Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 54 galau


__ADS_3

As berangkat menemui Musa di tempat yang telah diberitahu Musa sebelumnya,


Dengan menenteng sebuah Amplop coklat yang berisi segala persyaratan yang diminta Musa kemarin, tergantung harapan yang besar diujung hatinya untuk bisa kembali mengangkat keluarganya dari kesengsaraan, meski sedikit pesimis, As tetap meninggikan semangatnya.


Sampai di sebuah Ruko sederhana berlantai 2,


Dengan wajah sedikit bingung, As melangkah ragu-ragu.


"As....!!"


Seru seseorang dari arah dalam ruko.


As berhenti sejenak, menajamkan penglihatannya.


Musa berjalan keluar, sedikit berlari menghampiri As dengan melambaikan tangan.


As bernafas lega, senyumnya terkembang keraguannya seketika sirna.


"Alhamdulillah, Aku kira Aku salah tempat"


Ujar As ketika Musa menyambutnya.


"Ayo masuk As, didalam sudah ramai"


Musa mengajak As Masuk kedalam untuk mendata.


Setelah urusan berkas selesai, As mendapatkan Pakaian safety, topi beserta sepatu yang disediakan oleh serikat perusahaan tempat As akan mengais rejeki setelah ini.


"Sa.. Aku pamit duluan ya.."


"Iya As silahkan.."


As melangkah cepat meninggalkan Musa yang masih berdiri menatap kepergiannya.


As tak sabar sampai kerumah, ia ingin berdiri tegap didepan Mar dan Anak-Anaknya, mengatakan bahwa ia Akan segera berpenghasilan lagi.


Terik matahari siang tak menurunkan sedikit saja semangat As,


Menjelang zuhur,


"Assalamualaikum"


Tanpa menunggu jawaban As segera masuk ke dalam kamar, ia tau Mar sedang mengeloni bayi mereka, dan benar saja, diatas tempat tidur Mar berguling diantara Win dan Hen yang tengah tidur siang.


Mendapati As pulang, Mar beranjak pelan-pelan dari Win dan Hen.

__ADS_1


"Baru pulang Pa?"


Mar sedikit berbisik, takut kedua bayi dan balita tersebut terbangun.


As mengangguk, "Mereka baru tidur?"


Gantian kini Mar yang mengangguk.


Mar mencarikan baju ganti buat As,


"Pa... ini baju gantinya, Aku siapkan makan sekarang ya?"


As menerima baju ganti dari Mar, namun saat Mar beranjak meninggalkannya, dengan cepat As menarik tangan Mar untuk tetap berada didalam kamar.


"Jangan pergi dulu.."


Bisik As di telinga Mar.


Mar hanya menatap As dalam tanpa tanya, tanpa suara hanya ******* nafasnya yang tiba-tiba memburu.


"Ma, Aku diterima Kerja.. besok Aku akan berangkat!"


As berbicara sangat pelan, dengan jarak yang hanya sekitar 3 jari dari wajah Mar.


Glek!!


As tahu, betapa galaunya Mar saat ini, segera As memeluk Wanita mungil di depannya, mengusap rambut panjangnya, mengecup kening licinnya, menghujani Mar dengan tatapan mesra membuat Mar tak berkutik.


"Ma... Semoga kita bisa seperti dulu lagi.."


Mar, hanya mengangguk, tak bicara. Hatinya gundah gulana, ia sebenarnya tak ingin berjauhan dengan As, tapi keadaan tak bisa ditawar.


"Ya sudah Pa, kamu makan siang dulu..ini sudah lewat dari jam makan siang"


Mar menarik tangan As menyuruhnya makan.


"Mak man Ma?"


Tanya As mengingat ia tak melihat Masning sejak ia pulang tadi.


"Oh..itu, Mak pergi ketempat orang hajatan,"


"Lalu, Ana, Vin, Eni? kok sepi"


"Iya itu tadi, Mak pergi mengajak mereka paling bentar lagi pulang "

__ADS_1


Jelas Mar.


Baru saja As selesai makan,


"Assalamualaikum Mama......"


Salam dari ketiga Putri mereka kompak.


Duk... Duk...Duk....!!


Langkah mereka menaiki tangga.


"Haii sayang...."


Balas Mar merentangkan tangan bersiap menyambut pelukan dari ketiganya.


Ketiga putri berhamburan kearah Mar memeluk dan mencium bergantian.


"Papa..gak di cium juga??"


seloroh As, menunjuk pipinya didepan Ketiga putri.


"Assalamualaikum Pa...... Muaaccchhh"


Ana memberi salam dan mengecup pipi As, tingkah sulung Ana dicontoh oleh kedua Adiknya.


Masning masuk kerumah,


" Ayo...ayo..cuci tangan dulu.."


Serunya pada ketiga cucunya.


"Mak..Besok Kak As berangkat"


Ujar Mar, pada Masning saat sedang dibelakang.


"Dia diterima ditempatnya Musa??"


Tanya Masning.


"Iya Mak, Tapi entah kenapa... Aku sedih"


Mar menunduk.


"Mar... kau tak boleh seperti itu, jangan bebani suami dengan sikap kau yang seperti ini, biarkan, Ikhlaskan Dia berangkat, Dia pergi untuk bekerja, semua untuk kalian."

__ADS_1


Nasehat Masning, pada putrinya yang tengah galau.


Bersambung***


__ADS_2