Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 75 Terus berjuang


__ADS_3

"Oh Iya.... ngomong-ngomong siapa nama Adek bayi Ma...?"


Tanya Ana membuat suasana hening seketika.


"Iya...ya... Mama sampe lupa nanya,"


Jawab Mar menatap As.


Sementara As tersenyum simpul,


"Sabar.. Papa sudah siapin nama cantik untuk Adek Bayi...tapi sabar ya ..Papa mau mandi dulu...hehhe"


As beranjak meninggalkan ruang tamu, menyisakan penasaran dan tanda tanya dihati Anak-anak dan Istrinya.


"Huuuu... Papa....bikin penasaran!" Hen mendengus sambil melipat tangan didada.


"Hahhaha...Sabar ya......sayang, sementara nunggu Papa ngumumin nama, panggil adek bayi nya, adek montok aja gimana??"


Mar menenangkan Hen.


Hen hanya membalas dengan lengosan muka yang kembali ia tekut menandakan bahwa ia sedang merajuk.


Malam ini, semua tidur berkumpul jadi satu di ruang tengah mengelilingi Bayi montok yang baru hadir di tengah-tengah keluarga mereka.


"Pa...Ayo dong Pa....umumin nama Adek..!"


Pinta Eni ketika nampak As tengah bersiap bergabung diruang keluarga.


"Oh iya... Papa sampe lupa nih, jadi nama si bayi montok ini Sari, Adek Sari."


As mencium pipi gembul Baby Sari berkali-kali.


Hidup yang sulit, dengan ekonomi pas-pasan namun tak di pungkiri jika Anak adalah sumber kebahagian Mar dan As, memiliki 6 orang Anak dengan kondisi keuangan yang tidak menentu bukanlah suatu hal yang mudah, namun Mar maupun As tak mau menyerah, terlebih Mar yang merelakan hari-hatinya turut serta membanting tulang demi tercukupinya segala kebutuhan rumah tangga mereka, tak ada rasa malu baginya untuk melakoni pekerjaannya sebagai buruh cuci, yang terpenting baginya adalah semua kebutuhan anak-anaknya tercukupi meski tidak semuanya bisa ia penuhi.


Sedang As, bukanlah keinginannya membiarkan Istrinya turut lelah dalam mencari nafkah, namun keadaanlah yang membuat semua harus terjadi.


Sebagai kuli bangunan, tak selamanya bisa menjamin perekonomian keluarganya, ini yang terkadang membuatnya malu dan merasa rendah diri, belum lagi omongan tetangga yang terkadang sampai ditelinganya.


...****************...


Waktu kian cepat berlalu, tepat hari ini Baby Sari berusia 6 tahun, ia tumbuh menjadi Anak yang cerdas, mandiri dan pemberani.


Sementara kedua putri Mar dan As yaitu Ana dan Vin sudah lulus sekolah dan kini sudah bekerja, setidaknya sudah bisa sedikit meringankan himpitan ekonomi dikeluarganya.

__ADS_1


Namun Mar bukanlah ibu dengan tipe peminta pada anak-anaknya, ia lebih memilih untuk tidak membebani anak-anaknya meski ia tengah kesulitan bahkan cenderung menutupi kesulitannya demi tak ingin anak-anaknya kepikiran atas masalahnya.


Ia sangat bersyukur, sudah sebulan ini As tak putus kerja, itu artinya setiap minggu ia bisa menerima gaji As yang digunakan untuk semua kebutuhan makan dan biaya ketiga Anaknya yang masih bersekolah.


Sibungsu Sari harusnya tahun ini masuk sekolah, namun semua urung terjadi karena Mar terlambat memberikan formulir pendaftaran pada sekolah yang dituju, akhirnya Sari harus menunggu tahun depan.


Meski belum bersekolah, Sari sudah lancar membaca, dan berhitung,, semua dikarenakan sejak umur 5 tahun, Eni setiap hari mengajarinya banyak hal, Eni adalah saudara perempuan yang paling dekat dengan sibungsu Sari mungkin karena hanya Eni yang setiap hari bersamanya, maklum Mar sibuk bekerja sebagai pembantu, kedua kakak perempuannya yang lain sibuk bekerja, sementara Eni lah satu-satunya yang mengasuh menggantikan peran Mar sebagai Ibu, dan juga mencakup sebagai Guru les privat buat Sari, hasilnya luar biasa, untuk Anak-anak sesusianya membaca masih dieja, sedangkan Sari sudah lancar membaca, menulis bahkan berhitung.


