
Selepas bersalin, Mar yang dalam keadaan lemas masih berbaring diruang pemulihan menunggu Bayi yang baru saja dilahirkannya sedang ditangani oleh Bidan.
As membelai rambut Mar dan menyeka keringat di dahi dan wajah Mar, kemudian duduk disamping ranjang Mar.
Keesokan paginya,
"Pa..bagaimana dengan administrasinya?"
Tanya Mar melirik As.
"Belum Ma, sepertinya uang tabungan kita kurang"
As menundukkan kepala lesu.
"Pa, ada uang di dalam tas bayi, Aku kemarin diberi Bu Marni"
Mar memegang lengan As.
Tak menunggu lama, As segera memeriksa uang yang dimaksud Mar.
"Ada Ma, ya udah Aku bayar dulu ya Ma.."
Mar mengangguk mengiringi langkah As yang pergi meninggalkan ruangan Mar.
"Permisi Bu Bidan, Saya mau bayar biaya persalinan Istri Saya"
"Tunggu sebentar ya Pak, saya cek dulu"
"Ini Pak, total yang harus dibayar!"
Bidan menyerahkan secarik kertas pada As.
Mata As membulat, melihat angka yang tertera disana,
"Masih kurang dikit lagi"
Batin As.
"Bu, maaf apa bisa Saya bayar segini dulu, sisanya akan Saya lunasi siang nanti, uang Saya kurang"
Dengan ragu As menyerahkan segulungan uang ditangannya.
Bidan mengangguk dan tersenyum menerima uang dari tangan As.
"Baik Pak, tidak apa-apa, saya terima dulu ya"
"Alhamdulillah, makasih ya Bu Bidan..Saya permisi"
As kembali keruangan Mar.
Melihat As datang, Mar beranjak duduk.
"Bagaimana Pa?"
Tanyanya.
"Masih kurang dikit Ma...Apa Aku pinjam sama Kak Husna ya?"
As menghela nafas sembari berpikir keras.
"Jangan Pa, malu..sebaiknya Papa pulang sekarang.. Papa ingat di pasar ada teman ku yang buka kios barang loak dan barang bekas,"
As nampak bingung mendengar ucapan Mar barusan.
"Terus apa hubungannya dengan kekurangan uang kita? apa Kamu menyuruh Aku meminjam uang kesana?"
Tanya As tak paham maksud ucapan Mar.
"Bukan Pa, Dia pasti mau terima barang-barang kita?"
sambung Mar.
"Maksudnya?"
__ADS_1
As semakin tak mengerti.
"Pa, dirumah ada piring satu lusin, kain beberapa lembar dan jam dinding, kamu bungkus dan jual padanya."
Mar membuang mukanya suaranya bergetar nampak jelas ia sedang menahan tangisnya.
As menelan ludah, hatinya perih mengingat takdir hidup sedang memainkan perannya,
"Ya Allah Ma, sebegitukah nasib kita..bahkan untuk persalinan kamu saja Aku tak mampu membayar, bahkan kita harus menjual barang-barang seperti sekarang"
As mencengkram rambutnya dengan kesal.
Mar tak menjawab, ia berusaha menguatkan hatinya menerima semua yang memang harus ia terima dengan ikhlas dan lapang dada.
As meninggalkan Ruangan Mar, dengan perasaan perih ia berjalan pulang.
Sesampainya dirumah, tak membuang waktu As segera menuruti perintah Mar, menurunkan jam dinding yang tergantung di salah satu dinding rumahnya, mencari piring, dan beberapa lembar kain yang dimaksud Mar.
Anak-anaknya yang memperhatikan As mendekat.
"Pa..mau diapain barang-barang itu?"
Tanya Ana, sementara Anaknya yang lain hanya diam memperhatikan.
"Papa mau jual, ehm...nanti kalau Papa kerja lagi kita beli lagi ya.."
Tak ada jawaban dari mulut Anak-anaknya.
As kembali meninggalkan rumah, mengayuh sepeda menuju pasar.
As berhasil menemukan lapak teman Mar yang menjual barang bekas, setelah berpadu harga semua barang yang dibawa As laku terjual, dengan cepat As kembali mengayuh sepeda tuanya menuju klinik Bidan tempat Mar melahirkan.
Keringat mengucur di dahi dan leher As, tak hanya itu, baju yang ia kenakan pun terlihat basah di beberapa bagian.
Nafasnya masih ngos-ngosan ketika tiba di depan klinik, setelah memarkirkan sepeda tuanya, As tergesa-gesa masuk dan menemui Bidan jaga untuk melunasi biaya persalinan Mar, agar bisa cepat pulang kerumah berkumpul kembali bersama kelima Anaknya.
"Permisi Bu Bidan, Saya mau melunasi sisa kekurangan biaya melahirkan Istri Saya.."
"Baik Pak...."
"Apa Istri saya sudah boleh pulang Bu Bidan?"
