luar biasa, selain diberi rahim yang sangat subur, ia juga di anugerahi kemudahan dalam proses melahirkan. Tak perlu menunggu waktu yang lama, hanya berselang satu jam dari kedatangan mereka ke klinik Bidan Desa, suara Tangisan Bayi yang sangat nyaring memecah ketegangan As yang sedari tadi mondar mandir di depan ruang bersalin,


Sebenarnya Bidan menyuruh As untuk masuk menemani Mar dalam proses melahirkan, namun As menolak, ia tidak berani menyaksikan proses melahirkan Istrinya. Selain itu juga, As juga tengah menggendong Win.


Klek...!!!


Pintu ruang persalinan terbuka,


"Pak Asmawi, selamat Bayinya sudah lahir Laki-laki sehat dan semua normal."


Ujar Bidan pada As yang berdiri di ambang pintu.


Raut bahagia tak dapat dielakkan dari wajah As,


Berkali-kali ia mengucap syukur, sesekali terlihat ia mencium Win putranya yang tengah tertidur.


"Apa boleh saya melihatnya Bu Bidan?"


"Silahkan Pak..!"


Bidan mempersilahkan As masuk.


Sampai di dalam kamar, As menggulingkan Win di samping Mar, sementara ia menggendong Bayi laki-laki keduanya, sembari mengadzaninya.


Setelah selesai, As kembali menaruh Bayi mungil itu kedalam Box di samping ranjang Mar.


Tatapannya beralih pada sosok perempuan yang masih tergolek lemas di atas tempat tidur dengan keringat yang masih membasahi tubuhnya.


"Terimakasih Ma... !!! Terimakasih atas perjuangan hebat kamu...!!"


As mengusap kening Mar yang basah oleh keringat, berkali-kali As mencium kening itu, air matanya mengalir pelan, merembes perlahan mengingat semua cinta kasih dan perjuangan Mar untuknya dan Anak-Anaknya.


Mar mengangguk dan terharu melihat cinta yang begitu besar dari tatap mata As untuknya.


"Pa... Ini sudah malam, sebaiknya kamu pulang kasian Anak-anak dirumah.. besok mungkin Aku sudah bisa pulang."


Mar mengusap matanya yang basah.


"Iya Ma... cepat pulih ya Ma.. cepat gagah.. Aku mencintai kamu Ma...sangat...sangat mencintaimu"


As memeluk Mar sekali lagi dan mengecup bibir Mar lembut.


Sebelum As meninggalkan klinik, Mar berkali-kali menciumi Putranya Win yang tengah tertidur pulas.


"Aku nitip Anak-Anak ya Pa...."

__ADS_1


As mengangguk, kemudian mengangkat tubuh balita gembul yang tengah tergolek disamping Mar lalu pamit meninggalkan Mar.


Bersambung***


__ADS_2