Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 40 Masuk berita


__ADS_3

Menjelang pagi, langit mulai sedikit terang, hawa panas masih terasa, seluruh warga masih meratapi tempat tinggalnya, bahkan ada diantara mereka memaksa masuk untuk sekedar mengorek-ngorek serpihan puing-puing kebakaran berharap masih ada yang bisa di ambil.


Kebakaran besar baru saja terjadi meski api sudah berhasil dipadamkam, namun kepulan asap masih terlihat jelas, petugas pemadam kebakaran masih menyemprot puing-puing sisa kebakaran untuk pendinginan.


Mentari mulai tinggi, ketika mobil Polisi, Ambulan beserta beberapa wartawan dari surat kabar ternama ramai mendatangi lokasi kebakaran.


As tak punya nyali bertemu menghadapi mereka untuk dimintai keterangan sebagai penanggung jawab Panglong milik Akiyong.


Bulromi dan beberapa kerabat As datang menemui As dan Mar.


Mar berpeluk pada Bulromi ketika Bulromi sampai didekatnya.


"Ya Allah Nak... Yang sabar...Yang ikhlas... Tabah ya...."


Ujar Bulromi mengusap punggung Putrinya dengan mata berkaca-kaca.


"Entahlah Bak, Aku tak tahu... Apa Aku bisa Ikhlas, sabar dan tabah kali ini..."


Mar kembali terisak.


"Tak boleh bicara seperti itu,, yakinlah setiap musibah pasti ada hikmahnya, sekarang kita pulang..."


Ajak Bulromi menggendong salah satu cucunya dan merangkul Mar yang menggendong Win sementara As menggandeng Vin dan Ana.


Mereka pulang kembali kerumah orang tua Mar.


Sepanjang jalan, hingga sampai dirumah Bulromi, As hanya diam... Bahkan saat ditanyapun As lebih memilih bungkam.


Mar paham betapa terguncangnya As, begitupun dirinya dan mental Anak-Anaknya.


Masning yang tak henti menenangkan Mar, terus berdoa dalam diam agar Anak menantunya diberi kekuatan untuk tabah dan ikhlas menerima kenyataan.


Hari menjelang siang, ketika salah satu kerabat dekat As datang bersama Husna dan Mansyur,


mereka tergopoh, menaiki tangga rumah Bulromi.


"Assalamualaikum.!!"


"Walaikum salam"


Sahut Masning yang kaget melihat wajah panik tamu yang datang.


"Mak...Dimana As??"


Tanya Husna cemas.


"Ada dikamar,, Ada apa Husna? kenapa kau terlihat tegang?"


Tanya Masning bertambah cemas.


Mar dan As keluar kamar mendengar suara ribut di depan.


"Ini...Mak..ini baca!!!"


Husna menyodorkan surat kabar pada Masning yang kemudian di rampas cepat oleh Bulromi.


Sebuah berita terpampang di paling depan surat kabar pagi ini, yang memberitakan tentang kebakaran Panglong besar milik Akiyong.


Namun bukan berita itu yang membuat mereka cemas, melainkan Foto seseorang yang juga terpampang disana.


"Astagfirullah hal adzim..."


Bulromi mengusap mukanya pelan.


"Ada apa Bak??"

__ADS_1


Tanya Masning gugup.


"As dicari polisi Mak,, Polisi menyatakan kebakaran ada kaitannya dengan As, Dia diduga melakukan kelalaian hingga berujung kebakaran, polisi juga tidak menutup kemungkinan adanya faktor kesengajaan, karna mengingat jarak kebakaran pertama hanya berselang dalam waktu yang tidak jauh dan Dia adalah penanggung jawabnya.


Masning menutup mulutnya dengan tangan, air matanya menetes.


"Berat sekali cobaan kalian Nak"


Mar menggeleng, mulutnya mengatup, air matanya tumpah, sementara As masih mematung.


"As...Apa yang sebenarnya terjadi? ceritakan biar masalah ini cepat selesai.."


Bujuk Husna merangkul bahu Adiknya.


"Aku tak tahu... Aku tak mengerti, yang jelas... Api itu tiba-tiba menyala begitu cepat dan membesar di tempat dimana Aku sedang berjaga malam itu."


As mencoba mengingat rangkaian kejadian.


"Kenapa bisa polisi menyimpulkan adanya kesengajaan dan kau dicari As??"


"Ada yang tidak menyukaiku disana Kak... Pasti mereka yang menyampaikan pada Polisi"


Jawab As dengan Mata meremang basah.


"Kamu yang sabar,,,kamu hadapi kenyataan jangan lari dari masalah,jika benar polisi takkan menangkapmu."