"Oh iya Pak...sudah bisa pulang...silahkan Pak"
"Terima kasih Bu Bidan"
As bergegas menemui Mar yang ternyata sedang menyusui Bayi montoknya.
"Gimana Pa?"
Tanya Mar cepat.
"Alhamdulillah, sudah selesai semua Ma, ini uang sisa penjualan barang-barang itu!"
As menyerahkan beberapa lembar uang pada Mar.
"Oh syukurlah, berarti sekarang Aku sudah bisa pulang Pa?"
Tanya Mar lagi.
"Iya, tunggu sebentar biar Aku bereskan semua peralatan"
Dengan cepat As membereskan perlengkapan bayi dan segera memasukkannya kedalam tas jinjing di sebelah Mar.
Setelah menyusui Bayi nya hingga kenyang, Mar meletakkan Bayinya pelan-pelan di atas tempat tidur, sementara ia sendiri berkemas merapikan diri.
Setelah semua selesai, Dengan menggendong Bayinya Mar melangkah pelan meninggalkan ruangan itu dengan dipapah oleh As.
Di depan pintu, mereka bertemu Bidan,
"Sudah Mau pulang Bu Mar?"
Tanya Bi Bidan ramah.
__ADS_1
"Iya Bu, kami pamit ya terimakasih banyak"
"Iya Bu, hati-hati cepat pulih ya Bu..jangan terlalu capek-capek dulu, jangan lupa bulan depan dedek Bayinya imunisasi"
Pesan Bu Bidan ditanggapi anggukan oleh Mar dan As beserta senyuman.
Setelah sampai di depan,
"Ma...tunggu sebentar ya...Aku carikan becak dulu"
As sedikit berlari ketepi jalan, menunggu Becak kosong yang lewat.
Setelah menunggu beberapa menit, Becak yang dinantikan melintas dan segera ditumpangi oleh Mar dan bayinya.
"Ma...kalian hati-hati ya,, Aku nyusul dibelakang. Hati-hati ya Pak bawa becaknya."
As segera mengayuh sepedanya begitu becak yang ditumpangi Mar dan bayinya melaju perlahan.
Becak berhenti melaju, Mar dan Bayinya turun disambut kelima Anaknya yang sudah tegak berdiri di depan rumah, tak berapa lama As pun sampai, setelah meletakkan sepedanya As memapah Mar masuk kedalam rumah.
"Yeay...Mama pulang...Papa pulang...bawak adek bayi baru...yeay......"
Hen melompat- lompat kegirangan sembari bertepuk tangan dengan penuh semangat.
Mar menurunkan Bayi nya dari gendongan dan menidurkannya di kursi panjang coklat.
As menyusul duduk, sementara sisulung Ana bergegas ke belakang, mengambilkan dua gelas air minum untuk kedua orang tuanya.
"Ma...Pa..minum dulu..."
"Makasih ya Nak...."
Mar menyambut gelas Air minum yang disodorkan Ana dan meneguknya habis.
"PENGUMUMANNNNNN...!!!!!"
semua yang ada diruangan tersentak kaget dan membelalakkan mata ketika tiba-tiba Si gagah Hen naik keatas kursi dan berteriak pengumuman dengan suara cempreng miliknya.
"Hen....Pengumuman apa Nak?!"
Tanya Mar heran dan juga bingung bercampur geli.
Semua Mata tertuju pada Hen, menunggu kalimat apa yang selanjutnya akan keluar dari mulut mungil itu.
Dengan penuh Percaya diri, Hen kembali bersuara.
"Pengumuman ya...saudara..saudara.....harap didengarkan,, mulai hari ini,, jangan lagi panggil Adek dengan panggilan Adek!!"
Semua yang berada diruangan tergelak mendengar penuturan bocah 5 tahun itu.
"Kenapa sayang??? Hehehe"
Tanya Mar lagi kali ini tak bisa menahan tawanya.
"Karena itu!!!"
Hen menunjuk pada Bayi montok yang tergeletak diatas kursi panjang.
"Kan kita sudah ada adek Baru,, jadi Dia nanti yang akan dipanggil Adek,, yang ini akan jadi Kakak....mengertikan semuanya???"
Sambung Hen lagi penuh percaya diri.
"Hahhaha...."
"Hehehhe..."
"Wkkwkwkkw"
Semua tak tahan lagi untuk tidak tertawa melihat tingkah polah Hen yang masih berdiri diatas kursi.
"Kenapa ketawa??? ada yang lucu?? panggil Kak Hen!! ingat ya...Kak Hen!!"
Hen menepuk dadanya berkali-kali.
__ADS_1
"Siap Kak Hen......!!"
Jawab As, lalu menyambar tubuh Hen, dan membawanya kedalam pelukan, canda tawa tak bisa terelakkan, jari jemari As, tak henti menggelitiki tubuh bocah laki-laki itu membuat gelak tawa Hen dan seluruh penghuni rumah memecah kesunyian dan menghadirkan kehangatan dan keramaian di kontrakan sederhana itu yang kini telah bertambah satu anggota baru.