
Pagi-pagi setelah semua urusan rumah kelar, Anak serta suaminya sudah berangkat meninggalkan rumah, Mar bergegas menggandeng Sari yang biasa dititipnya dirumah Orang tuanya, namun hari ini Sari akan dibawanya sekalian menemui calon Majikan barunya, untuk memberitahu bahwa Dia memiliki Anak yang harus setiap hari dibawanya.
Hari ini adalah hari terakhir Mar bekerja menjadi tukang cuci dirumah Majikan lamanya,
"Maaf Bu, hari ini Aku mau pamit besok Aku tidak bisa kerja lagi, Aku diminta saudaraku untuk membantu dirumahnya"
Mar menghadap Majikannya dengan bicara sangat pelan, ia takut keputusan mendadak darinya membuat Majikannya berang.
"Maksudnya, Bibik mau berhenti?"
Tanya Majikannya sedikit kaget.
"Iya Bu, maaf Aku memberitahu ini mendadak, soalnya Aku juga baru tau kemarin"
Mar terus mengarang cerita agar Majikannya tidak tersinggung.
"Haduh Bik, bikin repot tau gak!!"
Jawaban ketus dari sang Majikan membuat Mar semakin menunduk, ada perasaan bersalah yang muncul dihatinya.
"Maafkan Aku Bu.."
Mar lagi-lagi meminta maaf.
"Ya sudahlah, mau bagaimana lagi tunggu sebentar...!"
Sang Majikan berlalu meninggalkan Mar dengan masuk kedalam kamar. Tak berapa lama ia kembali keluar dengan membawa beberapa lembar uang kertas.
"Bik, ini gaji kamu..karena ini belum genap satu bulan, dan juga kamu berhenti mendadak, jadi gaji kamu Aku potong! "
Mendengar penuturan Majikannya, Mar menelan ludah, tangannya bergetar saat menerima gajinya yang dipangkas oleh Majikannya.
"Ya sudah Bu, tak apa-apa..mungkin memang segini rejeki yang Aku punya, Aku permisi Bu"
Mar meninggalkan rumah Majikannya, sebenarnya hatinya sakit, namun untuk protes tidak mungkin karena memang ini salahnya.
"Ma..ngapain kita disini?"
Tanya Sari ketika Mar mengajaknya berhenti di sebuah tempat tepat dimana ia dan Minah ketemu kemarin.
"Tunggu sebentar ya Dek, Mama mau ketemu teman Mama."
Jelas Mar,
Sari pun mengangguk.
Tak berapa lama menunggu,
"Mar....Mar...!!"
Suara Minah membuat Mar menoleh keasal suara.
"Alhamdulillah akhirnya kau datang juga Min, kakiku sudah pegal menunggumu."
"Maaf Mar, Aku terlambat tadi Aku ada kerjaan dikit, gimana? bisa kita langsung kesana?"
Tanya minah.
"Boleh, mari..."
Mar, Sari dan Minah menaiki angkot jurusan kerumah Calon majikannya.
Hanya 10 menit Angkot sampai tepat didepan rumah Calon Majikannya
Sesampainya disebuah rumah besar, mereka masuk pekarangan dan mengetuk Pintu.
Tok... Tok... Tok....
__ADS_1
"Assalamualaikum..."
Tak lama, terdengar langkah kaki dan pintupun dibuka, nampak seorang Anak perempuan muncul dari balik pintu,
"Walaikum salam, Bik Minah...."
"Dian... Mama ada??"
Tanya Minah pada Anak kecil tersebut, yang belakangan diketahui Mar adalah Anak pertama dari Majikannya.
"Ada Bik..sebentar Aku panggil ya...Mama..... Mama....."
Teriaknya sambil berlalu masuk kedalam.
"Iya..... Ada apa Kak, kenapa teriak-teriak"
Terdengar sahutan dari dalam.
Tak lama seorang wanita kira-kira berumur 35 tahun keluar dengan penampilan yang sangat elegan, bahkan Mar saja sampai sempat mengaguminya dalam hati.
"Minah....Ayo masuk...kenapa diluar.."
Ajaknya ramah.
"Iya Buk, ini Aku bawa yang mau kerja gantiin Aku"
Jawab Minah sambil berjalan masuk diikuti Mar dibelakangnya.
"Duduk Min... Oh ini Ya.. Ini Anaknya?"
Jawab Sang Majikan dengan menyambut uluran tangan Mar padanya.
"Iya Bu, Aku Mar..ini Anakku, Aku ajak karena dirumah gak ada yang nemenin"
"Oh..ya gak apa-apa ajak saja, biar main sama Anak-anak saya, kayaknya seumuran sama anak saya yang kedua,, halooo....nama kamu siapa?"
"Sari Buk..."
Jawab Sari malu-malu.
"Oh ya Bik, nama saya Neli, suami saya namanya Safnar, kami sama-sama sibuk, pagi udah berangkat dan sore baru pulang. Tugas Bibi, ya semua yang ada dirumah ini, mulai dari cuci baju, nyetrika beres-beres, masak dan yang pasti jaga Anak-anak saya yang paling penting, Anak saya ada 4, 3 orang perempuan dan satu laki-laki, Anak bungsu saya yang laki-laki dia berbeda, sangat istimewa dan luar biasa, butuh perhatian khusus, sebentar ya saya panggil Anak-Anak saya.."