"Aku takut kak..! Aku takut..!"


Husna menarik nafas dalam,


"Oh ya...ini ada beberapa pakaian untuk Tiga putri dan Win, semoga muat dan pas."


Mar menerima bungkusan yang diberikan Husna.


"Lim... Aku minta tolong sama kamu, Aku punya dua bidang tanah kamu tolong urus untuk dijual tanpa surat, sebab suratnya tak bisa diselamatkan, jual saja berapa lakunya,, Aku butuh uang cepat"


"Baik As... Secepatnya Aku urus, semoga hari ini langsung laku.!"


"Ya...Usahakan hari ini, sebab besok pagi Aku mau ajak keluargaku pergi!"


Jawab As mantap.


"Kau mau kemana??"


"Kakak ingat, rumah tua peninggalan orang tua kita di kampung??"


Husna mengernyitkan dahinya kemudian mengangguk pelan.


"Aku mau kesana !!"


"Apa kau yakin?? Itu kampung terpencil As..bagaimana kalian hidup?? Bagaimana sekolah Anak-anakmu nanti.?"


"Itu belum kupikirkan kak!! yang jelas Kami butuh ketenangan dulu"


Malam mulai merangkak naik,


As dan Mar masih saling berdiam beradu punggung, Anak-Anak mereka yang belum mengerti keadaan serta kegelisahan orang tuanya sudah tertidur pulas tanpa beban.


Tok...Tok..Tok...!!


Terdengar pintu diketuk,


As bergegas keluar, namun ternyata Bulromi telah lebih dulu membukakan pintu.


"Assalamualaikum Bak..."

__ADS_1


Salim berdiri di ambang pintu.


"Walaikum salam..."


Jawab Bulromi.


As bergegas mendekati Bulromi dan menyambut kedatangan Salim.


"Ayo masuk!!"


Ajak Bulromi.


Setelah berada didalam.


"Bagaimana Lim...apa laku?"


Salim menghela nafas,


"Laku As... Tapi Maaf harganya jauh lebih dibawah harga pasar. Aku sudah berusaha menawarkan harga lumayan tinggi, tapi tak ada yang mau Aku sudah berkeliling menemui makelar tanah tapi tak membuahkan hasil alasan mereka repot mengurus surat nya."


As mengatupkan Kedua bibirnya dan menghela nafas dalam-dalam.


"Makasih Lim, tak mengapa yang penting jadi duit, Aku butuh cepat."


"Ini duitnya As..."


Salim menyodorkan Amplop coklat yang berisi uang hasil penjualan tanah yang menjadi aset terakhir yang bisa dijadikan duit oleh As.


"Alhamdulillah..., ini buat kamu Lim..."


As menyodorkan beberapa lembar uang kepada Salim.


"Jangan As!! tidak perlu, kamu lebih butuh uang, Aku tulus bantu kamu... "


Salim menolak uang pemberian As.


"Terimakasih banyak Lim...semoga Allah membalas kebaikanmu."


As merangkul Salim.


"Ya udah As, sudah malam Aku pamit ya..."


"Iya, kamu juga hati-hati... Aku pamit, besok Aku pulang ke kampung lamaku. Tolong juga Kau sampaikan pada Kak Husna, Aku tak sempat mampir kesana"


"Baik...baik...nanti akan Aku sampaikan"


Selepas kepulangan Salim,


"As... Apa kau yakin, akan pergi besok?? kau tak mau bertemu dengan polisi dulu menjelaskan yang terjadi?"


Bulromi mencegah langkah As yang hendak masuk kamar.


"Yakin Bak... Maafkan kepengecutanku Bak, Aku tidak berani menghadapi ini, 2 kali terjadi kebakaran besar ditempat yang sama membuat Aku benar-benar tersudut, Aku takut dipenjarakan Bak"


As menunduk, ada gelisah dan gurat ketakutan luar biasa di wajahnya.


"Tapi As, jika Kau tidak bersalah, tentu polisi tidak akan memenjarakanmu... dengan Kalian lari, dan menghilang semakin polisi akan curiga dan ini akan memberatkanmu"


Bulromi kembali menasehati, sembari menghisap rokok ditangannya.


"Iya Bak... Aku paham, tapi biarkan Aku tenang dulu... Aku akan selesaikan, tapi belum sekarang, permisi Bak"


As meninggalkan Bapak mertuanya masuk kedalam kamar.


Mendengar itu, Bulromi terdiam dan termangu sendiri di tengah ruang sepi.

__ADS_1


Bersambung***


__ADS_2