Sikap Eni yang lembut dan sangat keibuan membuat Sari lengket dan tak ingin lepas dari Eni, bahkan sejak Eni mengenal istilah pacaran, Sari selalu turut serta disetiap kencannya. Eni tak pernah malu mengajak Sibungsu Sari disetiap kegiatannya bersama teman bahkan pacarnya.


Ditempat lain,


Mar yang baru saja selesai dengan rutinitas hariannya sebagai buruh cuci tengah bersiap untuk pulang.


Ditengah perjalanan, Mar berjumpa Minah, salah satu temannya yang juga berprofesi yang sama dengannya.


"Mar...Apa kabar?"


"Baik Minah, kau juga apa kabar lama sekali kita gak jumpa ya... Min?"


"Iya Mar, Aku baik. Oh ya Mar, kamu ada kenalan gak orang yang mau kerja jadi pembantu seharian dari pukul 8 pagi sampai pukul 4 atau setengah lima sore?"


Tanya Minah menatap serius pada Mar.


Tanya Mar.


"Buat gantiin Aku Mar, Aku mau pulang ke Jawa, Ibuku sakit"


"Ya ampun Min, semoga Ibumu cepat pulih ya, gimana Kalau Aku saja yang gantiin Min? Kebetulan Aku juga tidak betah di tempat cuciku sekarang, Bos nya semena-mena!"


Mar menawarkan diri pada Minah.


"Kamu serius Mar, wah kalau ditempatku ini dijamin enak Mar, Bosnya baik... kerjanya gak terlalu repot, ya...macam ngurus rumah sendiri aja, cuma ada satu anaknya yang perlu perhatian, dia anak luar biasa mar"


Jelas Minah pada Mar yang terlihat mengangguk-angguk.


"Bos nya dirumah apa kerja Min?"


Tanya Mar lagi.


"Yang perempuan kerja di kantor pemerintahan, kalo yang laki, pengusaha percetakan, gimana kamu mau?? mereka pulang kerumah sekitar jam 4 baru kamu bisa pulang."


"Mau Aku Min,"

__ADS_1


"Ya udah, besok Aku temuin kamu sama mereka, kita ketemu disini lagi ya besok"


"Ya udah Min, besok selesai Aku nyuci dirumah Bos ku, Aku temuin kamu, sekalian besok Aku mau pamitan dulu sama Bos ku yang ini"


Setelah selesai membuat janji dengan Minah, Mar bergegas pulang untuk mengabarkan niatnya pindah kerjaan pada As sepulang As bekerja.


Sore hari ketika As pulang kerja, seperti biasa Mar sudah meyiapkan segalanya yang dibutuhkan As, mulai dari handuk, baju ganti dan tak lupa secangkir kopi hitam yang tidak lagi panas.


Selepas As mandi, ia duduk di kursi sekedar melepas penat seharian bekerja sambil menghisap rokok kretek yang bru saja dibuka bungkusnya.


"Pa..Aku mau bicara sebentar boleh Pa?"


Mar dengan ragu-ragu mendekati As yang tengah bersandar.


"Bicara Apa Ma, formal sekali caramu, bicara saja"


Jawab As sedikit bingung.


"Tadi Aku ketemu temanku, dia nawari Aku kerja ditempatnya buat gantiin dia yang mau berhenti"


Mar bicara dengan sangat hati-hati.


"Ya terserah kamu saja Ma.."


"Masalahnya, kerjanya seharian Pa..jadi pembantunya,"


Mar menunduk, bersiap menerima jawaban apa yang akan terlontar dari mulut As.


"Seharian?? Maksudnya dari pagi sampai sore gitu?"


Kali ini As memutar tubuhnya menghadap Mar.


"Iya Pa...masalah Sari, nanti akan aku bicarakan besok biar bisa Aku ajak saja"


"Lalu..kalau kamu seharian kerja, bagaimana dengan rumah ini?"


"Eni kan ada Pa, Dia bisa mengurus nya"


"Terserah kamu sajalah, satu hal yang harus kamu ingat, Aku paling tidak suka, ketika Aku pulang kamu tidak ada dirumah!! jadi kamu harus pulang sebelum Aku tiba dirumah!"


"Iya Pa, akan Aku usahakan."


Maryati menatap As tersenyum berharap suaminya ikhlas mengizinkannya bekerja seharian.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2