Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian

Maryati... Is True Love Perjuangan,Cinta Dan Pengabdian
Bab 52 Mencari pekerjaan baru


__ADS_3

Semalaman As tak dapat memejamkan matanya, hatinya dipenuhi segala macam rasa bercampur aduk menjadi satu.


Tentang rasa malu, karena harus menumpang dirumah Mertua dengan status pengangguran 5 orang Anak, tentang harga diri yang tiba-tiba menjadi sangat rendah, tentang penyesalan tak bisa membahagiakan keluarga, tentang ketakutan menghadapi masa depan bahkan tentang rasa takut kehilangan cinta tulus dari Mar karena kondisinya sekarang.


"Ya Allah, bagaimana jika Aku tak bisa mendapatkan seperti apa yang pernah Aku dapatkan saat itu, mungkinkah kesetiaan Mar perlahan akan surut kepadaku? bagaimana kalau kehidupanku tak bisa lagi membaik seperti dulu, mungkinkah Mar bisa bertahan mendampingiku??"


Ratap As dalam hati.


Ia beranjak duduk dari rebahnya, matanya memandang Istri dan Anak-Anaknya yang sedang pulas, Air matanya perlahan jatuh bersama pilu hati yang tak dapat lagi ia tahan sendiri.


Berpura-pura kuat di depan Anak dan Istri seperti yang sedang ia lakoni adalah pukulan terberat yang harus ia tahan dan hadapi, sebenarnya dirinya begitu rapuh saat ini, namun ia tak ingin terlihat cengeng di mata keluarganya.


Sebagai kepala keluarga dengan lima orang Anak, kini ia sadar bahwa ia gagal menjadi pejuang keluarga.


As menarik nafas dalam-dalam, membuangnya perlahan kemudian mengusap sudut matanya.


As kembali merebahkan dirinya, memejamkan mata yang terasa sangat pedas.


Tanpa ia sadari, wanita disampingnya hanya berpura-pura tidur, Mar memperhatikan dirinya sejak tadi bahkan turut menangis dalam hati.


Mar tau, konflik batin yang tengah dirasakan Suaminya, bagaikan berdiri di kesesatan jalan, yang tak tau kemana arah akan melangkah, tak lebih Bagaikan biduk yang patah kemudi, terombang ambing di lautan lepas.


Sungguh Mar tak kuasa lagi menahan air matanya ketika melihat As menangis dalam diam meski hatinya berkata untuk kuat dan tenang.


Mar membalik tubuhnya membekap mulutnya dengan selimut, untuk meredam isaknya agar tak ada yang tau tangisnya malam ini.


Mar tak ingin menambah beban Suaminya jika melihat ia menangis.


Malam semakin Dingin sedingin Hati mereka yang semakin membeku.


Mereka terpejam dengan sisa air mata, mereka tertidur dengan membungkam duka, menahan dan menyembunyikannya dari dunia.


Menjelang subuh, Mar terjaga ketika Baby Hen merengek.


Mar, memeluk dan menyusui Hen, hingga akhirnya kembali tertidur pulas.


Menyadari bayinya sudah kembali tidur, Mar beranjak dari tempat tidur, keluar kamar menuju dapur.


Sebagai Anak yang saat ini statusnya menumpang pada orang tuanya, Mar cukup tahu diri, apalagi sekarang Anaknya lima, tentu saja akan sangat merepotkan Mak dan Baknya.


Meski, Masning dan Bulromi tak pernah keberatan mereka kembali, tetap saja ada perasaan malu dan tak enak hati pada diri Mar.


Sebisanya, ia akan mengambil hati orang tuanya membantu apapun sebisanya.


Mar segera memanaskan Air, untuk membuat kopi orang tuanya, memeriksa lemari dapur, apa yang bisa ia masak untuk sarapan pagi ini.


"Mar, Kau sudah bangun? cepat sekali?"


Tanya Masning begitu melihat Mar sudah sibuk didapur.


"Eh...Iya Mak, mumpung Hen dan yang lain masih nyenyak"


Jawab Mar.

__ADS_1


"Sudahlah, kau istirahat saja... nanti Bayimu bangun, biar Mak yang kerjakan"


Masning mendekati Mar, berniat mengambil alih kerja Mar.


"Gak usah Mak, gak Apa-apa biar Aku saja. Mak mau sholat kan?"


Mar menolak sopan.


"Ya sudah, itu ada pisang Mar, kita goreng saja untuk sarapan, Mak sholat dulu"


Ujar Masning menunjuk bungkusan diatas lemari.


"Iya Mak"


Angguk Mar.


