
Sore Hari, selepas pulang dari bekerja untuk terakhir kalinya, karena Mar sudah bulat dengan keputusannya untuk berhenti bekerja dari rumah Ibu Neli demi memulai kehidupan baru di kebun milik Makwo Bastari.
Mar mempercepat langkahnya untuk sampai di kebun menemui As.
Terlihat As tengah memandang hasil kerjanya,
"Assalamualaikum Pa..."
Mar mendekat pada As.
"Walaikum salam..., Bagaimana Ma?"
As menunjukkan badan rumah yang sudah hampir selesai.
" Wawww... Cepat juga ya Pa..., Bagus Pa.."
Puji Mar kagum dengan kerja keras suaminya.
"Mungkin minggu depan selesai Ma.."
As duduk meraih kotak rokok yang tergeletak di lantai rumah.
"Pa..Aku sudah berhenti kerja, mulai besok Aku mau serius ngurus lahan kosong itu, akan Aku tanami sayur mayur"
Ujar Mar sembari memandang tanah yang masih kosong di samping rumahnya.
"Ya baguslah kalau begitu, semoga kehidupan kita bisa lebih baik kedepannya"
Hampir senja,
Mar dan As bersiap untuk pulang kerumah.
...****************...
Seminggu berlalu,
Rumah yang dibuat oleh As sudah kelihatan bentuk, tinggal memasang atapnya saja maka pondok mungil sederhana itu siap ditempati.
Mar tetap semangat menebar benih apa saja yang bisa ia tanam dan kelak menghasilkan,
mulai dari singkong, Aneka sayur mayur hijau, tomat, cabe, terong, jeruk, jambu, aneka jenis pisang dan banyak macam lagi.
Sementara Kangkung, yang tak terawat mulai ia perhatikan, menabur pupuk serta menyingkirkan rumput liar yang turut serta mengganggu kesuburannya.
__ADS_1
Disela-sela istirahat dalam mengerjakan pondok tersebut, As menabur jala ikan dan hasilnya lumayan memuaskan lepas untuk lauk makan siang ini,
Mar sengaja membawa alat masak, dengan menggunakan kayu bakar, Mar mulai menanak nasi, menggoreng ikan hasil tangkapan As, memasak kangkung, Mar juga sudah menyiapkan sambal yang ia bawa dari rumah,
Selepas menjala ikan tadi, As sempat memetik 2 buah kelapa muda untuk dinikmatinya ketika makan bersama istrinya.
Mereka berdua makan bersama beralas daun pisang dengan lauk hasil alam yg masih segar, sungguh makan siang ternikmat yang pernah mereka santap berdua, dengan semilir angin sepoi-sepoi, suapan demi suapan benar-benar memanjakan lidah mereka, ditutup dengan tegukan air kelapa muda yang langsung diminum dari buah kelapanya langsung membuat mereka merasakan seperti sedang liburan.
Selesai makan, dan beristirahat sebentar, As kembali melanjutkan kerjanya dan Mar kembali dengan aktifitas barunya yakni berkebun.
Hari mulai senja, saat As baru saja selesai memasang Atap pondok mungil mereka.
Kini, Rumah yang mereka sebut pondok mungil itu sudah siap, Mar mulai membersihkan isi dalamnya menyapu dan mengepel lantai, mereka berencana pindah esok pagi.
Mar dan As sampai dirumah ketika adzan magrib berkumandang, segera mereka membersihkan diri dan solat berjamaah.
"Ma, jadi besok kita sudah bisa pindah?"
Tanya Eni yang mendekat melihat Mar tengah memasukkan pakaian kedalam kardus.
"Jadi, besok pagi-pagi kita bawa dulu pakaian, trus kita kembali lagi buat bawa barang yang lain, kita sewa becak saja untuk mengangkut semua ini"
Ujar Mar.
Keesokan paginya, mereka mulai mengangkut barang dengan menyewa becak yang akan bolak balik mengangkut barang milik mereka, beruntung banyak tetangga yang membantu mereka dalam urusan pindahan kali ini, hingga tak sampai setengah hari, semua barang selesai mereka angkut.
Mar juga sudah menyiapkan hidangan makan-makan sederhana untuk para tetangga yang membantu mereka pindah hari ini.