Mar mengangguk ketika Ibu Neli beranjak dari duduknya berlalu masuk kamar.
Tak lama, Ibu Neli kembali keluar dengan menggendong balita laki-laki, diikuti 3 anak perempuan cantik di belakangnya.
Mar terpaku menatap Anak bungsu Bu Neli yang berada di gendongannya, wajahnya yang berbeda dan khas membuat Mar paham dan akhirnya mengerti dengan kalimat Anak istimewa dan luar biasa yang dimaksud Ibu Neli, dan Minah kemarin.
"Bi, ini Anak-anak Saya, yang ini Dian sudah sekolah Sd, yang ini yang kedua namanya Ayu, baru sekolah TK, ini yang ketiga namanya Dila baru 4 tahun, dan ini si bontot yang saya maksud Bi, namanya Rio dia lahir dengan kondisi down syndrome, sekarang usianya masuk 2 tahun.
Mar mengangguk, memperhatikan satu persatu Anak Bu Neli yang nanti akan jadi tanggung jawabnya.
"Bebebe.... Bebebe....."
Celoteh Rio sambil mengulurkan tangan pada Mar seperti ingin digendong.
"Loh..kenapa Nak... loh..loh..kok berontak gini? Kenapa sayang ...kenapa??"
Ujar Bu Neli menenangkan Rio yang mulai merengek.
"Sini Bu, coba Aku gendong"
Mar mengulurkan tangan hendak meraih Rio dari pelukan Bu Neli.
Ajaib.... Tiba-tiba bocah itu tersenyum dan bertepuk tangan sembari berceloteh girang
"Be..Be...Be..Be"
__ADS_1
Ujarnya terus menerus.
Rio tampak nyaman di dalam gendongan Mar.
"Ya Ampun Bik, Dia langsung nempel loh sama Bibik...padahal Dia tipe Anak yang gak gampang dekat sama orang baru..."
Bu Neli nampak terpesona dengan sikap Mar, sungguh kesan pertama yang sangat baik.
"Mungkin kebetulan aja Buk, tapi kalau memang Rio nyaman ya Alhamdulillah Aku senang"
Jawab Mar merendah.
"Ayo Bi, Aku tunjukkan bagian rumah ini"
Ajak Bu Neli pada Mar.
Mar dan Minah mengikuti langkah Bu neli berkeliling didalam rumah mulai dari kamar utama, kamar anak, dapur bahkan kamar mandi.
"Bi, ini susu Anak saya, semua toples sudah saya beri nama biar gampang bedainnya soalnya susu mereka beda-beda. Nah didalam lemari ini, stok belanjaan bulanan, kalau untuk sayur dan lauk-lauk Di depan situ ada pasar kecil, nanti Bibi belanja aja ya..Nanti uangnya setiap pagi akan saya kasih."
"Baik Bu, Aku paham"
Jawab Mar dengan anggukan mantap.
"Nah satu lagi Bi, di tas ini, semua berkas penting"
Bu Neli kembali menunjuk sebuah Tas koper besar yang ada diatas rak kayu jati.
"Seandainya sesuatu yang buruk terjadi dengan rumah ini, misalnya kebakaran atau apa lah itu, tolong selamatkan Anak saya dan berkas ini ya.."
Pesan Bu Neli membuat Mar menunduk perih, ucapan itu mengingatkan ia tentang kejadian yang pernah menimpanya, hingga dua kali yang membuat Ia kehilangan semuanya dan pada akhirnya ia harus hidup melarat.
"Bi...Kenapa? Kok diam??"
Tanya Bu Neli heran melihat expresi Mar.
"Eh...Gak Buk, Maaf "
"Ya sudah Bi, Mau langsung kerja hari ini atau besok?"
Tanya Bu Neli.
"Ehm..Bagaimana kalau besok saja Bu, soalnya Aku belum pamit kalau hari ini, takutnya orang rumah bingung."
Jawab Mar.
"Ya sudah kalau begitu, besokkan hari senin.. Bibi datang jangan telat ya...Besok Saya ngantor."
"Iya Bu, Insya Allah Aku akan datang pagi, Kalau begitu kami permisi Bu.."
Pamit Mar pada Bu Neli sembari menyerahkan Rio yang sudah terlelap dalam gendongan Mar.
"Tunggu...tunggu Bi.."
Bu Neli mencegat Mar untuk pulang, ia berjalan masuk kamar setelah sebelumnya menggulingkan Rio di atas sofa,
"Bik, ini ongkos buat Bibi pulang dan buat pergi besok"
Bu neli memberi dua lembar uang buat ongkos katanya.
"Makasih Banyak Bu... Aku belum kerja sudah dikasih uang aja"
"Gak apa-apa...Bi...bye Sari...sampai ketemu besok lagi ya..."
Mar dan Sari beserta Minah akhirnya pulang.
Bersambung***
__ADS_1