Selepas membuat sarapan, Mar menunaikan Subuhnya, didalam Doanya, terselip Doa untuk Suaminya agar segera mendapat pekerjaan, agar hidupnya tak bergantung pada orang tuanya.


As yang melihat Mar berdoa sangat lama yakin, bahwa ada namanya di dalam doa Mar.


As menyusul sholat sebelum ia memulai hari ini untuk sebuah perjuangan besar.


"Ma... Aku pergi mencari pekerjaan dulu ya.. Doakan semoga berhasil"


Pamit As sebelum berangkat.


"Iya Pa... Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu."


Mar mencium tangan As, kecupan kening mendarat di jidat Mar.


"Mar... Kalian jangan terlalu memikirkan tentang tak enak hati disini, Mak sama Bak tak pernah sedikitpun keberatan kalian disini, malah kami senang rumah ini ramai"


Bulromi mencoba menerka isi hati putrinya yang tengah melamun selepas As berpamitan.


"Iya Bak, makasih banyak.. tapi tetap saja, Aku canggung Bak, ditambah lagi Anakku sekarang Lima Bak."


Jawab Mar menunduk.


"Ssstttt,, sudahlah Mar..Mau Anak kamu sepuluh, atau lebih..itu bukan Masalah Nak."


Mar tersenyum meski matanya tak bisa berbohong, bahwa ia sedang menahan malu.


Di tengah jalan As mencoba berpikir, kemana tujuan langkah kakinya.


"Apa aku kembali ke panglong, menemui Akiyong untuk meminta pekerjaan lagi? Tapi rasanya itu tidak mungkin!!"


Meskipun ia sudah dinyatakan tidak bersalah, tapi apa Dia masih punya muka untuk kembali bertemu Akiyong setelah 2 Kali kebakaran.


As membuang niat itu dari dalam kepalanya.


As berjalan menuju Simpang tiga arah pasar, dimana tempat itu adalah tempat dimana biasanya orang-orang menunggu Bus atau angkot di pemberhentian pertama, di sana ia berharap bertemu teman-teman lamanya yang hendak berangkat kerja.


As berdiri dengan mata yang sangat awas dan jeli memperhatikan setiap orang yang sedang menunggu Bus dan angkot.

__ADS_1


Hampir 2 jam berdiri, As tak berjumpa dengan satu orang pun teman lamanya.


Nyaris putus asa, ketika akhirnya matanya menangkap sosok yang pernah ia kenal.


"Musa??"


Ujarnya lirih kemudian setengah berlari menghampiri orang tersebut.


"Musa...!"


Sapanya.


Seseorang itu menoleh As, dan senyum terkembang.


"Hai..Asmawi kan??"


Balas Musa.


"Iya..Sa... Apakabar kamu?"


"Alhamdulillah Aku baik-baik saja, kamu sendiri bagaimana kabarnya, terus ngapain kamu disini?"


"Kabar Aku sedang tidak baik Sa... Aku disini lagi menunggu dan mencari kawan-kawan lama untuk menanyakan pekerjaan"


"Tidak baik gimana maksud kamu As? Mencari pekerjaan? maksudnya kamu sekarang menganggur? Bukannya kabar terakhir yang kudengar katanya kamu sekarang pengawas di sebuah pabrik ya?"


"Panjang ceritanya Sa,, nanti kapan-kapan Aku ceritakan, yang terpenting sekarang apa kamu bisa ajak Aku kerja Sa? Aku sedang butuh!"


"Ya Allah, Aku benar-benar minta Maaf ya As, tenderku baru saja habis 2 hari yang lalu, makanya Aku tidak kerja hari ini"


Jawab Musa mematahkan semangat As yang baru saja ia rangkai.


As menunduk lesu, berusaha membesarkan hatinya.


"Tapi kamu tenang saja As, begitu Aku dapat tender baru, kamu orang pertama yang Aku ajak, tapi apa kamu mau jadi Tukang kuli bangunan?"


Tanya Musa sedikit ragu.


"Aku tak peduli Sa..pekerjaan apapun, yang penting halal Aku pasti Mau, lagian Aku lumayan mengerti masalah bangunan."


"Ya udah kalau begitu, kamu tinggal dimana, biar nanti Aku main kerumahmu."


Tanya Musa lagi.


"Aku sekarang tinggal di rumah Mertuaku, kamu taukan?"


Jawab As.


"Iya Aku tau, rumah Pak Bulromi iyakan?"


As mengangguk. "Terimakasih Sa.."


Seperti ada secercah harapan yang dibawa Musa untuknya.

__ADS_1


As berharap, itu bukan cuma omong kosong untuk menyenangkan hatinya karena Musa sedang tak enak hati jika harus menolaknya.


Bersambung***


__ADS_2