Ketika urusan makan selesai satu-persatu tetangga yang membantu berpamitan pulang, kini tibalah saatnya mereka merapikan isi rumah mereka, saling bahu membahu dan akhirnya semua beres sebelum magrib.
Malam ini adalah malam perdana mereka tidur di rumah baru, pondok kecil mungil karya As, hati mereka penuh suka cita, bahagia dengan impian dan harapan baru yang ada didepan mata mereka semoga ini jalan bahagia yang diberikan tuhan buat mereka yang mau bersabar dan berusaha.
Pagi pertama suasana di kebun Bastari,
Semua Anggota kelurga sudah bangun, dan tengah sibuk dengan urusan masing-masing.
Mereka berkumpul saat Mar menyiapkan sarapan pagi untuk semua penghuni rumah, dengan duduk lesehan dilantai mereka semua mengelilingi hidangan dari Ratu dirumah mereka.
Kelima Anaknya dan As tampak semangat hari ini.
"Papa mau kasih tau kalian, minggu depan Papa mau bikin tambak ikan di empang kosong sebelah sana itu"
Ucap As sembari menunjuk empang kosong membuat semua mata menatap kearah yang ditunjuk As.
__ADS_1
"Emang Papa bisa Pa?"
Tanya Vin.
"Insya Allah kalau kita usaha pasti kita bisa,, yang penting kita coba"
"Bener Pa...kita semua pasti dukung Pa..semangatttt"
Eni memberi semangat pada Papanya yang tampak sangat menggebu-gebu.
"Jadi Ma, gajiku minggu ini nanti Aku minta ya..buat beli jaring dan bibit ikan"
As menatap Mar meminta izin.
Mar mengangguk tersenyum.
"Makasih Ma, nanti kita coba satu petak dulu,, kalau berhasil baru kita tambah lagi ya"
"Iya Pa"
"Ya sudah kalau begitu Aku berangkat kerja dulu ya, Ehm...Sari...bareng Papa ya berangkat sekolahnya..biar Papa anter"
"Baik Pa, Ma.. adek berangkat ya..."
Sari meraih tasnya, lalu mencium tangan Mar, tak lama setelah Sari dan As berangkat, Hen pun berangkat kesekolah, begitupun Eni dan Win.
Dengan sepeda tua Sari dibonceng As menuju kesekolah.
...****************...
Hari demi hari, minggu demi minggu bahkan bulan dan tahun pun berlalu..
Usaha tambak ikan As berhasil, kangkung yang dirawat pun tumbuh subur, begitupun dengan sayur mayur, pisang dan semua hasil kebun Mar tumbuh subur,
As sudah tidak bekerja lagi, kesehariannya kini dihabiskan mengurus pakan ternak tambak ikannya, disela-sela waktu santainya As mencari daun kelapa tua yang jatuh lalu ia raut lidinya dan di buat sapu lidi untuk dijual Mar kepasar, selain menjual kangkung dan sayur hasil kebun lainnya, Mar juga menjual kelapa, dan juga sapu lidi, untuk tambak ikan sendiri, mereka akan memanen ikan patin dan nila setiap 6 bulan sekali, uang hasil panen ikanlah yang digunakan untuk biaya sekolah Anaknya.
Kehidupan mereka sedikit membaik, setidaknya untuk makan sehari-hari mereka sudah tidak pusing lagi, ditambah Anak mereka hanya tinggal Hen dan Sari yang sekolah.
Putri kedua mereka Vin, memutuskan untuk pergi merantau ke Kota setelah ikut seleksi tenaga kerja di Disnaker tak lama setelah Mar memutuskan berhenti bekerja dari rumah Bu Neli, Putri ketiga mereka Eni, masih betah bekerja di Kota kelahiran, Win setelah tidak sekolah lagi kini menggeluti dunia kuliner yang memang masak menjadi hobinya sejak ia beranjak remaja ia selalu bercita-cita menjadi seorang chef.
Mar juga kini sudah memiliki satu cucu perempuan dari putri sulungnya Ana, yang berencana akan pulang dalam waktu dekat.
Sungguh itu adalah waktu yang sangat ditunggu-tunggu oleh Mar dan As yang sudah tak sabar dipanggil nyai dan Akas(panggilan untuk kakek selain Yai) oleh cucunya secara langsung.
__ADS_1
Bersambung***